Mencermati hasil survei Indeks Demokrasi Global sangat mengejutkan pelbagai pihak. Betapa tidak, hasil survei lembaga kredibel Economist Intelligence Unit tahun 2010 menunjukkan Indonesia hanya berada di peringkat 60 dari 167 negara yang disurvei. Indonesia kalah dibandingkan Thailand (ke-57), Papua Nugini (ke-59), bahkan jauh tertinggal dibanding negara Timor Leste (ke-42). Menurut Burhanuddin Muhtadi dalam bukunya Perang Bintang 2014: Konstelasi dan Prediksi Pemilu dan Pilpres (2013), mengatakan Indeks demokrasi rendah disebabkan lemahnya variable budaya politik, partisipasi, dan isu-isu kebebasan sipil.

Setelah menjabat selama dua tahun di akhir 1990-an, Habibie memimpin Indonesia pasca-Suharto, transisi dari negara otoriter ke negara demokrasi baru. Professor Tarek Masoud, yang merupakan Ash faculty affiliate menyebut Indonesia sebagai, “salah satu negara demokrasi yang paling mustahil di dunia.”

Dari sekian nama calon presiden Indonesia, saya baru menemukan gagasan dari Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie, Anis Matta dan Anies Baswedan. Calon lain tampak belum mengeluarkan gagasannya, kemungkinan mereka masih menyimpan ide segar untuk Indonesia-nya pasca pemilu legislatif atau memang mereka tidak memikirkan gagasan.

Survey yang dilakukan oleh adhityafernando.com ini menunjukkan kenyataan bahwa publik menilai Anies Baswedan lebih unggul dan berkualitas daripada Joko Widodo. Survey ini dilakukan atas dasar inisiatif pribadi dan non-profit. Tujuan suvey ini adalah untuk mengukur persepsi publik terhadap dua tokoh calon presiden Indonesia 2014.