Category

Organization and Movement

Article, Conference and Exchange, News, Organization and Movement

Tawaran kerjasama roadshow #SetengahDewa

Roadshow #Mahasiswa Setengah Dewa
Perhelatan akbar dalam rangka tahun akademik baru

Salam mahasiswa Indonesia!

Mahasiswa Setengah Dewa –edisi 1 dan 2—adalah sebuah buku yang dikarang oleh Martga Bella Rahimi. Roadshow kali ini berisi agenda bedah buku dua edisi tersebut. Acara yang dijadwalkan berlangsung dari tanggal 2-27 Agustus 2015 ini akan dihelat di 20 kampus se-Indonesia. Banyak kampus yang sudah menyatakan tertarik untuk menjadi tuan rumah, jangan siakan kesempatan ini, jadikan kampus salah satu tuan rumah yang beruntung menyelenggarakan event ini.

Tawaran kerjasama roadshow #SetengahDewa

Martga Bella Rahimi adalah seorang Dokter muda di sebuah rumah sakit di Sumatera. Beliau juga aktif sebagai penulis nasional, trainer, delegasi mahasiswa pertama dan satu-satunya dari Indonesia ke Norwegia (peneliti SCORE-IMFSA), delegasi universitas pada kompetisi Mikrobiologi dan Imunologi internasional di Bangkok, Duta Baca Sumatera Barat, ketua komunitas TDA wilayah Padang, coach bisnis, penerima beasiswa SBMPTN-beasiswa BI, Supersemar, Dikti, Dana Hibah Dikti untuk program Mahasiswa Wirausaha, Beasiswa pemerintah provinsi dan telah berkunjung ke 10 negara (Asia dan Eropa) selama duduk di bangku kuliah.

Lihat teaser acara disini:

Penawaran kerjasama dapat dibaca atau didownload disini:

Apa yang hal menarik yang diberikan acara ini?

  • Menjadi mahasiswa yang jago komunikasi
  • Menjadi mahasiswa yang mempunyai performance di atas rata-rata
  • Mampu menjalin relasi dengan siapa saja dan dimana saja
  • Mampu berperan aktif di multi-organisasi
  • Memiliki kemampuan menyeimbangkan emosi dalam berbagai situasi (finansial tidak memadai, tidak mendapat dukungan dari orang terdekat, lingkungan meremehkan, patah semangat, dll)
  • Memulai dan mengembangankan usaha
  • Mendapat beasiswa dan sponsorship untuk pendidikan dan non-pendidikan
  • Memaksimalkan waktu 24 jam sehati untuk meraih berbagai hal (kuliah, organisasi, prestasi, dll)
  • Mendapat dan mempertahankan IPK di atas 3
  • Berkunjung ke banyak negara dengan nyaris tanpa biaya
  • Menjadi penulis dalam waktu 2.5 bulan
  • Mampu menerima diri secara apa adanya, kemudian memaksimalkan potensi diri

Segera konfirmasi keikutersertaanmu! Hubungi kami via:

Email: mahasiswadewa@gmail.com
Facebook: Marga Bella Rahimi
Line: Martga Bella Rahimi
BBM: 57e76b45

Salam optimalisasi mahasiswa!

Buka bersama alumni 2008 SMA N 3 Mandau tahun 2013
Organization and Movement, Survey

Data alumni dan kuesioner acara reuni dan buka bersama alumni tahun 2008 SMA N 3 Mandau

Silahkan diisi formulir berikut demi kelancaran pelaksanaan dan suksesnya acara.

Silahkan isikan data dan lengkapi kuesioner berikut untuk penyelenggaraan acara reuni dan buka bersama alumni 2008 SMA N 3 Mandau tahun 2014. Data dapat disimpan sebagai personal copy agar dapat mempermudah komunikasi dan silaturahmi di masa yang akan datang.

Terima kasih, sampai jumpa di acara reuni dan buka bersama alumni.

Buka bersama alumni 2005 SMP N 3 Mandau tahun 2013
Organization and Movement, Survey

Data alumni dan kuesioner acara reuni dan buka bersama alumni tahun 2005 SMP N 3 Mandau

Silahkan diisi formulir berikut demi kelancaran pelaksanaan dan suksesnya acara.

Silahkan isikan data dan lengkapi kuesioner berikut untuk penyelenggaraan acara reuni dan buka bersama alumni 2005 SMP N 3 Mandau tahun 2014. Data dapat disimpan sebagai personal copy agar dapat mempermudah komunikasi dan silaturahmi di masa yang akan datang.

Terima kasih, sampai jumpa di acara reuni dan buka bersama alumni.

Article, News, Organization and Movement

Agung Prasetyo Wibowo: These are tips and tricks how to mastering English

[dropcap style=”flat”]H[/dropcap]ari minggu pagi ini, HMI English Community kembali menggelar diskusi rutin mingguan. Setelah pada minggu sebelumnya agenda ini diisi oleh saudara Yuspa Rizal S.Pd. (Berita: Yuspa Rizal: The importance of study English is as access key). Minggu ini EC kembali mengundang salah satu pakar bahasa Inggris yang juga alumni pendidikan bahasa Inggris di UIN Suska Riau, yaitu saudara Agung Prasetyo Wibowo, S.Pd. Adapun tema yang diangkat pada diskusi kali ini adalah “How to mastering English”.

