Category

News

All news about politic, economy, education, social, environment, goverment, and business

Article, Conference and Exchange, News, Organization and Movement

Tawaran kerjasama roadshow #SetengahDewa

Roadshow #Mahasiswa Setengah Dewa
Perhelatan akbar dalam rangka tahun akademik baru

Salam mahasiswa Indonesia!

Mahasiswa Setengah Dewa –edisi 1 dan 2—adalah sebuah buku yang dikarang oleh Martga Bella Rahimi. Roadshow kali ini berisi agenda bedah buku dua edisi tersebut. Acara yang dijadwalkan berlangsung dari tanggal 2-27 Agustus 2015 ini akan dihelat di 20 kampus se-Indonesia. Banyak kampus yang sudah menyatakan tertarik untuk menjadi tuan rumah, jangan siakan kesempatan ini, jadikan kampus salah satu tuan rumah yang beruntung menyelenggarakan event ini.

Tawaran kerjasama roadshow #SetengahDewa

Martga Bella Rahimi adalah seorang Dokter muda di sebuah rumah sakit di Sumatera. Beliau juga aktif sebagai penulis nasional, trainer, delegasi mahasiswa pertama dan satu-satunya dari Indonesia ke Norwegia (peneliti SCORE-IMFSA), delegasi universitas pada kompetisi Mikrobiologi dan Imunologi internasional di Bangkok, Duta Baca Sumatera Barat, ketua komunitas TDA wilayah Padang, coach bisnis, penerima beasiswa SBMPTN-beasiswa BI, Supersemar, Dikti, Dana Hibah Dikti untuk program Mahasiswa Wirausaha, Beasiswa pemerintah provinsi dan telah berkunjung ke 10 negara (Asia dan Eropa) selama duduk di bangku kuliah.

Lihat teaser acara disini:

Penawaran kerjasama dapat dibaca atau didownload disini:

Apa yang hal menarik yang diberikan acara ini?

  • Menjadi mahasiswa yang jago komunikasi
  • Menjadi mahasiswa yang mempunyai performance di atas rata-rata
  • Mampu menjalin relasi dengan siapa saja dan dimana saja
  • Mampu berperan aktif di multi-organisasi
  • Memiliki kemampuan menyeimbangkan emosi dalam berbagai situasi (finansial tidak memadai, tidak mendapat dukungan dari orang terdekat, lingkungan meremehkan, patah semangat, dll)
  • Memulai dan mengembangankan usaha
  • Mendapat beasiswa dan sponsorship untuk pendidikan dan non-pendidikan
  • Memaksimalkan waktu 24 jam sehati untuk meraih berbagai hal (kuliah, organisasi, prestasi, dll)
  • Mendapat dan mempertahankan IPK di atas 3
  • Berkunjung ke banyak negara dengan nyaris tanpa biaya
  • Menjadi penulis dalam waktu 2.5 bulan
  • Mampu menerima diri secara apa adanya, kemudian memaksimalkan potensi diri

Segera konfirmasi keikutersertaanmu! Hubungi kami via:

Email: mahasiswadewa@gmail.com
Facebook: Marga Bella Rahimi
Line: Martga Bella Rahimi
BBM: 57e76b45

Salam optimalisasi mahasiswa!

The way FFI Lampung 2015
Article, News

Dukung cinematografi Riau di Festival Film Indie (FFI) Lampung 2015

[dropcap style=”flat”]B[/dropcap]roadcasting UIN Suska Riau melalui Mindset Pictures mengikuti Festival Film Indie (FFI) Lampung 2015. Mindset Pictures mempersembahkan film berjudul “The Way”. Film ini menggambarkan bahwa setiap individu punya pilihan dan jalan masing-masing meski ia dalam kelompok yang solid ―apalagi jika antar kelompok yang berbeda. Tetapi, jika perbedaan itu dapat dikomunikasikan dengan baik, pasti akan ada hal indah dipersimpangan jalan berikutnya.

