Kakak saya seorang penggila fotografi. Tadi sore dia, dan teman-temannya yang juga gemar fotografi, menelurkan banyak ide keren sebagai ekspresi dari dukungan mereka terhadap hobi Ibu. Mereka bangga punya Ibu Negara yang cinta fotografi. Izinkan saya untuk meneruskan ide mereka dalam bentuk tulisan, kayaknya dari mereka belum ada deh yang sampaikan hal ini ke Ibu. Mereka mungkin malas tulis surat ke Ibu karena mereka terbiasa bicara pakai gambar, bukan pakai tulisan, yahh….. Namanya juga fotografer, Ibu paham ? Ibu Ani Yudhoyono (Sumber gambar: www.tempo.co Saya paham bahwa fotografer biasanya punya interest yang spesifik. Fotografer yang satu mungkin penggemar berat human interest, sementara yang lainnya fokus ke pemotretan konser. Fotografer lain tergila-gila memotret bangunan sedangkan temannya amat menggemari foto bertema sport. Tapi ga papa ya Bu, saya tetap teruskan gagasan-gagasan kakak saya dan teman-temannya. Namanya juga ide atau saran, ngga perlu diterima walau banyak yang menarik. Idenya terbagi-bagi dalam beberapa kategori, saya ngga ngerti fotografi jadi kalau pemilahan kategorinya tumpang-tindih, maaf ya Bu.

1. Kategori Nature Cukup naik mobil, Ibu bisa memotret banjir di Kampung Melayu, Pluit, Grogol, Bekasi. Pastikan Ibu pakai celana panjang karena di banyak area Ibu harus manjat-manjat. Ada tempat yang tinggi airnya 2 meter, pasti itu sangat menarik untuk dijadikan obyek foto. Pastikan pakai slow speed ya Bu jadi banjirnya terlihat dramatis layaknya air terjun. Sub kategori berikut hanya bisa dicapai dengan pesawat. Daripada nanti ada yang nyindir,”Ibu memotret perginya pake duit negara atau duit pribadi ?”, lebih baik beli tiket promo aja Bu pakai uang sendiri. Ini masuk kategori nature juga, Ibu bisa memotret longsor dan tsunami kecil di Menado dan gempa di Sinabung.

2. Kategori Human Interest Ini murah Bu, tidak usah khawatir ditanya sinis,”Ibu memotret pake duit negara atau duit pribadi ?” Foto kategori ini bisa dilakukan di tempat yang sama dengan pemotretan kategori nature. Coba Ibu foto dari jarak dekat para kakek dan nenek yang rumahnya longsor. Keriput mereka pasti sangat menarik. Air mata para ibu yang anaknya meninggal di Sinabung juga indah. Ibu macroin aja. Air mata mungkin penampakannya akan seperti balon yang berayun dan keriput bisa jadi akan terlihat seperti akar tanaman.Oh ya, saya lupa, Ibu juga bisa memotret para tukang ojek yang penghasilan hariannya nyaris nol karena hujan terus dan tak bisa bawa penumpang. Tukang gorengan, tukang bakso keliling, yah…Pokoknya mereka yang “kerja hari itu untuk makan hari itu”, pasti bagus dijadikan obyek foto Ibu. Jangan lupa untuk memotret para seniman tua yang hidup dibelit utang rumah sakit namun mereka juga tak kunjung mati karena ketakutan saat memikirkan biaya pemakaman yang terus membukit. Muka mereka yang sedih…Kecewa…Marah karena terlupakan…Itu obyek foto yang bagus. Full karakter, Bu.

