welcome-left-image

L&D topic

Learning becomes a crucial issue in the organization nowadays.
welcome-center-image
ABOUT ME

Hi to everyone. I'm Adhitya!
The author of this blog.

This is a dedicated blog for Human Resource Development and covers topics such as L&D, Knowledge Management, and Education. Yet, general topics such as inspiration and travel are also available here.

Read more
KNOWLEDGE MANAGEMENT

KM/KMS category

Managing organizational
knowledge has been
instrumental to realize
innovation and competitiveness
in today's economy.

Read more

Most popular posts

Top posts

Article, My Story

Kenal dari Facebook

[dropcap style=”flat”]B[/dropcap]elakangan ini seolah menjadi trend dalam aktifitas saya bertemu sahabat-sahabat baru yang ternyata mereka kenal saya “dari Facebook”. Saat di kampus, singgah di fotocopy, saat belanja di kedai atau supermarket ataupun di beberapa tempat lainnya sering kali ada satu atau dua orang yang lantas menyapa saya. Terakhir pagi ini saya disapa oleh seorang adik junior mahasiswa Fapertapet UIN Suska Riau ketika hendak masuk laboratorium

100 likes copy2

“Bang Adit kan?” Atau dengan ekspresi “Bang Adhitya..?” menyapa saya. Dengan segera saya hentikan sejenak aktfitas saat itu dan balik bertanya. Saya jawab “Iya, maaf abang lupa namanya”. Hehe sekedar alibi saja agar tidak terkesan melupakan, padahal saya benar-benar tidak kenal awalnya. Lalu mereka jawab, “Iya saya si anu..si anu”, saya potong dengan tanya lagi, “sebelumnya kita ketemu dimana ya..? abg lupa”. “Bukan bang, kita baru ketemu, saya kenalnya dari Facebook” jawab mereka. Haha

Saya melalui status ini menyampaikan terimakasih atas kebaikan mereka mau menyapa. Saya senang memiliki banyak sahabat seperti kalian. Saya tidak tahu kalian memandang saya seperti apa, tapi yang jelas saya anggap ini adalah apresiasi atas diri saya. Semoga bermanfaat berkenalan dengan saya.

Saya cukup aneh juga. Saya catat bahwa belakangan ini aktifitas komunikasi saya di telfon seluler lebih banyak (sekitar 50 %) diisi dengan nomor-nomor baru dari orang yang saya tidak kenal sebelumnya. Mereka perkenalkan diri dan menyampaikan maksudnya menghubungi saya. Bertanya ini dan itu, ketika saya tanya dapat nomor saya dari mana mereka pun menjawab. Ada yang dapat dan dikasih rekomendasi dari teman saya si anu dan si anu, ada yang bilang dapat dari facebook atau media sosial lainnya. Saya memang mem-publish nomor kontak di banyak sosial media. Di website pribadi, facebook dan lainnya.

Saya tidak pernah permasalahkan dan tidak sedikitpun keberatan dengan komunikasi yang dibangun. Saya senang membantu kalian semua. Kebanyakan mereka bertanya tentang program-progam yang saya ikuti, ada yang minta tips atau saran, ada yang minta rekomendasi, ada yang minta bantu arahan dsb.

Selama itu sopan, santun dan beretika saya akan tanggapi. Sejauh ini saya catat bahwa komunikasi yang dibangun sangat baik. Melalui ini saya juga sampaikan mohon maaf terkadang saya merasa tidak dapat membantu secara maksimal dikarenakan agenda, atau waktu yang juga terbatas. Tapi saya selalu berniat baik di dalam hati dapat membantu seutuhnya dan sepenuhnya.

Saya alhamdulillah juga sering mendapat bantuan dari banyak orang, mulai dari dukungan moril bahkan bantuan materil. Saya bersyukur atas itu dan sebagai balasnya, saya bersikap baik pula kepada setiap yang meminta bantuan yang secara langsung ataupun tidak. Saya pun ingin bisa membantu secara finansial, tapi itu belum mungkin saya lakukan secara intens. Tapi saya selalu coba dan lakukan sedikit demi sedikit, paling tidak jika memang ada selembar gambar pahlawan kertas biru akan saya kasih dengan senang hati. Semoga ini memupuk jiwa saya dan mengundang rezeki besar bagi saya, hinggapun saya dapat lebih membantu orang banyak. Do’akan saya punya rezeki banyak dan berdamai dengan dinansial, Insya Allah niat saya berbagi akan terus tumbuh.