The way -Mindset Pictures - FFI Lampung 2015

Film “The Way” masuk dalam kategori “Film Umum Terfavorit”. Andi Saputra, adik kandung saya, merupakan salah seorang yang terlibat dalam produksi film tersebut. Anda dapat memberikan dukungan via sms:

Ketik FFIL#UMUM#65
Kirim ke 3937 (khusus Telkomsel)
Tarif Rp. 550/sms

Terima kasih atas dukungan Anda. Jayalah cinematografi Riau!

Article, Re-blogged, Social & Politic

Prospek demokrasi elektoral

[dropcap style=”flat”]M[/dropcap]encermati hasil survei Indeks Demokrasi Global sangat mengejutkan pelbagai pihak. Betapa tidak, hasil survei lembaga kredibel Economist Intelligence Unit tahun 2010 menunjukkan Indonesia hanya berada di peringkat 60 dari 167 negara yang disurvei. Indonesia kalah dibandingkan Thailand (ke-57), Papua Nugini (ke-59), bahkan jauh tertinggal dibanding negara Timor Leste (ke-42). Menurut Burhanuddin Muhtadi dalam bukunya Perang Bintang 2014: Konstelasi dan Prediksi Pemilu dan Pilpres (2013), mengatakan Indeks demokrasi rendah disebabkan lemahnya variable  budaya politik, partisipasi, dan isu-isu kebebasan sipil. Kinerja pemerintah yang juga diwarnai praktik korupsi dan inefisiensi. Isu-isu toleransi, pluralisme juga menciderai prestasi. Fakta di atas menunjukkan, bahwa tahapan konsolidasi atau proses melamar demokrasi masih menemui jalan buntu dan tidak sebanding lurus dengan substansi demokrasi itu sendiri, meskipun secara virtualitas kita telah berada di panggung demokrasi terbuka selama empat belas tahun. Keberhasilan menggelar Pemilu secara langsung dua periode mulai 2004 dan 2009 setidaknya bisa dijadikan salah satu indikator mengukur keberhasilan demokrasi kita.

Mochammad Thoha

Namun, lagi-lagi muncul persoalan, bahwa praktik demokrasi yang berjalan masih menemui jalan buntu, terutama dalam hal memenuhi kualitas kesejahteraan, keadilan, toleransi dan penegakan hukum. Hal ini menjadikan praktik demokrasi yang kita jalankan masih menyisakan tanda tanya, karena sejak awal cita-cita demokrasi yang dicita-citakan the founding father bangsa adalah untuk  mewujudkan negeri yang baldatun thayyibatun  warabbun  ghafur,  yaitu  negeri  adil,  makmur  dan  sejahtera. Untuk itu, kita dituntut pula untuk terus melakukan resolusi dan perbaikan terhadap demokrasi yang di satu sisi masih gagal dalam menciptakan dan mewujudkan kesejahteraan dan keadilan untuk masyarakat. Dan yang tak kalah pentingnya juga adalah soal kepemimpinan dan penegakan hukum (rule of law) ke depan. Mohammad Hatta dalam bukunya Demokrasi Kita menegaskan bahwa cita-cita demokrasi dalam kalbu bangsa Indonesia bersumber dari tiga hal. Pertama, tradisi kolektivisme dari permusyawaratan desa. Kedua, ajaran Islam yang selalu menuntut kebenaran dan keadilan Ilahi dalam masyarakat serta persaudaraan antarmanusia sebagai makhluk Tuhan. Ketiga, paham sosial Barat yang selalu menarik perhatian para pemimpin pergerakan kebangsaan  karena  dasar-dasar  perikemanusiaan  yang  dibelanya dan menjadi tujuan.

