Tag

sukses

Article

Akselerasi sukses dengan personal branding

Jadilah kelinci merah diantara kelinci putih. Distinguish yourself and let them know you are exist!

[dropcap style=”flat”]A[/dropcap]dagium di atas, bagi sebagian besar orang memang sudah tidak asing lagi. Tapi pahamkah kita apa maksud sebenarnya dari kalimat tersebut. Guru sekolah saya dulu, saat silaturahmi Idul Fitri ke rumah beliau pernah bercerita. Dari sekian banyak siswa dalam satu kelas, hanya beberapa yang akan terkenang sampai lama, diantaranya adalah siapa yang paling pintar, siapa yang paling bandel, siapa yang paling pendiam―sementara yang biasa-biasa saja akan lupa begitu saja. Hanya mereka dengan identitas yang jelas dan kuat yang biasanya akan mudah diidentifikasi oleh dunia. Sama halnya dengan merek suatu produk―istilah lainnya adalah brand, kita sangat mudah mengingat suatu produk karena kekuatan ­brand-nya, misalnya, ketika disebutkan smartphone maka fikiran kita langsung tertuju pada iPhone dari Apple, merek ponsel cerdas yang terkenal karena kualitas dan kemewahannya. Begitulah branding produk bekerja, sementara dalam personal branding―manusia adalah subjeknya.

Akselerasi sukses dengan personal branding_Adhitya Fernando (AYLE)

Personal branding adalah fenomena yang menarik. Dalam komunitas sosial manusia saat ini, disadari atau tidak, sebenarnya masing-masing pribadi memiliki merek tersendiri. Jika produk, perusahan atau institusi memiliki nama khusus yang disebut merek, maka nama pada manusia adalah merek tersebut―meskipun tidak selamanya hanya merujuk pada nama. Saya sebutkan beberapa nama seperti Mario Teguh dan (Alm) Bob Sadino. Keduanya memiliki diferensiasi yang jelas dan personal brand yang kuat. Yang satu adalah motivator kenamaan Indonesia, sementara satu lagi adalah pengusaha sukses Indonesia yang ‘nyentrik’ degan celana pendeknya.

Ada cerita menarik tentang Alm. Bob Sadino yang saya dapatkan dari salah seorang senior saya. Begini, pernah suatu hari salah seorang senior saya mendampingi om Bob menghadiri pameran lukisan. Banyak karya yang dipajang disana, dari berbagai pelukis dan juga dengan rentang harga yang beragam―bahkan bisa dibilang fantastis. Setelah berkeliling cukup lama, om Bob berhenti di suatu stand dan menawar salah satu lukisan. Harga pameran itu hanya 5 juta rupiah, beda jauh dari mayoritas lukisan disana. Kepada pelukisnya om Bob bilang ingin membeli lukisan tersebut, tapi pelukisnya malah marah dan mengusir om Bob. “Saya gak jual lukisan ini pada Anda”, ucap pelukis itu. Mendapat reaksi tersebut om Bob malah tertawa dan berlalu ke stand berikutnya. Penasaran dengan kejadian tersebut, senior saya yang mendampingi om Bob bertanya pada pembeli, kenapa dia malah seperti itu. “Saya gak jual karena dia beli lukisan ini 5 juta, tapi difikirannya lukisan ini 5 miliar”, tukas pelukis. Haha..senior saya tertawa. Bob Sadino itu kan pebisnis tulen, sambung pelukis tersebut. Apa yang ‘nyentrik’ dari cerita tersebut? Bob Sadino jelas memiliki personal branding yang sangat kuat, ia memiliki pengaruh, reputasi dan kepercayaan dari orang-orang. Di tangannya lukisan itu bisa dijual kembali dengan harga yang jauh lebih mahal. Orang bisa jadi tidak berfikir seperti apa lukisannya, tapi malah siapa penjualnya.

Suatu ketika Ibu saya pernah bercerita bahwa Adik saya Andi Saputra mengeluhkan kenapa dia diberikan nama itu―yang menurutnya tidak keren dan sudah umum. Penasaran apa jawaban Ibu, saya langsung bertanya “lalu Mama bilang apa ke dia?”, “Itu tugas Andi untuk membuatnya berbeda, memang banyak Andi di dunia ini, Andi Saputra, dan Andi-Andi lainnya. Lalu Andi Saputra anak Mama ini akan dikenal dunia sebagai apa?”, ujar beliau kepada saya. Terang saja saya takjub, wow, Ibu saya ternyata concern juga terhadap branding―walau mungkin beliau tidak secara langsung mengenal istilah personal branding.

Sudah cukup panjang lebar saya bercerita. Saya yakin Anda sudah bisa menangkap apa sebenarnya personal branding dan mengapa ia bisa berpengaruh signifikan terhadap kesuksesan. Jadi sepertinya saya cukupkan sampai disini saja ya..hehe (just kidding).

Pengertian personal branding

Personal branding dewasa ini sudah menjadi disiplin ilmu tersendiri, banyak pakar dan ahli yang sudah meneliti soal ini. Oleh karena itu, penting kiranya saya merujuk ke mereka untuk mendapatkan pengertian yang utuh mengenai personal branding. Timothy P. O’Brien, penulis buku The Power of Branding (2007), mengatakan bahwa personal brand adalah identitas pribadi yandg mampu menciptakan sebuah respon emosional terhadap orang lain mengenai kualitas dan nilai yang dimiliki orang tersebut. Montoya (2009), mengajukan pengertian yang hampir serupa, personal brand adalah image yang kuat dan jelas yang ada di benak klien Anda.