Agung dan saya (Adhitya) berfoto bersama dengan peserta

Diskusi dengan mengundang pemateri dari luar kalangan HMI adalah metode komunitas ini dalam memperluas wawasan dan menimba pengetahuan langsung dari pakarnya. Selain diskusi, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) juga terdapat di komunitas ini, mentornya saat ini adalah kakanda Adhitya Fernando,S.Pd. Diskusi dilaksanakan setelah KBM selesai, yakni pada pukul 11.00 Wib.

Peserta sedang praktik percakapan bahasa Inggris

Dalam penyampaian materinya, Agung menggunakan bahasa Inggris dari awal sampai akhir, hanya sesekali ia selingi dengan bahasa Indonesia. Hal ini berulang kali membuat wajah peserta tak karuan karena mencoba menerka artinya, namun walau begitu sepanjang diskusi tak seorang pun peserta yang jenuh. Mereka terlihat antusias, gelak tawa pun meletus pada beberapa kesempatan, terutama pada saat Agung mencoba berkomunikasi dengan peserta. Jawaban ragu dan kaku, mengundang kelucuan tersendiri dalam diskusi tersebut. Walau demikian, tetaplah semangat dan antusias para peserta patut diparesiasi.

Agung mencoba membuka cakrawala berfikir peserta pada awal-awal materinya, “Menguasai bahasa inggris dan keterampilan lain di luar bidang studi akan menjadi poin plus yang sangat bermanfaat nantinya”, ujar Agung. Tak lama kemudian ia pun masuk kepada materi, yakni bagaimana cara menguasai bahasa Inggris. Agung menanyakan, apa yang penting dikuasai dalam bahasa Inggris. Satu persatu peserta pun memberikan jawaban, namun mayoritas peserta menjawab “Grammar” adalah yang terpenting, disusul kemudian dengan Speaking, Listening dan Reading. Agung pun mencoba meluruskan jawaban peserta, ia membenarkan bahwa empat hal tersebut adalah hal yang perlu untuk dikuasai namun Grammar bukanlah yang terpenting. Dan inilah urutan dari yang paling utama menurut Agung:

  1. Listening
  2. Speaking
  3. Reading
  4. Writing

Listening dan Speaking adalah dua yang paling utama. “Dua hal tersebut juga memiliki hubungan keterkaitan yang kuat”, tandas Agung. Kemampuan mendengar dan berbicara adalah kunci dalam komunikasi, kita akan bisa mengungkapkan sesuatu jika mempunyai kemampuan Speaking, namun kita yang non-native English speaker ini haruslah terlebih dahulu mampu mendengarkan bagaimana percakapan bahasa Inggris itu disampaikan. Curiousity atau rasa ingin tahu juga bisa tersalurkan dengan menguasai dua keterampilan tersebut.

Selanjutnya adalah Reading dan Writing, dua hal ini juga erat kaitannya. Menguasai keterampilan ini akan sangat membantu kita dalam komunikasi tertulis, seperti yang digandrungi saat ini adalah chatting di sosial media maupun berkirim email, dua keterampilan tersebut akan sangat membantu. Dengannya, kita akan bisa berkomunikasi dengan orang Malaysia, USA maupun orang asing lainnya.

Agung sedang menyampaikan materi

Lalu, apakah kita juga harus menguasai Grammar?, Tanya Agung kepada Peserta. Setiap peserta pun menyampaikan pendapatnya, mayoritas peserta mengatakan bahwa keterampilan tersebut penting untuk dikuasai. Namun, tidak begitu perlu untuk speaking.

Agung bertanya lagi, “How long have you been study English?”, sudah berapa lama belajar bahasa Inggris. Rata-rata peserta menjawab 12-13 tahun, sejak sekolah dasar. “Sudah belajar selama itu apa yang Anda dapatkan”, tanya Agung kembali. Salah satu peserta menjawab, “Like…I can, yes no”, para peserta pun terbahak mendengarnya. “Saya sudah belajar bahasa Inggris sejak kelas 5 SD”, terang Agung. Lagi peserta tertawa.

Kesalahannya adalah pada sistem pendidikan kita. Belajar bahasa Inggris, guru hanya fokus mengajari kita tentang Grammar, tanpa aplikasi (maksudnya speaking), sekedar bagi LKS dan kerjakan tugas. Sistem ujian kita pun arahnya untuk mengukur keterampilan tersebut, pertanyaan dalam ujian cenderung berbentuk reading text, grammar, multiple choices. Dalam tugas pun jarang sekali ada porsi percakapan (speaking), English tidak digunakan sebagai bahasa sehari-hari. Alhasil, wajar jika kita lemah dalam kemampuan berbicara. Padahal ukuran menguasai bahasa Inggris itu ya kemampuan berbicara menggunakan bahasa tersebut.

Kemampuan Grammar memang diperlukan, terutama untuk scientific writing berupa karya ilmiah, essay dsb. Juga ketika melamar beasiswa atau pekerjaan. Namun, dalam hal speaking, keterampilan grammar menjadi tidak harus dikuasai dengan mahir. Kita tidak bisa mengungkapkan sesuatu, karena memang kita tak terbiasa mengungkapkannya. Agung menekankan kepada peserta untuk mulai menerapkan bahasa Inggris dalam bahasa sehari-hari.