Terakhir, saya juga sampaikan bahwa saya cukup anti dengan sikap ekslusif. Beberapa orang meng-ekslusifkan diri dalam pergaulan. Belum menjadi apa-apa sudah seperti pejabat kelas atas. Ahh saya tidak ingin begitu, saya ingin bersahabat dengan lebih banyak orang dan berbahagia ditengah mereka.

Salam dari saya,
Adhitya Fernando


Maksud foto:

Mari bergandengan tangan bersama membangun kehidupan yang lebih baik dan lebih sukses

Demo HMI di DRPD RIau
Article, My Story

Aktivis yang bertransformasi

[dropcap style=”flat”]K[/dropcap]akanda saya mantan pengurus HMI Cabang Pekanbaru memanggil-manggil saya ke Saudi Arabia. Beliau yang dulunya juga aktivis tulen telah berhasil melejitkan karir dan prestasinya, sekarang beliau menjabat sebagai Sekjen PPMI Pusat Saudi Arabia sembari menjalankan studi masternya di King Abdullah University. “Sebenarnya jabatan sebagai sekjen PPMI pusat ini berat, tapi kader HMI harus siap” – ujarnya dalam pesan Facebook beberapa saat lalu. Saya secara pribadi sudah mengamati pola-pola aktivis sukses sebagaimana salah satu contoh adalah kakanda tersebut, yang paling dekat saat ini.

Demo HMI di DRPD RIau

Saya berkenalan dengan tipikal aktivis-aktivis sukses sejak bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Adalah beberapa tokoh-tokoh nasional mantan kader HMI yang saat ini banyak menginspirasi saya, sebut saja seperti Anies Baswedan, Yusril Ihza Mahendra, Jusuf Kalla dan banyak lainnya. Mereka sukses mengembangkan diri melalui proses-proses keativisannya dan mampu melejitkannya dengan sangat hebat.Aktivis itu identik dengan kemampuan ultra-super dalam berbagai hal. Mereka paham betul delik proses mewujudkan program-program organisasi. Berbekal keberanian, koneksi, relasi, kepemimpian dan sudah kebal dengan riak-riak masalah bahkan konflik, itu yang membuat mereka menjadi pribadi-pribadi unggul. Mampu meredakan gejolak dan tidak gentar terhadap ancaman dan suka tantangan. Ditambah dengan personal competence yang tinggi dan dukungan serta networking dengan banyak pihak mulai dari elit level di pemerintahan hingga masyarakat di grass root.

Kualitas seperti itu tentu tidak dimiliki semua aktivis. Mereka yang mempunyai visi besar dan mampu bertransformasilah yang akhirnya dapat melesat sukses dan membesar. Andil organisasi juga banyak berperan mulai dari grand design untuk mengangkat kader-kader terbaiknya hingga memfasilitasi segala hal untuk dukungan.

Maka dari itu, teruslah berproses sebagai aktivis. Jadikan itu ranah pembelajaran dan pembentukan karakter yang unggul. Sembari itu matangkan visi dan gali sebanyak mungkin pengalaman, padukan itu semua hingga aksi-aksi nyata akan mengantar anda kesuksesan luar biasa. Karena anda aktivis!

Article, My Story

China dan India: 2,4 Miliar penduduk bumi yang tidak dipandang Barat

Walikota Shanghai bertanya kepada saya mengapa.. setiap anak di sekolah China dapat menyebutkan pengarang dan tanggal Deklarasi Kemerdekaan kita (baca: Amerika) sementara seikit sekali dari kita yang dapat menyebutkan Dinasti Qing runtuh, dan kapan Komunis mengambil alih kekuasaan. – Sambutan Presiden Yale University , Richard C. Levin dalam pidato wisuda tahun 2001.

