[dropcap style=”flat”]B[/dropcap]erawal dari ketidaksengajaan memilih jurusan yang ‘asal-asalan’ dan universitas yang juga asal-asal pilih, dengan motto “yang penting lulus SNMPTN” akhirnya terdamparlah saya di Pekanbaru, sebuah kota ‘asing’ yang sama sekali tidak pernah saya kunjungi sebelumnya. Jangankan dikunjungi, sedikitpun belum pernah kota ini terlintas dalam benak saya.

Willin Julian Sari

Ketika awal perkuliahan, semua terasa berat. Mulai dari lingkungan kampus yang benar-benar beda,  hidup sendiri di negeri orang dan tak ada satupun kenalan. Saya sempat frustasi dan ingin pindah. Begitu kuatnya hasrat ingin pindah kuliah, hingga saya akhirnya memutuskan untuk mengikuti tes UMB lagi di tahun 2010, dan alhamdulillah saya lulus di UNSYIAH. Namun, meskipun telah lulus, setelah diskusi dengan keluarga dan dengan pemikiran yang panjang serta tidak menonjolkan keegoisan diri, akhirnya saya memutuskan untuk tetap kuliah di Pekanbaru. Ini merupakan keputusan yang sulit sehingga saya tahu saya harus mencari suatu kesibukan, suatu hal yang akan membuat saya betah untuk tinggal disini lebih lama.

Minat bahasa inggris sejak lama
Dari dulu, hobi saya berkecimpung di dunia bahasa inggris. Mulai dari mengikuti perlombaan apapun yang berbau bahasa inggris sampai pernah menjadi interpreter. Saya coba mencari info kesana kemari tentang perlombaan bahasa inggris. Pucuk dinanti ulam pun tiba, Singapore Consulate bekerjasama dengan pemerintah provinsi Riau mengadakan perlombaan debat bahasa inggris terbesar pada tahun 2010 tersebut.

Saya memutuskan untuk mencoba peruntungan di lomba tersebut, meskipun saya amat sangat awam dalam dunia perdebatan. Saya mencari team partner kesana kemari, and that is a hard thing guys. Tidak ada yang mau! Hingga akhirnya saya bertemu dengan bang Robi Kurniawan, salah satu mahasiswa jurusan bahasa inggris yang juga merupakan seorang alumni penerima beasiswa bergengsi IELSP. Akhirnya saya, bang Robi dan kak Rahma (teman bang Robi) menjadi team. Mereka berdua adalah orang-orang yang sudah berpengalaman dan sangat matang dalam dunia perdebatan bahasa inggris. Hingga thanks God kami berhasil meraih juara III tingkat provinsi Riau. Sebenarnya bang Robi dan kak Rahma bisa saja menjadi juara I kalau saja partnernya waktu itu bukan saya. Hahahaha.

Kenal dengan bang Robi
Bisa dibilang bahwa bang Robi adalah jembatan pertama saya dengan dunia luar. Bang robi mengenalkan saya dengan teman-teman yang hebat dari jurusan bahasa inggris dan juga mengenalkan saya pada English Zone, sebuah komunitas bahasa inggris yang hampir semua membernya sudah pernah mendapatkan beasiswa ataupun program keluar negeri. Dari English Zone saya mulai mengenal banyak orang dan mempunyai banyak kawan serta link tentunya. Sampai akhirnya saya bisa kenal dengan bang Renza, seorang alumni program pertukaran pemuda antar negara ke Kanada. Perlahan-lahan, saya juga mulai kenal dengan kak Alfa Noni yang juga merupakan seorang alumni program yang sama dengan bang Renza. Kak Alfa Noni merupakan ketua PCMI (Alumni peserta program pertukaran pemuda antar negara) Riau. Meskipun pada awalnya saya hanya mengenal kak Noni melalui Facebook (Oh fesbuk, kau sungguh berarti). Saya juga mulai mengenal kakak-kakak lainnya yang juga anggota PCMI melalui Facebook.

Menyusun daftar mimpi
Terbakar api cemburu kepada kakak-kakak yang sudah pernah menginjakkan kakinya di negeri orang sebagai duta bangsa secara gratis, saya pun mulai menuliskan daftar mimpi saya yang harus dicapai, diantaranya:
1. Tamat S1 paling lambat ketika umur 21
2. Tamat S1 dengan IPK diatas 3,5
3. Dapat program beasiswa keluar negeri sebelum tamat S1
4. Dapat beasiswa S2 keluar negri

Saya tempel tulisan daftar mimpi-mimp di dinding kamar. Bismillah. Saya mulai bekerja keras untuk membuat daftar mimpi saya bukan hanya menjadi sebuah daftar, tapi menjadi sebuah kenyataan. Saya belajar keras untuk mendapatkan IPK diatas 3,5. Saya masuk sanggar untuk belajar seni demi mengikuti program pertukaran pemuda antar negara, and I worked hard for everything.

