Tag

Beasiswa

Article, Interview, My Thought

Catatan pengalaman: sekilas tentang seleksi wawancara dan LGD LPDP

“Wajah negeri ini masa depan dapat dilihat dari optimisme pemudanya saat ini” – Adhitya Fernando

 ― PENGANTAR

[dropcap style=”flat”]S[/dropcap]aya mulai catatan ini dengan Alhamdulillah, membenarkan bahwa sungguh Allah Swt selalu hadir untuk orang yang mau berusaha. “Sesungguhnya Allah Swt tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka itu sendiri yang akan mengubah apa-apa yang pada diri mereka” (Qs. Al Ra’ad : 11). Mimpi yang saya bangun dari sejak lama ― melanjutkan studi di luar negeri ― akhirnya sampai pada tahap yang begitu dekat pada kenyataan. Hari Senin dan Selasa, tepatnya tanggal 9 – 10 Februari 2015 kemarin saya menjalani seleksi beasiswa LPDP untuk studi magister luar negeri. Maka nikmat Tuhanmu yang mana kah yang kamu dustakan? (Qs. Ar. Rahman : 55).

“Bekerjalah seakan-akan kamu hidup selama-lamanya, dan beribadahlah kamu seakan-akan kamu akan mati besok” – Muhammad Saw. Bagi sebagian orang, studi di luar negeri mungkin adalah mimpi yang sebenar-benarnya mimpi. Bahkan tidak sedikit yang ― tanpa berani memimpikan ― langsung menjustifikasi bahwa itu bukanlah takdirnya. Padahal, Abu Bakar As-Siddiq pernah mengatakan, “Jika kau berusaha lebih keras, maka itu dapat merubah takdirmu”. Sederhana saja pesannya, semua tergantung keinginan dan usaha. Bukankah kita juga sering diajarkan bahwa where the is a will, there is a way. Maka impikanlah dan rawat impian itu, make your dream goes viral, dengan begitu Anda sedang merancang semesta untuk mengidentifikasi Anda sebagai pemilik impian tersebut.

Adhitya Fernando - Beasiswa LPDP

Beasiswa LPDP menjembatani impian anak Indonesia. Sebuah warisan dari mantan Menteri keungan Sri Mulyani ini telah sukses mendapatkan sejumlah 140 alumni LPDP yang mengikuti program Talent Management. Ditargetkan sekitar 3000 orang anak-anak Indonesia menjadi penerima beasiswa LPDP setiap tahunnya (Eko Prasetyo, direktur LPDP). Dana abadi yang dimiliki LPDP cukup untuk mengirimkan 60.000 orang anak Indonesia studi di luar negeri hingga tahun 2045 nanti. Mendikbud Anies Baswedan mengatakan, setidaknya Indonesia membutuhkan 33.000 pemimpin kelas dunia. Beasiswa ini pun mengakomodir berbagai aspek  ― mengingat disparitas tingkat pembangunan dan gap of quality daerah di Indonesia dsb ― maka LPDP membuat diversifikasi jalur beasiswa, yaitu Beasiswa Pendidikan Indonesia Presidential Scholarship (kampus top 50 dunia), Beasiswa LPDP Reguler dan Beasiswa Afirmasi. Afirmasi khusus ditujukan kepada anak Indonesia yang berada (lahir, menjalani pendidikan wajib 12 tahun) di daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal) ― selengkapnya dapat dilihat di www.lpdp.depkeu.go.id. Jalur afirmasi inilah yang saya jalani saat ini, karena saya lahir dan dibesarkan di kabupaten Bengkalis ­― salah satu kabupaten terluar di provinsi Riau. Secara umum, tidak ada perbedaan antara beasiswa LPDP Reguler dan Afirmasi, kecuali pengkhususan pendaftar dan beberapa keringanan syarat pendaftaran.

Informasi mengenai beasiswa LPDP sudah sangat banyak tersebar di internet. Jika kita ketik “Beasiswa LPDP” di Google, maka tidak kurang dari 205.000 hasil pencarian yang akan kita temukan. Kisah sukses dan kiat-kiat beasiswa LPDP pun sudah sangat banyak yang menulisnya. Namun, hampir semua kisah yang beredar adalah kisah sukses ― dalam artian baru di-share setelah mereka berhasil mendapatkan beasiswa ― nah kali ini saya tampil beda, saya beranikan untuk menuliskannya langsung. Sebenarnya, ini pun berkat dorongan dari banyak teman-teman yang bertanya “share donk pengalaman kemarin”, “penasaran dengan wawancaranya”, “eh gimana nih seleksinya kemarin” dsb. Maka dari itu untuk mengakomodir semua pertanyaan dan memastikan teman-teman mendapatkan ulasan yang cukup komprehensif, akhirnya saya putuskan untuk menulis ini. Semoga menjadi doa untuk kelulusan saya (awardee). Sebelum lebih jauh, saya ingin menggaris bawahi bahwa catatan ini adalah berdasarkan pengalaman pribadi saya, Anda mungkin akan mendapat pengalaman berbeda, sehingga ini tidak mutlak untuk dijadikan acuan. Selain itu, kesimpulan dan tips yang saya sarankan nantinya juga merupakan elaborasi murni berdasarkan pengalaman yang saya jalani dan wawasan bacaan berbagai sumber yang pernah saya dapatkan, sehingga Anda harus tetap teliti dan rajin membaca berbagai sumber agar dapat mengambil kesimpulan best-practice apa yang Anda bisa terapkan nantinya.

[accordion]
[spoiler title=”Seleksi wawancara” style=”fancy”]SEBELUM WAWANCARA: VERIFIKASI DOKUMEN

Wawancara adalah tahap kedua setelah verifikasi dokumen. Seluruh peserta seleksi diwajibkan hadir pukul 08.00 WIB guna berkumpul mendengarkan pengarahan prosedur seleksi. Selanjutnya, setiap peserta akan diverifikasi, Anda harus menunjukkan bukti persyaratan ‘asli’ pada panitia (formulir pendaftaran, surat pernyataan bermaterai, sertifikat kursus atau sertifikasi bahasa ― TOEFL, IELTS dsb., ijazah kuliah ― untuk Afirmasi wajib menyertakan ijazah SD, SMP dan SMA, Universitas dan  surat izin belajar ― bagi yang sudah bekerja). Anda akan maju satu persatu untuk mengantarkan dokumen tersebut ke meja panitia. Jika Anda selesai pada tahap ini, maka selanjutnya adalah antri menunggu panggilan wawancara ataupun LGD, panitia akan memanggil nama dan/atau nomor kelompok ― nomor kelompok dan jam giliran wawancara dan LGD terlampir di surat undangan seleksi yang dikirimkan LPDP via email beberapa hari sebelumnya.

Perlu Anda ketahui bahwa dengan dipanggil wawancara berarti Anda sudah berhasil mengalahkan ratusan bahkan ribuan pendaftar lainnya. Tampilkan diri Anda sebagai the best candidate. Yang paling harus Anda pahami adalah LPDP sebagai scholarship provider hanya akan memberikan beasiswa pada mereka yang sesuai dengan kriteria LPDP. Anda bisa membaca visi dan misi LPDP dari berbagai sumber seperi website, materi presentasi, koran dsb. LPDP berambisi untuk mencetak pemimpin masa depan Indonesia yang mempunyai kompetensi global namun tidak melupakan akar ke-Indonesiaan. Sehingga dapat dikatakan bahwa LPDP mencari mereka yang tidak hanya unggul secara kompetensi-intelektual, tetapi juga mempunyai will to contribute, potential to lead. Berbicaralah tentang Indonesia ataupun daerah dan manfaat yang Anda bisa berikan ― jangan sekali-kali menonjolkan ego ataupun menyelipkan kepetingan pribadi jika itu tidak beneficial to this country. Minimal kepeduliaan  wacana dan kontribusi untuk daerah ―menurut hemat saya ― harus 50 % dari total apa yang akan Anda bicarakan dalam interview nanti.

Tips. Pastikan stamina tubuh dan kesehatan Anda terjaga pada saat wawancara. Fisik yang sehat akan mendukung konsentrasi. H-1 usahakan sudah menjadi hari tenang, maksimalkan persiapan jauh sebelumnya, sehingga di H-1 Anda hanya perlu persiapan ringan saja. Sertakan juga ibadah dan amalan, seperti berpuasa, tahajjud dsb. Perpaduan antara usaha dan doa akan mengundang keajaiban rahasia Allah Swt.