ASEAN delegation

Proyeksi Ekonomi beberapa tahun lalu sudah meramalkan bahwa China dan India akan menjadi negara dengan perekonomian terbesar dan ketiga terbesar di dunia. Namun, dalam realitas global dahulunya Amerika secara kuat mendominasi pandangan dunia dengan meniadakan porsi besar dari populasi Bumi di dua negara timur ini. Pandangan dan pemahaman Barat terhadap Timur masih sangat menyedihkan. Namun beberapa tahun belakangan ini, Amerika menunjukkan isyarat yang berbeda. Porsi berita tentang China dan India yang selama 150 tahun belakangan hanya 2 persen di media-media Amerika kini secara drastis telah naik menjadi 4 persen hanya dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan.

Dilihat dari sejarahnya, China dan India sama-sama pernah mengalami masa kelam. Inggris menindas India selama dua abad, sementara China mengalami penindasan “sendiri” oleh penguasanya ketika Dinasti Han dan kekuasaan Mauryas bergabung. Kedua negara ini juga mengalami pergantian politik yang radikal pada waktu yang hampir bersamaan. China mulai menjadi negara modern pada tahun 1949 ketika Mao Zedong berkuasa. Sementara India berhasil merebut kemerdekaan tepat dua tahun setelah Jawaharlal Nehru berhasil merebut kemerdekaan India pada tahun 1947. Mao dan Jawaharlal adalah adalah arsitek yang memiliki visi besar terhadap negara tercinta mereka, layaknya Seokarno yang menjadi proklamator kemerdekaan dan Presiden pertama Indonesia. Meskipun memiliki persamaan yang cukup banyak, namun sesunggunnya dua Negara ini sangatlah berbeda jauh.

Pernah pada tahun 1982 seorang cendekiawan terkemuka Amerika, John King Fairbank, menjuluki orang India sebagai “manusia pengecut, yang terlalu lemah untuk bertarung seperti orang China..dan mereka tidak pernah tersenyum, berbanding terbalik dengan orang China yang penuh semangat dan suka tersenyum. Menunjukkan kelemahan dan penderitaan orang India”. Selain sisi psikologis di atas, banyak pula terdapat perbedaan fundamental lainnya diantara kedua negara ini. China bercirikan model pembangunan Top to Bottom dengan kekuasaan penuh partai komunis yang menjalankan sentralisasi kekuasaan dan membungkam hampir semua bentuk perlawanan. Namun sentralisasi otonomi ini berefek mengagumkan sekaligus mengekang.

Berbeda dengan India yang menunjukkan heterogenitas dan pluralitas yang lebih besar, sentralisasi politik dan otonomi tidak berlaku di India, namun dunia luar menangkap makna yang berbeda. Seolah terjadi kekacauan, tetapi sebenarnya juga memungkinkan tumbuhnya benih-benih yang produktif. Dalam hal ekonomi, China seolah menyingkirkan peran swasta dalam pembangunan negara terlihat dari upaya China mencari modal asing dan keengganannya mengakui pentingnya sektor swasta. Berbeda dengan India yang membiarkan persaingan tumbuh pesat. China meminimalisir koalisi yang menghambat kemajuan, namun tidak demikian dengan India.

Kedua negara memiliki keunggulan berbeda dalam pendekatan pembangunan. China dan India juga banyak dibandingkan dalam konteks yang lebih luar dan dalam. Contohnya:

1. Mengapa China mampu membangun kota dalam waktu satu malam sedangkan India kesulitan membangun jalan!
2. Mengapa China melarang pemilihan umum sedangkan India menjalankan pemilu tetapi memilih pemimpin yang memiliki catatan kriminal?
3. Mengapa China menyukai warga Negaranya yang menetap di luar negeri sedangkan India tidak?
4. Mengapa kebanyakan orang China tidak sehat, tetapi masih lebih sehat daripada orang India?
5. Mengapa perusahaan swasta kelas dunia sangat sedikit dimiliki orang China meskipun tercipta laju perekonomian yang berkembang pesat?
6. Mengapa China mampu mengalahkan India?
7. Mengapa orang China menyambut hangat orang India di China sementara orang India tidak melakukan hal sebaliknya?