Terkena gangguan ginjal
Saya mulai suka dan betah tinggal di Pekanbaru. Alhamdulillah. Namun ternyata Allah punya rencana lain. Di akhir tahun 2010 saya mendapat kabar yang saya yakin tak seorang pun mau menerima kabar ini. Saya harus ikhlas menerima kenyataan bahwa saya terkena gangguan ginjal. Seperti tersambar petir disiang bolong, saya tidak tau harus berkata apa. Hanya tangisan yang dapat menggambarkan suasana hati di kala itu.

Saya mulai berobat. Pada awalnya, dokter mengatakan bahwa Insya Allah penyakit saya akan sembuh dalam waktu tiga bulan. Namun dokter hanyalah manusia, manusia tidak punya kuasa untuk mengubah takdir dan jalan hidup manusia lainnnya, Allah-lah dan hanya Allah jua lah yang punya kuasa atas hal itu. Allah mungkin berkata, “Belum waktunya Wilin, sabar..”. Dan…yap, saya masih mengidap penyakit gangguan ginjal itu.

Kemudian ketika saya pulang ke Aceh, saya mulai berobat tradisional. Saya mendatangi mantri dan meminum ramuan yang kalau boleh dibilang, seperti taik Kerbau. Demi sembuh, demi semuanya, saya harus ikhlas meminum ramuan itu setiap hari. Allahu Akbar.. lagi-lagi hanya air mata yang dapat mengerti bagaimana perasaan hati saat itu. Akhirnya sebelum kembali kuliah ke Pekanbaru, saya ditemani Ibu berobat ke dokter ahli ginjal ternama di kota Medan. Dokter itu punya klinik, yang isinya semua pasien berpenyakit ginjal. Ketika saya berobat, dokter tersebut menyuruh saya berhenti kuliah untuk sementara sampai saya sembuh. Duhai Allah..apalagi ini.

Saya mengikuti apa yang dikatakan dokter, karna saya ingin sembuh. Namun, dokter yang saya temui ini selalu memberikan obat-obat paten dengan harga selangit sehingga memaksa Ibu saya untuk menyerah, tidak sanggup lagi membawa saya berobat ke dokter tersebut. Akhirnya saya berobat dengan dokter spesialis penyakit dalam di Aceh, kampung halaman saya. Lama kelamaan penyakit saya semakin memburuk. Badan saya mulai membulat ‘aneh’ akibat efek samping obat, sehingga diputuskan bahwa saya harus dirawat inap. Lima hari dirawat inap, tidak ada perubahan. sehingga saya harus dilarikan dan dirujuk kerumah sakit di Medan.

Tetes air mata ungkapan rasa sakit
Sesampainya saya di Medan, Allahu Akbar..hanya Allah yang tau bagaimana rasa sakit yang saya derita. Hingga akhirnya ketika saya sudah masuk ruangan. Pada malam harinya dokter sudah memberikan suntikan, rasa sakit itu baru hilang. Namun setiap hari rasa sakit itu datang lagi, yang ada di benak saya adalah beginikah rasanya sakit? Wahai Allah.. betapa indah nikmat kesehatan yang Engkau berikan, namun dulu aku sangat jarang mensyukurinya.

Tidak hanya penyakit gangguan ginjal yang saya derita, namun segala penyakit datang dan hadir disaat yang bersamaan waktu itu. Penyakit kulit, ambeyen dan efek samping obat sehingga muka saya membesar dan membulat, perut saya membuncit, tungkai saya kurus. Saya mulai berkumis dan berbulu, dan orang-orang mulai melihat aneh pada saya.

Ketika semua penyakit itu kumat dan kambuh rasa sakitnya, hanya tetesan air mata yang dapat saya katakan. Tapi Allah tidak pernah sia-sia dalam memberikan sesuatu. Saya dipertemukan dengan dokter yang luar biasa hebatnya. Saya dididik untuk ikhlas, pasrah dan percaya pada Allah. Wahai dokter, tak akan pernah kulupakan jasamu.

Sakit membuat lebih dekat dengan Allah
Sakit ini membawa saya menjadi lebih dekat dengan Allah. Hal yang semestinya sudah harus saya lakukan dari dulu. Jadi mungkin Allah memberikan sakit ini karena Allah telah rindu pada saya, Allah ingin saya kembali pada pelukan-Nya. Ternyata seluruh badan ini rindu ingin bersujud pada Rabbnya. Ajal serasa sangat dekat waktu itu. Saya benar-benar merasa kalau mungkin sudah waktunya saya kembali pada yang menciptakan saya. Namun saya memohon pada Allah untuk tidak menjemput saya dulu, dan menunda penjemputan itu hingga saya berhasil membahagiakan keluarga saya. Secara rahasia, saya membuat janji dengan Allah, bahwa saya rela dijemput kalau saya sudah membahagiakan keluarga. “Tolong tunda ya Allah..”. Dan Allah mengabulkan. Allah menunda penjemputan itu. Mungkin Allah memang ingin melihat saya menepati janji.