Bacalah Bismillah dan doa sebelum wawancara. Jika tiba giliran Anda, maka panitia akan meminta Anda untuk masuk ke ruangan tunggu. Jangan membayangkan Anda akan diwawancarai di dalam ruangan tertutup di mana hanya ada Anda dan interviewer (saya membayangkan ini sebelumnya), ternyata seleksi diselenggarakan di aula besar (lokasi bisa aja berubah-ubah, saya dapat di Student Center STAN Bintaro) yang diatur sedemikian rupa menjadi kluster-kluster tempat wawancara tanpa sekat. Akan ada tiga orang interviewer yang akan ‘menghakimi’ Anda, dengan komposisi satu orang interviewer utama yang biasanya adalah seorang akademisi, satu orang lagi interviewer yang juga biasanya dari kalangan akademisi atau pegawai LPDP, yang terakhir adalah seorang psikolog. Ketiga pewawancara duduk sejajar satu meja di depan Anda. Akan ada meja dan kursi tempat Anda duduk yang berjarak satu meja dari pewawancara.

Tips. Berikan salam, senyuman dan jabat tangan pada saat menghampiri pewawancara. Berilah kode atau izin untuk duduk. Selain itu, bawa dokumen yang mungkin Anda perlu perlihatkan pada pewawancara, seperti buku karya Anda, sertifikat bahasa, kliping tulisan yang pernah Anda buat, sertifikat yang Anda peroleh, dsb. Hal ini, selain berguna untuk membantu pemaparan agar jawaban Anda semakin terlihat meyakinkan, juga akan menunjukkan bahwa Anda lebih siap.  

Dengan komposisi pewawancara seperti itu, maka Anda harus sadar bahwa tidak hanya kualitas akademis dari rasionalitas dan reasoning jawaban Anda yang akan dinilai, tetapi juga kepribadian, karakter diri, cara Anda berbicara dan attitude. Saran seperti ‘berjalan ke ruangan dengan tegap dan percaya diri’, ‘berikan senyuman dan salami pewawancara’, ‘tatap mata pewawancara, ‘berbicara dengan lugas dan tidak gugup’, ‘kontrol emosi dan argumen’, ‘etika Anda mempertahankan pendapat ataupun mengklarifikasi’ dsb akan sangat penting untuk Anda perhatikan.

PROSES WAWANCARA

Seketika Anda duduk, biasanya interviewers akan berbasa-basi menanyakan kabar Anda? Sudah lama menunggu ya? ataupun lainnya. Balaslah dengan ‘segar’, kesan pertama tetap paling mendalam. Jangan terlihat gugup, rileks saja namun tetap sersan (serius tapi santai). Apa bahasa pengantar wawancara? Tidak tentu. Bahasa yang digunakan tergantung pewawancara, walaupun di banyak kasus hanya akan menggunakan bahasa Indonesia sekalipun tujuan studi Anda adalah luar negeri. Hal ini terjadi pada saya, no English question come out somehow! Tapi untuk membuat ‘keren’ maka saya campurkan sedikit istilah-istilah English dalam jawaban saya. Teman saya sesama peserta wawancara kemarin mengeluh, wawancara yang dia jalani mostly in English ― padahal tujuan studinya di dalam negeri. Nah, Anda harus siap dengan berbagai kemungkinan.

Pewawancara biasanya mengawali tanya jawab dengan mengatakan, baiklah saudara (….) silahkan perkenalkan diri Anda, latar belakang dan alasan mengapa Anda mendaftar beasiswa ini. Menurut saya, starting-point­ disini sangatlah penting. Pastikan Anda menjawab dengan sistematis, jelas dan mendalam. Anda harus mampu memberikan pengantar yang bermutu di awal. Untuk pertanyaan perdana ini Anda mendapatkan waktu yang cukup panjang, pewawancara tidak akan menginterupsi Anda dengan cepat.  Ingat poin-poin yang ditanyakan oleh pewawancara, jangan sampai Anda lupa menjawabnya.

Apa yang perlu Anda sampaikan pada perkenalan diri? Ada beberapa common-error ― menurut hemat saya ― tidak perlu lagi Anda sampaikan tanggal lahir, jumlah saudara dan jawaban sejenis, itu jawaban yang tidak diinginkan. Cukup perkenalkan nama Anda, asal daerah dan umur jika perlu. Selanjutnya sampaikan latar belakang pendidikan Anda, menamatkan studi S1 di Universitas (…..) Fakultas (….). Anda bisa lanjutkan dengan mengatakan Anda mendapatkan IPK yang bagus selama kuliah, atau bahkan cum laude. Paparkan in-brief­ apa yang Anda lakukan saat kuliah, jika misalnya Anda aktif di organisasi, peran apa saja yang Anda jalankan pada saat itu dan apa saja organisasi (menurut Anda penting) yang pernah dijalani. Tetapi jangan sesederhana itu, sebutkan hal membanggakan apa yang Anda buat di organisasi, motivasi Anda berorganisasi. Misalnya Anda pernah menjadi pengurus di organisasi daerah, Anda bisa ceritakan pada saat itu Anda aktif mengkaji tentang daerah dan memberikan dukungan dan kritikan untuk memajuan daerah dsb. Jika mungkin Anda juga menjadi Asisten Dosen, lengkapi juga penyampaian Anda dengan a glance of your duty dan kenapa itu penting bagi Anda. Selain menjalani aktifitas keorganisasian dan kegiatan-kegiatan lainnya, saya juga berusaha mengembangkan kompetensi global dengan mengikuti kegiatan internasional seperti konferensi dan pertukaran pelajar. Meskipun saat itu di kampus saya bisa dihitung jari mahasiswa yang berhasil menembus akses internasional ― sedikit didramatisir ― sehingga cukup sulit mendapatkan referensi dan bagaimana melakukannya, namun berkat kegigihan akhirnya saya bisa mendapatkan kesempatan mengikuti program (……) di negera (….) dan program (…..) di negara (…..). Saya melakukan ini agar saya dapat menjadi orang yang berdaya guna lebih luas dan mampu memberikan inovasi perubahan untuk bangsa.

Selanjutnya, Anda bisa menambahkan pengantar tersebut dengan menyampaikan concern Anda terhadap keilmuan, seperti: “saya mempunyai ketertarikan yang tinggi terhadap bidang ilmu (….)”, sampaikan sejauh mana Anda telah bergelut di dalamnya ― mungkin Anda sering membuat tulisan mengenai hal tersebut, atau peran yang pernah Anda jalankan, program yang pernah Anda buat mengenai hal tersebut dsb. Singgung juga dengan realitas, fakta dan data pendukung yang dapat menguatkan konten pembicaraan. Anda bisa menyimpulkan pengantar Anda dengan mengatakan “maka dari itulah saya mendaftar beasiswa ini dengan harapan saya dapat berbuat lebih dalam bidang tersebut dan berdaya guna untuk daerah/Indonesia (……..)”.

Tips. Apa yang Anda sampaikan di awal ini ― berdasarkan pengalaman saya ― adalah bahan yang digunakan pewawancara sepanjang proses wawancara berlangsung. Anda dapat mensiasati dengan mengatakan semua yang bagus atau yang Anda kuasai ataupun yang membanggakan ― yang menurut Anda bisa Anda pertahankan dan berpengaruh positif. Pertanyaan-pertanyaan berikutnya tidak akan jauh dari apa yang kita sampaikan di pengantar, hanya sekedar follow-up question.

Tips: Pahami secara mendalam apa yang Anda tuliskan di formulir dan esai yang Anda buat pada saat mendaftar. Pewawancara mungkin tidak akan secara langsung dan spesifik menanyakan apa yang Anda tulis. Maka dari itu, perhatikan jawaban yang Anda berikan, jangan sampai ‘lari’ dari apa yang Anda tuliskan tersebut ― sekalipun tidak ditanya ― selipkanlah poin dalam formulir/esai yang Anda buat dalam jawaban Anda dengan bahasa dan penyesuaian konteks yang menarik. Jangan sampai Anda terjebak, “apa yang Anda bicarakan tidak sesuai dengan yang Anda tuliskan”.

