Category

Article

Di Regensburg, Jerman
Article, My Thought

Mewujudkan impian; kemampuan yang hanya dimiliki manusia

[dropcap]D[/dropcap]iantara para pembangun impian, mereka yang paling sukses biasanya adalah orang-orang yang disepanjang perjalanannya paling siap berbagi kesuksesan itu dengan orang-orang disekitar mereka. Layaknya hakikat dalam kepemimpinan, cara yang paling efektif untuk memperoleh kekuasaan adalah dengan memberikan kekuasaan kepada orang lain. Para pemimpin yang mendelegasikan kekuasaan sekaligus tanggung jawab adalah mereka yang akhirnya mendapatkan penghargaan tertinggi dan kesetiaan dari orang-orang di sekitarnya; mereka yang berani menunjukkan kepercayaan tinggi kepada orang lainlah yang akhirnya paling dipercaya.

Di Regensburg, Jerman

“Mewujudkan impian- untuk itulah kita dibentuk dan diciptakan. Itulah yang membuat kita unik. Membangun impian merupakan cara yang paling mendasar menjadi manusia.”, catat Paul Levesque, seorang pegulat Amerika yang lebih dikenal dengan nama ringnya “Triple H”.

Coba perhatikan kehidupan harimau di alam bebas, berbeda dengan harimau yang dibesarkan di kandang. Harimau yang hidup di kandang memiliki tingkah laku yang berbeda, berjalan bolak-balik tanpa henti di dalam kandangnya. Inilah binatang yang mendapatkan semua makanan yang ia butuhkan dengan diantar kedepan kandangnya setiap hari; ia tidak perlu takut diserang pemangsa lain yang akan merebut wilayah kekuasaannya, pasangannya atau sebagainya. Mereka dilindungi dari hal-hal seperti itu, bahkan ia diberi pasangan dari waktu ke waktu agar bisa berkembang biak. Namun, mengapa binatang itu tampak sedih? Karena satu-satunya hal yang tidak boleh dilakukan harimau itu di dalam kandang itu adalah “menjadi HARIMAU”. Semua hal yang perlu dilakukan untuk menjadi seekor harimau sudah dilakukan untuknya oleh pemeliharanya. Binatang itu benar-benar mati karena bosan.

Harimau yang hidup di kandang hanya belajar sedikit tentang harimau selama hidupnya di kandang. Di alam bebas, harimau-harimau muda belajar untuk melindungi wilayahnya dan berbagai kehidupan harimau umumnya. Seekor harimau yang dibesarkan di dalam kandang sama sekali tidak mendapatkan pelajaran seperti itu. Jika dilepaskan ke alam bebas sebagai binatang dewasa, dalam waktu singkat ia hampir dipastikan akan musnah karena tidak pernah memiliki kesempatan untuk mempelajari elemen-elemen penting untuk menjadi seekor harimau.

Dan apa elemen-elemen penting untuk “menjadi seorang manusia? Bagaimana jika kemampuan untuk membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi dan kemudian mengubahnya menjadi kenyataan (mewujudkan impian) merupakan kapasitas yang hanya dimiliki manusia, atau satu-satunya hal yang membedakan manusia dengan makhluk lain?

Di dalam kereta menuju Munchen
Article, My Thought

Membangun impian ibarat ilmu roket

[dropcap]K[/dropcap]enapa saya bisa begitu menggebu dan bersemangat dalam menggapai impian? Lalu kenapa saya mampu berkorban waktu, tenaga yang tidak terhingga untuk mencapai impian? Karena saya paham bahwa membangun impian itu ibarat ilmu roket. Anda harus menciptakan milestone yang kokoh di setiap tahap guna mempertahankan motivasi untuk mencapai impian-impian besar lainnya di kemudian hari.

Di dalam kereta menuju Munchen

Seperti apa yang dikatakan oleh Charles Lindbergh, penerbang Amerika yang juga seorang penulis, bahwa melakukan sesuatu yang sangat Anda inginkan itu mirip dengan semburan adrenalin yang paling kuat. Anda hamper-hampir merasa sepertinya Anda bisa terbang tanpa pesawat.

Membangun impian itu persis serupa dengan ilmu tentang roket. Bagaimana cara mempertahankan motivasi, dapat dijelaskan dengan ilmu tentang roket. Penasaran? Berikut saya jelaskan.

Roket Saturnus 5 (yang biasa digunakan untuk meluncurkan pesawat Apollo dalam misi-misi mecapai bulan) memiliki tinggi 110 meter dan berat 3.000 ton apabila bahan bakarnya penuh. Namun, objek berbentuk silinder dengan 45 tingkat ini bukan sekedar tabung kosong berisi bahan bakar. Roket ini dibagi menjadi 3 tingkatan berbeda yang masing-masing memiliki sistem tenaga pendorong yang sama sekali terpisah.

Tingkat pertama (bagian terbawah roket saat berdiri di landasan luncur) berisi 2.200 ton bahan bakar – hampir 75 persen keseluruhan bahan bakar. Apakah ini berarti bahwa roket tingkat pertama mendorong astronot 75 persen dari jarak yang harus ditempuh ke bulan? Tidak. Bahkan tingkat pertama terlepas dari tubuh roket dengan bahan bakar yang hampir tidak tersisa di ketinggian tidak lebih dari enam puluh kilometer di atas bumi. Itulah jumlah bahan bakar yang dibutuhkan untuk melepaskan diri dari gaya tarik gravitasi bumi dari permukaan tanah.

Tingkat kedua membawa sekitar 460 ton bahan bakar – sekitar 21 persen dari daya tamping bahan bakar roket tingkat pertama – tetapi mampu membawa astronot ke ketinggian hamper tiga kali lipat, yaitu hingga lebih dari seratus kilometer di atas bumi sebelum akhirnya memisahkan diri dan menjauh.

Tingkat ketiga hanya membawa 115 ton bahan bakar – kurang dari 6 persen bahan bakar roket tingkat pertama – tetapi jumlah ini cukup untuk mendorong astronot keluar sama sekali dari orbit bumi memasuki lintasan bulan sebelum bagian ini akhirnya juga terlepas.

Modul kerja yang ditempati para astronot selama sisa perjalanan ke- dan dari bulan membawa sepersepuluh jumlah bahan bakar yang dibawa tingkat ketiga roket Saturnus 5 dan kira-kira seperdua-ratus jumlah bahan bakar roket tingkat pertama. Kendaraan ini, modul kerja ini, adalah roket yang benar-benar mengantarkan manusia ke bulan dan kembali ke bumi – tetapi ia tampak begitu kecil dibandingkan dengan monster yang dibutuhkan untuk mendorongnya agar bebas dari gravitasi bumi.

Atau, meminjam istilah hukum dasar kekekalam momentum yang lebih sederhana: dibutuhkan jauh lebih banyak energi untuk memulai sesuatu dari awal dibandingkan energi yang dibutuhkan untuk menjaganya agar tetap bergerak. Motivasi adalah bahan bakar penggerak, kemampuan memanfaatkan dan mengolah motivasi juga merupakan faktor penting. Dan mempertahankan motivasi adalah sesuatu yang paling utama agar dapat tetap konsisten bergerak mencapai impian.

Sekarang, dapatkah teman-teman menyimpulkan kenapa saya sangat bersemangat dan berusaha keras untuk mencapai impian saat ini? Dan dapatkah teman-teman mengambil hikmah dari cerita saya di atas?

Kita perhatikan juga nasihat Imam Syafi’i:

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang.

Article, My Thought

Semoga Presiden Indonesia

[dropcap style=”flat”]M[/dropcap]asih saya ingat jelas ketika itu Pemilihan Raya (PEMIRA) UIN Suska tahun 2012 saya dipinang menjadi calon wakil presiden mahasiswa oleh sahabat saya dari salah satu organisasi intra kampus.