Perbedaan langkah kedua negara telah memiliki implikasi yang besar, hanya saja sekarang sudah mulai terlihat. China dan India sama-sama dapat berpengaruh kuat terhadap satu sama lain dan dunia daripada bila dilakukan secara terpisah. Hal yang baik di China tidak baik di India, dan sebaliknya. Kedua negara saling memantulkan cerminan diri yang terbalik. Dunia memiliki penafsiran berbeda terhadap kedua negara ini. Gerak-gerik kedua negara dianggap sebagai persaingan dan diartikan bahwa China lebih superior daripada India. Sebenarnya itu salah karena perbedaan kedua negara itu telah menciptakan penggabungan kekayaan baru yang dinikmati kedua negara tersebut dan negara manapun yang ingin mencicip keuntungan darinya. Belakangan ini kegelisahan Amerika semakin merebak, rekayasa Amerika yang meniadakan 24 miliyar penduduk bumi ini sudah berbalik menjadi serangan baginya.

Dua superior Asia ini membangun kekuatan mutual yang perlahan menggerayangi Amerika tanpa disadari dan menolak untuk sadar pada awalnya karena memandang negera tersebut tidak ada apa-apanya, hanyalah dua negara dengan perselisihan dan perbedaan mendasar yang tidak masuk daftar negara yang perlu untuk diperhitungkan. Amerika salah besar! Kini Amerika menjadi risih dan tanpa persiapan berarti untuk menghadap laju kekuatan besar 24 miliyar penduduk bumi tersebut

*Tulisan di atas adalah kesimpulan saya dari hasil bacaan Buku: Billion Entrepreneurs; How China and India Reshaping Their Future-and Yours. Saya membayangkan Indonesia dan Malaysia, dua negara besar rumpun melayu yang “boneka”. China dan India berselisih dan juga bermusuhan namun mereka berlaku demikian untuk menunjukkan keunggulan masing-masing negara atas keinginan untuk maju yang didasari pada kehendak rakyat (negera). Berbeda dengan Indonesia dan Malaysia, boneka yang diadu oleh Amerika dan Inggris, kedua negara ini berlaga dalam keunggulan dengan dasar sekutu Inggris dan Amerika tanpa sadar bahwa keunggulan sejati adalah membangun negara sendiri.

Dengan seketika pandangan saya berubah tentang perselisihan Indonesia dan Malaysia yang selalu dibesar-besarkan. Jika kita terus mengikuti arus tersebut, maka kita termasuk kedalam generasi yang akan mengubur kedua negara ini beberapa generasi ke depan. Saya melihat Indonesia dan Malaysia adalah contoh kebangkitan superior berikutnya dari Asia setelah China dan India. Kita harus menghilangkan egosentrisme kedua negara, sebagaimana China dan India telah berhasil melakukan itu. Saya ingin dengan segera ini bisa terwujud, Indonesia dan Malaysia adalah potensial untuk menjadi macan Asia berikutnya yang akan menguasai dunia jika kita bersatu. Dan kita harus bersatu.

Keterangan foto: Delegasi dari negara ASEAN saling bergandengan tangan, menjadi simbolisasi kerjsama dan kebangkitan ASEAN. (ASEANpreneurs Youth Leaders Exchange, University of the Philippines – 2013)

Article, My Story, Travelling

Perjalanan impian

[quote cite=”Adhitya Fernando”]Saya belum puas, impian saya sebenarnya itu menjejakkan kaki di negara Eropa, Jerman. Dan lagi itu adalah keharusan. Sepulang dari Filipina saya langsung bergerak cepat mengolah segala kemungkinan untuk dapat ke Jerman. Saya manfaatkan sebaik-baiknya semangat dan kondisi prima saya mumpung impian baru terwujud. Alhamdulillah akhirnya pun pasport saya dapat stempel imigrasi dari Jerman. Saya sudah sampai di Jerman. Dan singgah ke beberapa negara Eropa lainnya seperti Belanda dan Belgia. Alangkah indahnya hidup ini. [/quote] Adhitya dan Emil

[dropcap size=”4″]S[/dropcap]Senang sekali sepertinya sahabatku Emil Fuadi (Uda Fuad Adja). Beliau malam ini sedang dalam perjalanan menuju daerah di ujung utara pulau Sumatera, Aceh, mengikuti kegiatan PMI (Palang Merah Indonesia). Tadi saya antar beliau ke terminal AKAP untuk selanjutnya berangkat menggunakan bus. Akhirnya keinginannya untuk mengembara kesampaian juga. Betapa riangnya dia saya saksikan berlari menuju bus. Ini adalah kisah yang cukup panjang untuk diurai.