Demokrasi yang sehat dan stabil, menjadi kensicayaan dan mutlak diperlukan dalam menjalankan roda kepemimpinan, terlebih saat ini sistem demokrasi yang sehat merupakan fondasi pokok dalam menggarungi pelbagai  persoalan bangsa terutama di bidang ekonomi, penegakan  hukum (rule  of  law), keadilan dan kesejahteraan rakyat. Jack Snyder dalam From Voting  Violance (2000), menegaskan untuk menciptakan demokrasi tidaklah mudah. Resep menuju demokrasi bukan hanya menyingkirkan penguasa otoriter maka datanglah demokrasi. Demokrasi membutuhkan prasyarat  seperti kondisi ekonomi tertentu, pengetahuan dan keterampilan politik para aktor  politik yang bermain dalam ruang demokrasi, tradisi rule of law, dan perlindungan  terhadap hak asasi manusia. Tetapi persoalannya adalah terletak pada pilar utama  demokrasi, yaitu partai politik semakin kehilangan kepercayaan akibat perilaku para politisi yang cenderung gamang alias ambigu dalam menakar persoalan apa yang dihadapi bangsa ini. Hal ini terlihat dari sikap elite politik yang hanya berorientasi  pada kekuasaan semata tidak  untuk kepentingan rakyat. Penegakan hukum di negeri ini masih menyisakan persoalan terutama ketika dihadapkan dengan kasus yang  kentara aroma politik. Prinsif equality before of law terkubur “melempem” ketika  kasus hukumnya mendera elite politik. Inilah  kendala terbesar dalam membangun demokrasi ke depan.

Kehendak Kolektif

Demokrasi yang kita jalankan saat ini adalah kehendak kolektif. Mendesain demokrasi yang sesuai kebutuhan dibutuhkan langkah yang progresif ke depan bagi lahirnya nilai-nilai kemanfaatan bersama (kolektif), yaitu keadilan dan kesejahteraan. Setidaknya ada empat hal membenahi demokrasi kita ke depan. Pertama,  pentingnya  kesadaran  masif  dari pelbagai pihak sebagai  kehendak  kolektif  membagun sistem demokrasi mestinya dimanivestasikan dalam bentuk kerja nyata yang konkret dengan mengedepankan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi atau kelompoknya. Kedua, penegakan hukum (rule of law) mestinya lebih diprioritaskan ke  depan karena  pada hakikatnya indikator demokrasi yang stabil, sehat ketika ada komitmen  bersama  dalam menegakan hukum. Dalam konteks ini penting bagi institusi penegak hukum membangun sinergi antarpenegak hukum, baik KPK Polri dan Kejaksaan. Alexis de Tocqueville dalam Democracy, Revolution, and Society, sebagaimana dikutip Zuhairi Misrawi (2011) dalam tulisannya “Mem-bumikan Empat Pilar” mengatakan, bahwa  akar-akar sosial lahirnya demokrasi bertujuan untuk menegakkan hukum (rule of law). Ketiga, menggugah kesadaran  kritis rakyat  dalam  melawan  penguasa yang saat ini cenderung menindas rakyat kecil. Artinya,  rakyat  sangat  berhak  menuntuk hak-haknya, karena dalam demokrasi rakyat adalah pemilik tunggal icon demokrasi “vox populi vox dei”. Paulo Freire mengutip Fransisco Weffers (2000) menegaskan  kekuasaan tanpa kesadaran kritis melawan penindasan yang dialami rakyat adalah keterancaman lumpuhnya nilai-nilai demokrasi. *****

*Oleh Mochammad Thoha

Mahasiswa Ilmu Politik FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ)
Sekjen Perhimpunan Pergerakan Mahasiswa Indonesia (PPMI)
Education, Scholarship

Esai LPDP Afirmasi

Sutan Takdir Alisjahbana dalam Alam Terkembang, menjelaskan bahwa kunci perubahan terletak pada hadirnya kaum terpelajar. Hanya mereka yang terpelajar yang hidup hati dan pikirannya yang dapat membawa masyarakat ke arah yang lebih baik (Layar Terkembang; hlm.143)

Persoalan kita sekarang adalah bagaimana menemukan apa yang disebut “kaum terpelajar” yang mengutip Anies Baswedan, adalah mereka-mereka yang telah mendapatkan pendidikan sebagai eksalator kemajuan namun memiliki tanggungjawab untuk membaginya pada yang lain. Belum lagi ketika berbicara pendidikan ini dalam konteks demokrasi dan desentralisasi yang dibutuhkan bagi pembangunan daerah.