Selanjutnya Agung menyampaikan beberapa tips dan trik untuk bisa menguasai bahasa Inggris dan metode-metode yang mendukungnya. Salah satunya, ujar Agung, adalah dengan bergabung di komunitas bahasa Inggris. Disana kita akan mudah terbiasa, walau tidak sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris, barangkali campur 50% dengan bahasa Indonesia. Tapi itu akan melatih kita untuk menjadi terbiasa. “Belajar di komunitas memang baik, tapi kalau sudah pulang ke rumah dan tidak mengaplikasikannya ya sama dengan nihil”, tegasnya.

Diskusi ini berlangsung hampir satu jam, diakhir sesi dibuka kesempatan untuk bertanya. Diantara beberapa pertanyaan peserta adalah bagaiman membiasakan bahasa Inggris di rumah atau aktifitas sehari-hari. Agung pun menceritakan pengalaman belajarnya. Dulu sewaktu masih di sekolah dasar hingga menengah, Agung selalu menyempatkan untuk menonton siaran Tv Malaysia dan Singapore. “Try to follow their language and get small pocket dictionary”, dari sana kita akan bisa mulai aktif belajar. Selain itu, dulu AGung juga sering praktek bahasa Inggris sendirian. “Start with speaking alone. Don’t care about grammar. Give a simple question to yourself and try to answer it”, tambahnya. Kalau dikiran orang gila, ya cuek saja, kata Agung. Peserta pun terbahak. Agung kemudian mengatakan bahwa, sebaiknya jangan gunakan small pocket dictionary, gunakanlah yang lengkap. Seorang dosennya menyarankan kamus Hassan Sadili.

Tips lainnya dari Agung adalah banyak membaca buku teks bahasa Inggris, ataupun artikel bahasa Inggris. “Pelajari textnya, buat klasifikasi, garis bawahi dan cari artinya, itu akan sangat membantu, ujar Agung.

Pertanyaan lainnya dari peserta adalah tentang bagaimana menanggapi perlakuan orang-orang sekitar yang selalu bersikap underestimate jika kita menggunakan bahasa Inggris. Peserta tersebut mengatakan bahwa, acap kali ketika misalnya ia menulis status di Facebook menggunakan bahasa Inggris maka orang lain akan berkomentar yang merendahkan. “Katanya bahasa Inggris kita tak baguslah, dan sebagainya…”, sambung peserta. Gelak tawa pun kembali hadir ditengah diskusi. Agung kemudian menjawab pertanyaan tersebut dengan bercerita bahwa dirinya hanyalah seorang anak kampus, tepatnya berasal dari Selat Panjang. “Kalau di kampung, setiap ada sesuatu kabar maka akan cepat sekali menyebarnya”, ujar Agung. Maka ia pun memanfaatkan hal tersebut, ia berusaha memenangkan berbagai lomba dan ia pun menjadi juaranya. Sekejap saja kabar tersebut menyebar, dan bagusnya lagi orang dengan seketika menilainya hebat tanpa tahu sebenarnya bagaimana kemampuan kita. Ya pandai-pandai saja, sambungnya.

Selain itu, Agung juga bercerita tentang pengalamannya diajar oleh seorang guru kursus berkebangsaan India. Guru tersebut selalu meremehkannya, walaupun prestasi yang disandang Agung cukup baik. “..palingan Agung ini hanya tahu ini saja, kurang lebih begitu ucap sang guru pada dirinya”, curhat Agung. Namun, suatu ketika guru tersebut memberikan tugas kepada peserta belajar, ia memberikan gambar suatu taman bermain yang disana ada roller coster, dan wahana bermain lainnya yang jelas saya tidak tahu apa kosa katanya dalam bahasa Inggris, sebut Agung. Namun, dengah ketidaktahuannya ia mencari cara untuk tetap dapat menjelaskan gambar tesebut. Agung menjelaskannya bukan dengan menceritakan tentang wahana-wahana bermain tersebut yang memang tidak diketahuinya. Namun ia menceritakan bahwa gambar itu adalah tempat bermain, disana kita akan merasakan senang dan bergembira, seperti itu lah gambaran ia menjelaskan. “Jelaskan dengan kosa kata yang kita tahu”, ujar Agung. Gurunya pun menilai Agung sangat cerdas, tidak seperti yang dia katakan sebelumnya.

“Jadi, jangan menyerah dengan komentar orang lain, jadikan itu koreksi dan introspekasi untuk berusaha dengan lebih baik. Katakan bahwa saya belajar bahasa Inggris ini untuk keterampilan diri saya, bukan untuk mereka”.

Terakhir, Agung memberikan saran agar komunitas ini dapat lebih kreatif dalam pembelajaran. “Tidak harus tatap muka berbicara seperti ini saja, bisa juga dengan menonton film dengan subtitle bahasa Inggris bersama-sama”, ucapnya. Dan “be in the community consistently”, tutup Agung.


 

*Agung Prasetyo Wibowo adalah alumni pendidikan bahasa Inggris UIN Suska Riau. Saat kuliah, ia pernah mendapat kesempatan menjadi peserta program Kapal Pemuda Nusantara. Saat ini Agung menjadi guru di Singapore Education School (SES) Pekanbaru.


Ayo kader HMI, mari bergabung dengan HMI English Community.