Sahabat saya ini sebenarnya walau bangga dengan saya, tetapi juga ada rasa iri dan keinginan yang sama untuk dapat seperti saya berkelana ke berbegai tempat dan daerah di Indonesia bahkan dunia. Sudah tak terhitung lagi ia ungkapkan keinginannya tersebut dengan cara-cara bermacam ragam, mulai dari terus terang sampai bercanda merendah diri. Itu semangat positif. Sebut saja, sebelumnya saya sudah beberapa kali berhasil menginjakkan kaki di beberapa daerah di Indonesia. Sebelum berangkat malam ini, sahabat saya itu sempat berujar lagi bahwa perjalanannya tidak seperti saya yang sudah merambah manca negara. Saya tegaskan pada dia bahwa saya pun tidak langsung “jreeeng” terbang ke luar.

Saya mulai dari nol juga sahabat. Sebenarnya beliau juga tahu itu. Saya mulai dari mencoba merambah jalan ke event-event lokal di kawasan kampus pada masa-masa awal kuliah. Setelah itu merangsek naik ke arena lokal kota Pekanbaru. Saya giatkan lagi selanjutnya dapat kesempatan ke luar Pekanbaru, bahkan ke luar Riau tetapi masih di Sumatera. Saya tidak berhenti sampai disitu, saya niatkan lagi untuk keluar Sumatera. Akhirnya saya sampai di tanah Jawa. Adalah Himpunan Mahasiswa Islam yang pertama berhasil membawa saya berjalan-jalan di daerah Ibu Kota. Sampai sejauh itu, akses ke luar semakin banyak. Saya mulai semakin sering dapat kesempatan ke luar. Menjelajah ibu kota pun sudah hampir menjadi biasa.

Saya tidak berpuas diri, saya masih menyandang impian untuk ke luar negeri, itu adalah keharusan bagi saya. saya berusaha belajar banyak hal dan mencari tahu berbagai hal berkaitan kesempatan ke luar negeri, persiapan dan berbagai kelengkapan lainnya. Saya investasikan waktu khusus untuk ini. Saya mulai membuat pasport. Cari tahu info pengurusannya, harga dsb. Padalah belum tahu akan digunakan untuk kemana pasport tersebut. Tetapi saya percaya bahwa tugas kita adalah mempersiapkan segala sesuatunya, agar kelak saat kesempatan datang kita akan dengan segera dapat menangkapnya.

Alhasil gayung bersambut. Saya dapat kesempatan untuk menjelajah negara Asia yang sekarang sedang terkena musibah badai. Adalah Filipina negara yang pertama menjadi saksi terwujudnya impian saya. Saat ke Filipina saya dapat bonus mengunjungi Singapura dan berjalan-jalan disana untuk beberapa waktu. Sebuah negara kecil yang menjadi penguasa ekonomi Asia, “..red small dot“, Habibie memberi julukan pada negara yang cuma sebesar Jakarta tersebut. Singapura sepertinya agak kurang senang dengan kepemimpinan Habibie, banyak kepentingan negaranya yang terhambat oleh Habibie.

Saya belum puas, impian saya sebenarnya itu menjejakkan kaki di negara Eropa, Jerman. Dan lagi itu adalah keharusan. Sepulang dari Filipina saya langsung bergerak cepat mengolah segala kemungkinan untuk dapat ke Jerman. Saya manfaatkan sebaik-baiknya semangat dan kondisi prima saya mumpung impian baru terwujud. Alhamdulillah akhirnya pun pasport saya dapat stempel imigrasi dari Jerman. Saya sudah sampai di Jerman. Dan singgah ke beberapa negara Eropa lainnya seperti Belanda dan Belgia. Alangkah indahnya hidup ini. Saya makin bersemangat untuk mewujudkan impian-impian besar lainnya.

Saya ingin hidup dalam dunia impian yang menjadi nyata. Insya Allah saya akan terus bercerita tentang usaha-usaha saya dalam mewujudkan impian. Semoga menjadi hikmah dan pelajaran bagi generasi berikutnya untuk juga dapat semangat berusaha. Saya hampir lupa menceritakan tentang sahabat saya di atas.