Semoga presiden republik Indonesia

 

 

Saat itu saya terima pinangannya. Sudah sempat konsolidasi dan mengurus berbagai persiapan, namun karena ada beberapa masalah yang memang krusial, terpaksa saya harus mundur dan merelakan sahabat saya itu maju dengan menggandeng orang lain.

Dijagokan sebagai presiden mahasiswa
Pada saat PEMIRA 2012 itu, suara-suara pendukung saya memang sudah cukup besar namun belum terlalu padu. Selanjutnya pada PEMIRA tahun 2013 ini, kembali muncul suara-suara yang menjagokan saya sebagai calon presiden mahasiswa UIN Suska. Tidak ketinggalan dari sahabat-sahabat dekat saya juga sangat solid mengkonsolidasikan agar saya maju sebagai capresma UIN 2013. Dukungan itu tahun ini sangat besar, muncul dari berbagai kalangan. Sampai-sampai pada saat itu, sebelumnya saya belum ada berbicara mengenai capresma, namun saat saya ke kampus dan bertemu dengan berbagai kalangan mahasiswa seolah sudah terbentuk opini bahwasanya saya adalah capresma dan mereka spontan menyatakan dukungannya. Saya sempat semakin percaya diri atas dukungan kawan-kawan semua, selain memang juga saya secara pribadi mempunyai niat untuk itu dan saya sudah siap secara mental, prestasi, pengalaman dsb.

Mendekati PEMIRA, ternyata ada kabar ganjil yang ternyata menyurutkan langkah kemajuan saya sebagai capresma. KPRM membuat peraturan bahwa capresma maksimal adalah semester 8. Saya jadi teringat pertentangan tahun lalu yang sempat memunculkan kegaduhan karena masalah yang sama. Pada saat itu ada dua kandidat yang sama-sama berada pada semester sepuluh. Pertentangan muncul dan sempat menimbulkan konflik. Singkat cerita akhirnya salah satu calon memutuskan untuk mundur dengan penuh kesadaran, namun satu calon lagi tetap maju dengan segala konsekuensi dan pelegalan yang terencana. Pada PEMIRA 2012, hanya ada satu pasangan calon yang memenuhi syarat semester, dari total 3 pasangan calon.

Akhirnya PEMIRA 2012 dimenangkan oleh pasangan calon semester sepuluh yang ketika pertentangan masalah semester terjadi mereka tetap ngotot untuk maju.

Melihat keadaan tahun ini yang hampir serupa dengan tahun kemarin, akhirnya saya putuskan dengan cukup berat hati untuk tidak maju sebagai capresma. Karena menimbang berbagai hal, termasuk pertentangan yang mungkin akan kembali memunculkan konflik. Namun, saya mengapresiasi kepercayaan dan dukungan teman-teman kepada saya, selain secara pribadi saya juga berkeyakinan penuh kemajuan saya. Saya saat itu merasa, “ya inilah saatnya”, saya merasa saya cukup kompeten, cukup berpengalaman mengenai ormawa kampus, cukup berprestasi dan cukup mental, cukup visi untuk perubahan dan jelas saya merasa bahwa saya mempunyai kapabilitas untuk jabatan sebagai presma nantinya.

Ikut meramaikan pemira
Menimbang kondisi di atas, saya tidak lepas peran begitu saja seketika saya menyatakan tidak maju dalam bursa calon. Saya tetap ikut memaikan peran dalam PEMIRA 2013, karena jelas saya masih punya waktu untuk berproses. Singkat cerita, KPRM 2013 telah menetapkan empat pasangan calon. Dan salah satu dari kandidat tersebut adalah kandidat saya, saya menaruh dukungan dan harapan pada kandidat tsb karena beliau memiliki visi dan misi yang selaras dengan saya. Selain beliau juga menurut saya adalah kandidat paling kompeten untuk jabatan yang akan diperebutkan tsb. Saya ikut turun langsung dalam aksi dan kampanye pemenangan kandidat ini, dan salah satu aktor intelektual dalam pemenangan kandidat tsb. Namun, singkat cerita pasangan calon dukungan saya ternyata tidak berhasil memenangkan PEMIRA. Kandidat hanya meraih suara terbanyak nomor 3. Kurang lebih 700-an suara. Tetapi bagi saya itu adalah prestasi yang cukup membanggakan, karena mengingat kemajuan kandidat ini serba mendadak dan cukup banyak rintangan.

Betapa tidak, keputusan untuk maju baru final ketika hari terakhir pendaftaran calon dan ketika calon sudah memasuki masa kampanye, kami masih disibukkan dengan proses melengkapi persyaratan administrasi yang ketika itu diminta agar diperbaiki kembali oleh KPRM. Saat itu, cuma tersisa sekitar 4-5 hari menjelang pemilihan. Kami baru mulai melakukan kampanye, namun tidak cukup waktu dan masa lagi untuk konsolidasi dengan berbagai ormawa selingkungan UIN. Selain berbagai ormawa tsb sudah jauh-jauh hari diajak berunding oleh pasangan calon yang lain, juga memang tidak mungkin meloby mereka agar merubah keputusan dukungannya sekejap waktu. Alhasil kami hanya turun kampanye seadanya. Kami merasa cukup efektif apa yang sudah kami lakukan, antara hari kampanye dan jumlah suara dukungan yang berhasil kami dapatkan, andaikan saja persiapan sudah jauh-jauh hari mungkin saja kami adalah pemenangnya.

Menolak pinangan baru
Saat ini adalah mendekati pelaksanaan kongres mahasiswa UIN Suska III tahun 2013, yang dimana salah satu agendanya adalah pemilihan ketua Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) UIN 2013. Kembali saya mendapat dukungan dan kepercayaan dari berbagai kalangan untuk menduduki jabatan tersebut. Saya lagi-lagi merasa cukup kompeten untuk itu namun kali ini saya secara terpaksa menyatakan bahwa saya harus menolak pinangan teman-teman tersebut. Banyak pertimbangan yang memberatkan saya untuk menerima hal itu. Dan pada kasus ini, pertimbangannya terpusat pada hal-hal terkait saya secara pribadi. Saat ini saya sudah masuk tenggang dua semester dari semester wajar, tidak mungkin lagi saya egois untuk maju sebagai ketua BLM dan memperpanjang lagi semester. Itu sebenarnya masalah pokok. Selain saya juga sudah merasa cukup dan sampai pada masa jenuhnya berproses di kampus, saya saat ini akan memfokuskan pada penyelesaian kuliah saya dan proses menjemput impian saya berangkat ke Jerman insya Allah bulan September ini dan proses pencapaian impian saya melanjutkan studi Master (S2) di negeri benua biru, Jerman!

Saya berharap ada penerus-penerus yang bervisi serupa dengan saya.

Ini adalah masanya adik-adik junior, saya berpesan agar selain aktif di organisasi dan akademik, kejar juga impian dan raih pengelaman sebanyak-banyaknya, raih prestasi setinggi-tingginya. Prestasi lokal, nasional dan internasional.

*Tulisan ini dibuat pada tanggal 27 Mei 2013.

Adhitya Fernando – Aktivitas Internasional (Sebagaimana julukan teman-teman kepada saya)

Prabowo-Hatta for President

10 alasan kenapa mendukung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa

[dropcap style=”flat”]C[/dropcap]apres Indonesia untuk tahun 2014 mengantar benak kita pada nama Prabowo Subianto. Di negeri tercinta yang masih dirundung duka dan derita ini, kita membutuhkan capres 2014 yang amanah dan rela mati demi kehormatan negeri sendiri. Disadari atau tidak, sebagian besar pemimpin penting di negeri ini telah melakukan pengkhianatan, merampok uang negara, merendahkan martabat bangsa, dan menjual masalah kemiskinan untuk menarik simpati masa. Saat kita membahas capres 2014 di Indonesia, ada sekian ribu faktor yang bisa kita jadikan kriteria untuk melakukan penilaian

Dukung Prabowo-Hatta untuk Presiden Indonesia 2014

Capres Indonesia 2014 adalah seorang manusia Indonesia sejati yang berani dibunuh dan dihukum mati ketika melakukan tindak pidana korupsi. Dia harus berani mati dan tidak melakukan aksi pembelaan diri ketika telah terbukti melakukan korupsi. Capres 2014 dapat dikelompokkan sebagai manusia yang penuh ambisi, maka tidak semua yang mencalonkan diri menjadi presiden benar benar ingin mengabdi demi kejayaan negeri ini.