Sebagaimana branding sebuah produk dengan segala atribut dan diferensiasinya, maka begitu juga dengan personal branding, adalah proses membentuk persepsi masyarakat terhadap aspek-aspek yang dimiliki seseorang, diantaranya adalah kepribadian, kemampuan, atau nilai-nilai, dan bagaimana semua itu menimbulkan persepsi positif dari masyarakat yang pada akhirnya dapat digunakan sebagai alat pemasaran. Personal brand merupakan persepsi yang tertanam dan terpelihara dalam benak orang lain. Tentu tujuan akhirnya adalah bagaimana orang lain itu punya pandangan positif atau persepsi positif sehingga bisa berlanjut ke trust atau aksi-aksi lainnya. Secara sederhana, dapat saya katakan bahwa personal brand adalah pandangan orang terhadap Anda, what people see of you. Tiga pilar personal branding: karakter, kompetensi dan kekuatan (Dewi Haroen, 2014).

Saya kutip dari Forbes, bahwa istilah personal branding pertama kali dikemukakan oleh Tom Peters dalam artikelnya yang berjudul “The Brand Called You”. Ia menggunanakan istilah ini dalam konteks korporasi di mana semua pegawai harus berfikir diri mereka adalah sebuah brand yang padanya melekat aset, sumber daya dan fitur-fitur perusahaan dengan maksud untuk mencapai tujuan bersama. Barulah pada 20 tahun kemudian, visi Peter ini menunjukkan hasil dan menjadi trend saat ini.

Namun dewasa ini, istilah personal branding sudah diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan dan semakin terpersonifikasi. Dewi Haroen contohnya, dalam bukunya “Personal Branding: Kunci Kesuksesan Berkiprah di Dunia Politik” menjelaskan fenomena personal branding di dunia politik, terutama pada masa kampanye dan suksesi kepemimpinan. Terpilihnya Barack Obama sebagai presiden Amerika adalah salah satu contoh sukses bagaimana personal branding memberikan pengaruh besar. Di dalam negeri bisa diambil contoh terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai presiden Indonesia sampai dua periode. Pamor dua tokoh tersebut, selain memang mereka mempunyai kualitas dan kompetensi yang cukup mumpuni, didukung juga dengan branding atau pencitraan yang baik. Sehingga menciptakan persepsi positif di masyarakat untuk mempercayakan kursi kepemimpinan kepada mereka. Masyarakat melihat kekuatan personal branding, kharisma dan ketokohan pada dua orang tersebut, mendobrak kebiasaan lama yang melihat latar belakang partai pendukung mereka. Begitu juga kiranya dengan apa yang terjadi pada Joko Widodo, kemenangan Jokowi tidak lepas dari personal branding-nya seperti yang diinginkan mayoritas masyarakat.  Sehingga dengan cepat ia menjadi top of mind di masyarakat.

Reputation is what people think and say about you, but character is truly what you are. Always maintain your character than reputation.

Manfaat personal branding

Ditengah zaman globalisasi ini, persaingan dunia semakin terbuka. Ditambah dengan munculnya teknologi yang menghapus batasan-batasan komunikasi. Sesuatu dapat dengan mudah diakses dan diketahui publik, dan semakin tinggi tingkat aksesibiltas seseorang maka ia akan mendapat banyak keuntungan. Dalam suatu presentasi kewirausahaan yang pernah saya hadiri, pembicara mengatakan, “jika sesuatu belum muncul di Google maka keberadaannya bisa dikatakan tidak ada”. Teknik branding pun menjadi semakin berkembang, yang dulu hanya marketing secara konvensional, word of mouth, sampai saat ini reputasi online juga harus diperhitungkan.

Pada waktu kuliah dulu, saya sampai dijuluki ‘Aktivis internasional’ oleh teman-teman di kampus. Branding tersebut semakin menegaskan posisi saya dalam pergaulan dan dikenal orang banyak, jaringan semakin luas dan tentunya banyak kemudahan-kemudaha saya saya dapatkan. Sekilas mengapa saya sampai dijuluki seperti itu, pada masa kuliah saya sangat aktif di organisasi kampus baik yang internal dan eksternal. Saya pernah menjabat di seluruh jenjang lembaga eksekutif kampus. Saya menjadi aktivis di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Kegiatan organisasi saya tersebut membuat persepsi publik semakin kuat mengenal identitas saya sebagai aktivis mahasiswa. Namun selain itu, saya juga aktif mengikuti kesempatan student exchange ke luar negeri seperti mengikuti ASEANpreneurs Youth Leaders Exchange di Filipina dan Intercultural Summer School  di Jerman. Dari ASEANpreneurs itulah saya mulai paham mengenai personal branding. Salah satu materi yang diberikan pada waktu itu, saya masih ingat disampaikan oleh Irma Mutuc dalam acara Advertising Workshop di University of The Philippines membahas tentang branding produk. Begitulah bagaimana saya mendapat julukan tersebut.