Ada tiga faktor yang menjadi penentu apakah pembangunan sumber daya manusia terpelajar dapat mendorong pembangunan terutama di daerah dalam kerangka desentralisasi.

Pertama; pendidikan yang dimaksud bukan hanya dapat membangunkan kesadaran akan ilmu pengetahuan tetapi memuncukan juga dignity, harga diri yang tinggi. Bapak pendiri bangsa seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, dll., adalah mereka yang pada masa-masa pendidikannya bukan hanya menuntut ilmu apa yang dibutuhkan masyarakat namun juga terlibat aktif dalam pendidikan masyarakat.

Kedua; para pendiri republik ini adalah kaum terdidik yang tercerahkan dan berintegritas. Mereka berkesempatan hidup nyaman dengan menjadi kolaborator penjajah, namun mereka memilih untuk berjuang. Mereka mengedepanan keteladanan yang dapat menggerakkan pemuda-pemuda lainnya. Hal inilah yang dibutuhkan bangsa Indonesia dewasa ini, anak-anak bangsa yang terdidik harus mengupayakan kemajuan bangsa. Alasannya adalah Indonesia dalam kurun 2010-2035 akan mengalami bonus demografi, dengan tiga per empat penduduknya adalah kaum muda produktif.

Ketiga; pendidikan harus dapat menciptakan kesadaran nasional dan sektoral. Mengingat luas dan beraneka ragamnya demografi dan budaya bangsa kita, maka tidak mungkin pendidikan yang diberikan bersifat umum-umum saja. Harus ada pendidikan yang sifatnya sektoral, yang dapat menjawab kebutuhan-kebutuhan sektoral seperti, kehutanan, kelautan, pertanian, peternakan, kesehatan, dan sektor lain yang dibutuhkan oleh masyarakat luas.

Mengingat arti pentingnya sektor pendidikan untuk menumbuhkan sektor-sektor lainnya,  maka penulis melihat bahwa  pendidikan adalah bidang yang ingin didalami oleh penulis.

Banyak catatan yang harus diperbaiki dari pendidikan Indonesia, berdasarkan laporan internasional seperti UNESCO (2012) menunjukkan Indonesia berada di peringkat 64 dari 120 berdasarkan penilaian Education Development Index (EDI). Sementara UNDP  (2011) juga telah melaporkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM ) atau Human Development Index (HDI) Indonesia mengalami penurunan dari peringkat 108 pada 2010 menjadi peringkat 124 pada tahun 2012 dari 180 negara.

Sejatinya, masalah pendidikan di dalam negeri ini telah menjadi sangat kompleks seperti tertuang dalam rencana strategis Kemendikbud yang antara lain terkait disparitas di berbagai faktor pendidikan. Seperti disparitas akses pendidikan antar provinsi, distribusi guru berkualitas, rasio guru dan siswa, iliterasi, dsb. Ini menjadi persoalan penting, apabila kita melihat rasio-rasio ini dalam perbandingan antar provinsi dan antar kabupaten, dimana persoalan pendidikan bukan hanya persoalan nasional tetapi menjadi masalah bagi pemerintahan-pemerintahan lokal seperti kabupaten dan kota.

Misalnya dengan Kabupaten Bengkalis, dimana penulis berasal adalah kabupaten yang berada di daerah strategis, yaitu berbatasan langsung dengan selat Malaka. Sifat internasional dari selat ini secara langsung mempengaruhi cara pandang masyarakat Bengkalis dimana mereka sebetulnya memiliki akses sekaligus tantangan langsung dari pergaulan dengan kesibukan perdagangan di daerah itu.