Juga penting diperhatikan bahwa ― jika melihat surat rekomendasi ― terdapat beberapa indikator penilaian terhadap Anda (sangat bagus, baik, cukup, kurang) dalam beberapa aspek. Menurut hemat saya, psikolog akan berusaha membuktikan ini di dalam proses wawancara. Saya dapati, pewawancara psikolog beberapa kali mengajukan pertanyaan ― yang saya paham maksudnya ― terkait apa yang tertulis di surat rekomendasi tersebut. Berikut beberapa aspek yang dimaksud:

  1. Kepemimpinan
  2. Keterlibatan dalam komunitas
  3. Kepercayaan diri (sangat diamati psikolog)
  4. Kedewasaan (sangat diamati psikolog)
  5. Kemampuan beradaptasi
  6. Potensi untuk berkembang (sangat diamati psikolog)
  7. Potensi untuk menjadi pemimpin (sangat diamati psikolog)
  8. Idealisme terhadap kebenaran (sangat diamati psikolog)
  9. Kemampuan akademik

Tips. Pewawancara sudah mendapatkan gambaran ataupun penilaian terhadap diri Anda jauh sebelum Anda diwawancarai. Mereka sudah membaca data yang Anda submit dan membacanya juga pada saat proses wawancara. Masing-masing pewawancara memiliki laptop di depan mereka, saya dapati beberapa pertanyaan muncul setelah mereka mengamati laptop beberapa saat. Besar kemungkinan itu adalah data diri dan berkas pendaftaran Anda. Jadilah diri sendiri, jangan berkamuflase.

Menyambung indikator penilaian di atas, ketika itu pewawancara utama menyanyakan apa yang saya lakukan setelah tamat kuliah S1 lalu? Saya jawab bekerja di sebuah institusi (……). Saya bertugas sebagai (….), beberapa kali terlibat dalam (….), pekerjaan ini meningkatkan kapasitas (….) saya yang akhinya membuat saya mampu (…..). Ceritakanlah mendalam, jangan poin-poinnya saja, namun perhatikan yang kiranya berhubungan dengan tujuan studi Anda. Jika sebelumnya Anda bekerja sebagai peneliti, maka pengalaman bekerja dan menyelesaikan penelitian (….) membuat Anda memiliki kemampuan dan keinginan untuk melakukan (…), saya yakin dengan pengalaman yang saya miliki akan sangat membantu saya kedepannya.

Cermat memilih hal yang akan diangkat atau dicontohkan. Saya sadar bahwa saya menggunakan jalur Afirmasi (khusus anak daerah) dan mereka menginginkan peserta yang punya visi pengabdian untuk daerah, punya misi mengembangkan daerah dan terutama mereka yang punya potensi berkembang dan memimpin daerah untuk kemajuan ― sesuai visi misi LPDP. Terang saja, saya sampaikan pada pewawancara bahwa pengalaman saya di organisasi telah membawa saya bersentuhan dengan dinamika pembangunan di daerah, saya sering mengunjungi daerah di Bengkalis dan terutama di Riau dalam rangka (….), hal ini sedikit banyak telah mendorong saya untuk memikirkan kemajuan dan berbuat banyak untuk daerah. Hal ini semakin meningkat terutama berkat pengalaman saya bekerja dan menjalankan beberapa proyek di daerah. Saya pernah terlibat dalam proyek rancangan dan pembangunan infrastruktur (…..) untuk desa-desa di Riau ― yang mengharuskan saya mengunjungi beberapa daerah untuk mendapatkan data dsb. Saya menikmati proses tersebut, sampai disini pewawancara seolah berhasil saya rebut ­attention­-nya ― terutama psikolog. Psikolog bertanya, “juga berkomunikasi dengan masyarakat setempat dan juga melakukan (…)”, ternyata saya mengangkat contoh yang tepat (kontribusi terhadap daerah). Saya benarkan pertanyaan psikolog dan memang benar adanya, selain saya juga berkomunikasi dengan instansi-instansi di daerah. Beberapa kali psikolog mencoba meng-explore lebih dalam pengalaman saya ini. Interviewer lainnya turut menyumbangkan follow up question dengan pertanyaan sesuai bidang dan kapasitasnya.

Tips: Selalu beri jawaban yang cukup lengkap, jangan hanya singkat-singkat saja, lengkapi dengan tanggung jawab Anda dalam pekerjaan tersebut dan apa nilai-nilai ataupun apa kemampuan yang Anda dapatkan selama bekerja yang meningkatkan kapasitas diri Anda dan apa dalam pekerjaan tersebut yang menurut Anda adalah kontribusi terbaik yang pernah Anda berikan atau pengaruh positif apa yang Anda berhasil ciptakan. Berikan jawaban seperti ini dalam bahasa yang menarik, komunikatif dan tidak membosankan (gunakan intonasi berbicara, tatapan mata, penekanan kalimat dan sedikit ‘drama’, serta satu hal yang sangat penting adalah berkomunikasi dengan menggunakan gesture ― gunakan tangan Anda untuk memaparkan hal-hal tersebut, ini akan membuat Anda terlihat lebih meyakinkan dan berkualitas, jangan monoton!). Jangan ragu untuk berbicara banyak, pewawancara tidak akan langsung memotong bicara Anda selama Anda tidak bertele-tele dan pastikan tidak terlalu panjang lebar dan memakan banyak waktu.

Setelah saya menjelaskan pertanyaan di atas, pewawancara psikolog kemudian mengajukan pertanyaan yang sedikit menyela ataupun meragukan, contohnya kenapa Anda tidak lakukan saja hal tersebut (….), kenapa Anda malah mengambil tindakan (….). Nah, pada kasus saya pertanyaan itu berhasil saya identifikasi sebagai gugatan atas ‘idealisme saya terhadap kebenaran’, disini Anda jangan sampai terjebak. Tenang dan pahami pertanyaan tersebut, jawablah dengan baik, jangan menunjukkan emosi dan ketersinggungan. Ingat, jawablah tegas dan jujur ― jika memang itu salah ataupun apa yang disebutkan psikolog/pewawancara adalah benar adanya ― maka akuilah lalu nyatakan bahwa Anda sudah berupaya untuk memperbaikinya dan Anda sudah jauh lebih baik sekarang ini. Intinya arahkan kepada hal yang positif.

Tips. Pertanyaan ataupun follow-up question seperti di atas mungkin akan sering Anda temui mengacu pada indikator di atas (mungkin itu mengukur potensi Anda untuk berkembang, kemampuan adaptasi dsb). Maka, Anda harus bisa konsiten.

Pewawancara memberikan follow-up pertanyaan pada saya, Anda pernah mengikuti pertukaran pelajar, bagaimana cara Anda membiayai keberangkatan? Nah, di kasus ini jangan langsung to the point, ini bisa jadi mengukur kepemimpinan, jaringan, kualitas usaha, relasi dengan tokoh dan upaya cerdas yang Anda lakukan. Lagi, rangkailah jawaban Anda menjadi suatu yang menarik tanpa kehilangan esensi utama dari pertanyaan tersebut. Saya menambahkan hal ini pada jawaban saya, kurang lebih poinnya seperti ini, pendanaan saya dapatkan dari beberapa sponsor seperti kampus, perusahaan dan pemerintah. Saya berkomunikasi dengan Rektor dan beliau bersedia mendukung pendanaan, selain itu saya juga berkomunikasi dengan Bupati daerah saya, kebetulan dalam beberapa kegiatan saya sebelumnya kerap bertemu dan bincang-bincang dengan beliau dengan demikian saat saya sampaikan mohon pendanaan Beliau dengan sangat baik merespon saya (kalimat ini tidak persis seperti apa yang saya sampaikan pada saat wawancara). Namun disini dapat ditangkap pesan bahwa kita adalah orang yang mampu membangun komunikasi dengan pihak elit, tentu tidak sembarang orang bisa seperti ini dan mensyiratkan ‘potensi untuk menjadi pemimpin’ dan ‘potensi untuk berkembang’. Cermati setiap pertanyaan.