Pamflet pendaftaran HMI English Community

Yuspa Rizal menerima plakat sebagai pemateri
Article, News, Organization and Movement

Yuspa Rizal: The importance of study English is as access key

[dropcap style=”flat”]M[/dropcap]inggu, tanggal 6 Maret yang lalu. HMI English Community secara khusus mengundang saudara Yuspa Rizal, S.Pd untuk menjadi pembicara pada diskusi rutin di komunitas tersebut.

Yuspa Rizal menerima plakat sebagai pemateri

HMI English Community adalah komunitas yang bergiat dalam pembelajaran bahasa Inggris, khusus untuk kader-kader HMI. Komunitas yang berdiri atas inisiatif dari Adhitya Fernando ini terbentuk belum lama ini, masih belum genap satu bulan. Komunitas ini launching secara resmi pada tanggal 16 Maret 2013. Acara launching ketika itu dilaksanakan di gedung pusat kegiatan HMI/KAHMI Jl. Melayu Soekarno-Hatta, Pekanbaru. (Berita: HMI Komisariat Takesi Launching HMI English Community).

Selain bergiat dalam proses belajar-mengajar, guna menambah wawasan dan minat kader dalam belajar bahasa Inggris, maka komunitas ini pun merancang kegiatan tambahan untuk menunjang hal tersebut. Diskusi rutin adalah salah satunya. Diskusi ini dilaksanakan satu minggu sekali dengan mengundang para pakar bahasa Inggris maupun para mahasiswa yang punya pengalaman dalam pertukaran pelajar dan kegiatan-kegiatan bertema English lainnya.

Yuspa Rizal adalah pemateri diskusi pertama yang diundang oleh komunitas ini. Adapun tema yang diangkat adalah “The importance of English in globalization era”. Tema ini sengaja diangkat untuk mengawali diskusi rutin tersebut, dengan harapan dapat membuka wawasan para peserta bahwa menguasai bahasa Inggris tersebut menjadi sangat penting, terutama dalam era globalisasi seperti saat sekarang ini.

The importance of study English is as access key”, jelas Yuspa Rizal dalam penyampaian diskusinya. Yuspa Rizal menekankan bahwa mempelajari bahasa sangat penting pada saat ini, terutama bahasa Inggris. Yuspa memaparkan bahwa saat ini Indonesia tengah memasuki era globalisasi, bahkan di kawasan ASEAN sendiri sudah akan berlangsung globalisasi regional. Ditandai dengan munculnya ASEAN Economic Community (AEC) yang akan efektif berjalan pada tahun 2015. Globalisasi regional ini akan membuka pintu bagi orang, barang dan jasa keluar-masuk dengan bebas di kawasan ASEAN. “Besok orang-orang asing akan kita temui dengan mudah di daerah kita, mereka melakukan perdagangan dan aktifitas disini. Jangan sampai kita terpinggirkan alasan sepele tidak bisa berbahasa.”, tambah Yuspa. Walau sejatinya saat ini benih-benih globalisasi sudah bisa kita rasakan saat ini.

Selain itu Yuspa juga menjelaskan dengan contoh lainnya. Ia menceritakan kisah beberapa tokoh popular seperti Andrea Hirata, Ahmad Fuadi dan Anies Baswedan. Mereka adalah penerima beasiswa untuk belajar ke luar negeri. “Mereka bisa mendapatkan akses seperti itu karena mereka menguasai bahasa. Itu syarat utamanya”, tanda Yuspa. Jangan sampai ketika kita ingin mendapatkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan masa depan yang lebih baik, kita terkendala bahasa, jelas Yuspa.

Bahasa Inggris menjadi kunci untuk mengakses berbagai peluang dan kesempatan, seperti untuk belajar. Bahkan, seperti dikatakan Yuspa, TOEFL pun telah menjadi syarat untuk masuk perguruan tinggi setingkat program master. Ditambah saat ini banyak lowongan kerja yang mensyaratkan pelamar harus bisa berbahasa Inggris. “Akan banyak kesempatan dan peluang bagus jika kita mampu menguasai bahasa Internasional ini”, ujar Yuspa.

Hal di atas adalah beberapa poin penting yang disampaikan oleh Yuspa Rizal dalam materinya yang berlangsung lebih kurang satu jam. Sesi diskusi ini dilanjutkan dengan Tanya jawab dan ditutup dengan penyerahan plakat kenang-kenangan.


*Yuspa Rizal adalah alumni UIN Suska Riau. Pada saat kuliah di UIN Suska Riau, Yuspa Rizal terpilih untuk mengikuti beberapa program pertukaran pelajar ke luar negeri, diantaranya adalah program Indonesia English Language Study Program (IELSP) ke Amerika pada tahun 2012. Dan juga beliau terpilih sebagai duta Indonesia untuk Program Pertukaran Pelajar Antar Negara (PPAN) ke China pada tahun 2013. Saat ini Yuspa Rizal bekerja sebagai dosen Pusat Bahasa di UIN Suska Riau dan guru di MAN 1 Model Pekanbaru.


Tertarik bergabung dengan HMI English Community? Kami masih membuka pendaftaran.
Silahkan perhatikan brosur dibawah.