Akselerasi sukses dengan personal branding_Adhitya Fernando (group)

Dari pengalaman di atas, saya mendapat kesimpulan bahwa branding yang baik adalah “kualitas nyata”. Tidak hanya sekedar polesan dan rekayasa, sebagaimana yang banyak terjadi dewasa ini. Orang-orang terjebak dengan keinginan untuk sukses yang instant karenanya mereka membuat identitas palsu dan melebih-lebihkan segala sesuatunya. Percayalah, orang akan bisa melihat siapa Anda sesungguhnya. Jangan menjebakkan diri Anda dengan sesuatu yang Anda rekayasa. Reputasi mungkin bisa dicari, tetapi sekali karakter Anda dibenci maka Anda akan susah mendapatkannya lagi.

Menegaskan kembali bahwa, personal branding tidak hanya digunakan untuk sebuah kontestasi dan institusi, tetapi juga sudah menjadi keharusan untuk setiap pribadi memilikinya. Ada banyak manfaat memiliki personal branding―menambahkan apa yang Anda simpulkan dalam contoh yang saya berikan di atas. Personal branding yang baik akan membuat Anda memiliki pengaruh yang besar, kredibilitas di dalam komunitas Anda, trust, kemudahan dan kesempatan dalam bisnis dan urusan-urusan Anda.

Personal branding memberikan manfaat yang luas. Ia membantu membentuk Anda sebagai seorang profesional yang memiliki kualifikasi dan kredibiltas di dalam bidang Anda. Membantu Anda mengindentifikasi dan mengkomunikasikan apa yang unik dalam diri Anda dan apa yang sesuai dengan tujuan Anda. Anda akan dapat memahami kekuatan, keterampian, passion, dan nilai-nilai yang akan membuat Anda berbeda dari yang lainnya, and becoming really stand out.

Personal branding membantu Anda untuk produktif karena Anda akan fokus pada sesuatu yang Anda sukai, sense of purpose and passion. Motivasi akan sangat membantu Anda untuk mencapai hasil yang maksimum. Anda akan mendapat visibiltas dan pengakuan yang akan menunjang setiap urusan Anda.

What makes you unique, makes you successful. Kekuatan personal branding itu sangat dahsyat karena ia memberikan pesan yang jelas dan kuat tentang siapa Anda dan apa keuggulan Anda. Dengannya Anda akan mudah dikenali dan membuat posisi Anda semakin dihormati. Coba kita perhatikan bagaimana seseorang bisa sangat exist dengan personal branding. Artis contohnya, dengan memiliki branding yang baik dan menarik maka ia akan semakin diminati publik dan tawaran terhadapnya akan terus mengalir. Bisa kita ambil contoh seorang Ahmad Dhani yang mampunyai positioning yang sangat bagus di dunia hiburan Indonesia karena ia memiliki keunikan dan mem-branding-nya dengan baik. Begitu juga dengan profesi-profesi lainnya.

Normal is boring. Terlalu banyak orang yang sama di dunia ini, Anda harus tampil beda.

Apa branding Anda? Bagaimana cara memilikinya

Apa yang ada pada diri Anda yang bisa Anda unggulkan? Pertanyaan ini harus bisa Anda jawab untuk bisa merumuskan branding yang tepat. Memang bukan hal yang mudah untuk menjawab ini. Namun jelas bisa diusahakan.

To figure it out, saya mengutip Dan Schawbel dalam bukunya “Me 2.0: Build a Powerful Brand to Achieve Career Success”. Ia menjelaskan ada 4 tahapan untuk membantu Anda menemukan dan membangun brand yang powerful, yaitu discover, create, communicate dan maintain. 4 langkah tersebut akan mempermudah Anda menemukan ide apa yang akan membuat Anda stand out, menemukan passion Anda, mendapatkan keuntungan dan meraih hidup yang bahagia.

Pertama adalah discover. Pelajari tentang diri Anda, keahlian Anda, nilai-nilai yang Anda miliki, misi pribadi, intelektualitas yang tinggi, bidang kajian yang Anda sukai dsb. Jika Anda tidak melalui tahapan ini, Anda akan susah untuk menyebarkan brand Anda kepada orang lain. Temukan perbedaan Anda dari orang lain, “Siapa Anda?”, “Apa yang Anda bisa lakukan?”, “Jika Anda bisa melakukan sesuatu akan seperti apa hasilnya?”.

Llyod Luna, seorang pakar motivasi dari Filipina, dalam suatu presentasinya yang saya hadiri mengatakan, “If you not stand for something, you’ll fail for everything”. Pesannya jelas, Anda harus, setidaknya menguasai sesuatu hal. Jika saat ini Anda adalah seorang mahasiswa yang bergiat dalam perfilman, media dan komunikasi. Anda harus mahir dalam hal tersebut. Itu adalah profesi yang bisa Anda branding, Anda bisa dikenal sebagai pegiat dan pakar dalam hal tersebut. Orang yang sukses mampu menggabungkan passion­­-nya dengan keahlian. Anda juga dapat menjadikan visi misi hidup Anda sebagai brand, fikirkan tentang impian Anda 10 sampai 20 tahun mendatang, lalu jabarkanlah hal tersebut dalam interval waktu dan step yang harus Anda capai. Sangat penting untuk memiliki gambaran tujuan apa Anda di masa depan, karena sesungguhnya itulah branding Anda yang permanen.