Tips. Apapun pertanyaan pewawancara, terutama mengenai prestasi. Upayakan bahwa Anda tidak hanya berhasil meraih prestasi tersebut, tetapi kebermanfaatan apa yang Anda bisa berikan dengan memperoleh hal tersebut ― manfaat yang anda dapat bagikan ke orang banyak, bukan berupa prestige pribadi. Contohnya, saya juga mengatakan bahwa kesempatan pertukaran pelajar yang saya dapatkan telah membuka wawasan dan pengetahuan saya. Seketika pulang, saya langsung tergerak untuk menciptakan inovasi dan program follow-up seperti menduplikasi program dan menginisiasi kegiatan serupa di daerah/kampus. Berhasil mengikuti pertukaran pelajar, saya mengadakan pembinaan kepada adik-adik junior berupa kiat-kiat memperoleh beasiswa, menulis esai dsb. Saat ini ― yang dulunya sangat sedikit mahasiswa yang bisa menembus pengalaman internasional ― akhirnya satu dua orang adik-adik junior telah berhasil mendapatkan pengalaman serupa. Tentunya transfer motivasi dan ilmu sedikit banyaknya memberikan kontribusi terhadap perubahan positif ini. Saya merasa dengan mendapatkan kesempatan yang besar saya mampu membuat banyak perubahan dan semakin terpacu untuk menginspirasi banyak orang (tidak persis seperti ini jawaban saya pada saat wawancara kemarin. Intinya, terangkan kebermanfaatan.

Mengenai struktur pertanyaan, saya mendapati kasus yang berbeda dari hampir seluruh cerita yang dibagikan di internet. Sebagian besar orang akan ditanyakan begitu sistematis dan runut, bahkan di beberapa kasus sampai diberikan pertanyaan psikologi yang personal, seperti:

  1. Anda anak keberapa?
  2. Apa profesi saudara kandung Anda?
  3. Apakah Anda sudah memiliki ‘pendamping’ atau sudah berencana ‘menikah’?
  4. Apakah Anda sudah pernah tinggal jauh dari orang tua?
  5. Apakah Anda yakin bias bertahan tinggal jauh dari lingkungan Anda saat ini?

Pada kasus saya, tidak satupun pertanyaan ‘personal’ seperti ini muncul. Bahkan di beberapa cerita kawan-kawan yang lain, pewawancara ‘melemahkan’ Anda dengan tipikal pertanyaan tersebut. Ketika Anda termasuk orang yang belum pernah bepergian jauh, belum pernah tinggal sendiri dalam waktu yang lama, maka pewawancara jelas akan mencoba meragukan Anda ‘apa bisa survive nanti saat sekolah jauh’? Beberapa peserta bahkan sampai dibuat nangis menjawab pertanyaan seperti ini. Hati-hati!

PERTANYAAN WAWANCARA

Sangat penting untuk kita melakukan riset (browsing, membaca buku panduan beasiswa, bertanya pada penerima beasiswa dsb) tentang pertanyaan apa yang kerap muncul pada saat wawancara. Hal ini akan sangat membantu Anda untuk mendapatkan gambaran dan mempersiapkan konsep jawaban apa yang akan Anda berikan nantinya. Untuk ini, saya berterima kasih pada senior-senior saya yang dengan senang hati membantu, memberikan dokumen pendukung, menjawab pertanyaan yang saya ajukan terkait proses wawancara. Mereka diantaranya adalah bang Budi Waluyo (mahasiswa Ph.D Comparative and International Education di Lehigh University Amerika), bang Robi Kurniawan (penerima beasiswa Fullbright master degree TESOL di Central Michigan University, Amerika) dan bang Pahmi (Penerima beasiswa LPDP magister luar negeri di University of Manchester, Inggris). Selain itu juga dari sahabat saya dari YIB (Yayasan Insancita Bangsa) HMI yang sudah lebih dahulu menjadi awardee, Fitria Amin (Awardee LPDP Carnegie mellon University, Amerika) dan Yasir Mubarok (Awardee LPDP UGM – berencana naik grade ke University of York, Inggris).

Dari beberapa sumber yang saya dapatkan, maka inilah daftar pertanyaan yang biasa muncul:

  1. Please introduce yourself to us in details!
  2. Why do you choose university of (….)?
  3. Tell me about life and study in that country/city!
  4. Why do yo choose to study abroad?
  5. What is the topic for your thesis?
  6. How is your previous study, research or experience relevant to the topic you are proposing?
  7. Have you search for programs at universities that offer what are you looking for?
  8. How can the universities help you for this research?
  9. All of your publication are not about the research topic you are proposing, how it could be relevant to support your study?
  10. You seem to have finished your bachelor degree more than four years. If we give this scholarship to you, are you can finish within the time limit?
  11. Your English is not very good, how can you manage to study abroad?
  12. Have you contact the professor or do research about the university and its requirements?
  13. What were you do since graduated until now?
  14. Explain about your organization?
  15. If you are offered for working in foreign company with high salary, will you accept?
  16. Does your parent support you for continuing study?
  17. What is your type of leadership?
  18. What do you think about nasionalism and integrity?
  19. What is your motto?
  20. What is your parent’s advice that you still remember?
  21. What is your strength and weakness?
  22. What career do you want to pursue after you study?
  23. What kinds of contribution will you give on your return home?
  24. After finishing your study, what specific priority will you do?
  25. How will you implement the knowledge on your return home?
  26. How will your country gain benefits from your country?
  27. How do you socialize with people?
  28. How will you manage the condition in your family during your study abroad?

Jika kita kelompokkan, maka garis besar pertanyaan tersebut adalah seputar motivasi mendaftar beasiswa, latar belakang dan aktifitas saat ini, tujuan dan rencana studi, pengetahuan tentang universitas tujuan dan professor pengajar, penelitian dan manfaatnya, karir dan kontibusi yang akan diberikan untuk daerah/negara, kualifikasi bahasa. Pertanyaan lainnya hanyalah pelengkap, ataupun pertanyaan counter atas jawaban kita.

Beberapa peserta kadang menemukan pertanyaan tentang wawasan nasional, seperti apa yang pernah dialami teman saya:

  1. Sebutkan isi pancasila dalam bahasa Inggris!
  2. Bisakan Anda menyanyikan salah satu lagu nasional?
  3. Pendidikan di dalam Undang-Undang diatur dalam pasal berapa?

Kadang hal seperti ini sering kita abaikan. Maka penting kiranya untuk memahami kembali beberapa pengetahuan nasional sebelum menjalani seleksi wawancara.

Menyoal kembali daftar pertanyaan yang sering muncul di atas, lead interviewer bertanya pada saya, mengapa mau studi di universitas tujuan saya ― Technische Universitat Munchen School of Education. Berdasarkan tips dari bang Budi Waluyo, maka jawablah pertanyaan seperti itu dengan jawaban yang akademis, misalnya: “saya memilih universitas ini karena tenaga pengajar dan fasilitas yang ada disana sangat mendukung studi S2 saya nanti. Saya juga sudah membaca banyak literatur di bidang saya dan saya menemukan sebagian besar penulis mengajar di universitas ini.” Pertanyaan ini juga merupakan kesempatan Anda untuk restating visi pengabdian Anda untuk Indonesia.

Selain itu saya juga ditanya sudah sejauh apa persiapan untuk masuk ke universitas tersebut, sudah memiliki LOA (Letter o Acceptance)? Kadang kita harus jujur pada diri sendiri bahwa banyak kekurangan yang kita miliki, namun tidak selamanya pula kelemahan akan dianggap kelebihan bagi pewawancara. Mereka menginginkan mereka yang siap, Anda mau lanjut studi tapi universitasnya saja tidak tahu, jelas ini akan sangat mengurangi poin Anda. Karenanya Anda perlu melakukan riset terhadap jurusan, universitas dan pengajar disana. Saya terangkan cukup detail mengenai jawaban tersebut, fakultas yang saya tuju adalah Faculty of Teacher Training and Educational Research, ada 17 jurusan didalamnya dan jurusan yang akan saya masuki adalah Emprical Social Research. Ketua department-nya adalah Prof. Manfred Prenzel, Beliau adalah seorang peneliti PISA (Program for International Student Assessment), saya paparkan mengenai beliau cukup dalam, lalu saya korelasikan kenapa Professor ini sangat penting untuk penelitian saya mengenai Quality Assurance of Education. Jika Anda dapat menjelaskan ini dengan yakin dan tanpa menunjukkan gejala keragu-raguan, maka setidaknya Anda sudah membuat interviewer terkesima.