Pamflet pendaftaran HMI English Community

News, Organization and Movement

Gerakan komisariat bersatu: Solusi konflik dualisme HMI Cabang Pekanbaru

[heading]Terkait konflik internal di HMI Cabang Pekanbaru. Sampai beberapa bulan lalu saya masih memandang persoalan ini dengan datar, bahwa silahkan kedua belah pihak beraktifitas masing-masing, dengan catatan tidak saling sikut dan tidak saling singgung.[/heading]

Komisariat bersatu

[dropcap style=”flat”]P[/dropcap]ernyataan tersebut sempat saya utarakan bersama ketua umum yang saya dukung dihadapan ketua umum terpilih BADKO HMI Riau-Kepri. Ketika itu mencuat masalah surat pemecatan sebagai anggota HMI oleh salah satu pihak. Korbannya adalah ketua umum yang saya dukung. Saya kesal sekali ketika itu, jika hendak dualisme silahkan saja, tapi jangan saling ganggu. Itu fikiran saya sampai beberapa waktu.

Seiring waktu berjalan, saya pun berubah fikiran. Sekarang saya melihat masalah ini dari sudut pandang yang berbeda. Akar konflik ini adalah seteru antar dua kubu yang sudah berlangsung sejak lama, sudah beberapa generasi berjalan.

Terkait konflik dualisme di HMI Cabang Pekanbaru. Sampai beberapa bulan lalu saya masih memandang persoalan ini dengan datar, bahwa silahkan kedua belah pihak beraktifitas masing-masing, dengan catatan tidak saling sikut dan tidak saling singgung.

Saya sebenarnya sudah mewanti-wanti potensi timbulnya konflik pada saat konfercab akan diadakan. Sadar akan hal tersebut dan guna mencegah konflik besar terjadi lagi seperti konfercab tahun lalu, karenanya pada saat konferensi cabang ke-31 tersebut saya mengusulkan ide Fit and Proper Test pada pleno 4 pemilihan ketua umum, walaupun itu tidak terdapat dalam tata tertib umum, namun niatnya baik.

Melalui fit and proper test saya ingin menyaring kandidat berdasarkan kelengkapan syarat dan visi misi mereka. Pada pengujian syarat didapati bahwa masing-masing kandidat tidak memenuhi syarat dengan baik dan lengkap. Mengatasi masalah tersebut, kembali saya usulkan agar forum membahasnya. Ide saya adalah membuat kesepakatan dengan pilihan dua opsi:

[list]

  • Pemilihan tetap dilanjutkan, dengan catatan para kandidat mengakui kekurangan syaratnya dan meminta maaf kepada peserta forum. Lalu forum memberi pemakluman agar mereka tetap bisa maju.
  • Para kandidat digugurkan dan dicari kandidat baru.

[/list]

Pertimbangan pada saat itu adalah:

[list]

  • Konfercab sudah berlangsung berlarut-larut, hampir 3 minggu, dan akan memakan waktu lebih lama lagi jika mencari kandidat lain dan memberikan mereka waktu untuk melengkapi syarat.
  • Kekurangan kader yang memenuhi syarat.

[/list]

Dengan pertimbangan di atas, saya arahkan forum untuk memilih opsi satu. Forum pun menyetujui. Semua kandidat meminta maaf atas kekurangan syarat mereka (dokumentasi video). Lalu pemilihan dilanjutkan dengan penyampaian visi misi. Sampailah akhirnya masuk kepada pemilihan, saat itu ada tiga kandidat dan pemilihan dengan cara voting tertutup pun berlangsung tiga putaran.

Atas ide saya ini, semua bisa berjalan dengan baik dan lebih baik dari tahun kemarin. Konfercab tahun ini demokratis dan tenang. Semua pihak kembali bergandeng tangan. Saya fikir semua sudah akan baik, karena melihat suasana ketika itu kondusif dan semua pihak sepertinya menerima keadaan dengan lapang dada. Saya optimis HMI akan semakin baik. Namun perkiraan saya ini tidak seperti kenyataan yang terjadi berikutnya.

Ternyata, kemudian terjadi masalah yang semua kita tidak menduganya. Ketika kandidat terpilih telah menyusun kepengurusan dan hendak meminta Surat Keputusan (SK) ke Pengurus Besar HMI di Jakarta, kandidat yang kalah ternyata melakukan hal yang sama. Salah satu kandidat yang kalah melakukan manipulasi, dengan membuat pleno tandingan (fiktif) serta menyusunkonsideran,  bukti-bukti dan segala persyaratan untuk pengajuan SK ke PB HMI. Malangnya, PB HMI memihak kepada kandidat yang kalah ini, dan memberikan SK kepada mereka. Kandidat terpilih versi konfercab resmi terpaksa gigit jari.

Saya mencoba mencari tahu penyebabnya mengapa perbuatan tidak terpuji ini bisa terjadi. Saya dapati bahwa ternyata faktor pendorong kandidat terpilih mau melakukan ini adalah karena didorong dan didukung oleh senior dibalik mereka (berdasarkan pengakuan ketua umum ilegal). Saya kemudian menganalisa kembali, dan menemukan kesimpulan bahwa ternyata ini adalah bentuk pelampiasan dendam atas pertarungan kedua belah pihak yang telah berlangsung sejak lama. Selain itu saya simpulkan juga bahwa ini adalah persaingan perebutan kepentingan antar kedua belah pihak, dan kepentingan ini bermuara pada kepentingan senior-senior di atas mereka. Saya kaget betul ketika menemukan kesimpulan fakta tersebut, saya fikir tawaran solusi dari saya saat konfercab sudah bisa meredam kemungkinan munculnya konflik, ternyata tidak. Solusi dari saya hanya bisa menenangkan kawan-kawan, tetapi tidak di tingkat senior yang berseteru.