Selanjutnya adalah create. Menciptakan personal brand berarti membuat bahan promosi tentang brand Anda. Dari contoh mahasiswa yang bergiat di perfilman di atas, ia harus mulai untuk membuka akses terhadap karya-karyanya ke publik. Membuat resume Anda di LinkedIn, mengunggah video karyanya di Youtube, membuat profil Anda di Facebook, blog, website dan berbagai social media tools lainnya. Anda juga mulai melengkapi diri Anda dengan kartu nama. Jangan berfikir ini berlebihan, ini hal biasa dalam dunia profesional, namun sangat powerful. Saya selalu memberikan kartu nama saya setiap kunjugan saya ke berbagai daerah, bertemu orang-orang baru dan terutama ketika saya ikut student exchange saat itu. Tulisan tentang Anda juga sudah harus mulai muncul di media masa, biasanya koran menyediakan space untuk mahasiswa ataupun profesional muda. Koran Tribun contohnya menyediakan kolom Rising Star, saya beberapa kali berhasil terbit disini. Intinya adalah, Anda harus melengkapi materi online dan offline terntang Anda.

Semakin luas profil Anda muncul di publik, terutama media maka brand Anda akan semakin dikenal. Selalu berikan nilai-nilai yang baik tentang Anda sehingga persepsi tentang Anda akan semakin positif, orang akan menyenangi Anda dan akan tertarik untuk menjalin kerja sama ataupun menawarkan peluang-peluang yang baik kepada Anda.

Saya percaya banyak manfaat yang akan diperoleh dari ‘keterkenalan’, jangan gengsi untuk berbagi, bahkan hanya ‘impian’ Anda. Saya mencontohkan, saya mendapat banyak dukungan atas impian yang selalu saya bagikan di status Facebook saya. Saya termotivasi untuk ke Jerman dan melanjutkan studi di sana, orang-orang akhirnya akrab dengan impian saya tersebut. Mereka sering kali memberikan dukungan, link beasiswa, berbagi tips dan trik serta mengenalkan saya kepada orang-orang yang terkait dengan Jerman dan kesempatan kesana.

Ada yang menarik ketika dulu saya pernah mengajuka permohonan kerjasama dengan pemerintah, pejabat dan pernah juga permohonan bantuan kegiatan. Mereka yang saya temui ternyata sudah mengenal saya, “Jadi ini kamu yang namanya Adhitya Fernando. Saya membaca tentang kamu sebelumnya. Jadi bagaimana, ayo langsung saja..” Urusan saya jadi makin mudah dan mendapat atensi yang baik.

Yang ketiga adalah communicate. Pada tahap ini, apa yang harus Anda lakukan adalah mengoptimalisasikan apa yang sudah Anda buat to let people know you exist. Selain mereka bisa menjangkau Anda dari riwayat online, media masa dan berbagai hal yang sudah Anda upayakan untuk meningkatkan visibilitas Anda, sangat disarankan untuk Anda juga berinisiatif membangun komunikasi direct kepada mereka. Bisa dengan menyapa mereka di media sosial, memberikan komentar dan feedback terhadap rekan Anda, menulis artikel mengenai ide-ide Anda, menulis opini, mengahadiri undangan pertemuan, konferensi dan rapat-rapat lainnya. Anda harus mulai aktif menghadiri forum-forum, menjalin komunikasi dengan para profesional. Intinya adalah Anda juga harus menghadirkan diri Anda dalam interaksi di dunia nyata.

Tahap terakhir adalah maintain. Dalam proses kehidupan Anda, terutama selama menemukan jati diri, branding bisa berubah-ubah seiring dengan perjalanan Anda, visi dan keahlian-keahlian baru yang Anda punya. Hal itu wajar karena ada masa dimana Anda melakukan eksperimen-eksperimen misi hidup. Yang harus Anda lakukan adalah selalu meng­-update­-nya. Pastikan orang dapat mengetahun apa brand Anda saat ini.

Kemudian yang terpenting selanjutnya adalah fokus dan konsisten, kuncinya seperti yang saya katakan di atas, pastikan passion Anda relevan dengan keahlian. Teruslah kembangkan diri Anda dengan kemampuan perfilman contohnya, konsistensi akan melahirkan apresiasi. Anda harus menjadi profesional dalam bidang itu. Terus lahirkan ide dan karya Anda, teruslah melakukannya dan jangan cepat berharap Anda akan dapat apresiasi di setiap hal yang Anda lakukan.

Sebagai seorang akademisi misalnya, pakar pendidikan dan teknologi, Anda bisa terbitkan buku, hasil penelitian, menulis mengenai ide dan wacana masa depan, menulis opini terhadap realitas pendidikan saat ini dsb. Anda juga harus membekali diri Anda dengan kompetensi akademis seperti gelar akademik yang baik, terus belajar hingga Anda mencapai posisi tertinggi meraih gelar profesor. Setiap hal yang Anda telah Anda lakukan akan semakin menguatkan reputasi Anda dan menegaskan branding diri Anda.

Personal branding dan kesuksesan

Dengan berbagai hal yang sudah saya paparkan di atas. Dapat ditarik kesimpulan bahwa pada tahap awal personal branding akan membantu Anda menemukan dan menciptakan keunggulan diri Anda, target dan tujuan Anda. Selanjutnnya membantu Anda mendeferensiasikan diri Anda dari orang-orang lainnya, membuat identitas diri Anda menjadi unik dan mudah dikenali. Kemudian Anda belajar bagaimana mempromosikan keunikan Anda tersebut sehingga berbuah keuntungan-keuntungan yang bisa Anda dapatkan, penawaran kerjasama, kesempatan kerja dsb. Dengan demikian Anda berhasil mendapatkan kehidupan yang hebat. Jika Anda mampu mengaplikasikan konsep di atas dalam kehidupan Anda, maka niscaya Anda akan semakin sukses dalam kehidupan Anda.