Di sesi wawancara ini cobalah juga lemparkan senyum pada pewawancara dan bahkan candaan ringan yang mencairkan suasana, tidak harus joke sebenarnya, cara Anda memaparkan dan mengkoparasikan sesuatu jika ‘didramatisir’ sedikit bisa membuat pewawancara ‘tersungging’ senyumnya.

Selain pertanyaan di atas, interviewers juga secara halus menyinggung saya, ‘dengan relasi yang kamu dapatkan di pergaulan internasional, apa gak mau meningkatkan skor bahasa? Saya langsung tangkap intinya bahwa memang skor bahasa saya masih harus ditingkatkan. Saya paparkan dengan keseriusan, disini Anda harus mampu menunjukkan komitmen. Berulang kali para pewawancara menyinggung soal ini ― Anda bisa sedikit menggunakan teknik komunikasi ― tatap mata mereka dengan serius dan ucapkan dengan tegas bahwa Anda akan berusaha sekeras mungkin. Dalam kasus saya, saya katakan bahwa saat ini saya sedang menjalani kursus IELTS di The British Institute Fatmawati, Jakarta Maret ini saya akan ujian IELTS dan optimis bisa memperoleh skor yang menjanjikan.

Namun, ada beberapa hal yang saya coba berargumentasi dengan mencatut tokoh tertentu, malah pewawancara mengatakan ‘ya yang argument kamu saja, itu kan mereka’. Saya mencoba klarifikasi bahwa itu adalah penafsiran saya dan saya hubungkan dengan hal lainnya sesuai tujuan saya. Attitude itu sangat penting, jaga etika komunikasi. Beberapa kali saya hampir memotong pertanyaan pewawancara, namun saya ingat harus coba tenang dan stabil.

Kiranya itu yang saya bisa ceritakan mengenai pengalaman wawancara. Menandakan selesai, pewawancara akan mengatakan bahwa wawancara kiranya cukup dan Anda dipersilahkan mengemasi dokumen dan meninggalkan tempat

Tips. Sebelum berdiri, sempatkan ucapkan terima kasih atas panggilan wawancara ini dan katakan bahwa ini adalah kesempatan dan pengalaman yang sangat berharga untuk Anda. Tapi jangan langsung pergi, rapikan dokumen saat Anda masih di meja ― jangan sambil berdiri. Jika sudah, maka berdirilah dengan baik dan beri salam dan jabat tangan pewawancara.

Selain itu, belajar dari teknik pitching ide bisnis yang saya dapatkan di Filipina. Sangat dianjurkan jika Anda membuat presentasi dan memparkannya pada investor, idealnya Anda juga meninggalkan hard-copy dokumen yang Anda buat untuk mereka baca belakangan ― Ini akan berguna sebagai pengingat bagi mereka dan memudahkan menemukan identitas Anda. Dalam wawancara ini, saya berikan masing-masing pewawancara kartu nama saya. Agar tidak terkesan lain, saya katakan bahwa saya selalu memberikan ini kepada orang yang saya temui, terutama pada mereka yang membuat saya terkesan. Jelas saja, mereka amati kartu nama saya. [/spoiler]

[spoiler title=”Seleksi LGD (Leaderless Group Discussion)” style=”fancy”]

Anda mungkin mendapatkan jadwal LGD pada sesi pertama, baru kemudian wawancara ― atau sebaliknya. Pembagian ini sepenuhnya domain LPDP. Kasus saya, jadwal wawancara di hari pertama dan menyusul LGD di hari kedua. Masing-masing peserta memiliki nomor kode kelompok, baik untuk wawancara dan LGD ― nomor ini tercantum di email undangan wawancara yang dikirimkan oleh LPDP. Nomor wawancara dan LGD berbeda, saya mendapatkan nomor kelompok 17 untuk wawancara dan nomor 13 D untuk LGD.

Apa itu LGD? Menurut American Psycological Association (APA), LGD adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur potensi kepemimpinan. Penguji LGD akan mengamati dan menilai penampilan peserta LGD, di mana satu kelompok peserta LGD menjalani sebuah diskusi dalam jangka waktu tertentu tanpa ada penunjukan salah seorang menjadi pimpinan diskusi. Seleksi LGD menguji keterampilan mengkomunikasiden ide dan gagasan, kemampuan berinteraksi, daya inisiatif dan kemampuan berkerjasama dalam tim untuk mengambil keputusan.

Sejumlah 8-9 orang akan berada dalam kelompok yang sama. Saya mendapatkan komposisi kelompok yang terdiri atas 9 orang dengan pembagian yang acak, ada peserta yang berasal dari jalur Afirmasi dan juga ada yang Reguler, begitupun dengan tujuan studi ada yang dalam dan luar negeri. Beberapa kelompok juga akan mendapati peserta dengan tujuan studi doktor.

PROSES SEBELUM LGD

Panitia seleksi akan terlebih dahulu memanggil nama kelompok Anda untuk berkumpul menghadap panitia. Maka peserta yang memiliki nomor kelompok yang sama akan maju ke depan, panitia akan mengabsen nama-nama anggota kelompok. Panitia juga akan memberikan beberapa instruksi seperti alat komunikasi seperti handphone harus dinonaktifkan dan disimpan di dalam tas, selain itu panitia akan menunjukkan ruang dimana LGD akan dilaksanakan.

Biasanya ada waktu jeda sekitar 15 menit dari fase berkumpul hingga masuk ruangan LGD. Nah, disini dinamika mulai terjadi. Ambillah kesempatan itu untuk berkenalan (ingat nama teman-teman Anda), coba sekilas baca karakter mereka. Sekalipun ini adalah LGD yang berarti leaderless, tetap saja dalam keadaan ini Anda harus mampu berkompromi karena LGD bukan hanya diskusi kosong, kelompok Anda harus menghasilkan atau mendapatkan jawaban/kesimpulan hasil diskusi. Dalam waktu yang singkat, dengan orang-orang yang baru Anda kenal dan diawasi bayang-bayang penilaian, maka terkadang keadaan seperti ini susah untuk mendapatkan persatuan dan kompromi, satu atau dua orang mungkin akan menguasai forum dan ingin menonjol (mungkin dengan maksud dapat nilai tinggi), padahal substansi LGD bukan seperti itu.

Seluruh proses LGD akan berlangsung lebih kurang 40 menit. Sekitar 3 menit pegarahan dari pengawas. Pengawas akan memberikan kertas catatan dan fotokopi artikel koral mengenai suatu topik. Anda diberikan waktu 5 menit untuk membacanya. Jika sudah selesai 5 menit, selanjutnya salah seorang pengawas akan memberikan kode untuk kita memulai diskusi.

Perhatikan dengan seksama informasi penting yang muncul dalam artikel tersebut. Saya contohnya mendapat artikel koran tentang Narkoba, di dalam artikel dituliskan fakta dan data pengguna narkoba di Indonesia berdasarkan sumber dari BNN, disebutkan juga bahwa mayoritas pengguna adalah anak muda. Diterangkan bahwa upaya pemberantasan narkoba telah berjalan cukup signifikan, namun diperlukan upaya dan kerja sama dari berbagai pihak untuk memberantas secara maksimal. Penting diperhatikan juga bahwa di dalam artikel tersebut terdapat sub-headline (biasanya dicetak tebal), pada artikel saya terdapat satu sub dengan judul ‘Hukuman Mati’. Saya mengamati bahwa sub-headline ini bisa menjadi pengecoh saat diskusi berlangsung. Penting untuk Anda mencatat poin-poin apa yang akan Anda sampaikan pada kertas yang coretan yang disediakan panitia. Ingat, bawalah pena! Panitia tidak menyediakan pena.