Lalu apa solusi terkini baiknya?

Seperti yang saya utarakan di atas, pada awalnya saya terikut arus pertarungan. Saya pasang badan membela kubu yang menang, karena selain saya masuk dalam kepengurusan dan saya juga tahu bahwa saya berada di pihak yang benar. Sehingga adalah kewajiban saya membela kebenaran tersebut.

Ketegangan antar dua belah pihak semakin terasa, ketika pihak SK PB (ilegal) mengeluarkan surat pemecatan sebagaimana yang saya ceritakan di atas. Saya ikut larut dalam konflik. Namun belakangan ini saya memikirkan pendekatan yang berbeda mengenai masalah ini. Perkara ini harus dilihat dari sudut pandang yang berbeda, dan pendekatan penyelesaian yang berbeda pula.


Ini solusi menurut saya.
Status Facebook saya pada tanggal 17 Maret 2014:

“Nilai juang semakin terdegradasi”

Dua kelompok hijau hitam terus menggerus jati diri organisasi. Saran saya: saatnya melenyapkan dua pengaruh kekuatan tersebut. Orang-orang baik dan sadar sudah saatnya berdiri sendiri. Dua kekuatan tersebut jika dipaksakan duduk, tidak akan menyatu. Akan terus berbenturan, ujungnya kita bisa perang saudara dibuatnya. Model dualisme seperti ini makin banyak diadopsi oleh cabang-cabang lainnya, dan apa yang terjadi disini juga adopsi dari cabang di luar sana.

Komisariat harus jujur, harus punya integritas. Hanya inilah keluarga kecil dari himpunan besar ini yang masih bisa kita banggakan. Lepaskan diri dari kontaminan-kontaminan berbahaya, dari kutub-kutub yang menarik dengan kuatnya. Kalian harus bisa membangun kekuatan bersama, jangan mau diadu-domba, dibenturkan dan tak berdaya. Kalian tidak berdosa. Tanpa kalian, dua kelompok itu tak kan ada artinya. Kalian yang punya suara, tarik kembali dan buat suara bersama, tanpa pengaruh ‪#‎DuaA‬. Komisariat harus berjaya, berdaulat dan kuat bersama!


Kedaulatan itu ada di ranah komisariat. Komisariat harus bersatu dan membuat DEKLARASI bersama untuk menunjukkan netralitas komisariat, bahwa mereka menyatakan diri tidak memihak kepada kubu manapun dan melepaskan diri dari pengaruh dua pihak yang sedang bertikai tersebut. Komisariat menyatakan diri bebas dari intervensi senior dan tekanan dari pihak manapun. Komisariat bertekad untuk melakukan perubahan dan perbaikan di HMI. Komisariat akan terus bersama mengawal cabang, dsb. Poin-poin dalam deklarasi ini dapat dijabarkan belakangan.

Dalam hal gerakan ini, sebenarnya ada lembaga yang bisa dan seharusnya memainkan peran lebih besar yakni BPL (Badan Pengelola Latihan) HMI Cabang Pekanbaru. BPL bisa mengambil tindakan tegas dalam meluruskan masalah ini. Namun sayang sekali, BPL Cabang Pekanbaru tidak berani dan tidak mampu memainkan peran strategis, bahkan BPL tidak mengambil sikap tegas terhadap komisariat-komisariat yang tidak berpihak pada kebenaran (mendukung kepengurusan cabang ilegal). BPL berdalih bahwasanya mereka berada di ranah perkaderan, dan tidak mau menyentuh masalah politik. Dengan demikian, bisa diartikan bahwa BPL secara tidak langsung mengatakan bahwa mereka hanya bertugas memproduksi kader, namun apakah nanti kader-kader tersebut berbuat salah dan melanggar kode etik sebagai kader maka BPL tidak mau campur tangan, dan itu bukan tanggung jawab mereka. Sungguh ironi sekali.

Seharusnya BPL memberi sanksi pada kader dan komisariat yang terlibat dalam kasus dualisme ini. Sebagai contoh tindakan yang dapat dilakukan BPL, salah satunya adalah BPL memilih untuk tidak mengelola training LK I yang diadakan oleh komisariat yang berpihak pada kepengurusan cabang yang ilegal. Ini adalah sanksi yang cukup tegas yang seharusnya dilakukan BPL sebagai pelajaran bagi komisariat-komisariat yang tidak berpihak pada kebenaran. Namun kenyataannya tidak demikian, BPL HMI Cabang Pekanbaru memilih untuk turun mengelola setiap komisariat yang mengadakan LK I. Dalam pandangan saya, secara tidak langsung dengan ini BPL mengakui eksistensi kepengurusan cabang yang ilegal. Sungguh terbalik dengan sikap BPL Pusat yang memilih untuk tidak mengelola LK II yang dilaksanakan oleh kepengurusan ilegal HMI cabang Pekanbaru (Versi SK PB).