Capres 2014 haruslah manusia yang berakhlak mulia dan dia harus mampu dalam mengendalikan nafsu syahwatnya. Jangan sampai negeri sebesar Indonesia dipimpin oleh manusia pengumbar syahwat yang rakus kepada wanita. Capres 2014 adalah pribadi jujur yang mau bekerja sekeras kerasnya hingga untuk menciptakan karya masyhur dan siap babak belur ketika perasaan rakyat terasa hancur. Capres 2014 haruslah manusia anti kasur dan tidak mudah tergoda oleh artis cantik yang berpenampilan syur, karena sungguh memalukan dan pasti akan membawa kehancuran bila para pemimpin bangsa suka gentayangan di hotel sambil menikmati dan menyewa wanita.

Capres 2014 layak disematkan pada Bapak Prabowo Subianto demi kejayaan dan kemakmuran negara di masa yang akan datang. Suka atau tidak, kita semua membutuhkan figur prabowo subianto untuk mengentaskan nasib rakyat dari keterpurukan yang berkepanjangan. Capres 2014 menyatu dengan nama Prabowo subianto dan kita semua tentunya bisa lebih memahami mengapa Prabowo subianto menjadi Capres terbaik 2014 bagi bangsa dan negeri ini.

[accordion][spoiler title=”1. Prabowo-Hatta pemimpin visioner”]

Prabowo punya 6 visi besar membangun Peradaban Baru Indonesia melalui Program Aksi Transformasi Bangsa. Sedangkan Hatta memiliki 8 visi Kerja Nyata untuk menjadikan Indonesia Sejahtera. Kedua visi besar ini sangat nasionalis karena menginginkan kebangkitan Indonesia menuju peradaban baru Indonesia yang lebih Berdaulat dan Bermartabat, Mandiri dan Berkarakter, Adil-Makmur, dan Sejahtera.

6 Visi Besar Prabowo:

Membangun ekonomi yang kuat, berdaulat, adil dan makmur.
Melaksanakan ekonomi kerakyatan
Membangun kedaulatan pangan dan energi serta pengamanan sumber daya air
Meningkatkan kualitas pembangunan manusia Indonesia melalui program Pendidikan, Kesehatan, Sosial dan budaya serta Olahraga
Membangun infrastruktur dan menjaga kelestarian alam serta lingkungan hidup
Membangun pemerintahan yang bebas korupsi, kuat, tegas, dan efektif
Visi besar Prabowo ini sejalan dengan 8 visi besar Hatta

8 Visi Kerja Nyata Hatta:

Reformasi Agraria
Ketahanan Pangan Nasional
Reformasi Pengelolaan SDA
Penguatan Industri Dalam Negeri
Birokrasi Yang Melayani
Demokrasi Kesejahteraan
Otonomi Daerah Yang Bertanggung Jawab
Nasionalisme Baru.[/spoiler]
[spoiler title=”2. Prabowo-Hatta pemimpin yang amanah”]
Prabowo-Hatta adalah pemimpin Dwi Tunggal yang amanah. Keduanya memiliki sifat-sifat kepemimpinan (Leadership) yang terpuji dan unggul. Prabowo-Hatta dapat dipercaya dan bertanggung jawab menjalankan tugas dan misi mulia demi bangsa dan negaranya.

Mereka menjaga kepercayaan rakyat dengan sangat bertanggung jawab. Kepercayaan itu pula yang menjadikan Prabowo-Hatta juga dipercaya memimpin organisasi yang didirikan Prof.Dr.Ing. BJ Habibie yaitu Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) sebagai Dewan Penasihat ICMI dan Ketua Dewan Pakar ICMI. Prabowo memiliki New Nasionalism , Hatta Rajasa mempunyai Hattanomic. Keduanya sama-sama menuju sebuah kebangkitan Indonesia Raya menuju Peradaban Baru Indonesia yang Adil, Maju, dan Sejahtera.[/spoiler]

[spoiler title=”3. Prabowo-Hatta pemimpin yang berkarakter”]
Sosok Prabowo adalah sosok pribadi berkarakter kuat. Dalam dirinya terkandung pikiran, ucapan, dan tindakan yang tegas, berani, jujur, disiplin, penuh komitmen, dan berintegritas. Prabowo bukan tipe pemimpin yang lebay, peragu, pecundang, ciut nyali. Prabowo juga bukan pemimpin berkarakter tempe, suka mencla-mencle, esok dele sore tape, cengengas-cengenges, dan cuma jadi boneka yang gampang dipermainkan.Prabowo berpendirian teguh, tak mudah disetir orang lain yang akan merusak bangsa dan negaranya. Prabowo akan mempertaruhkan segalanya demi tegaknya Indonesia Raya, yang Bermartabat, Adil, Maju, dan Sejahtera!!

Prabowo seperti Khalifah Umar Bin Khattab yang pemberani dan melindungi. Berani melindungi kepentingan bangsanya, kepentingan rakyatnya, kepentingan ideologisnya, dan kebhinekaannya. Prabowo juga humanis dan welas asih, berhati lembut kepada yang lemah dan kekurangan. Sama seperti Khalifah Umar Bin Khattab yang harus memanggul bahan pangan untuk rakyatnya yang menangis dan kelaparan. Pemimpin yang mengutamakan kepentingan dan keselamatan orang lain daripada dirinya sendiri.

Sosok Hatta Rajasa adalah sosok berkarakter cerdas, bernas, jujur, dan berintegritas.Cerdas dan Bernas karena dengan pikiran-pikirannya yang brilian, Hatta menciptakan konsep ekonomi, Hattanomic, yang menyeimbangkan secara smart kepentingan nasional dan tetap menjaga hubungan luar negeri sebagai bagian masyarakat dunia dengan melindungi dan menguatkan industry dalam negeri guna menghadapi perdagangan bebas. Hattanomic menghindari resesi baru dunia tetap secara cerdik memproteksi kepentingan dalam negeri.Hatta adalah pribadi yang jujur dan berintegritas baik. Sebagai menter, Hatta menunjukan pribadi yang sangat hati-hati menggunakan anggaran negara. Sikap kehati-hatian inilah salah satu praktik menjaga kejujuran dalam perilaku politiknya. Sehingga, Hatta dikenal sangat berintegritas dan antikorupsi.

Hatta Rajasa memiliki karakter seperti Khalifah Utsman Bin Affan yang mengerti betul bagaimana memelihara ekonomi bangsanya dan memastikan setiap jiwa tercukupi pangan, sandang, dan papan, serta mencerdaskan kehidupan bangsanya melalui pendidikan dan memastikan kesehatan rakyat.Kombinasi Prabowo yang tegas dan berani dan sangat patriotis dengan sosok Hatta yang cerdas, bernas dalam mengawal ekonomi dan kerakyatan merupakan kombinasi kepemimpinan yang tepat untuk Indonesia saat ini. Indonesia membutuhkan tokoh politik yang mampu membangkitkan kepercayaan rakyat dan menegakkan harga diri bangsa. Indonesia juga membutuhkan stabilitas ekonomi, yang mengurusi kegiatan ekonomi rakyat untuk menyejahterakan kehidupan masyarakat.[/spoiler]

[spoiler title=”4. Prabowo-Hatta, Keturunan Trah Mataram dan Sriwijaya-Majapahit-Sunda Galuh”]
Prabowo Subianto adalah keturunan ke-8 Trah Sultan Agung Mataram dan Kesultanan Yogyakarta Sultan Hamengkubuwono (HB) I. Silsilahnya dimulai dari Sultan Agung ke Rdn Adipati Mangkuprojo, Rdn Tumenggung Indrajik Kartonegoro, Rdn Tumenggung Kertanegara atau Banyak Wide (salah satu Panglima dan tangan kanan Pangeran Diponegoro), Rdn Kartoatmojo. Rdn Kartoatmojo ini menikah dengan bangsawan dari Kesultanan Yogyakarta RA Djojoatmojo. RA Djojoatmojo keturunan ke-4 dari Sultan HB I.