Data-data dan informasi penting di artikel tersebut dapat Anda gunakan untuk mengelaborasi pendapat yang akan Anda kemukakan. Tentunya jika didukung dengan data tambahan yang bersumber dari pengetahun Anda sendiri akan lebih baik. Kala itu saya menambahkan UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika yang menyatakan bahwa hukuman maksimal untuk terpidana narkotika adalah hukuman mati. Hukuman mati sudah diatur dalam konstitusi, sehingga hukuman tersebut tidak melanggar aturan. Hukuman tersebut akan menyebabkan efek jera dan memberi peringatan pada masyarakat bahwa penggunaan narkotika adalah pelanggaran yang dapat dihukum berat. Sebenarnya tidak masalah jika Anda tidak punya wawasan tambahan, Anda bisa saja pandai-pandai mengolah data yang disajikan di dalam artikel.

Hal penting lainnya adalah pembagian peran. Anda diminta untuk memilih salah satu diantara beberapa peran yang tersedia, seperti: Akademisi, Pengamat, Aktivis dan Praktisi (seingat saya hanya itu). Saat Anda hendak mulai menyampaikan pendapat, maka ingatlah untuk mengatakan bahwa Anda adalah (akademisi/pengamat/aktivis/praktisi). Waktu baca yang Anda miliki gunakan untuk memikirkan poin-poin apa yang akan Anda sampaikan berdasarkan peran yang Anda pilih. Ingat, selalu beri kalimat signal yang menandakan peran Anda, jika Anda memilih menjadi seorang pengamat maka Anda dapat mengatakan seperti, “Saya telah mengamati…”, “Kejadian ini saya amati…” dsb. Rasionalisasi yang Anda berikan haruslah sesuai dengan peran Anda. “Jangan sampai Anda mencontohkan peran praktisi sementara Anda adalah seorang pengamat.

Ada baiknya ― sebelum masuk ruangan ― Anda bersama kelompok melakukan kesepakatan bersama dengan teman-teman Anda guna mencapai tujuan bersama. Anda mungkin bisa menentukan ― jika tidak boleh dikatakan pemimpin/moderator ― orang yang berperan sebagai pengatur jalannya diskusi. Orang ini akan memulai pembicaraan pada saat diskusi, memberikan pandangan dan mengatur forum agar berjalan dinamis dan demokratis serta mengarahkan forum agar mampu menghasilkan keputusan dalam waktu yang telah ditentukan. Satu perangkat lagi yang penting adalah notulen ― sekalipun setiap orang mungkin mencatat ―  dengan begitu akan didapatkan kesimpulan yang mampu merangkum ide dan gagasan yang muncul pada saat diskusi.

Tempat duduk dalam LGD diatur menurut pengawas. Anda akan dipanggil masuk satu persatu dan menempati kursi yang sudah ditentukan.

Tips. Anda harus perhatikan. Di dalam ruang LGD nanti akan ada dua orang pengawas (menurut saya keduanya adalah psikolog). Pengawas akan memberikan pengarahan dan penekanan tentang beberapa hal seperti pembagian peran dan LGD itu sendiri. Pengawas mengingatkan bahwa,  “ini adalah diskusi tanpa pemimpin, maka Anda tidak perlu membentuk panitia ataupun perangkat diskusi”. Lalu bagaimana caranya? Jalankan secara non-formal, jangan sampai terlihat forum seperti sudah di atur. Orang yang telah ditunjuk sebagai pengatur diskusi bisa membuka diskusi seperti dengan mengatakan “Assaamu’alaikum wr.wb. Teman-teman yang saya banggakan, mohon maaf jika saya mengambil inisiatif untuk berbicara pertama, sebagaimana pengawas telah mempersilahkan kita untuk memulai diskusi ini. Baiklah, kita telah diberikan waktu membaca mengenai artikel (…..) dan kita mendapatkan pertanyaan yang harus kita jawab melalui kesimpulan diskusi ini. (….)’. Sampai disini, kiranya cukup untuk basa basi mengantar diskusi.

LGD BERLANGSUNG

Ingat, setiap Anda equal dalam LGD. Maka setiap Anda berhak berbicara. Sebagai pembuka diskusi, Anda sangat disarankan langsung memaparkan pandangan Anda terkait topik yang sedang dibahas dan memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang muncul. Dalam kasus saya, saya menjadi pembuka diskusi. Ada beberapa hal yang membuat posisi pembuka diskusi ini menguntungkan:

  1. Anda dapat mengarahkan opini peserta lainnya. Setelah memaparkan fakta dan opini saya mengenai kasus yang diangkat, lalu saya sampai beberapa poin yang menjadi usulan solusi dari saya (Pertanyaan artikel: program apa saja yang bisa dilakukan masyarakat dan pemerintah untuk mencegah bahaya narkoba). Saya menjelaskan bahwa ada tiga program yang harus diwujudkan: Pembinaan keluarga dan penguatan peran keluarga melalui kementerian sosial dsb, program sosialisasi melalui saluran Negara dan juga bekerja sama dengan organisasi kemasyarakat, organisasi kepemudaan dan mahasiswa dsb serta program pemberdayaan generasi muda melalui menguatkan aktivitas produktif di organisasi, minat dan bakat serta ajang kompetisi prestasi dsb bekerja sama dengan kementerian pemuda dan olahraga. Saya juga menyinggung soal hukuman mati yang menjadi sub-headline dan memberikan pendapat mengenai patut atau tidaknya diterapkan hukuman tersebut. Saya menghabiskan waktu sekitar 5 menit. Ternyata jawaban saya diikuti oleh peserta lainnya, ada yang membenarkan, ada yang menambahkan dan ada yang menyarankan hal-hal teknis. Tentunya ini menjadi point-plus.
  2. Sebagaimana saya katakan di atas, dalam LGD tidak ada leader. Namun, pengatur yang sudah kita tunjuk tetap penting. Oleh karena itu peran dan ‘gaya main’ –nya mesti soft and natural, gunakan bahasa diskusi tanpa pemimpin. Anda tidak perlu mengatur pembagian urutan memberikan komentar, biarkan berjalan natural, yang harus Anda lakukan adalah memastikan masing-masing peserta kebagian jatah menyampaikan pendapat. Buat forum menjadi dinamis namun tetap demokratis.
  3. Pengatur diskusi mempunyai kesempatan berbicara lebih banyak, Anda dapat mempersilahkan peserta lainnya berbicara (ini akan menjadi poin tambahan bagi Anda karena menunjukkan perhatian Anda untuk equality dan mau mendengar pendapat orang lain. Anda dapat membenarkan dan mengapresiasi pendapat seseorang (ini juga poin), namun jangan sampai terbaca polanya Anda terus-terusan mengatur diskusi, biarkan saja berjalan dinamis.
  4. Anda akan mampu mengatur waktu dan mengarahkan kepada tujuan diskusi sesungguhnya. Seperti saya katakan di atas, sub-headline kadang meragukan, beberapa peserta bisa terpancing untuk membahas lebih dalam dan sedikit menonjolkan ego terkait sub tersebut, padahal yang sebenarnya harus didapatkan di dalam diskusi bukanlah itu ― ada pertanyaan khusus yang harus dijawab. Nah disini Anda bisa mengatur dinamika forum agar kembali kepada topik. Jika semua peserta sudah selesai berbicara, maka saatnya Anda mengarahkan pada kesimpulan ― karena waktu terbatas. Namun sebelum itu, coba untuk menanyakan lagi apakah masih ada tanggapan ataupun koreksi yang ingin disampaikan. Beberapa orang biasanya akan memberikan opini tambahan, namun jangan biarkan terlalu lama, sebab 5 menit menjelang akhir salah seorang pengawas akan memberikan kode bahwa waktu diskusi sudah hampir habis. Disinilah Anda harus mengarahkan forum agar mampu menarik kesimpulan.
  5. Notulen ― jika tidak boleh dikatakan demikian ― saatnya berperan. Tidak usah ditunjuk langsung di forum bahwa dia yang menyampaikan kesimpulan, buatlah dinamika seolah masing-masing peserta mencoba menyimpulkan dan memancing siapa yang berinisiatif untuk menyampaikan.

Jika sudah sampai disini, maka LGD berarti selesai. Pengawas akan mempersilahkan Anda untuk meninggalkan ruangan dan membiarkan artikel dan catatan tetap di meja Anda. Jika Anda sudah menyelesaikan wawancara dan LGD, maka dengan demikian tahapan seleksi Anda pun sudah selesai. Anda boleh pulang dan tinggal menunggu pengumuman kelulusan ― yang biasanya diterbitkan dalam satu atau dua minggu ke depan.[/spoiler]

[/accordion]

Anda sudah menjalani tahap ini dengan baik. Percayalah, hasil tidak akan mengingkari usaha. Ia akan berbading lurus. Perjuangan sudah Anda lalui dengan penuh percaya diri, meminjam ucapan Sutan Sjahrir, hidup yang tidak diperjuangkan, tidak dapat dimenangkan.

