Profile

Dear valuable readers,

[spoiler title=”Versi terdahulu 28 April 2014″]

[dropcap style=”flat”]A[/dropcap]dhitya Fernando, pemuda 23 tahun ini adalah recent graduate dari UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Masa pendidikan sarjana ditempuhnya dalam rentang waktu yang cukup lama, genap sebelas semester. Bagi kebanyakan mahasiswa pada umumnya, memperpanjang masa studi bukanlah pilihan yang disenangi, apalagi jika didorong oleh alasan klasik seperti mengulang mata kuliah, dan alasan-alasan akademis wajib lainnya. Namun berbeda ceritanya dengan pilihannya ketika itu, memperpanjang masa kuliah ketika itu adalah tantangan yang harus diambil. Ia berhadapan dengan dua pilihan, bertaruh untuk memperjuangkan mimpinya atau terpaksa menguburnya dengan iringan penyesalan.

Menjalani kehidupan kemahasiswaan sebagai aktivis kampus, tak serta merta membuatnya melalaikan kewajiban akademis. Terbukti dengan capaian indeks prestasi yang selalu baik di setiap semesternya. Keterpanggilannya untuk aktif berkecimpung dalam kegiatan organisasi adalah panggilan moral sebagai bentuk aktualisasi diri dan semangat berkontribusi. Beragam organisasi kemahasiswaan, termasuk diantaranya organisasi internal dan organisasi eksternal kampus telah ia geluti. Namun ia memegang suatu prinsip, yang nilai-nilainya ia adopsi dari senior-seniornya di organisasi, bahwa aktivis itu harus sukses akademis, sukses prestasi dan sukses kontribusi. Hal inilah yang kemudian melambungkan namanya sebagai mahasiswa berprestasi, identitasnya semakin dikenal luas. Bahkan akhirnya di kalangan rekan-rekan aktivis, dirinya diberi julukan sebagai “aktivis internasional”.

Aktifitas-aktifitas organisasi, di satu sisi banyak memberikan manfaat bagi dirinya, namun di sisi lain juga menjadi beban tersendiri yang harus disikapi dengan cerdas. Sudah menjadi rahasia umum bahwa tugas akademis mahasiswa begitu banyak, satu orang dosen dapat memberikan beberapa macam tugas, itu baru tugas akademis, belum ditambah dengan tugas-tugas dan kewajiban di organisasi. Jika sudah demikian, berulah sebenarnya beban akan terasa, dan waktu semakin tersita. Namun, resiko tersebut, yang mana hal itu menjadi alasan kebanyakan mahasiswa untuk enggan berorganisasi malah disukai olehnya. Ia berfikir bahwa resiko itu bisa dijalani seefektif mungkin jika tahu caranya. Kuncinya adalah pandai membagi waktu, dan harus rela mengorbankan lebih banyak kesempatan istirahat serta harus membuang jauh kemalasan. Alhasil, ia dapat melaluinya dengan sangat baik.

Disibukkan dengan kegiatan organisasi dan akademis, tak membuatnya terlena. Ia mempunyai visi akan prestasi ekstra di luar kampus. Menjadi mahasiswa pertukaran pelajar ke luar negeri adalah impiannya, dalam catatannnya, mimpi ini adalah keharusan yang harus dicapai selama “berstatus” sebagai mahasiswa. Pilihannya untuk meraih mimpi inilah yang kemudian melahirkan konsekuensi perpanjangan masa studi. Namun segala pengorbanan dan perjuangannya terbayar dengan lunas. Mimpinya tersebut akhirnya tercoret (terwujud). Ia mendapatkan kesempatan menjadi peserta pertukaran pelajar ke luar negeri, diantaranya pada tahun 2012 sebagai delegasi Indonesia pada acara ASEANpreneurs Youth Leaders Exchange yang dilaksanakan di University of the Philippines, Filipina. Dan pada tahun 2013 sebagai delegasi universitas pada acara Summer University (Intercultural Summer School) yang dilaksanakan di HAW Amberg-Weiden Jerman.

Saat ini ia masih berdomisili di Pekanbaru, rantau tempatnya menuntut ilmu. Mengisi masa transisi pasca purna tugas sebagai mahasiswa sarjana, ia masih menyempatkan untuk berkecimpung dalam kegiatan kemahasiswaan, namun dalam kapasitas yang berbeda. Kehadirannya di ruang-ruang aktifitas mahasiswa kini didominasi sebagai pembicara, pemateri, atau sebutan lainnya. Selain itu, saat ini ia juga saat ini aktif di beberapa komunitas dan menjadi koordinator di salah satunya. Pengalaman sebagai aktivis mahasiswa telah membentuk karakternya sebagai pribadi yang tangguh dan terampil yang siap mengarungi samudera kehidupan.

Daftar impiannya masih sangat banyak, menanti untuk diwujudkan, namun jika dibagi menjadi beberapa kelompok, maka titik fokus capaiannya adalah pada beberapa hal berikut.

