Para pendiri Republik ini adalah kaum terdidik yang tercerahkan, berintegritas. Mereka berkesempatan hidup nyaman tapi mereka pilih untuk berjuang. Mereka mengedepanan keteladanan yang menggerakkan. Hal inilah yang dibutuhkan bangsa Indonesia dewasa ini, anak-anak bangsa yang terdidik harus berdiri di garda terdepan untuk mengupayakan kemajuan bangsa. Indonesia dalam kurun waktu 2010 sampai 2035 akan mengalami bonus demografi, dimana kaum muda produktif adalah komposisi terbesar, dividen akan diperoleh jika pendidikan berhasil. Masa ini harus mampu dijadikan titik balik kebangkitan.

“Aktivis itu energinya matahari, besar tapi sayang kekuatannya menyebar, tidak seperti energi laser yang kuat dan fokus.”, ucap Prof Laode dalam sambutannya di acara penutupan Pelatihan TOEFL bagi calon penerima beasiswa yang diselenggarakan oleh Yayasan Insancita Bangsa (YIB). Latihan yang berat itu adalah memfokuskan diri, sambung Prof. Laode.

Education is a long-term investment. The result is impossible to be acquired within a short time. As Confusius said, “If you want one year prosperity, grow seeds. If you want ten years prosperty, plant trees. If you want one hundred year prosperity, educate people”. What Confusius’s says has very strong implisit meaning. There is a hidden powerful effect of education. In the modern management education view, education is functiones to be technical-economic. The functionrefers to itcontribution to economy. Education guides the students to improve their knowledge and develop their skill, shape attitudes and good behaviour. All of this aspect is everything they need to lead their life and to compete in the competitive economy. So therefore, we could say that education is not only an instrument for the economic development, but also for economic growth.

A dream is only a dream without action. It is a very simple rule for every dreamer. There is no dream that is too high except the low optimism and effort. Dream will not wait, we chase for them and if we get it, ready or not, we must be ready. Having said like that, I bear in mind that I should keep on focus. I will make it. Germany, I’m coming!

Siapa yang tak mengenal sosok mantan presiden Indonesia B.J Habibie. Seorang pria yang lahir dari keluarga sederhana dari sebuah daerah di pelosok selatan pulau Sulawesi yang akhirnya menjadi seorang teknokrat ulung, handal dan ternama di Negara berteknologi tinggi Jerman. Tak pernah terbayangkan pula olehnya bahwa ia nantinya akan menjadi salah seorang dalam deretan pemimpin di Negara tempat ia dilahirkan, Indonesia.

Habibie hanyalah seorang sosok pemuda biasa saat pertama sekali menjejakkan kaki di Jerman dan terdaftar sebagai salah satu mahasiswa di RWTH Aachen pada tahun 1955. Namun berkat keuletan dan kegigihannya, Habibie mampu menyelesaikan tidak hanya program Diplom ingeneur-ya saja (setara Master), bahkan mampu menyabet gelar Doctor ingeneur (setara Ph.D) dengan predikat summa cum laude (Istimewa).

Tapi kali ini saya tidak ingin bercerita lebih jauh tentang Pak Habibie. Saya hanya ingin berbagi cerita mengenai pengalaman menempuh pendidikan di Jerman, tempat dimana Pak Habibie dan banyak orang Indonesia serta peöajar Aceh lain yang menuntut ilmu disana.

Khusus untuk Mahasiswa UIN Suska Riau. Pendaftaran peserta Indonesian-German Intercultural Summer School 2014 sudah dibuka. Batas akhir pendaftaran adalah 25 April 2014. Program ini dilaksanakan di Indonesia pada tanggal 24 Agustus – 6 September 2014 (Jadwal masih tentative). Beberapa lokasi kegiatan yang direncanakan adalah Jakarta, Tangerang, Yogyakarta, Kepulauan Seribu, dan Pekanbaru. Peserta yang lolos tahun ini akan dapat tiket untuk mengikuti Summer School 2015 di Jerman. Ayo buruan!