Selanjutnya hasil pernikahan itu menghasilkan keturunan Rdn Tumenggung Mangkuprojo dan berikutnya adalah Margono Djojohadikusumo. Margono adalah salah satu Pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia bersama Ir. Soekarno. Margono memiliki keturunan Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo. Soemitro adalah ayah kandung Prabowo Subianto Djojohadikusumo.

Sebagai anak pendiri bangsa dan negara Republik Indonesia, Prabowo memiliki darah kebangsaan yang sangat kuat, memiliki nasionalisme yang sangat mendalam. Prabowo tidak akan mempertaruhkan bangsa dan negara ini untuk kepentingan dirinya, keluarganya, atau golongannya. Silsilah dan trah Prabowo merupakan jaminan bagi bangsa ini untuk bangkit dan Berjaya dan tak bisa didikte oleh kepentingan asing yang akan merusak dan meruntuhkan bangsa ini.

Hatta Rajasa memiliki hubungan keturunan dari pendiri Kerajaan Majapahit Raden Wijaya atau Sri Kertarajasa yang nama lengkapnya Prabu Kertarajasa Jayawardhana (Nararya Sanggaramawijaya Sri Maharaja Kertajasa Jayawardhana 1293-1309).

Jika diurut dari kerajaan-kerajaan di Jawa, Hatta Rajasa masih terhubung dengan pendiri kerajaan Singasari, yakni Sri Rangga Rajasa, dan masih memiliki trah dengan kerajaan Sunda Galuh. Sebab, trah Raden Wijaya juga masih terhubung dengan kerajaan Singasari dan Sunda Galuh, karena Raden Wijaya merupakan puteri pasangan Rakeyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal. Ayahnya adalah putra Prabu Guru Darmasiksa, raja Kerajaan Sunda Galuh. Sedangkan ibunya adalah puteri Mahisa Campaka, seorang Pangeran Kerajaan Singasari. Raden Wijaya keturunan Jawa-Sunda.

Masa keemasan Majapahit dipimpin Hayam Wuruk atau dikenal dengan Sri Rajasanegara. Saat inilah Patih Gajah Mada mengikarkan Sumpah Palapa untuk menyatukan Nusantara.

Hatta Rajasa lahir di bumi Sriwijaya (Palembang). Jadi, sosok Hatta Rajasa ini gabungan trah-trah kerajaan Singasari-Majapahit dan Sriwijaya. Kombinasi trah raja-raja Jawa, Sunda, dan Sumatera.

Silsilah ini menjadi penting karena sejatinya Hatta Rajasa memiliki darah kepemimpinan dan pengukir sejarah kejayaan Nusantara. Hatta Rajasa kini terlahir sebagai Pemimpin Modern yang memiliki karakter pengabdian yang ditunjukan selama berabad-abad oleh sejarah pengabdian pada Bumi pertiwi guna mewujudkan kejayaan Nusantara, melayani rakyat dan melindungi bangsa dan negara.[/spoiler]

[spoiler title=”5. Prabowo-Hatta Lebih Pro Rakyat”]
Bahasa komunikasi Prabowo sangatlah pro rakyat. Jargon-jargonnya pun sangat memihak rakyat. Prabowo sangat humanis dan bekerja demi kesejahteraan rakyat.Program-program kerakyatan diciptakan lebih banyak untuk membangkitkan kerakyatan dan berpihak kepada rakyat. Program-program pengentasan kemiskinan, pertanian, perikanan, kelautan, kehutanan, dan penciptaan lapangan kerja semata-mata guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan rakyat.

Prabowo identik dengan kerakyatan dan kemaslahatan.Pada saat yang sama, Hatta Rajasa merupakan sosok yang sarat pengalaman dalam menumbuhkan dan membuktikan implementasi program kerakyatan. Selama menjadi menteri koordinator perekonomian, Hatta Rajasa membuktikan dirinya sebagai pengonsep dan pelopor ekonomi kerakyatan.[/spoiler]

[spoiler title=”6. Prabowo-Hatta Menciptakan Tradisi Politik Baru”]
Prabowo mendirikan partai politik untuk membangun tradisi politik yang baik di parlemen dan menjadi alat politik untuk merealisasikan cita-cita politik yang bermartabat. Partai politik bukan alat mengeruk dan membobol anggaran negara tetapi sebagai pengawal rakyat dalam mengisi kemerdekaan melalui parlemen. Partai Gerindra menjadi penjaga Indonesia Raya guna menuju cita-cita kemerdekaan: adil dan sejahtera.

Prabowo adalah pendiri Partai Gerindra. Partai ini memiliki visi, misi, dan tujuan yang sama dengan Prabowo. Partai inilah yang menjadi kendaraan penting bagi Prabowo untuk merealisasikan mimpi-mimpinya membuat Indonesia Berjaya.Hatta Rajasa adalah sosok reformis yang mendobrak kebekuan Orde Baru. Bersama lokomotif reformasi Amien Rais, Hatta Rajasa menjadi salah satu tokoh yang ingin mewujudkan tradisi politik baru melalui penguatan parlemen dan efektifitas pemerintahan. Hatta menyeimbangkan dinamisasi parlemen dan eksekutif sebagai bagian penting representasi demokrasi kerakyatan.

Melalui Partai Amanat Nasional (PAN) Hatta mengalami secara langsung penciptaan tradisi politik baru baik di pemerintahan maupun di parlemen. Hatta mendorong demokratisasi kerakyatan dalam praktik berpolitik yang santun, beretika, bersih, antikorupsi, melalui high politic.[/spoiler]

[spoiler title=”7. Prabowo-Hatta Adalah Gabungan Nasionalis-Religius”]
Prabowo dikenal sebagai nasionalis sejati. Di masa kekinian, Prabowo ingin menciptakan new nasionalism yang menginginkan sebuah kebangkitan baru rakyat dan bangsa Indonesia menuju Peradaban Baru Indonesia yang bermartabat, adil makmur, dan sejahtera.Dibesarkan dalam tradisi dan tokoh-tokoh nasionalis, Prabowo menolak kapitalisme dan liberalisme sebagai penguasa. Prabowo ingin mewujudkan nasionalis dan humanism sosial sebagai kombinasi ideology yang menyejahterakan rakyat pribumi. Bahwa kesejahteraan hidup adalah menjadi bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia. Bahwa nasionalis merupakan upaya untuk mewujudkan masyarakat madani.