1. Melanjutkan studi ke luar negeri

Ia menyadari arti pentingnya pendidikan. Ilmu adalah bekal kehidupan yang sangat berharga. Namun, targetnya adalah menuju bulan. Jika gagal meraih bulan, pasti jatuhnya di antara bintang. Impian melanjutkan studi ditetapkannya ke luar negeri. Ia ingin dapat meraih gelar master di Jerman, negera yang pernah dikunjunginya setahun silam. Saat ini ia berjuang untuk mendapatkan beasiswa. Berbagai persiapan tengah ia jalani, diantaranya dengan kursus bahasa intensif dan mempelajari seluk-beluk kiat meraih beasiswa.

2.Berkarir

Hidup terus berjalan, kehidupan mandiri sebagai mahasiswa dengan topangan beasiswa dan bantuan pendidikan lainnya sudah tidak lagi didapatkan. Realitas kehidupan sudah berbeda, tuntutan untuk hidup mandiri secara sempurna dan lepas dari tanggungan orang tua adalah hal yang harus dimulai. Saat ini ia tengah berusaha mendapatkan kesempatan karir di beberapa perusahaan. Beberapa lamaran sudah dilayangkan dan menunggu jawaban. Tamat dengan menyandang gelar sarjana pendidikan yang notabenenya dilahirkan untuk berprofesi sebagai seorang pengajar sepertinya belum menjadi pilihan utama baginya. Jika harus menjadi pengajar, ia lebih memilih profesi sebagai dosen ketimbang guru di sekolah. Untuk itu, memiliki gelar master adalah impiannya. Jika sudah begitu, akan terbuka lagi pilihan yang lebih besar, menjadi dosen atau menjadi professional di bidang lain selain sebagai pengajar.

3. Berbisnis

Naluri bisnis sebenarnya sudah mulai ia asah semenjak aktif sebagai mahasiswa. Dalam beberapa kesempatan ia kerap bersama-sama temannya memproduksi barang-barang yang kemudian diperjual-belikan di acara-acara kampus. Salah satu diantaranya adalah bisnis boneka wisuda yang dibuatnya dari kain flannel. Ia memiliki passion yang besar untuk berkecimpung di dunia bisnis. Visinya salah satunya adalah menjadi pengusaha yang mampu membuka lapangan kerja dan menyejahterakan banyak orang. Ia ingin mempunyai perusahaan dan kelompok bisnis. Saat ini, ia tengah aktif di beberapa komunitas bisnis.

Ada satu hal lagi yang sebenarnya ingin dimasukkan ke dalam daftar, yakni “menikah”. Namun hal ini belumlah menjadi fokus utamanya, ia masih mengusahakan kehidupan yang lebih baik untuk masa depannya, sehingga tidak dimasukkan ke dalam daftar. Membina keluarga adalah keinginan setiap manusia, walau sebenarnya teman-teman seangkatannya sudah banyak yang menikah dan bahkan ada yang sudah mempunyai anak, tetapi tetap saja ia masih berfikir untuk menunda merajut cinta keluarga tersebut.

Urusan cinta saat ini, walau tidak masuk fokus utama, tidak berarti bahwa hal ini dikesampingkan. Ia masih membuka perhatian akan kemungkinan bertemu jodoh, seorang gadis yang kelak akan mendampinginya mengarungi bahtera kehidupan hingga akhir hayat.

Untuk urusah jodoh, ada beberapa kriteria yang menjadi persyaratan baginya. Selain bahwa agama juga sudah memberikan saran bagaimana memilih jodoh yang baik. Dalam AL-Qur’an, Allah Swt menjelaskan bahwa pilihlah perempuan berdasarkan hartanya, kecantikannya, keturunannya lalu kemudian agamanya. Dan yang paling baik adalah memilih berdasarkan agamanya. Hal itu diyakini dengan baik olehnya, namun ada satu hal lagi yang menjadi tambahan yakni kesesuaian visi dan misi kehidupan. Hal ini menjadi penting karena bagaimana visi kita memandang kehidupan dan misi kehidupan seperti apa yang ingin kita jalani akan sangat erat kaitannya dengan pendamping kelak. Pasangan yang sukses membangun kehidupan yang bahagia dan sejahtera syarat akan kesamaan visi misi kehidupan, karena dengannya mereka bisa saling menopang, saling mendukung dan mampu bekerja sama dengan baik.

Dengannya kita semakin sukses, dan dengan kita pula ia semakin sukses! 

I also attach my Curriculum Vitae, click the spoiler below to open the file. If you want to download it, find the download link under the image.

[accordion][spoiler title=”Curriculum Vitae”]Curriculum Vitae Adhitya Fernando

Recent CV of Adhitya Fernando: Download.

Pekanbaru, April 28th 2014

[/spoiler]

 

Adhitya Fernando
The success driven professional

What do you think? Leave your comment.

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

6 + fourteen =

Close