Foto di atas adalah foto ketika saya dan sahabat saya berada di Telaga Dewi di puncak Gunung Singgalang. Saya seorang penjelajah dan petualang. Saya senang mencoba hal baru dan selalu bersemangat untuk itu. Teman-teman punya cerita dan keinginan apa? Boleh berbagi di komentar.

Sukses selalu untuk sahabat semuanya..aminn.

Adhitya & Yuspa
Article, My Story

Dua sahabat, dua cita rasa – Jerman dan Amerika

[quote cite=”Adhitya Fernando”]Adalah bukan sebuah rekayasa, semua adalah kebetulan yang ‘terencana’ oleh sang Maha Kuasa. Tribun Tribunners Pekanbaru (Tribun Pekanbaru) memberikan redaksi yang sama. Yuspa Yuspa Rizal ingin ke Amerika dan Adhitya Fernando ingin ke Jerman. Semoga ini akan menjadi nyata. #kuliah[/quote]

Adhitya & Yuspa

[dropcap style=”flat”]Y[/dropcap]adalah sahabat saya. Pertama berkenalan seingat saya diawali ketika saya dapat berita bahwa beliau terpilih menjadi peserta pada Indonesia English Language Program (IELSP) ke Amerika tahun 2011 lalu. Sebelumnya saya juga sudah akrab mendengar namanya saat masih aktif berorganisasi di kampus. Yuspa Rizal saat itu menjabat sebagai wakil ketua di Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Bahasa Inggris di Fakultas Tarbiyah & Keguruan UIN Suska Riau di mana beliau sukses meraih gelar sarjana disana. Sementara saya saat itu aktif di BEM Fakultas Tarbiyah & Keguruan.

Selain itu, saya juga mendengar nama Yuspa Rizal ketika beliau mengikuti seleksi Program Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) yang diselenggarakan oleh PCMI dan Dispora Provinsi Riau. Sayang, saat itu beliau tidak berhasil lolos menjadi peserta pada program tersebut. Sama halnya dengan saya, tahun 2011 saya mencoba program yang sama dan mengalami nasib yang serupa. Mungkin kegagalan ini menjadi latar belakang yang mendorong kami untuk giat berusaha mengejar asa mencari kesempatan belajar dan mengunjungi dunia di luar sana.

Yuspa ke Amerika
Saya tertarik dengan program IELSP, usut diusut ternyata sudah ada beberapa mahasiswa UIN Suska yang sukses menjadi peserta dan berangkat ke Amerika. Saya kaget bukan kepalang ketika mendengar kabar beliau lolos seleks IELSP dan berangkat ke Amerika pada tahun 2011. Saya fikir kegegalan di PPAN membuatnya jera. Ternyata diam-diam dia gigih berusaha untuk mencoba peruntungan terbaiknya. Saya yang ketika itu mengingkan kesempatan yang sama, menjadi termotivasi jua untuk giat dan kembali gigih berusaha.

Ikut Summer School Indonesia-Jerman
Jujur saja, secara tidak langsung saya banyak mendapat motivasi dan inspirasi dari Yuspa Rizal. Tidak mau ketinggalan, akhirnya Tuhan memberikan kesempatan yang juga cukup bergengsi kepada saya. Saya berhasil mengikuti program Indonesian-German Intercultural Summer School pada tahun 2012. Eiits, ini program dilaksanakan di Indonesia. Bukan di Jerman. Saya ketinggalan kereta dari Yuspa, dia sudah duluan ke Mancanegara. Walau demikian, jejak saya seolah mengikuti Yuspa.

Terlibat dalam seminar
Sepulang dari program Summer School, saya berinisiatif untuk mengadakan sebuah seminar tentang peluang mendapatkan kesempatan belajar dan mengikuti kegiatan kerjasama ke luar negeri. Tepatnya “Seize the opportunity to study abroad and join international cooperation program”. Seminar ini merupakan gagasan saya yang dikombinasi dengan inisiatif Bapak Promadi, wakil rektor III UIN Suska Riau ketika itu. Beliau bermaksud untuk mengadakan penyambutan beberapa orang dosen yang baru saja pulang belajar dari luar negeri dan saya kombinasikan dengan ide untuk mengundang mahasiswa UIN Suska yang juga sempat mengenyam kesempatan belajar di luar negeri. Adalah Yuspa Rizal, salah satu mahasiswa yang saya undang menjadi pemateri pada seminar tersebut, bersama bang Boby Satria (Faste UIN Suska, Alumni IELSP). Saya juga sempat mengundang bang Chandra Alfindodes (FTK UIN Suska, alumni PPAN), namun beliau tidak bisa memberikan presentasinya pada seminar tersebut karena ada agenda lain pada saat yang sama. Seminar ini juga diisi oleh teman mahasiswa Summer School lainnya seperti Intan Septia Latifa dan Syamsuddin Muhammad. Sementara saya berada pada posisi ketua panitia acara. Saya wujudkan agenda ini kerja sama dengan biro kewirausaah dan kemitraan BEM UIN Suska yang ketika itu juga saya yang menjabat sebagai kepala divisi disana.