Dengan kombinasi nasionalis dan sosial, Hatta Rajasa akan melengkapinya dengan kekuatan Religius Demokratis. Hatta dilahirkan dari keluarga religius dan demokratis. Keluarga yang taat beribah, menyembah hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, mengagungkan Tuhan Penguasa Alam Semesta dan berjuang untuk menjadikan dirinya dan agamanya sebagai Rahmatan Lil Alamin, bermanfaat bagi alam semesta, bagi dunia, bagi kemajemukan bangsa, bagi kebhinekaan yang bersatu padu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Prabowo-Hatta adalah kekuatan Nasionalis, Sosial, Religius, dan Demokratis (NASRED). Menjadi Indonesia yang berketuhanan, berperikemanusiaan, dalam keadaban, bersatu dalam kemajemukan, merakyat, adil dan makmur.[/spoiler]

[spoiler title=”8. Prabowo-Hatta Tokoh Inspiratif, Pemimpin Masa Depan”]
Prabowo-Hatta membuktikan dirinya sebagai tokoh inspiratif dan pemimpin masa depan. Keduanya adalah kekuatan reformasi yang mendobrak Orde Baru. Prabowo menciptakan reformasi dari dalam dan Hatta mendesakkan reformasi dari luar. Kombinasi inspirasi ini melahirkan kepemimpinan masa depan yang tangguh dan kuat.Padu padan Prabowo-Hatta juga bisa saling menguatkan. Prabowo seorang militer yang tegas dan berani. Hatta sosok pribadi yang jujur berintegritas yang memiliki kekuatan administrasi dan kecerdikan konsep dan strategi manajemen. Prabowo tokoh politik visioner, Hatta tokoh ekonomi kerakyatan.

Prabowo menyatukan bangsa dan negara, Hatta yang merawat kebhinekaan dan kemajemukannya. Prabowo yang membangun mercusuar kebangkitan dan peradaban Indonesia baru, Hatta yang menyiapkan infrastruktur dan anggarannya. Prabowo yang menghentak dunia dengan diplomasi dan kekuatan visi nasionalisnya, Hatta yang meletakkan konsep dan strateginya. Prabowo yang menyatukan bangsa dan negara, Hatta yang merawat kebhinekaan dan kemajemukannya.[/spoiler]

[spoiler title=”9. Prabowo-Hatta Kombinasi Militer-Sipil, NU-Muhammadiyah, Jawa-Luar Jawa yang Sempurna”]
Prabowo simbol pemimpin Jawa yang tegas dan berani. Kombinasi berbeda ditunjukkan Hatta Rajasa sebagai pemimpin luar Jawa yang jujur dan berintegritas. Kombinasi pemimpin Jawa dan Luar Jawa yang pas untuk pemerataan hasil-hasil pembangunan.Prabowo tokoh militer yang sangat memegang janji sapta marga, mencintai bangsa dan negaranya. Hatta Rajasa tokoh sipil yang sangat merakyat dan memegang janji suci kerakyatannya sehingga melahirkan konsep ekonomi kerakyatan Hattanomic.

Prabowo dikenal sangat dekat dengan NU dan hidup dalam tradisi nahdliyin dan Hatta Rajasa merupakan tokoh Muhammadiyah dan hidup dalam tradisi Muhammadiyah.

“Jika berangkat tugas, sebagai tentara, saya akan datangi kyai untuk minta amalan-amalan dan doa keselamatan,” kata Prabowo.[/spoiler]

[spoiler title=”10. Prabowo-Hatta Representasi Keindonesiaan dan Kejayaan”]
Prabowo-Hatta mewakili keindonesian dan keduanya sama-sama menggantungkan impian bagi kejayaan dan kemajuan bangsa dan negara ini. Prabowo-Hatta merepresentasikan harapan bangsa ini untuk lebih bermartabat, duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan negara-negara di dunia.

Prabowo-Hatta merepresentasikan harapan seluruh rakyat untuk hidup lebih layak, lebih adil, dan lebih makmur. Prabowo- Hatta merepresentasikan keinginan seluruh elemen bangsa, laki-laki-perempuan, tua-muda, kaya-miskin, buruh-majikan, pelajar dan mahasiswa, karyawan, ibu rumah tangga, petani, pedagang, pegawai, birokrasi, yang Islam dan non-Islam, untuk bisa bersatu padu, bersinergi, bangkit dari keterpurukan, bangkit dari kemiskinan, bangkit dari bangsa yang dihinakan menuju kepada kedaulatan, kemandirian, kesejahteraan, dan kemuliaan dengan segenap jati diri bangsa yang santun dan ramah.[/spoiler]

[/accordion]

Ayo dukung Prabowo-Hatta untuk Indonesia Bangkit! Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi?


Sumber: www.prabowosubianto.info

Turun Tangan bersama Anies Baswedan
Article, Turun Tangan

Anies Baswedan: We are making history!

Teman-teman relawan,

[dropcap style=”flat”]S[/dropcap]aya mengapresiasi dukungan teman-teman yang luar biasa di Debat Final Konvensi. Dukungan teman-teman memberikan motivasi yang luar biasa kepada saya di atas panggung. Saya ingat ketika di sesi kedua, saat moderator bertanya, “Mana pendukung Anies?” Barisan relawan yang begitu banyak langsung memberi dukungan sampai membuat seisi ruangan terdiam menyaksikan teman-teman.

Turun Tangan bersama Anies Baswedan

Saya bangga karena akhirnya kita telah menyelesaikan debat konvensi ini secara terhormat. Kini publik menunggu jawaban dari Majelis Tinggi dan Komite Konvensi Demokrat.

Saat satu bulan lalu banyak orang yang ragu apakah konvensi harus dilanjutkan, sejak awal kita optimistis katakan bahwa konvensi ini harus diselesaikan. Konvensi ini proses yang benar, maka kita mendorong tradisi politik ini untuk terus dilanjutkan. Dan kita akan terus kawal proses ini hingga tuntas.

Sikap saya mengenai konvensi ini juga saya kemukakan dalam closing statement di debat final konvensi lalu. Teman-teman bisa bagikan pesan optimistis yang saya sampaikan dalam closing statement tersebut pada khalayak ramai, biarkan ikhtiar dan rasa optimistis kita ini menyebarluas.

Setiap kita pasti punya kesan mendalam dari keikutsertaan kita dalam proses ini. Saya sarankan tuliskan pengalaman teman-teman yang paling berkesan. Teman-teman bisa tuliskan itu di blog yang diinisiasi oleh teman relawan. Kita ingin tulisan-tulisan tersebut hadir sebagai sebuah pelajaran politik bersih bagi generasi-generasi selanjutnya. Tulis dan ingatlah bahwa kita pernah terlibat dalam mendorong perubahan politik di negeri ini dengan cara-cara yang mulia.

Debat Final Konvensi memang sudah selesai, tapi ingat perjalanan kita masih panjang. Saya ingat pada saat ini dimulai banyak pertanyaan yang hadir tapi kemudian saya katakan begini, Indonesia saat ini penuh dengan opini bermacam-macam, tapi kita semua bukan takut pada opini hari ini, kita harus lebih takut pada opini sejarawan di masa depan.

Karena itu kita memilih untuk TurunTangan. Memilih untuk mengatakan pada generasi mendatang bahwa kita tak tinggal diam, kita memilih untuk turun tangan. Dan dengan bangga kita bisa katakan, “We are making history!”

Salam Hangat,
Anies Baswedan


Tulisan di atas adalah kiriman email dari Anies Baswedan kepada relawan Turun Tangan. Saat ini, sudah lebih 20.000 orang bergabung sebagai relawan, mari bersama lunasi janji kemerdekaan. Ayo bergabung!

Passport Indonesia
Article, Re-blogged

Sudahkah Anda memiliki passport?

[dropcap style=”flat”]S[/dropcap]etiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Passport Indonesia

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki “surat ijin memasuki dunia global.”. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.

“Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?” Saya katakan saya tidak tahu. Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya. Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

The Next Convergence
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. Dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport. Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide-nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut.

Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.

Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.


*Artikel ini ditulis oleh Rhenald Kasali, Guru Besar Universitas Indonesia

Article, News, Organization and Movement

Agung Prasetyo Wibowo: These are tips and tricks how to mastering English

[dropcap style=”flat”]H[/dropcap]ari minggu pagi ini, HMI English Community kembali menggelar diskusi rutin mingguan. Setelah pada minggu sebelumnya agenda ini diisi oleh saudara Yuspa Rizal S.Pd. (Berita: Yuspa Rizal: The importance of study English is as access key). Minggu ini EC kembali mengundang salah satu pakar bahasa Inggris yang juga alumni pendidikan bahasa Inggris di UIN Suska Riau, yaitu saudara Agung Prasetyo Wibowo, S.Pd. Adapun tema yang diangkat pada diskusi kali ini adalah “How to mastering English”.