Raihlah kehidupan yang membahagiakan Anda dan belajarlah hidup dengan bahagia, dengan mencintai apa yang Anda lakukan. Niscaya Anda akan lebih sukses karenanya. Hidup ini harus hebat, namu sikap harus tetap bersahaja.

Go confidently in the direction of your dreams. Live the life you’ve imagined. – Henry David Thoreau

Jakarta, 6 Maret 2015

Article, My Story, My Thought, Travelling

Urgensi soft skill dan hard skill dalam pergaulan

Salah seorang tetangga saya ― sekitar 10 tahun lalu ― pernah mengatakan, “belajarlah main gitar, nanti itu akan berikan banyak manfaat untuk pergaulan kamu”. Dulu, saya tidak begitu mengerti maksudnya. Sejauh apa yang saya pahami adalah ― melihat lingkungan sekitar ― mereka yang pandai memainkan alat musik tersebut lebih mudah berbaur dan berinteraksi dalam lingkungan sosialnya.

[dropcap style=”flat”]K[/dropcap]ala itu saya meng-iya-kan ucapan beliau. Saya belajar gitar dan sampai beberapa tahun kemudian saya mampu menguasai beberapa teknik dan bahkan pernah ‘manggung’ untuk menunjukkan kebolehan dalam bermain gitar. Beberapa video saya bermain gitar bisa dilihat disini: 1. Kehilangan, Judika 2. To be with you, Mr. Big

Pergaulan membutuhkan social intelligence, sebuah istilah yang oleh Sean Foleno diartikan sebagai “person’s competence to understand his or her environment optimally and react appropriately for socially successful conduct”. Kehidupan erat hubungannya dengan interaksi sosial, sebagaimana Edward Thorndike, seorang psikolog kenamaan Amerika, yang pertama kali menjelaskan pengertian kecerdasan sosial pada tahun 1920 yaitu “the ability to understand and manage men and women, boys and girls, to act wisely in human relations”. Sehingga kita bisa pahami bahwa memang orang yang peka terhadap lingkungan dapat lebih sukses dalam hidupnya. Jika sebelumnya Anda mengenal interpersonal competency maka istilah tersebut equivalent dengan social intelligence. (Wikipedia).

Intercultural friendship - foto bersama teman-teman di Jerman

Saya menuliskan tentang ini setelah sebelumnya di Facebook saya memposting desain spanduk yang saya buat untuk salah seorang teman. Dari sana saya terbawa ke masa yang saya terangkan di atas, dan beberapa masa kemudian dalam rangka refleksi bagaimana social intelligence telah membawa pengaruh yang signifikan dalam hidup saya.

Tidak jarang kita temui bahwa sebagian besar orang sangat ‘melejit’ dalam kehidupannya, sementara di beberapa kasus sebagian yang lain tampak ‘gamang’. Mereka yang ‘lincah’ sering diasosiakan dengan naluri alamiah yang dianggap mereka dapatkan sejak lahir, tidak jarang juga dihubungkan dengan usia. Sejatinya usia bukanlah ukuran kedewasaan dimana manusia sudah bisa mandiri dalam kehidupan sosialnya, ada juga orang-orang yang bahkan di umur ­quarter life masih belum bisa deal dengan lingkungan sosial. Melalui artikel ini saya ingin berbagi wawasan dan pengalaman hidup tentang dua hal yang akan menunjang Anda dalam social interaction, yaitu ­soft skill dan hard skill.

Memahami dan menguasai soft skill

Apa itu ­soft skill dan hard skill? Istilah bahasa Inggris ini memiliki pengertian personal attributes that enable someone to interact effectively and harmoniously with other people. Sesuatu yang melekat pada diri seseorang yang membuatnya mampu berinteraksi secara efektif dan harmonis dengan orang lain. Hal apa saja yang termasuk soft skill, Wikipedia menyebutkan bahwa diantaranya adalah personality traits, social graces, communication, language, personal habits, friendliness, managing people, leadership, etc. Soft skill juga diidentifikasi sebagai EQ (Emotional Intelligence Quotient), keterampilan ini berbeda dengan hard skill yang umumnya mudah diukur dan dikuantifikasi seperti contohnya pengetahuan dan keterampilan melakukan suatu hal. (Wikipedia). Bermain gitar termasuk dalam kategori hard skill.

Soft skill itu ― seperti yang dijelaskan di atas ― adalah karakter kepribadian. Orang dengan kepribadian seperti apakah yang dapat sukses dalam pergaulan? Sebelum lebih lanjut, mungkin ada baiknya juga Anda mengetahui tipe kepribadian Anda. Ada tiga tipe kepribadian manusia: introvert, extrovert dan ambievert. Orang dengan karaker introvert cenderung menutup diri dari dunia luar. Mereka tidak menyukai kegiatan soliter dan tidak nyaman dengan pertemuan dan kegiatan sosial. Sedangkan extrovert adalah kebalikan introvert, mereka lebih cenderung membuka diri terhadap dunia luar. Suka keramaian, interaksi dan aktivitas sosial. Mereka tidak suka dengan kesendirian, namun biasanya memiliki antusiasme yang tinggi, mudah bergaul dan aktif. Yang terakhir adalah ambievert, adalah gabungan dari kedua karakter sebelumnya. Mereka nyaman dengan interaksi sosial dan tidak bermasalah dengan kesendirian. Saya sepertinya termasuk tipe ambievert. (Anda bisa Googling untuk tahu lebih banyak mengenai ini).