Catatan (+) wawancara: Jika sebelumnya Anda adalah aktivis, atau memiliki pengalaman organisasi, sering melakukan presentasi, barangkali Anda juga pernah memiliki pengalaman wawancara kerja atau wawancara program non-degree seperti pertukaran pelajar dsb. Makah al tersebut akan memudahkan Anda, Anda akan terbantu untuk sesi wawancara dan LGD berkat pengalaman yang Anda punya. Saya mencontohkan, selama di HMI dan beberapa organisasi lainnya, saya cukup sering melakukan wawancara untuk recruitment (screening test istilah HMI) kepada calon pengurus ataupun calon kader, di jenjang perkaderan HMI juga saya diharuskan menjalani screening-test misalnya untuk mengikuti Latihan Kader II. Saya juga beberapa kali mengikuti pertukaran pelajar dan merasakan wawancaranya.

Catatan (+) LDG: Sama dengan wawancara, jika Anda punya pengalaman yang saya sebutkan di atas maka beruntunglah Anda cukup memahami dinamika forum diskusi, terbiasa menyampaikan opini bahkan berdebat, Anda cukup paham membaca karakter peserta diskusi, bagaimana menangkal opini dan mengarahkan pada tujuan dsb. Khusus kader HMI biasanya memiliki kelebihan dalam hal ini. Bagi yang aktif di ruang-ruang kuliah juga biasanya cukup terbantu. Di dalam proses seleksi apapun, Anda mesti ingat bahwa Anda berhadapan dengan manusia, kemampuan berkomunikasi adalah syarat yang utama, berapapun jeniusnya Anda.

Demikian apa yang dapat saya bagikan kepada Anda semua. Mudah-mudahan dapat bermanfaat. Mohon maaf jika terdapat kekurangan di dalamnya. Jika boleh, selipkanlah do’a untuk kelulusan saya pada seleksi LPDP ini. Pengumuman kelulusan akan keluar pada tanggal 10 Maret 2015 nanti. Semoga sukses untuk kita semua.

Jakarta, 02 Februari 2015.

Salam, sahabatmu.

Adhitya Fernando

 

Article

Aktivis energi matahari

Matahari adalah sumber energi terbesar di alam semesta ini. Bola gas yang berukuran lebih dari 100 kali diameter bumi ini memiliki peran penting terhadap kehidupan di bumi, energi yang dihasilkan matahari adalah sumber energi utama bagi makhluk hidup. Energi matahari dihasilkan dari reaksi inti, yaitu proses bergabungnya atom-atom hidrogen membentuk atom-atom helium. Reaksi inti ini disebut juga reaksi fusi. Energi yang dihasilkan oleh reaksi ini sangat besar, dan ternyata energi ini dimiliki oleh para aktivis? Fakta ini dekemukakan Prof. Laode Kamaluddin, seorang professor Indonesia lulusan Amerika.

Energi yang diperoleh dari reaksi fusi sangat besar dibandingkan yang dibebaskan dari reaksi kimia biasa seperti yang terjadi dalam ledakan TNT atau bom lainnya. Sebagai perbandingan setiap detiknya matahari menggunakan 4000 – 5000 juta ton hidrogen untuk menghasilkan energi sebanyak 100.000 megaton TNT (1 megaton = 1 juta ton). Energi matahari dipancarkan dalam bentuk gelombang elektromagnetik.

“Aktivis itu energinya matahari, besar tapi sayang kekuatannya menyebar, tidak seperti energi laser yang kuat dan fokus.”, ucap Prof Laode dalam sambutannya di acara penutupan Pelatihan TOEFL bagi calon penerima beasiswa yang diselenggarakan oleh Yayasan Insancita Bangsa (YIB). Latihan yang berat itu adalah memfokuskan diri, sambung Prof. Laode.

Ritme kegiatan aktivis memang syarat akan berbagai aktivitas, namun menurut beliau meskipun demikian jangan sampai kita tidak memliki skala prioritas. Kita harus mampu menentukan prioritas untuk satu waktu tertentu. Setiap perjuangan dan impian besar harus dikerjakan dengan fokus, antara fikiran dan usaha harus klop. Kesempatan itu tidak datang untuk orang yang mampu melihatnya, tetapi kepada orang yang mampu menangkapnya. Salah satu faktor yang membuat gagal biasanya adalah kegagalan kita untuk bersungguh-sungguh, untuk fokus. Menyalahkan lingkungan dan faktor eksternal lainnya adalah sikap yang tidak bijaksana. Perjuangan yang dilalui saat ini harus diyakini memberikan manfaat besar di masa yang akan datang, “Perjuangan satu buan bisa jadi nikmat untuk 40 tahun mendatang”. Itu yang kadang tak klop dalam diri kita. “Kita semua mempunyai kemauan dan segala persyaratan untuk menjadi orang besar”, sanjung beliau kepada hadirin.

YIB adalah yayasan yang didirikan oleh Jusuf Kalla, alumni HMI yang saat ini menjadi wakil presiden RI terpilih. “Pak Jusuf Kalla memiliki impian besar melihat adik-adiknya mampu menggantikan beliau, mampu berhasil lebih tinggi lagi”, ujar Prof Laode. Dalam suatu kesempatan berbincang dengan alumni HMI lainnya, yaitu kakanda Andi Hakim, mengatakan bahwa dalam banyak kesempatan kunjungan Jusuf Kalla ke luar negeri beliau selalu heran mengapa yang menyambutnya bukan kader-kader HMI. Oleh karena itu, ujar kanda Andi, program pengiriman kader-kader HMI ke luar negeri adalah upaya Jusuf Kalla untuk semakin meningkatkan eksistensi alumni HMI di kancah internasional.

Selain fokus, perhatian terhadap hal-hal detail juga merupakan faktor utama yang membantu kesuksesan. Berikutnya adalah cinta, jika kita mencintai apa yang kita lakukan maka bukan mustahil kita akan mendapatkan yang diinginkan. Segala tantangan jangan dianggap sebagai beban, tugas kita adalah kembali rekonsiliasi dengan jiwa.

Dalam sambutannya, Prof. Laode juga berbagi pengalamannya berjuang mendapatkan kesempatan studi ke Amerika. “Saya belajar bahasa dengan keras waktu itu, juga belajar GRE dan GMAT karena Amerika mensyaratkan itu. Dulu bahan belajar tidak sebanyak sekarang. Dulu itu saya belajar tanpa ada yang mengajari seperti kalian saat ini, tetapi saya berusaha sendiri untuk mencari bacaan-bacaan bahasa inggris dan radio berbahasa inggris. Tapi saya tidak pernah menyerah karena saya berkeyakinan bahwa kalau saya tidak lolos kesempatan ini maka masa depan saya selesai”, ungkap Prof. Laode menguatkan peserta. Saat ini kita bisa dengan mudah mendapatkan sumber bacaan bahasa Inggris, seperti dari koran dan media online. “Kalian sudah harus berlangganan koran berbahasa Inggris untuk belajar”, tambah beliau. Beberapa peserta mengeluhkan biaya berlangganan, namun segera ditampik Prof. Laode, “Habiskan baca satu sampai selesai baru beli baru”. Seketika peserta pun tertawa.

Tantangan untuk kalian saat ini adalah switch mental dari aktivis ke scientist. Untuk menjadi ahli harus mempu menguasai ilmu fokus, termasuk menghilangkan sikap selalu berargumentasi dan menyalahkan lingkungan. Peluang masih terbuka, tinggal dibutuhkan special effort. “Untuk membuat garis, dibutuhkan dua titik atau lebih agar bisa disambung”, ujar Prof. Laode, menekankan agar terus berusaha membuat titik-titik keberhasilan. Aktivis itu sudah punya mental petarung, saat di switch sudah mudah saja, tambah beliau.