Agung dan saya (Adhitya) berfoto bersama dengan peserta

Diskusi dengan mengundang pemateri dari luar kalangan HMI adalah metode komunitas ini dalam memperluas wawasan dan menimba pengetahuan langsung dari pakarnya. Selain diskusi, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) juga terdapat di komunitas ini, mentornya saat ini adalah kakanda Adhitya Fernando,S.Pd. Diskusi dilaksanakan setelah KBM selesai, yakni pada pukul 11.00 Wib.

Peserta sedang praktik percakapan bahasa Inggris

Dalam penyampaian materinya, Agung menggunakan bahasa Inggris dari awal sampai akhir, hanya sesekali ia selingi dengan bahasa Indonesia. Hal ini berulang kali membuat wajah peserta tak karuan karena mencoba menerka artinya, namun walau begitu sepanjang diskusi tak seorang pun peserta yang jenuh. Mereka terlihat antusias, gelak tawa pun meletus pada beberapa kesempatan, terutama pada saat Agung mencoba berkomunikasi dengan peserta. Jawaban ragu dan kaku, mengundang kelucuan tersendiri dalam diskusi tersebut. Walau demikian, tetaplah semangat dan antusias para peserta patut diparesiasi.

Agung mencoba membuka cakrawala berfikir peserta pada awal-awal materinya, “Menguasai bahasa inggris dan keterampilan lain di luar bidang studi akan menjadi poin plus yang sangat bermanfaat nantinya”, ujar Agung. Tak lama kemudian ia pun masuk kepada materi, yakni bagaimana cara menguasai bahasa Inggris. Agung menanyakan, apa yang penting dikuasai dalam bahasa Inggris. Satu persatu peserta pun memberikan jawaban, namun mayoritas peserta menjawab “Grammar” adalah yang terpenting, disusul kemudian dengan Speaking, Listening dan Reading. Agung pun mencoba meluruskan jawaban peserta, ia membenarkan bahwa empat hal tersebut adalah hal yang perlu untuk dikuasai namun Grammar bukanlah yang terpenting. Dan inilah urutan dari yang paling utama menurut Agung:

  1. Listening
  2. Speaking
  3. Reading
  4. Writing

Listening dan Speaking adalah dua yang paling utama. “Dua hal tersebut juga memiliki hubungan keterkaitan yang kuat”, tandas Agung. Kemampuan mendengar dan berbicara adalah kunci dalam komunikasi, kita akan bisa mengungkapkan sesuatu jika mempunyai kemampuan Speaking, namun kita yang non-native English speaker ini haruslah terlebih dahulu mampu mendengarkan bagaimana percakapan bahasa Inggris itu disampaikan. Curiousity atau rasa ingin tahu juga bisa tersalurkan dengan menguasai dua keterampilan tersebut.

Selanjutnya adalah Reading dan Writing, dua hal ini juga erat kaitannya. Menguasai keterampilan ini akan sangat membantu kita dalam komunikasi tertulis, seperti yang digandrungi saat ini adalah chatting di sosial media maupun berkirim email, dua keterampilan tersebut akan sangat membantu. Dengannya, kita akan bisa berkomunikasi dengan orang Malaysia, USA maupun orang asing lainnya.

Agung sedang menyampaikan materi

Lalu, apakah kita juga harus menguasai Grammar?, Tanya Agung kepada Peserta. Setiap peserta pun menyampaikan pendapatnya, mayoritas peserta mengatakan bahwa keterampilan tersebut penting untuk dikuasai. Namun, tidak begitu perlu untuk speaking.

Agung bertanya lagi, “How long have you been study English?”, sudah berapa lama belajar bahasa Inggris. Rata-rata peserta menjawab 12-13 tahun, sejak sekolah dasar. “Sudah belajar selama itu apa yang Anda dapatkan”, tanya Agung kembali. Salah satu peserta menjawab, “Like…I can, yes no”, para peserta pun terbahak mendengarnya. “Saya sudah belajar bahasa Inggris sejak kelas 5 SD”, terang Agung. Lagi peserta tertawa.

Kesalahannya adalah pada sistem pendidikan kita. Belajar bahasa Inggris, guru hanya fokus mengajari kita tentang Grammar, tanpa aplikasi (maksudnya speaking), sekedar bagi LKS dan kerjakan tugas. Sistem ujian kita pun arahnya untuk mengukur keterampilan tersebut, pertanyaan dalam ujian cenderung berbentuk reading text, grammar, multiple choices. Dalam tugas pun jarang sekali ada porsi percakapan (speaking), English tidak digunakan sebagai bahasa sehari-hari. Alhasil, wajar jika kita lemah dalam kemampuan berbicara. Padahal ukuran menguasai bahasa Inggris itu ya kemampuan berbicara menggunakan bahasa tersebut.

Kemampuan Grammar memang diperlukan, terutama untuk scientific writing berupa karya ilmiah, essay dsb. Juga ketika melamar beasiswa atau pekerjaan. Namun, dalam hal speaking, keterampilan grammar menjadi tidak harus dikuasai dengan mahir. Kita tidak bisa mengungkapkan sesuatu, karena memang kita tak terbiasa mengungkapkannya. Agung menekankan kepada peserta untuk mulai menerapkan bahasa Inggris dalam bahasa sehari-hari.

Selanjutnya Agung menyampaikan beberapa tips dan trik untuk bisa menguasai bahasa Inggris dan metode-metode yang mendukungnya. Salah satunya, ujar Agung, adalah dengan bergabung di komunitas bahasa Inggris. Disana kita akan mudah terbiasa, walau tidak sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris, barangkali campur 50% dengan bahasa Indonesia. Tapi itu akan melatih kita untuk menjadi terbiasa. “Belajar di komunitas memang baik, tapi kalau sudah pulang ke rumah dan tidak mengaplikasikannya ya sama dengan nihil”, tegasnya.

Diskusi ini berlangsung hampir satu jam, diakhir sesi dibuka kesempatan untuk bertanya. Diantara beberapa pertanyaan peserta adalah bagaiman membiasakan bahasa Inggris di rumah atau aktifitas sehari-hari. Agung pun menceritakan pengalaman belajarnya. Dulu sewaktu masih di sekolah dasar hingga menengah, Agung selalu menyempatkan untuk menonton siaran Tv Malaysia dan Singapore. “Try to follow their language and get small pocket dictionary”, dari sana kita akan bisa mulai aktif belajar. Selain itu, dulu AGung juga sering praktek bahasa Inggris sendirian. “Start with speaking alone. Don’t care about grammar. Give a simple question to yourself and try to answer it”, tambahnya. Kalau dikiran orang gila, ya cuek saja, kata Agung. Peserta pun terbahak. Agung kemudian mengatakan bahwa, sebaiknya jangan gunakan small pocket dictionary, gunakanlah yang lengkap. Seorang dosennya menyarankan kamus Hassan Sadili.

Tips lainnya dari Agung adalah banyak membaca buku teks bahasa Inggris, ataupun artikel bahasa Inggris. “Pelajari textnya, buat klasifikasi, garis bawahi dan cari artinya, itu akan sangat membantu, ujar Agung.