Di dalam kehidupan kita menemui berbagai orang dengan beragam karakter, sikap dan tingkah laku. Jika kita ingin berhasil, satu-satunya cara adalah dengan membaur. Namun ada hal yang perlu diperhatikan bahwa Anda seyogiyanya tetap menjadi diri sendiri. Seperti ikan, yang tidak asin sekalipun ia hidup di air asin. Sudah menjadi fakta umum bahwa orang yang luas pergaulannya dan baik komunikasi sosialnya lebih sukses dibanding rata-rata orang lainnya. Keluarlah dari posisi nyaman Anda, beranilah untuk mengahadapi tantangan yang diberikan oleh lingkungan. Tidak bisa tidak, mau tidak mau, Anda harus berlatih untuk itu. Beruntunglah jika mungkin membaca ini Anda masih pelajar ataupun mahasiswa, karena Anda masih punya kesempatan untuk berbenah diri. Dunia kerja dan kehidupan paska studi lebih kejam jika Anda tidak pandai bersosialisasi.

Jujur, dulunya saya tidak memiliki soft skill yang baik. Namun segera saya menyadari bahwa jika begini saja, maka jarak saya dengan sukses akan tetap lebar ― saya akan bawa Anda untuk merefleksi apa yang saya lakukan untuk memperbaikinya sejak masa kuliah. Periode studi ini saya manfaatkan dengan aktif berorganisasi. (Bisa dibaca jawaban wawancara saya tentang manfaat berorganisasi: Wawancara tokoh inspiratif). Berorganisasi akan membiasakan kita untuk berkomunikasi dengan orang lain, paling tidak sesama pengurus organisasi. Hal ini memang membutuhkan adaptasi dan semua orang mengalami masa yang tidak singkat untuk hal ini, maka Anda pun demikian hanya perlu untuk kuat-kuat bertahan jika mungkin banyak karakter orang dan hal-hal yang membuat Anda kurang nyaman. Tantangan Anda adalah untuk beradaptasi dengan baik, pertama sekali bacalah karakter diri Anda, apa yang bermasalah ataupun kurang dari Anda. Fikirkan bagaimana Anda bisa diterima ditengah-tengah pergaulan, karakter Anda seperti apakah yang membuat Anda dapat diterima oleh orang lain. Saran saya cobalah tumbuhkan empati dalam diri Anda, yaitu kemampuan memahami orang lain.  Memahami perasaan, fikiran, menghargai pribadi, akan membuat Anda diterima oleh mereka. Anda harus memiliki pendirian dan fleksibilitas. Kelemahan lainnya mungkin Anda tidak berani berbicara di depan publik, kurang pandai mengolah bahasa yang menarik, tidak percaya diri berada satu forum dengan banyak orang dsb. Dengan berorganisasi maka Anda akan terbiasa untuk melakukan itu semua. Organisasi merupakah ruang belajar soft skill yang baik.

Ada quote yang menarik dari Bill Cosby, “I don’t know the key to success, but the key to failure is trying to please everybody”. Anda tidak mungkin bisa menyenangkan atau membuat semua orang tertarik kepada Anda, dan memberikan upaya yang besar pada hal tersebut hanyalah sia-sia. Tetaplah tampil dengan karakter baik, kerja dan komitmen yang Anda punya. Konsistensi yang Anda lakukan akan melahirkan apresiasi. Ayah saya pernah mengatakan, “sebanyak itu yang suka, sebanyak itu pula yang benci”. Jadilah diri sendiri, namun humanis dan bersahabat.

Ramah dan humoris - bersama teman-teman di Jerman

Berorganisasi juga mengajarkan saya bagaimana bekerja dalam tim. Soft skill ini tidak kalah pentingnya. Mengkomunikasikan ide, menyelaraskan tujuan, meraih target bersama dsb menuntut Anda untuk mampu memahami satu sama lain. Anda hidup di dunia dan berkomunikasi dengan manusia, sederhananya, Anda membutuhkan orang lain untuk mewujudkan ide brilian yang Anda punya. Bagaimana jika Anda tidak pandai mengkomunikasikannya? Anda seorang pakar teknologi, tidak selamanya Anda berbicara dengan rangkaian alat elektronik dan robot, Anda butuh berkomunikasi dengan orang lain untuk mewujudkan inovasi Anda, atau mungkin untuk meyakinkan investor agar berinvestasi pada riset Anda. Terlebih sekarang mulai trend istilah co-founder, co-worker dan alike. Waktu saya di Filipina, saya dikenalkan pada co-lab, dimana orang-orang berkumpul dan mengagas kerja-kerja yang dilakukan bersama. Disana kemampuan Anda untuk mengelola manusia dan kepemimpinan Anda akan diasah. Selain itu, hal ini juga akan membantu Anda untuk mendapatkan soft skill kemampuan memecahkan masalah, berfikir kritis, bernegoisasi, resolusi konflik, menciptakan pengaruh, mengajak dan mengarahkan orang lain dsb. Dunia dewasa ini sudah sangat paham pentingnya kerjasama, dan organisasi adalah kebutuhan manusia modern.