Dalam akhir sambutannya, Prof. Laode menyimpulkan beberapa hal yang harus diperbaiki aktivis untuk menghadapi masa depan, yaitu memperbaiki mentalitas, tingkat konsentrasi dan lupakan sejenak dreaming politik sampai Anda punya pendidikan yang tinggi. “Semua ada fasenya, kalian ini masih fase Makkiyah, fase perjuangan dan bekerja keras menumpas kejahiliyahan. Jangan langsung ingin masuk fase Madaniyah”, kias Prof. Laode.

Prof. Laode lalu menyampaikan perkataan Jusuf Kalla bahwa pertarungan masa depan adalah Knowledege Based Competition. Ilmu pengetahuan harus menjadi investasi untuk masa depan. Sekali layar terkembang, pantang surut kebelakang. Once you make decission, you just go!

Prof. Laode Kamaluddin
Ketua Yayasan Insancita Bangsa dan Ketua Dewan Pakar KAHMI
HMI and my way abroad
Article

HMI and my way abroad: A story of Yayasan Insancita Bangsa scholarship training

Around twenty five meters from the ground, coated by the wind of summer and the warm shine of the sun in the Weiden’s tower of St. Michael, I stood up, unfurled the flag. It was like a heroic moment, won the great battle. No, I’m not a knight warrior, nor the rebel who occupies a land. Or you might think I am the Kaisar Wilhelm who fight in the Battle of Weiden with French Imperial Guide, Soviet Army and Bulagiran Army in 1921. The epic sense of that story was what fill my heart. Frankly, I am just a cadre of HMI with the black-green flag strecthed along my arm. That was in September 2013, I joined Summer School in Ostbayerische Technische Hoschschule Amberg-Weiden. Germany has been being my dream since couple years ago. Getting this chance is really a blessing. This country is also the place for me to pursue master’s degree, and this is a must for me. My efforts to achieve it has brought me here. The long road will starts from now.

Wednesday afternoon, my phone was ringing, apparently it was a call from a staff of PKMN KAHMI. Few days ago I met a staff who served as general secretary in KAHMI Riau Area. He told me that Yayasan Insancita Bangsa in cooperation with PKMN KAHMI is currently conducting a selection process to hold a scholarship training in Jakarta. No doubt, I accept his offer and prepare all requirements soon after that. Once I sent all the required documents via email, few hours later I got a response  that my application has just been received and will be proceed immediately. What a luck, two days later the staff of PKMN KAHMI informed me that I passed the selection process and I was invited to get in Jakarta soon. Actually I applied for the second round starting from September. The staff told me that a successful participant is unable to continue to join the undergoing training due to a case. In order to fulfil the quota, she found another participant to replace her. By chance, I was the first person who sent application for the second round selection. That’s why I got the offer. Although the training has been running about one week, I don’t see it as a problem. I believe that I can catch-up the lesson.

My heart skipped a beat, as tight as speed of Citilink Aircraft at the airport runway path Sultan Syarif Kasim to fly to Jakarta. While my lips are whispering something, “Bismillahirrahmanirrahim (in the name of God), Europe 2015..Europe 2015..Europe 2015”, my brain comes to it’s imagination as if this flight is my departure to study in Germany.

I joined the class in Friday morning. I got my first impression, how grateful I am I could get together with all twenty like-minded persons who all are cadres of HMI willing to go abroad. Obviously this chance has re-burn my spirit and nurture my ambition of studying abroad.

Guided by all highly professional lecturers have made me sure that this is the way. Besides teaching, they share their experience with us about studying abroad. Another good thing, this forum is something I never found during 4 years I joined HMI. I smiled, this is the new image of HMI where the cadres looks very competent, professional, visionary, critical and very fluent spaking English.

The knowledge I got here is very useful. I do not want to trifle this opprtunity. This intensive training has facilitated me to get closer to my dream, and so do I should facilitate my self with spirit to learn. My goal for this training is absolutely to sharpen my English ability. University abroad assign very high standard for English competency of their potential student. I has no choice but have to study hard to pass it. Having a dream to Europe, always makes me awake.

Each of us here already has target-country and the university. Some of us want to go to UK and US, others  wants to Europe, but interesting one that there is a friend that choose Mumbai University in India. The reason beyond decision for the country and the university is different, some because of their interest to the country, and the rest is because of the university. For Europe, among all of us, I am the only person to choose Germany. In addition to the participants, there are also two of them that choose Netherlands, exactly the University of Leiden. I my self choose Techniche Universitas Muchen (TUM) School of Education.

Graduated from the faculty of education and teacher training, I assign to continue my Master in the same field. My major for bachelor is chemical education, but for master I will choose education in general. I have already visited to the website of TUM School of Education. From the information they provide, the enrollment period is during September until March every year for Winter Course. And now is August, only few months left to get the maximum preparation.

A dream is only a dream without action. It is a very simple rule for every dreamer. There is no dream that is too high except the low optimism and effort. Dream will not wait, we chase for them and if we get it, ready or not, we must be ready. Having said like that, I bear in mind that I should keep on focus. I will make it. Germany, I’m coming!

Jakarta, August 24th 2014.


*Has been corrected by Mr. Gunawan Widiyanto

Article, Re-blogged

Lupakan soal beasiswa luar negeri, kamu pejuang malas!

[dropcap style=”flat”]T[/dropcap]entu saja tulisan ini bukan untuk Anda, pembaca yang budiman. Tulisan ini adalah untuk orang yang tidak Anda kenal. Orang yang memiliki keinginan untuk mendapatkan beasiswa luar negeri tetapi tidak sadar kalau dirinya menderita kemalasan stadium tinggi. Saya menyebutnya pejuang malas dengan ciri-ciri seperti ini:

Anak dusun keliling dunia

  1. Menanyakan hal-hal yang sebenarnya ada di website atau buku panduan beasiswa. Mereka malas membaca.
  2. Selalu mengatakan ‘tes TOEFL/IELTS mahal banget’ tapi malas menabung dan tetap rajin nongkrong di cafe.
  3. Sibuk berpikir caranya lolos beasiswa meskipun tidak memenuhi syarat. Mereka tidak fokus berusaha agar bisa memenuhi syarat. Anehnya, dengan begitu mereka merasa kreatif.
  4. Mudah bertanya “syarat beasiswanya apa saja?” Seakan itu satu rahasia yang tidak ada di website atau buku panduan (terutama jika ditanyakan lewat email ketika penanya memiliki akses internet yang memadai).
  5. Bertanya “jurusan yg cocok buat saya apa ya?” seakan orang lain lebih paham tentang dirinya. Untuk menggali bakat dan minat sendiri saja mereka malas.
  6. Bahkan bertanya “berkas lamaran dikirim ke mana ya?” Seakan itu sandi rahasia yg tabu ditulis di buku panduan.
  7. Menyangka topik penelitian didapat dengan bertanya “tema tesis yg bagus apa ya?” bukan dari membaca penelitian yang sudah ada.
  8. Latihan essay IELTS 250 kata malas sekali tetapi ngetwit nyinyir pada orang bisa dari sore sampe subuh @dipataruno.
  9. Lupa satu hal penting: jika beasiswa bisa didapat dengan cara yang dipakai mereka, berarti semua orang bisa dapat beasiswa.
  10. Lupa pertanyaan renungan pejuang beasiswa: “Apa bedanya perjuangan saya dengan pejuang lain dan mengapa saya yang harus terpilih?”
  11. Merasa kursus TOEFL dua juta mahal banget tapi selalu semangat ganti HP baru.
  12. Merasa buku IELTS/TOEFL mahal dan lebih baik pinjem sementara tetap kenceng merokok atau rajin ke salon.
  13. Semangat gonta ganti lensa kamera tapi selalu berharap dapat buku petunjuk beasiswa tanpa membeli.
  14. Bangga membeli tas baru bermerek tapi tidak merasa bersalah membaca buku TOEFL hasil fotokopian.
  15. Malu pakai jam tangan imitasi tapi merasa keren bisa download buku TOEFL/IELTS secara ilegal.

Anda tentu tidak memenuhi kriteria di atas karena Anda adalah pejuang hebat. Jika ada orang yang seperti demikian, katakan pada mereka “lupakan soal beasiswa luar negeri karena kamu pejuang malas!”


Tulisan ini merupakan buah pikiran dari Made Andi.

Close