3. Kategori Sport/Action Di sini Ibu bisa santai karena waktunya panjang, nembakin tukang bunga aja bisa 19 jam jadi Ibu bisa ganti-ganti spot sekaligus ganti-ganti lensa. Ibu bisa pakai tele, wide lens, terserah. Peluru waktu keluar dari senjata juga bisa dimacroin ya, Bu. Selain itu Ibu juga bisa memotret para atlet yang kini sudah tua dan takut mati karena biaya pemakaman mahal sekali. Foto mereka saat berjaya pasti ada namun gambar terakhir mereka saat terbaring lemah mungkin belum ada, lho. Mungkin mereka anti difoto karena mereka sekarang demikian rapuh. Nah, kalau Ibu Negara yang mau memotret, mereka otomatis ngga bisa menolak. Ibu bisa memotret mantan atlet angkat berat sedang mengangkat barbel 0,5 kg, di dipannya yang sudah reyot, misalnya.

4. Kategori Portrait atau Modelling Ibu bisa ke KPK. Banyak loh muka muka ganteng dan cantik yang bisa Ibu jadikan model, apalagi pas mereka memakai baju tahanan, pasti keren soalnya kami-kami yang nyari duit halal nggak bisa pakai baju begitu. Oh ya Bu, saya bisa titip pesanan foto ya Bu ? Tolong fotoin tas dan bajunya Atut ya Bu. Saya penasaran, kata majalah Tempo, dia kerap kali pas keluar dandanannya minimal 1 milyar.

5. Kategori candid Ibu bisa foto candid orang tua yang sedang menangis karena anaknya terbawa banjir atau menteri yang lagi ngopi-ngopi sambil bersenda gurau dengan cucu seraya nonton banjir di TV. Pilihan lain adalah petugas bendungan Katulampa yang sudah belasan jam memantau ketinggian air, ninggalin anak dan istri di rumah yang mungkin sedang kebanjiran.

6. Kategori Landscape Ibu bisa foto sawah yang tersapu banjir atau rumah yang hancur kena longsor di kaki bukit. Pastikan Ibu bawa ajudan yang banyak untuk membantu menjadi mata Ibu. Kalau beruntung, Ibu atau ajudan Ibu mungkin akan melihat hewan langka terseret arus karena longsor yang disebabkan hutan dijadikan real estate. Nah, klik ! ibu langsung potret, deh. Pasti dihargai mahal oleh National Geographic.

7. Kategori Arsitektur Ibu bisa foto gedung-gedung atau rumah yang hancur karena longsor atau bencana lainnya. Gambar gedung sebelum musibah hampir pasti ‘kan ada,ya. Suatu saat bangunan itu akan diperbaiki,nah..Komplet ‘kan. Jadi ada foto “Sebelum Musibah”, “Selagi Musibah”, dan “Sesudah Musibah”. Pastikan Ibu masuk ke rumah-rumah para tukang becak, satpam ruko. Betapa efisiennya mereka menggunakan lahan:Satu rumah berukuran 6m x 6m bisa menampung 14-15 orang, di dalamnya ada ruang tamu merangkap ruang makan. Tempat tidur merangkap ruang tengah. Kamar mandi merangkap ruang cuci. Kelak, foto-foto ini bisa Ibu jadikan alat untuk mendukung proyek penghancuran taman untuk alih fungsi sebagai apartemen. Oh ya, itu di atas semuanya obyeknya orang lain ya ? Ibu sudah bekerja sangat keras, memberikan sumbangsih tak ternilai bagi dunia fotografi Indonesia. Jadi, ada bagusnya, atas nama hadiah bagi diri sendiri, Ibu juga mengambil foto berikut:

8.Kategori Selfie Ibu bisa memotret diri Ibu saat sedang di kamar hotel di Bali, ketika sedang makan bersama dengan para tamu negara, waktu bermain dengan cucu-cucu, lagi menghirup teh hangat di tengah dingin yang menusuk, atau pas lagi mengunyah pasta di tengah pesta. Ibu, saya rasa ide-ide kakak saya dan teman-temannnya patut diapresiasi. Saya bangga mengenal mereka. Saya bangga mereka punya kreativitas dalam berkesenian yang demikian memukau. Sebagai ibu negara, karena mereka adalah rakyat Ibu, pastilah ibu lebih bangga lagi. Selamat, Bu!


Sumber tulisan: www.garudapenulis.com/pecinta fotografi