Kegiatan lainnya yang saya lakukan adalah menjadi volunteer. Saat ini banyak bermunculan gerakan aksi dan kerja sosial, Anda dapat bergabung disana untuk berinteraksi dengan mereka. Hal ini akan memperluas wawasan, jaringan perkenalan dan bahkan bermanfaat untuk jaringan profesional Anda. Anda tidak mesti berteman hanya dengan mereka yang sama fikiran dan kecenderungan dengan Anda. Bagaimana Anda bisa menjalin hubungan baik dengan berbagai ragam tipe orang akan membuat kualitas soft skill Anda semakin tinggi. Sikap saling menghargai wajib dijunjung tinggi dalam hal ini. Privacy  juga menjadi hal yang Anda bisa mengerti. Salah seorang teman saya orang Jerman contohnya, ia tidak mengatakan tidak menyukai profilnya tampil di internet ketika saya meminta ia untuk menuliskan testimony tentang saya. Tentu hal ini harus saya hormati, dan kami tetap berkomunikasi aktif sampai saat ini via email. Anda tidak bisa dan tidak elok untuk terlalu memaksakan kehendak kepada orang lain. Dalam sebuah kerja tim di Filipina contohnya, saya memiliki anggota dari beberapa Negara seperti Bostwana, Canada, Brunei, Indonesia dan Vietnam. Ketika kami merembukkan ide apa yang akan kami angkat, setiap orang memilki pandangan tersendiri. Beberapa telihat ngotot, namun kami tahu, hal yang kami lakukan haruslah berdiskusi dengan dingin dan menghargai setiap masukan, lalu menyepakati yang terbaik. Dengan demikian tujuan bersama dapat tercapai.

Pertukaran pelajar juga bisa menjadi hal sangat penting untuk Anda pertimbangkan. Saya mengikuti intercultural student exchange beberapa kali dengan mahasiswa asing dan Indonesia dari berbagai daerah yang dilaksanakan di dalam dan di luar negeri. Ini bahkan lebih menantang dari yang Anda takutkan, bagaimana Anda bisa berbaur, bertukar fikiran dan bekerjasama dengan orang yang sama sekali berbeda. Belum lagi kendala bahasa, ingat bahasa juga merupakan soft skill, maka perlu kiranya untuk membekali diri sebaik mungkin. Kita hidup di zaman globalisasi, Anda akan hanyut jika tidak mampu menyelam di dalamnya.

Travel backpacker juga bisa menjadi latihan bagi Anda. Jauh di negeri yang mungkin tidak seorang pun Anda kenal membuat Anda tidak punya pilihan selain berkomunikasi dengan orang lain dan menghadapi berbagai macam karakter manusia ― beberapa mungkin sangat aneh dan Anda tidak bisa memaksa mereka sesuai keinginan Anda. Saya bisa survive berjalan ke daerah-daerah di Indonesia dengan modal komunikasi yang baik, berkeliling di Jakarta, Jogjakarta dsb, bahkan menetap dalam waktu yang cukup lama. Bahkan juga saya mampu melakukan perjalanan ke luar negeri seorang diri, Singapura, Malaysia, Filipina dsb tanpa mengalami hambatan yang berarti (Alhamdulillah), terutama karena saya mengembangkan soft skill komunikasi dalam diri saya.

Sebuah nasihat bijak dari seorang teman saya mengatakan, “diluar sana terdapat banyak dan sangat banyak orang yang lebih pintar dan lebih hebat daripada kita, namun tidak semua orang memiliki sikap yang baik dan bersahaja”. Perhatikanlah bahwa orang dengan soft skill yang baik lebih cendrung disenangi banyak orang. Soft skill bisa menjadi pembeda karakter Anda, maka dari itu memilki soft skill yang baik adalah keuntungan.

Memahami dan menguasi hard-skill

Hard skill bisa juga diartikan sebagai job skill atau occupation. Keterampilan seperti menulis, matematika, melukis, membuat pernak-pernik, mahir pemograman komputer, microsoft office ataupun software, menginstal laptop atau bahkan memasak, dan mungkin juga menjahit dan membuat boneka, juga termasuk dalam kelompok ini.

Skill ini akan menjadi nilai plus Anda dalam pergaulan, atau bahkan untuk kehidupan Anda sesungguhnya. Karena jika dikelola dengan baik maka tidak menutup kemungkinan itu akan menjadi sumber pendapatan bagi Anda. Dalam sebuah buku yang diberikan oleh teman saya berjudul “one person multiple career”, dijelaskan bahwa mempunyai additional skill  dipandang sudah merupakan keharusan di zaman ini. Memilki keterampilan yang banyak bukan merupakan suatu yang mustahil, sebagaimana nyatanya seseorang bisa memilki lebih dari satu karir.

Dalam pergaulan dan pertemanan yang baik, pihak yang ada di dalamnya haruslah mampu saling berbagi manfaat. Saya tipe orang yang suka berkolaborasi dengan orang lain, seperti membuat project bersama tentang suatu hal. Bayangkan dalam pergaulan Anda tersedia orang-orang dengan kemampuan yang dibutuhkan, tentu apa yang Anda rencakan dapat lebih mudah terwujud. Dari sanalah, selalu dalam pergaulan saya akan mencari tahu lebih banyak mengenai teman-teman saya. Saya percaya semua orang punya potensi dan keahlian. Berteman bagi saya tidak sekedar ‘kenal’, saya harus tahu ‘kurang’ dan ‘lebihnya’ karena dengan begitu saya bisa saling mendukung, saling mengisi dan saling berbagi.