Kesempatan ke Filipina
Ini bagian saya. Sementara Yuspa sudah berhasil meraih impiannya (Amerika) pada tahun 2011. Saya dikasih Tuhan kesempatan pada tahun berikutnya, saya berhasil merambah Asia, yakni ke Filipina pada tahun 2012. Horee..saya begitu girang akhirnya saya dapat menaklukkan ketidakmungkinan dengan usaha dan do’a.

Yuspa ke China
Pernah gagal beberapa kali di PPAN ternyata Yuspa tidak menyerah. Tahun 2013 dia coba lagi peruntungannya melalui PPAN. Saya sempat melihat aksi beliau ketika seleksi di atraksi culture performance. Dengan penuh keyakinan dia tampak serius membuktikan dirinya layak untuk terpilih pada seleksi kali ini. Ya terang saja, beliau lolos seleksi dan menjadi peserta PPAN ke China dan berangkat pada tahun yang sama. Hohoho…Yuspa sudah dua! Saya ingat sekali, sebelum akhirnya menjalani seleksi PPAN 2013 saya sempat berkomunikasi dengannya dan bertanya perihal apakah dia akan ikut lagi tahun ini. Beliau jawab dengan penuh percaya diri melalui pesan singkat (sms). Dari sana saya sudah melihat aura keberhasilannya. Sementara saya sendiri katakan padanya bahwa saya belum akan mencoba lagi tahun ini. Semoga keberuntungan lain ada pada saya.

Adhitya ke Jerman
Saya benar-benar iri dengan Yuspa, dia sudah dua. Haha
Saya tidak mau kalah, singkat cerita pada tahun yang sama (2013) pun saya berhasil menuai prestasi lainnya berangkat ke Jerman untuk program Summer University 2013. Sepertinya saya benar-benar mengikuti jejak Yuspa..haha.

Yuspa Wisuda
Di awal tahun 2013 saya dapat kabar bahwa Yuspa akhirnya dapat meraih gelar sarjananya. Beberapa bulan sebelum itu kami sempat berkomunikasi, saat itu Yuspa memang pernah menitip do’a agar saya mendo’akan beliau dapat wisuda di waktu yang ditargetkannya. Yuspa di awal tahun 2013, sementara saat ini saya masih dalam proses menyusul beliau. Insya Allah di awal tahun 2014 ini saya juga wisuda..amiin. Yuspa memang sosok hebat, terakhir beliau mendapat anugerah berupa prestasi sebagai “Pemuda berprestasi” yang diberikan oleh pemerintah Provinsi Riau.

Berjumpa di presentasi Aminef
Hari ini, Selasa 19 November 2013 saya berjumpa dengan Yuspa dalam presentasi mengenai kesempatan kuliah di Amerika dalam program master. Yuspa sudah mengutarakan keinginannya ingin melanjutkan kuliah di Amerika. Semoga beliau mendapatkan kesempatan baik ini. Mengenai ini, dalam profil saya yang ditampilkan lebih dahulu oleh Rising Star Tribun Pekanbaru tertulis hal senada, redaksi menuliskan “Ingin kuliah di Jerman” untuk judul berita tentang saya. Seolah menjadi kode alam, dalam pertemuan kami di presentasi Aminef Yuspa menunjukkan perihal berita tentangnya di Rising Star Tribun Pekanbaru dengan judul yang senada dengan judul untuk saya sebelumnya, “Ingin melanjutkan pendidikan di Amerika” – itu judul Yuspa. Kedua hal ini bukan suatu yang kami rencanakan dan kami minta. Adalah Tribun yang punya kerja, seolah itu adalah isyarat akan impian ini kelak akan menjadi nyata. Oleh karena hal itu, Yuspa meminta saya agar foto tulisan tersebut digabungkan. Itu lah foto dibawah ini hasil kerja saya atas imajinasi Yuspa.
Semoga Yuspa bisa melanjutkan studi di Amerika dan saya menyusul beliau dengan melanjutkan studi di Jerman. Amiin.