Alhamdulillah, meskipun penyakit ini masih melekat pada saya sampai detik ini dan tak ada satu orang dokter pun yang bisa mengatakan kapan saya bisa sembuh dan sampai kapan saya harus mengidap penyakit ini. Saya ingin bisa hidup ‘seperti normal’ dan berkuliah lagi.

Mulai kuliah kembali, tidak dapat dukungan keluarga
Tidak ada satu orang pun yang mendukung saya untuk kembali berkuliah. Semuanya menyuruh saya stay di kampung halaman, dirumah saja, beristirahat, berhenti bermimpi dan mengejar mimpi. Seolah saya disuruh hanya pasrah ‘menunggu ajal’ menjemput. Tak ada satupun kawan. Tak satu manusia pun mempercayai saya, bahkan keluarga sendiri. Akhirnya saya kembali curhat pada Allah. Hanya Allah-lah yang percaya pada saya. Saya putuskan untuk melawan semua nasehat orang, dan mengikuti keegoisan saya untuk kembali berkuliah setelah cuti selama satu semester, dengan segala konsekuensi yang harus saya terima nantinya (termasuk menghandle diri sendiri ketika sakit). Tapi satu.. saya percaya pada diri saya sendiri.

Mengubah daftar mimpi
Saya kembali berkuliah. dan saya mengubah daftar mimpi saya yang semula hanya empat menjadi enam, sebagai berikut :
1. Tamat S1 paling lambat ketika umur 21
2. Tamat S1 dengan IPK diatas 3,5
3. Dapat program beasiswa keluar negri sebelum tamat S1
4. Dapat berbusana muslimah secara syar’i paling lambat ketika umur 21
5. Dapat menghapal juz amma paling lambat ketika umur 21
6. Dapat beasiswa S2 keluar negri

Bismillah lagi. Saya mulai lagi mengejar mimpi. Saya mulai sibuk beraktivitas lagi. Tidak mudah karena saya sama sekali tidak pernah mendapat dukungan keluarga. Bahkan ketika saya mengikuti tes beasiswa IELSP dan PPAN (Pertukaran Pemuda Antar Negara), saya dimarahi habis-habisan oleh Ibu yang amat sangat khawatir dengan keadaan saya. Sedih, disaat saya mengaharapkan doa dan dukungan keluarga, dan hal itu belum bisa saya dapatkan. Namun saya mencoba mengerti pemikiran keluarga, mereka terlalu menyayangi saya sehingga teramat sangat khawatir jikalau saya kenapa-kenapa. Tugas saya bukan menyerah, tapi tugas saya adalah membuat mereka percaya dan mengerti. I am not a quitter!!!

Masuk Tribun Pekanbaru, keluarga mulai mengerti
Saya yakin kalau saya berada dijalan yang benar, saya punya supporter yang sangat kuat dan hebat mengalahkan supporter mana pun di dunia ini, Allah azza wajala. Berbekal dukungan sang Khaliq, saya mencoba mengukir prestasi hingga alhamdulillah saya ‘masuk’ koran Tribun Pekanbaru sebanyak dua kali. Koran tersebut saya bawa ke Aceh dan saya tunjukkan kepada keluarga. Mereka menangis. Terima kasih duhai supporter hebatku. Sejak saat ini, keluarga dapat mulai mengerti jalan pikiran saya. Mengenai impian keluar negri, banyak yang mentertawakan. Bahkan keluarga saya sendiri. “Anakku, jangan mimpi tinggi-tinggi, gila nanti, masuk RSJ nanti”. Saya tersenyum, dan berbisik dalam hati bahwa tidak ada yang tidak mungkin, karena saya punya supporter yang Maha Kaya.

Setelah mengikuti seleksi PPAN 2012 saya hanya mendapat posisi runner up I Korea, artinya saya tidak berhasil dan tidak berangkat keluar negeri. Fisik saya pun tidak setangguh dulu seperti sebelum sakit. Sekarang ini saya memang gampang sekali sakit, gampang capek, demam, dan sebagainya. Saya mulai melupakan mimpi keluar negeri. Pahit memang, seolah ada suara dalam diri yang mengatakan agar saya harus ikhlas menerima kenyataan bahwa saya sekarang tidak lebih dari sosok penyakitan! Mana mungkin ada pihak yang mau memberikan kepercayaan pada orang penyakitan. Apalagi sebagai duta bangsa. Benar-benar seperti mimpi di siang bolong rasanya. Saya mencoba untuk realistis, sehingga saya hanya fokus pada studi saja. Saya hanya fokus untuk tamat kuliah. Hanya itu.