Ilustrasi bekerja salam tim - foto bersama dengan teman-teman di Jerman

Bagaimana caranya memiliki hard skill? Ada beberapa cara yang Anda bisa tempuh untuk hal tersebut. Namun pertama yang harus Anda ketahui adalah Anda akan lebih mudah untuk menguasai sesuatu hal jika Anda mencintai hal tersebut. Coba fikirkan apa yang Anda sukai, ataupun Anda fikir sangat perlu untuk Anda kuasai demi menunjang kehidupan masa depan, atau mungkin kuliah yang Anda jalani saat ini, tuntutan pekerjaan Anda nantinya dsb.

Saat ini sudah banyak lembaga kursus keterampilan baik yang diselenggarakan oleh pemerintah ataupun swasta. Anda hanya perlu giat mencari tahu. Saya pernah mengikuti PKBM tentang keterampilan membuat souvenir dan sablon yang diselenggarakan oleh pemerintah bekerja sama dengan pihak swasta. Keterampilan seperti ini, mungkin bagi sebagian orang dianggap remeh. Tetapi sungguh kejelian kita memanfaatkannya yang akan membuatnya berbeda. Tidak hanya bisa ditransformasikan menjadi bernilai ekonomis, tetapi juga bernilai sosial. Anda bisa menjadi orang yang sangat bermanfaat dalam pergaulan jika misalnya Anda dapat membantu teman-teman yang tidak pandai dalam suatu hal. Dengan begitu Anda akan menjadi pribadi yang disenangi. Ini yang saya sebut sebagai pentingnya hard skill dalam pergaulan.

Kemampuan membaca trend perkembangan karir dan masa depan juga dapat membantu Anda. 10-15 tahun lalu misalnya di saat computer mulai booming, sebagian besar orang tidak tertarik karena tidak mampu melihat masa depan teknologi ini, namun sebagian yang lain dengan cerdas memahaminya dan mengambil langkah-langkah untuk belajar, sepertinya misalnya mengikuti kursus mengetik, kursus perbaikan komputer dsb, sampai pada masanya komputer sudah semakin berkembang dan orang-orang baru mulai tersadar, nah dia sudah lebih dahulu menguasai hal tersebut. Tentu ini akan menjadi percepatan bagi Anda untuk sukses dalam kehidupan berbekal skill.

Anda juga bisa belajar otodidak. Saya contohnya berfikir bahwa keterampilan desain grafis sangat bagus untuk saya pelajari. Dan akhirnya saya memutuskan untuk mulai belajar, saya menyempatkan mempelajarinya disela-sela waktu luang, di masa liburan dsb. Ternyata keahlian ini sangat bermanfaat, terutamanya untuk keperluan pribadi saya. Desain foto, buku, spanduk tidak lagi saya upahkan ke orang lain. Saya bahkan juga bisa menghasilkan uang dari skill ini. Dan otomatis dalam pergaulan banyak teman yang mendapat manfaat dari keterampilan saya ini, saya dapat membantu mereka terkait keperluan desain. Bahkan di organisasi yang saya ikuti, saya mampu memberikan banyak sumbangsih dalam hal publikasi kegiatan yang membutuhkan desain grafis. Saya diingat dan dikenal sebagai orang yang mahir dalam bidang ini. Hal itu secara tidak langsung menegaskan posisi Anda dalam pergaulan sosial.

Cara lainnya adalah dengan begabung ke komunitas hobi. Sebagian orang senang berbagi dan memperluas pengetahuannya dengan berkumpul di komunitas hobi tertentu. Apalagi saat ini komunitas semacam itu tumbuh subur. Tidak hanya di dunia nyata tetapi juga di dunia maya. Jika Anda, misalnya, adalah penggiat pemograman website, maka Anda tinggal temukan informasi megenai keberadaan komunitas tersebut. Ruang seperti itu memberikan sumber daya yang luas untuk pengembangan keahlian dan kehidupan sosial Anda. Jika mungkin Anda adalah blogger, ratusan bahkan ribuan komunitas blogger sudah berkembang pada saat ini. Selain menambah ilmu, juga akan menambah jaringan perkenalan dan profesional.

Saya contohnya, juga menguasai hard skill WordPress. Sebuah Content Management System (CMS) untuk pembuatan website. Visi mendorong saya untuk membuat sebuah media publikasi. Lagi, saya belajar otodidak dan bergabung dengan komunitas WordPress untuk belajar dan sharing mengenai ilmu tersebut. Dan otomatis di sisi lainnya orang-orang yang berada di lingkungan saya mendapatkan manfaat dari skill saya ini. Di dunia teknologi saat ini sepertinya tidak ada lagi alasan untuk kita tidak bisa belajar mengenai sesuatu hal. Banyak informasi yang kita bisa dapatkan dan pelajari asal ada kemauan.

Memiliki hard skill adalah kelebihan yang akan menunjukkan kualitas diri dan meninggikan selling-point pribadi Anda. Namun, sehebat apapun hard-skil yang Anda punya, Anda tetap butuh berkomunikasi untuk marketingnya. Maka dari itu, sebuah kombinasi ­soft dan hard skill akan membuat Anda benar-benar diperhitungkan dalam kehidupan ini.

Jakarta, 24 Februari 2015

Close