Pertanyaan lainnya dari peserta adalah tentang bagaimana menanggapi perlakuan orang-orang sekitar yang selalu bersikap underestimate jika kita menggunakan bahasa Inggris. Peserta tersebut mengatakan bahwa, acap kali ketika misalnya ia menulis status di Facebook menggunakan bahasa Inggris maka orang lain akan berkomentar yang merendahkan. “Katanya bahasa Inggris kita tak baguslah, dan sebagainya…”, sambung peserta. Gelak tawa pun kembali hadir ditengah diskusi. Agung kemudian menjawab pertanyaan tersebut dengan bercerita bahwa dirinya hanyalah seorang anak kampus, tepatnya berasal dari Selat Panjang. “Kalau di kampung, setiap ada sesuatu kabar maka akan cepat sekali menyebarnya”, ujar Agung. Maka ia pun memanfaatkan hal tersebut, ia berusaha memenangkan berbagai lomba dan ia pun menjadi juaranya. Sekejap saja kabar tersebut menyebar, dan bagusnya lagi orang dengan seketika menilainya hebat tanpa tahu sebenarnya bagaimana kemampuan kita. Ya pandai-pandai saja, sambungnya.

Selain itu, Agung juga bercerita tentang pengalamannya diajar oleh seorang guru kursus berkebangsaan India. Guru tersebut selalu meremehkannya, walaupun prestasi yang disandang Agung cukup baik. “..palingan Agung ini hanya tahu ini saja, kurang lebih begitu ucap sang guru pada dirinya”, curhat Agung. Namun, suatu ketika guru tersebut memberikan tugas kepada peserta belajar, ia memberikan gambar suatu taman bermain yang disana ada roller coster, dan wahana bermain lainnya yang jelas saya tidak tahu apa kosa katanya dalam bahasa Inggris, sebut Agung. Namun, dengah ketidaktahuannya ia mencari cara untuk tetap dapat menjelaskan gambar tesebut. Agung menjelaskannya bukan dengan menceritakan tentang wahana-wahana bermain tersebut yang memang tidak diketahuinya. Namun ia menceritakan bahwa gambar itu adalah tempat bermain, disana kita akan merasakan senang dan bergembira, seperti itu lah gambaran ia menjelaskan. “Jelaskan dengan kosa kata yang kita tahu”, ujar Agung. Gurunya pun menilai Agung sangat cerdas, tidak seperti yang dia katakan sebelumnya.

“Jadi, jangan menyerah dengan komentar orang lain, jadikan itu koreksi dan introspekasi untuk berusaha dengan lebih baik. Katakan bahwa saya belajar bahasa Inggris ini untuk keterampilan diri saya, bukan untuk mereka”.

Terakhir, Agung memberikan saran agar komunitas ini dapat lebih kreatif dalam pembelajaran. “Tidak harus tatap muka berbicara seperti ini saja, bisa juga dengan menonton film dengan subtitle bahasa Inggris bersama-sama”, ucapnya. Dan “be in the community consistently”, tutup Agung.


 

*Agung Prasetyo Wibowo adalah alumni pendidikan bahasa Inggris UIN Suska Riau. Saat kuliah, ia pernah mendapat kesempatan menjadi peserta program Kapal Pemuda Nusantara. Saat ini Agung menjadi guru di Singapore Education School (SES) Pekanbaru.


Ayo kader HMI, mari bergabung dengan HMI English Community.

Pamflet pendaftaran HMI English Community

Yuspa Rizal menerima plakat sebagai pemateri
Article, News, Organization and Movement

Yuspa Rizal: The importance of study English is as access key

[dropcap style=”flat”]M[/dropcap]inggu, tanggal 6 Maret yang lalu. HMI English Community secara khusus mengundang saudara Yuspa Rizal, S.Pd untuk menjadi pembicara pada diskusi rutin di komunitas tersebut.

Yuspa Rizal menerima plakat sebagai pemateri

HMI English Community adalah komunitas yang bergiat dalam pembelajaran bahasa Inggris, khusus untuk kader-kader HMI. Komunitas yang berdiri atas inisiatif dari Adhitya Fernando ini terbentuk belum lama ini, masih belum genap satu bulan. Komunitas ini launching secara resmi pada tanggal 16 Maret 2013. Acara launching ketika itu dilaksanakan di gedung pusat kegiatan HMI/KAHMI Jl. Melayu Soekarno-Hatta, Pekanbaru. (Berita: HMI Komisariat Takesi Launching HMI English Community).

Selain bergiat dalam proses belajar-mengajar, guna menambah wawasan dan minat kader dalam belajar bahasa Inggris, maka komunitas ini pun merancang kegiatan tambahan untuk menunjang hal tersebut. Diskusi rutin adalah salah satunya. Diskusi ini dilaksanakan satu minggu sekali dengan mengundang para pakar bahasa Inggris maupun para mahasiswa yang punya pengalaman dalam pertukaran pelajar dan kegiatan-kegiatan bertema English lainnya.

Yuspa Rizal adalah pemateri diskusi pertama yang diundang oleh komunitas ini. Adapun tema yang diangkat adalah “The importance of English in globalization era”. Tema ini sengaja diangkat untuk mengawali diskusi rutin tersebut, dengan harapan dapat membuka wawasan para peserta bahwa menguasai bahasa Inggris tersebut menjadi sangat penting, terutama dalam era globalisasi seperti saat sekarang ini.

The importance of study English is as access key”, jelas Yuspa Rizal dalam penyampaian diskusinya. Yuspa Rizal menekankan bahwa mempelajari bahasa sangat penting pada saat ini, terutama bahasa Inggris. Yuspa memaparkan bahwa saat ini Indonesia tengah memasuki era globalisasi, bahkan di kawasan ASEAN sendiri sudah akan berlangsung globalisasi regional. Ditandai dengan munculnya ASEAN Economic Community (AEC) yang akan efektif berjalan pada tahun 2015. Globalisasi regional ini akan membuka pintu bagi orang, barang dan jasa keluar-masuk dengan bebas di kawasan ASEAN. “Besok orang-orang asing akan kita temui dengan mudah di daerah kita, mereka melakukan perdagangan dan aktifitas disini. Jangan sampai kita terpinggirkan alasan sepele tidak bisa berbahasa.”, tambah Yuspa. Walau sejatinya saat ini benih-benih globalisasi sudah bisa kita rasakan saat ini.

Selain itu Yuspa juga menjelaskan dengan contoh lainnya. Ia menceritakan kisah beberapa tokoh popular seperti Andrea Hirata, Ahmad Fuadi dan Anies Baswedan. Mereka adalah penerima beasiswa untuk belajar ke luar negeri. “Mereka bisa mendapatkan akses seperti itu karena mereka menguasai bahasa. Itu syarat utamanya”, tanda Yuspa. Jangan sampai ketika kita ingin mendapatkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan masa depan yang lebih baik, kita terkendala bahasa, jelas Yuspa.

Bahasa Inggris menjadi kunci untuk mengakses berbagai peluang dan kesempatan, seperti untuk belajar. Bahkan, seperti dikatakan Yuspa, TOEFL pun telah menjadi syarat untuk masuk perguruan tinggi setingkat program master. Ditambah saat ini banyak lowongan kerja yang mensyaratkan pelamar harus bisa berbahasa Inggris. “Akan banyak kesempatan dan peluang bagus jika kita mampu menguasai bahasa Internasional ini”, ujar Yuspa.

Hal di atas adalah beberapa poin penting yang disampaikan oleh Yuspa Rizal dalam materinya yang berlangsung lebih kurang satu jam. Sesi diskusi ini dilanjutkan dengan Tanya jawab dan ditutup dengan penyerahan plakat kenang-kenangan.


*Yuspa Rizal adalah alumni UIN Suska Riau. Pada saat kuliah di UIN Suska Riau, Yuspa Rizal terpilih untuk mengikuti beberapa program pertukaran pelajar ke luar negeri, diantaranya adalah program Indonesia English Language Study Program (IELSP) ke Amerika pada tahun 2012. Dan juga beliau terpilih sebagai duta Indonesia untuk Program Pertukaran Pelajar Antar Negara (PPAN) ke China pada tahun 2013. Saat ini Yuspa Rizal bekerja sebagai dosen Pusat Bahasa di UIN Suska Riau dan guru di MAN 1 Model Pekanbaru.


