.:: Saturday 27th May 2017 | Have a wonderful day | Work hard, work smart, work sincerely and work completely ::.

Headline news

Ingin punya website profesional yang elegan untuk bisnis, pribadi ataupun komunitas? Percayakan pada ”27 Art House”, a web design company headquartered in Singapore. www.27arthouse.com
Sedang mencari kursus privat untuk siswa Sekolah Dasar? ”Taqlima Privat” menyediakan tenaga pengajar privat yang bersertifikasi, para mahasiswa/i aktif berprestasi. Info lengkap: www.taqlima.com  
Suka belanja online? Coming soon! www.aafoshop.comNikmati kemudahan berbelanja dengan jari.

Riwayat Bisnis dan Pekerjaan

Riwayat Bisnis dan Pekerjaan
1 vote, 5.00 avg. rating (99% score)

Sepanjang masa pendidikan dasar (SD, SMP, SMA), Adhitya bekerja membantu Ibunya berjualan. Saat di SD, ia menjajakan es dan kue-kue ke sekolah dan kedai-kedai di sekitar rumah. Di SMP pun begitu, ia memasok es buah ke kedai-kedai. Es-nya saat itu begitu laris, sehingga ia harus berulang kali cek-tambah es-nya. Dulu masih sering diadakan acara-acara hiburan masyarakat seperti perayaan 17 Agustus. Di acara tersebut, Adhitya berjualan air es bersama Ibunya.

Saat di SMA, ia turut membantu Ibunya berjualan baju di Pasar Raya Mandau di kota Duri. Ibunya membuka lapak semi-permanen di bahu pertokoan tersebut. Sebelum berangkat sekolah, terlebih dahulu ia mengantar Ibunya ke pasar dan membantu menyusun barang dagangan seperti baju, jilbab dsb. Barang-barang tersebut setiap harinya di simpan-ambil dari gudang penyimpanan di belakang pertokoan, sehingga ia harus memikul karung-karung baju tersebut ke lapak kayu 2×2 meter milik Ibunya di setiap pagi, dan menyimpannya kembali ke gudang di sore hari.

Dagangan tersebut, meski tidak selalu laris, namun cukup membantu ekonomi keluarga. Terlebih jika memasuki bulan ramadhan, omset bisa naik berkali lipat. Ia dan Ibunya bahkan tetap berjualan di malam takbiran, karena itu kesempatan yang baik untuk obral besar-besaran. Kegiatan berjualan ini berjalan lebih kurang dua tahun. Sampai pada suatu hari, ia harus merelakan lapaknya di bongkar paksa oleh Satpol PP karena dianggap lapak liar. Memang, lapak tersebut didirikan di tempat yang tidak seharusnya.

Memasuki masa kuliah, Adhitya yang aktif di organisasi juga bekerja sampingan sebagai freelance desainer Photoshop dan pembuatan website. Ia juga menjadi reseller website dan hosting, dan berjualan online di Adhitya Online Shop. Aktivitas ini masih dilakoninya sampai saat ini. Ia berambisi menjadi dosen di universitas, pengusaha dan pejabat di pemerintahan. Sambil menjalani studi-nya di Belanda nanti, ia bertekad untuk belajar membangun perusahaan teknologi. Berikut ini beberapa hal yang bisa di-highlight dari kisah bisnis dan kerja Adhitya.

  1. Pencuci piring catering

Adhitya saat bekerja sebagai pencucu piring catering

Foto 1. Adhitya saat bekerja sebagai pencucu piring catering

Saat masa kuliah, cukup rutin di setiap hari Sabtu dan Minggu, Adhitya meluangkan waktunya berkerja di catering pesta pernikahan. Salah satu yang cukup sering waktu itu adalah AA Catering Pekanbaru. Tugasnya adalah menjadi penjamu makanan pesta, mengurus piring-piring baru dan bekas makan tamu, dan mencuci piring.

Awalnya sempat ada rasa minder bekerja sampingan ini, walaupun saat itu ia tidak sendiri, melainkan bekerja bersama-sama dengan beberapa teman-teman di kosnya, termasuk Nanda Sonefil. Setiap kali “beraksi”, ia mewanti-wanti jangan sampai ada teman-teman kuliah yang melihatnya. Mengambil piring bekas makan tamu di lantai dekat kursi-kursi duduk mereka kadang cukup membuat gengsi, apalagi jika mendapati tamu yang boleh dibilang sok. Tapi, satu dua kali mencoba, akhirnya ia pun terbiasa.

Gaji yang didapat dari bekerja ini memang tidak seberapa, hanya Rp. 50.000 sehari. Tetapi uang sebesar itu bagi mahasiswa sangat berguna, lumayan untuk tambah-tambah uang belanja dan uang rok*k. Makan gratis selama bekerja, hemat juga uang makan pada hari itu. Lauk pauk dan sambal yang tersisa pun bisa dibawa pulang untuk dimakan di kos, kadang bisa hemat untuk satu dua hari kedepan.

  1. G Gallery Handycraft

Adhitya saat menawarkan boneka hasil produksi G Gallery

Foto 2. Adhitya saat menawarkan boneka hasil produksi G Gallery

Bersama dengan teman-teman satu kosnya, Adhitya mendirikan sebuah kelompok usaha kerajinan tangan. Produk utamanya saat itu adalah boneka wisuda dari kain flanel dan gantungan kunci. Ide ini didapat Adhitya saat ia menjalani Program Pengalaman Lapangan (PPL) di Madrasah Aliyah Muhammadiyah Berbasis Teknologi (MAMBERTI) Pekanbaru. Adhitya melihat contoh produk boneka hasil tugas kerajinan siswa. Ia pun langsung berfikir bahwa ini akan sangat bagus jika diproduksi masal dan dipasarkan pada acara wisuda.