Kita harus sadar bahwa akar solusi masalah ini ada di komisariat. Masalah konflik ini terjadi karena komisariat-komisariat telah diadu dan dipropaganda untuk mendukung masing-masing pihak, dan dukungan serta afiliasi terhadap kubu-kubu tersebut terus mengakar dari generasi ke generasi. Walhasil konflik selalu timbul.

Dualisme ini jika tidak segera dicarikan solusinya maka masalah ini akan terus berlanjut. Masing-masing pihak terus menunjukkan eksistensi dan ketegangan, sampai masing-masing akan mengadakan LK II, lihatlah perkara ini sudah memecah HMI secara nasional. Mereka mengobrak abrik ketenangan HMI di nusantara, masing-masing pihak mengaku mereka lah yang benar.

Sampai nanti mereka (kedua kepengursan) akan melaksanakan Konferensi cabang. Maka akan ada calon ketua terpilih dari kedua belah pihak. Di satu sisi, pihak SK PB (ilegal) akan lebih mudah mendapat kepercayaan karena alasan mereka ketua umum baru hasil konfercab mereka “sah”, mengingat konfercab dilaksanakan oleh demisioner yang “sah”. Lalu pihak sebelah pun akan terus menggugat, sehingga berlanjutlah pertikaian ini sampai tiada akhir.

Oleh karena itu, KOMISARIAT harus mengambil alih solusi masalah ini. Tanpa kalian, kedua belah pihak tidak akan hidup, dan dengan demikian konflik akan terhenti. Komisariat harus DUDUK BERSAMA, buat DEKLARASI dan angkat pimpinan secara bersama.

Lembaga BPL yang terhormat seharusnya mampu memainkan peran straregis ini. Mereka yang kita anggap masih netral harus berani turun tangan mengatasi masalah ini. BPL harus melaksanakan konsolidasi dengan komisariat-komisariat dibawahnya untuk duduk bersama menyelesaikan masalah dan membuat DEKLARASI guna mengakhiri akar konflik ini.

Bangun gerakan ‪#‎Komisariat‬Bersatu, itulah solusinya.

[divider]

Artiket terkait lainnya mengenai masalah konflik dualisme ini dapat dilihat dalam tulisan saudara Alben Tajudin: Nasib HMI Cabang Pekanbaru pasca Konfercab ke-XXXI


*Adhitya Fernando adalah peserta konfercab HMI Cabang Pekanbaru ke-XXXI. Dengan status sebagai peserta penuh perwakilan dari HMI komisariat Takesi

Article, My Story, Organization and Movement

HMI English Community: Sarana belajar bahasa Inggris bagi kader hijau-hitam

[dropcap]H[/dropcap]ari ini di pusgit HMI Jl. Melayu hadir 6 orang kader hijau hitam dari beberapa komisariat di cabang Pekanbaru. Saya yang pagi tadi agak terlambat datang mendadak begitu senang karena dari kejauhan mendengar mereka berkomunikasi dengan bahasa asing. Sengaja tak langsung saya hampiri mereka, saya tahan diri di pagar lantai 2 gedung pusgit HMI. Percakapan mereka, walau terbata dan sedikit kaku membuat saya dengan bangga melangkahkan kaki menuju mereka, di ruangan ujung Lt. 2. Hari ini saya akan mengajari mereka bahasa inggris.

Foto bersama mentor dan peserta

Kehadiran saya tak serta merta membuat mereka berhenti berbicara, antusias positif tersebut yang saya rindukan dari organisasi ini. Dalam dua jam kedepan saya akan memulai pembelajaran, tatap muka perdana sejak komunitas ini diresmikan pada tanggal 16 Maret yang lalu. Peserta yang terdaftar dan hadir pada saat itu berjumlah 24 orang. Di pertemuan minggu berikutnya yang hadir cukup surut menjadi 12 orang, dan hari ini tinggal setengahnya. Saya mengampu pembelajaran conversation, pelajaran pertama adalah mengenai Greeting Someone. Kurikulum pembelajaran saya adopsi dari buku “Speak English, Please” karangan Slamet Riyanto.

Untuk mahir conversation bahasa inggris, rajin dan berani berbicara adalah kuncinya. Saya yang tadi penasaran dengan percakapan mereka, langsung saya tindak lanjuti dengan menugaskan mereka mempraktekkan percakapan berpasangan. Seru ternyata melihat mereka! Dalam hati saya, ini kader-kader HMI loh yang sedang berbicara bahasa inggris. Sebuah hal yang tak lazim ditemui. Saya mengolah pembelajaran tadi mulai dari latihan percakapan, belajar tata bahasa yakni penggunaan to be simple present form dan past tense form, soal latihan tertulis, latihan menerjemah bacaan hingga terakhir ditutup dengan presentasi. Di akhir pertemuan, saya minta dua orang untuk maju ke depan merangkum dan menjelaskan materi yang sudah saya berikan. Tanpa ragu, mereka langsung maju dengan yakin dan memang ternyata mereka dapat menjelaskan dengan bagus sekali dan memukau.