Mulai penelitian
Saya mengambil penelitian labor, yang artinya saya seperti ilmuwan yang di tipi-tipi bekerja di labor seharian. Tangisan kembali hadir. rasa tak sanggup badan ini menyelesaikan penelitian. tegak seharian sudah membuat badan saya lemah selemah-lemahnya. Saya hanya bisa menangis lagi. Ingin berkata dan bercerita, tapi tak akan ada orang yang mengerti perasaan hati.

Perlahan saya tetap lakukan penelitian, hingga akhirnya alhamduliilah.. It is done guys! Di penghujung tahun 2013, waktu itu saya sedang demam dan tiba-tiba kak Noni menghubungi meminta saya untuk melengkapi beberapa persyaratan mengikuti program JENESYS 2.0 ke Jepang. Dan, tanggal 06 desember 2013 saya berangkat ke Jepang. Duhai Allah begitu indah rencana-Mu.

Allah kasih hadiah berangkat ke Jepang
Pada saat landing di Jepang pada tanggal 07 Desember pagi, saya hendak mengangis rasanya. Serasa hidup dalam mimpi. Setelah berusaha selama ini, menggenapkan doa, sabar dan pasrah akhirnya Allah datang memberi hadiah. Lagi-lagi hanya Allah yang dapat mengerti bagaimana rasa hati saat itu.

Selama di Jepang kehidupan benar-benar seperti mimpi. Apalagi ketika bisa berdiskusi dengan istri PM Jepang dan istri Presiden RI. Kawan, mimpi itu sangat manis ketika menjadi kenyataan. Serasa terbalaskan segala perjuangan yang telah dilakukan selama ini. Ketika pulang dari Jepang, saya hanya bisa berkata pada ibu bahwa anaknya tidak gila. Anaknya benar-benar berhasil menginjakkan kaki di negeri orang sebagai duta bangsa secara gratis. Mimpi anaknya menjadi kenyataan! Perkataan bermimpi setinggi bayang-bayang ternyata sama sekali tidak berlaku di dunia ini!!!

Kejar tamat kuliah
Setelah pulang dari Jepang saya pun mengebut pasang gigi empat untuk menyelesaikan studi S1. Dan alhamdulillah, kemarin tepat tanggal 12 Februari 2014, ketok palu sidang resmi dengannya saya menggandeng gelar sarjana. Duhai kawan, sekali lagi, manisnya mimpi ketika menjadi kenyataan.

Siapa yang menyangka bahwa gadis penyakitan, yang tak satu orang pun mempercayainya dulu, akhirnya bisa juga keluar negeri dan meraih gelar sarjana. Daftar mimpi-mimpi tidak lagi hanya menjadi daftar, tapi mulai menjadi kenyataan. Pertama, alhamdulillah IPK saya diatas 3,5. Kemudian saya bisa tamat sebelum umur 22. Alhamdulillah saya bisa mendapatkan beasiswa keluar negeri sebelum saya tamat kuliah dan yang lebih alhamdulillahnya saya bisa berbusana muslimah secacra syar’i. Mengenai hapalan Juz ‘amma, alhamdulillah saya sudah hapal sebagian, butuh perjuangan sedikit lagi untuk menghapal Juz ‘amma secara keseluruhan, waktu saya kurang lebih lima bulan lagi untuk mewujudkannya. Dan untuk mimpi saya yang terakhir. Insyaallah seperti mimpi-mimpi saya sebelumnya, ia akan segera menjadi kenyataan. Aamiin..

Daftar mimpi baru
Sekarang saya siap untuk menulis daftar mimpi yang ingin saya raih kedepannya. Kawan, yang perlu kita lakukan hanya percaya pada diri sendiri, bahwa kita bisa menjadi apa saja yang kita inginkan tak peduli seberapa banyak orang yang ‘tidak’ mempercainya selama kita berada di jalan yang benar dan mendapat support dari the greatest suppoter, Allah azza wajala.

Hidup cuma sekali, so let’s make it become extra ordinary.
Sampai ketemu di tulisan berikutnya yah guys 😉


 

Penulis adalah Willin Julian Sari, mahasiswa Pendidikan Kimia UIN Suska Riau angkatan 2009.
Tulisan asli dapat di lihat di catatan Facebook: https://www.facebook.com/notes/willin-yulian-sari/life-is-always-started-by-a-dream/10152019030416156