Ide ini pun disampaikannya kepada teman sekamarnya, Nanda Sonefil. Nanda menyambut baik dan turut mengajak serta teman kos lainnya seperti Satria Budi dan Andy Dinata. Tim ini mengawali usahanya dengan belajar tahap demi tahap pembuatan boneka tersebut, dan menghitung biaya yang akan dikeluarkan untuk produksi. Saat semua dirasa feasible, mereka pun menghimpun modal dari kantong masing-masing.

Semua pekerjaan dikerjakan secara mandiri menggunakan tangan. Barang-barang seperti kain flanel, kapas nilon untuk isi boneka, benang dsb dibeli di pasar Ramayana Pekanbaru. Untuk tugas, mereka membagi kerja. Ada yang membuat pola, menggunting bahan, menjahit boneka, mengisi kapas, pengepakan dsb. Tapi tetap usaha ini diakukan dengan prinsip kerja sama. Semua saling bantu-membantu. Boneka yang dihasilkan terbilang cukup bagus, walau dikerjakan oleh tangan-tangan lelaki.

Boneka dan gantungan kunci ini laris manis saat dipasarkan di acara wisuda UIN Suska Riau. Sama-sama membuat, sama-sama pula menjualnya. Mereka mendirikan stand kecil dan masing-masing bergiliran dari menjaga stand, menjajakan keliling dan memikat pembeli. Hasilnya lumayan berjumlah jutaan. Bisnis ini, karena niatnya hanya untuk gembira-gembira sambil dapat uang, akhirnya tidak bertahan lama. Selain karena kewajiban akhir kuliah yang saat itu sudah harus diprioritaskan.

  1. Mangrove Indragiri (LSM)

Adhitya di salah satu acara Mangrove Indragiri

Foto 3. Adhitya di salah satu acara Mangrove Indragiri

Pada tahun 2014, Adhitya bekerja untuk Mangrove Indragiri, sebuah LSM yang bergerak di bidang pelestarian kawasan taman Bakau, dan pemberdayaan masyarakat. LSM ini berpusat di Tembilahan, Indragri Hilir.

Adhitya bertugas sebagai community organizer untuk proyek Pilot and Demonstration of High Efficient Biomass Stove in 4 Villages in Indragiri Hilir. Proyek ini didanai oleh Energy Environment Partnership (EEP) Indonesia. Kompor biomasa yang diperkenalkan disini adalah karya dari Universitas Brawijaya, Malang. Kompor ini sangat bermanfaat untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat Tembilahan. Bahan bakar kompor ini adalah biomasa yang berlimpah di Tembilahan seperti cangkang sawit, batok kelapa dsb. Setiap kelompok masyarakat dari beberapa desa dibagikan kompor ini secara gratis. Kemudian MI mendampingi dan mengawasi penggunaan kompor, dan melakukan evaluasi secara berkala. Penggunaan kompor ini efektif untuk menekan pengeluaran masyarakat dari membeli minyak tanah atau gas, yang selain mahal juga sulit didapat di Tembilahan. Penghematan yang didapat masyarakat dapat membantu biaya pendidikan dan kesehatan anak-anak mereka.

  1. Energy Research Center (EnReach)

Adhitya saat verifikasi data PLN Rayon Kuansing

FOto 4. Adhitya saat verifikasi data PLN Rayon Kuansing

Di tahun yang sama, Adhitya mendapat kesempatan untuk bekerja di EnReach UIN Suska Riau. Adhitya bertugas sebagai surveyor dan analisis data untuk proyek Penyususnan Roadmap Pembangunan Listrik Pedesaan Provinsi Riau tahun 2015-2019. Kegiatan ini dilaksanakan dengan dana dari PT. PLN wilayah Riau-Kepri.

EnReach adalah lembaga penelitian yang didirikan pada tanggal 15 September 2011 untuk melakukan kajian, penelitian dan aplikasi energi berkelanjutan di provinsi Riau. Energi adalah kebutuhan masyarakat modern untuk mendapat kehidupan yang lebih baik. Tingkat populasi dan konsumsi energi di dunia semakin hari semakin meningkat. Energi fosil yang selama ini diandalkan ketersediannya semakin menurun. Di saat yang sama, negera-negara berkembang mengalami masalah dalam penyediaan energi, tetapi tidak semua orang mendapat akses energi. Di Riau sendiri, banyak rumah tangga di desa-desa yang masih belum merasakan penerangan lampu listrik dan fasilitas memasak yang yang bersih.

Proyek PLN ini dilakukan untuk meningkatkan jangkauan instalasi listrik di seluruh provinsi Riau. Untuk tugas tersebut, setiap tim ditugaskan melakukan verifikasi data dan lapangan ke instansi-instansi yang berada di kabupaten-kabupaten yang ada di Riau, seperti PLN rayon, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA), Dinas Pertambangan dan Energi (DISTAMBEN). Adhitya mendapat tugas di kabupaten Kuantan Singingi.


***
To be continued
Translate »