Tertarik bergabung dengan HMI English Community? Kami masih membuka pendaftaran.
Silahkan perhatikan brosur dibawah.

Pamflet pendaftaran HMI English Community

Capres Indonesia 2014
Article, Re-blogged, Social & Politic

Membedah gagasan calon presiden Indonesia

[dropcap style=”flat”]B[/dropcap]elakangan, saya mencoba membaca dan mulai membandingkan gagasan-gagasan yang diusung oleh para calon Presiden yang bermunculan. Dari sekian nama yang berseliweran, saya baru menemukan gagasan dari Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie, Anis Matta dan Anies Baswedan. Calon lain tampak belum mengeluarkan gagasannya, kemungkinan mereka masih menyimpan ide segar untuk Indonesia-nya pasca pemilu legislatif atau memang mereka tidak memikirkan gagasan.

Capres Indonesia 2014

Kita coba kupas satu per satu dari 4 nama yang telah saya sebutkan di atas.

1. Prabowo Subianto

Prabowo dan Partai Gerindra mengusung “6 Program Transformasi Aksi Bangsa”. Enam program ini meliputi isu ekonomi, pangan, energi, infrastruktur, birokrasi, dan pembangunan manusia. Menariknya gagasan yang dibawa oleh Prabowo adalah dia selalu mengupayakan adanya kuantifikasi (angka) dalam program turunannya. Seperti peningkatan pendapatan per kapita hingga USD 3500, membangun 3000 km jalan raya dan kereta api dan mencetak 2 juta Ha lahan pertanian baru. Buat saya, cara penyajian gagasan semacam ini sangatlah baik karena memberikan kesempatan bagi calon pemilih untuk bisa mengkritisi gagasan program yang ada dan merefleksikan dengan kebutuhan terhadap pembangunan Indonesia. Belakangan, Prabowo bahkan mulai mengeluarkan angka-angka rupiah yang diperlukan untuk menjalankan programnya. Terakhir saya membaca rencana infrastruktur yang beliau butuhkan adalah 505 Triliun.

2. Aburizal Bakrie

Aburizal Bakrie dan Partai Golkar mengusung tema “Visi Indonesia 2045: Negara Kesejahteraan”. Berbeda dengan Prabowo, Ical, sapaan akrab Aburizal Bakrie memulai gagasan dengan target/indikator pembangunan Indonesia yang di bagi menjadi 3 fase. Setiap fase ada pencapaian yang ingin dicapai, yang menurut saya masih terfokus pada indikator ekonomi, seperti rasio gini, pertumbuhan dan pendapatan per kapita. Ada beberapa indikator juga terkait isu sosial seperti tingkat kemiskinan dan pengangguran, namun saya tidak melihat standar apa yang digunakan dalam menentukan penilaian indikator ini. Selanjutnya, Ical mencoba menurunkan target pencapaian ini menjadi strategi-strategi. Bagus dan melingkupi semua aspek pembangunan, namun sayangnya diskusi yang dimunculkan masihlah bersifat normatif. Kalimat-kalimat ala orde baru seperti ‘mengoptimalkan’, ‘memajukan’, ‘mensinergikan’, dan ‘mempercepat’ masih menjadi pilihan kata yang digunakan. Alhasil, saya melihat strategi Ical dengan pengusungan ‘blue print’ ini merupakan buah pemikiran yang baik dan patut di tiru, namun dalam tatanan implementasi, ini masih sulit untuk divisualisasikan. Strategi pembuatan ‘cetak biru’ yang bersifat makro abstrak ini cenderung tidak cocok untuk pemilih generasi baru demokrasi.

3. Anis Mata

Anis Matta, dengan buku “Gelombang ketiga Indonesia” mencoba memberikan gambaran atau peta tentang situasi yang terjadi di Indonesia saat ini. Melalui bukunya, Anis Matta mencoba berkomunikasi dengan generasi pemilih baru demokrasi, bahwa dirinya mengerti betul kebutuhan dari generasi ‘posmo’ ini. Anis memberikan sebuah cara pandang baru dalam pembangunan Indonesia, yaitu dengan memahami manusia Indonesia itu sendiri. Dengan memahami karakter manusia Indonesia, seorang pemimpin akan mengetahui cara terbaik dalam membangun manusia dan bangsa Indonesia. Itu mengapa, Anis, dalam bukunya mengatakan bahwa peran pemimpin (dalam konteks ini Presiden) adalah membentuk pribadi manusia Indonesia. Apakah manusia Indonesia masihlah seperti yang Koentjoroningrat karakterkan di tahun 1976 ataukah sudah ada perubahan? Anis meyakini telah terjadi perubahan, sehingga menjadi sangat penting untuk pemimpin Indonesia menemukan arah dan gaya kepemimpinan baru di republik ini. Anis menekankan pentingnya titik equilibrium antara pembangunan ekonomi dan kebebasan politik. Di salah satu bagian buku, Anis juga mengutarakan urgensi bagi pemimpin Indonesia dalam memanfaatkan semua fitur demokrasi untuk menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

4. Anies Baswedan

Anies Baswedan dengan jargon “Menuntaskan janji kemerdekaan’”membawa tema ‘Indonesia 1945′: 1 Semangat, 9 Pekerjaan, 4 Janji Kemerdekaan dan 5 Tahun bekerja. Anies menurut saya masuk dengan gagasan yang disajikan dengan cara ‘posmo’. Sangat anak muda, mudah dipahami, dan menggunakan kata kata persuasif yang membuat orang mau bekerjasama dengannya. 9 pekerjaan yang di angkat oleh Anies adalah 9 aspek pembangunan yang ia pilih dan beri label: Indonesia Merdeka, Indonesia Beradab, Indonesia Sejatera, Indonesia Adil dan Makmur, Indonesia Cerdas, Indonesia Sehat, Indonesia Erat, Indonesia Bermartabat dan Indonesia Gotong Royong. Setiap tema pembangunan ini memiliki sasaran/target masing-masing yang diturunkan menjadi strategi pencapaian tersendiri. Namun, saya melihat, Anies masih menggunakan kalimat-kalimat kualitatif (gaya sastrawan) ketimbang memunculkan angka-angka pencapaian. Selain itu, Anies masih banyak mengupas kondisi eksisting Indonesia dan menjadikan itu sebagai landasan dalam mendefinisikan tantangan Indonesia.

Menariknya, saya melihat, Anies menaruh titik tekan (setidaknya saya nilai dari sejauh mana elaborasi strategi) pada dua bidang, yaitu ekonomi dan pendidikan. Saya kira ini sesuai dengan latar belakang seorang Anies yang peduli kualitas sumber daya manusia dan tantangan meningkatkan level ekonomi Indonesia. Sebagai seorang alumnus luar negeri, Anies terlihat dari cara penyajiannya yang gemar membandingkan kondisi Indonesia dengan kondisi negara lain. Menurut saya, yang perlu dilakukan Anies selanjutnya adalah bekerjasama dengan para pakar sesama Ph.D lainnya untuk menurunkan gagasan besar dia menjadi narasi narasi kecil yang konkrit dan mampu di implementasikan.

Demikian komparasi saya terhadap 4 gagasan yang sudah ada. Buat saya, Indonesia perlu memaksa dirinya untuk terbiasa mengkomparasi gagasan yang di bawa oleh calon Presiden atau Partai Politik. Dengan membandingkan gagasan yang ada, kita menjadi mengetahui bagaimana gambaran Indonesia kedepan, memberikan kesempatan kepada kita untuk mengkritisi rencana kebijakan yang ada bila dinilai tidak valid. Dan yang paling penting, kita memilih dengan landasan rasional, yaitu membandingkan gagasan.

#analisisekonomipolitik


*Artikel ini merupakan tulisan Ridwansyah Yusuf Ahmad. Tulisan aslinya dapat dilihat di:  Membedah gagasan calon presiden Indonesia

Close