Mohon do’akan juga sahabat saya Romaito Azhar dapat meraih impiannya ke Australia, demi Allah saya ingin beliau dapat mewujudkan mimpinya kesana.

Apa lagi ya?
Tentunya banyak cerita yang menarik tentang kami berdua. Saya ingin untuk dapat mengurainya secara lebih matang di tulisan saya lain waktu. Setidaknya ini dulu yang saya sampaikan. Semoga menjadi motivasi bagi sahabat-sahabat lainnya. Semoga sukses selalu untuk kita semua.

Article, My Story

Selamat ulang tahun (23)

Adhitya Fernando[dropcap style=”flat”]K[/dropcap]isahnya sekitar akhir tahun 1990, waktu itu seorang anak laki-laki lahir dari rahim seorang Ibu muda bernama Hartati. Kala itu Ibu tersebut juga seorang pekerja di salah satu perusahaan migas (asing) yang sampai saat ini masih exist (menguras minyak Indonesia). Ibu itu bekerja di bagian humas yang berurusan dengan tamu-tamu asing/bule bos-bos besar perusahaan tersebut.

Terbiasa berhadapan dengan bule bos besar, tercuat keinginan sang Ibu untuk mengimpikan anaknya kelak seperti orang-orang tersebut. Dilihatnya lah daftar nama dari bule tamu di buku kerjanya, tertulis nama “Adhitya Fernando” – sang Ibu ingat jelas seperti apa sang bule tersebut. Saat kelahiran putra pertamanya, lantas sang Ibu memberikan nama bule tersebut pada anaknya. Ingin anaknya sukses besar dan jadi orang hebat seperti yang ia bayangkan. Harapan sang Ibu tersebut begitu mulia. Jelas ia mempunyai visi bagaimana anaknya kelak harus menjadi. Ia pun berusaha membesarkannya dengan sebaik mungkin, mengajari, melatih dan membekali anaknya tersebut dengan berbagai nilai-nilai kehidupan yang amat berharga.

Tahun demi tahun berlalu, tentu anaknya sekarang sudah jauh tumbuh besar dan dewasa. Sang Ibu begitu bangga dengan anaknya. Saat masih bersekolah dasar, didikan sang Ibu berhasil menjadikan anaknya juara umum sepanjang masa sekolah. Pahit manis dan bersusah payah anaknya ia besarkan. Tak selalu gemilang, riak-riak gelombang pasang surut dilalui oleh sang Ibu dan anaknya. Wajar saja, itu dinamika kehidupan. Sampai sejauh itu, bekal-bekal pendidikan dan asuhan dari sang Ibu sangat membekas di jiwa sang anak. Anaknya tampak begitu menggelora dalam setiap usahanya.

Anaknya tampak tumbuh seperti harapan sang Ibu, tersiar kabar bahwa anaknya perlahan menjadi “bule” seperti yang dahulu Ibu bayangkan. Ternyata benar, anaknya sudah bertualang sampai ke negeri benua biru, Jerman (eropa). Sepertinya semakin membekas dan terngiang harapan sang Ibu. Anaknya menjadi orang besar dan sukses dari hari ke hari (proses). Harapan itu muncul jadi nyata dengan tampaknya cahaya matahari di kejauhan sana, menyelip di celah-celah sempit lorong kehidupan. Pastilah itu cahaya terang, namun belum terlalu jelas asalnya. Ia mencari, berjalan dan berlari menuju sumber cahaya. Lambat laun akan ia temukan juga dan ia terang benderang disana. Bersama cahaya dan harapan sang Ibunda yang menjadi nyata. Itulah sekarang “saya”, si Adhitya Fernando yang bernama sama dengan bule tersebut. # Mengenang hari lahir (09 November 1990)

Close