Peserta menyimpulkan hasil pembelajaran

Komisariat Takesi, pengelola komunitas ini telah menunjukkan dedikasi dan pengimplemetasian kelimuan yang baik. Ilmu yang didapat dari kampus untuk diabdikan dalam program nyata di organisasi. Komisariat Takesi adalah komisariat yang berada di Fakultas Tarbiyah & Keguruan dan Fakultas Psikologi UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Takesi sendiri adalah singkatan dari nama kedua fakultas tersebut. Gerakan semacam ini sudah sepatutnya menjadi salah satu identifikasi HMI, bahwa kader-kader HMI yang menuntut ilmu yang beragam harus mampu mengembangkannya untuk kemajuan organisasi secara khusus, dan dapat memberikan manfaat bagi banyak orang umumnya. Konsep ini sudah secara matang difikirkan oleh sesepuh-sesepuh HMI dulu, mereka merancang didirikannya lembaga-lembaga di HMI, salah satunya adalah Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam (LAPENMI). Namun, sangat disayangkan seiring waktu berjalan gerakan HMI semakin kurang jelas orientasinya, banyak diwarnai politik, ditambah lagi dengan persaingan tidak sehat, konflik yang mewarnai kehidupan HMI hampir di seluruh pelosok nusantara. Gerakan yang dilakukan oleh komisariat Takesi ini diharapkan mampu menjadi pemancing gerakan-gerakan produktif lainnya dalah gerakan ber-HMI.

HMI English Community ini berdiri atas inisiatif saya. Namun sebenarnya dorongan untuk mendirikannya muncul dari pesan salah seorang Senior HMI di Jakarta, ia katakana “Semoga nanti ada satu dua orang kader HMI Sumatera yang dapat kamu kirimkan ke Jerman sana”. Pesan tersebut disampaikannya ketika saya hendak berangkat ke Jerman pada September tahun lalu. Pesan tersebut terus terfikirkan dalam benak saya. Sepulang dari Jerman, saya terus berupaya mencari cara agar bisa mempopulerkan bahasa inggris di HMI. Namun keadaan tidak cukup mendukung, cabang Pekanbaru dilanda konflik dualisme. Keadaan ini membuat resah para kader-kader, ketegangan dan persinggungan meningkat dalam pergaulan HMI. Keterpecahan ini membuat aktifitas di HMI semakin meredup, banyak kader-kader yang akhirnya memilih mundur dan menarik diri dari hiruk-pikuk di HMI. Namun keinginan saya masih sangat kuat, saya terus mencari cara.

Akhirnya saya putuskan bahwa saya akan gandeng komisariat untuk mewujudkannya. Takesi, komisariat di mana saya berasal, menyambut baik gagasan yang saya tawarkan dan segera mengadakan rapat persiapan. Beberapa kali saya hadir pada rapat tersebut, dan selebihnya saya pandu melalui komunikasi di luar rapat. Ternyata mereka  dapat dengan baik menerjemahakn apa-apa yang saya instruksikan. Saya menyarankan kepada mereka agar dibuatkan struktur pengurusan komunitas ini, agar ada yang bertanggung jawab penuh untuk mengelolanya. Akhirnya ditunjuklah beberapa orang untuk mengisi jabatan, diantaranya sebagai ketua program, sekretaris, dsb. Lebih kurang dua bulan kemudian akhirnya komunitas ini secara resmi didirikan.

Satu minggu setelah persemian, komunitas ini langsung mengadakan diskusi dengan mengundang pemateri dari luar HMI. Adalah Yuspa Rizal S.Pd, alumni UIN Suska Riau yang pernah meraih beasiswa pertukaran pelajar dari IIEF ke Amerika, yang mengisi diskusi tersebut. Adapaun tema yang diangkat adalah “What’s importance of study English”. Diskusi ini bertujuan, selain guna menambah wawasan peserta mengenai bahasa inggris dan manfaatnya, juga ditujukan untuk menjadi sarana pengenalan komunitas ke khalayak di luar. Sebab model pengembangan komunitas ini diarahkan untuk dapat berkolaborasi dengan pihak-pihak luar secara efektif, baik itu secara personal, hubungan antar komunitas, dan kerja sama dalam agenda, sehingga komunitas ini pun dapat memainkan peran yang lebih luas.

Kehadiran komunitas ini diharapkan juga menjadi salah satu metode yang baik dan efektif untuk merekrut lebih banyak mahasiswa untuk menjadi anggota HMI, sebab yang dapat menjadi anggota komunitas ini syaratnya adalah kader HMI. Komunitas ini dijadikan sebagai jawaban atas pemenuhan student interest dan student need. Mengundang ketertarikan mahasiswa terhadap HMI, membalikkan paradigma mahasiswa bahwa di HMI tidak hanya demo dsb. Tetapi juga banyak manfaat dan kegiatan positif lainnya.

Komunitas ini sudah berjalan tiga minggu, namun ternyata masih ada beberapa kendala yang harus dihadapi. Sebagaimana kendala yang umum dihadapi organisasi mahasiswa; kekurangan dana. Untuk fasiltas pembelajaran sementara, digunakan papan tulis tanpa rangka (hanya papan) dan diletakkan di atas kursi. Mensiasati dana, komisariat dan pengelola program telah berinisiastif untuk iuran dana, selain juga didapat dari kontribusi peserta. Melalui ini, diharapkan juga perhatian dari senior dan alumni untuk dapat membantu menyokong terselenggara dan berlangsungnya komunitas ini dengan baik.

Bersyukur dan ikhlas. Bahagia HMI.


 Pendaftaran program masih dibuka! Ayo segera bergabung.
Informasi: Hubungi 081362014412 (Tika)

Pamflet pendaftaran HMI English Community

Close