Ini menjadi prioritas perhatian saya dalam mengaplikasikan keilmuan. ASEAN Economic Community yang akan dimulai pada tahun 2015 merupakan tantangan besar bagi kabupaten ini terutama di sektor pendidikannya. Berdasarkan laporan BPS Kabupaten Bengkalis lebih dari sepertiga PNS di sini (2011) berpendidikan setara SMA, kurang dari 1 persen berpendidikan setara S2/S3, sementara sebagian besar tenaga kerja berpendidikan setara SMA 30 persen, dan berstatus sebagai buruh atau karyawan hampir 40 persen. Ini tentu menyulut keprihatinan kita bersama mengingat regionalisasi AEC secara khusus menuntut knowledge based competency.

Berangkat dari persoalan tadi, maka tujuan studi dari penulis adalah di bidang penelitian pendidikan. Menguasai bidang ini, saya akan memberikan kontribusi dalam mengurai benang kusut masalah pendidikan di Indonesia dan lebih khusus kepada pembangunan SDM Bengkalis yang terpelajar yang siap menghadapi regionalisasi kawasan.

Hal ini bukan mustahil untuk diwujudkan, penulis memiliki pengalaman organisasi dan pendidikan yang baik untuk membangun optimisme tadi. Di sini penulis melihat bahwa beasiswa LPDP dapat menjadi kunci penguatan kemampuan analisa dengan mendapatkan kesempatan pendidikan di luar negeri dan menggunakan ilmu yang didapat guna mewujudkan cita-cita penulis memberikan kontribusi terbaik bagi penguatan SDM terpelajar bangsa Indonesia secara umum dan Kabupaten Bengkalis secara khusus.

*Dibuat untuk melengkapi syarat beasiswa LPDP Program Afirmasi Kementerian Keuangan RI

Article, Science & Technology, Yayasan Insancita Bangsa

The hospital specifically for Hiv-Aids (Controversial topic)

[dropcap style=”flat”]T[/dropcap]he most affecting news story a few days ago was that one of provinces in Indonesia would build the HIV-AIDS hospital. Honestly this news directly made volunteers combating HIV-AIDS and Buddies (Volunteers who work to advocate HIV-AIDS Victims) was shocked. It becomes more difficult to achieve the goal of combating HIV-AIDS program especially in CST (Care and Support Treatment) for human living with HIV.

Saivol Virdaus

Stigma and discrimination will increase because of this plan. Our people have not been ready yet when they know their neighbor, family member or people around them are infected by HIV. Our societies have not understood well yet about it. They still believe in myth that the human living with HIV is the human having bad moral and think that the virus will infect easily. In this way our societies will know the status and the stigma and discrimination will increase in the middle of our society. Actually their status is protected by regulation of health minister number 21, 2013.

As the evidences that our societies has not comprehensively understood yet how HIV spreads to others, frightened to be infected is very high. Because they don’t understand that HIV just infects through three medias (blood, sperm and mother’s milk). They still consider that it can infect through wind, contact each other, living together and many others which just make them afraid and avoid somebody living with HIV.

Moreover our societies still consider that somebody infected by HIV is bad person and has bad moral because of free sex. In fact, many victims in HIV are housewife and children. They don’t know anything and never do anything in high risk, thus they are just the victims maybe from their husband.

The effects of discrimination towards a HIV-infected person are very dangerous. Sometimes they will feel depressed and will infect to others with unsafe sex. The worker who advocates them can’t control what they do, because actually in this situation they need support and care from others.

In my opinion this idea will be useless. I have the following suggestions are the first, it well be better if the money that will be used to fund the hospital to support the human living with HIV. The second is to build shelter building for them to easily get together and do some activities. The third is to educate our societies about what HIV is and how HIV infect. And the last is to subsidize antiretroviral virus (ARV) when the foreign funding in combating HIV program is not here anymore.

*Written by Saivol Virdaus

Education

Accelerating the result of Indonesian education

Life is learning. People says, “Learning and being educated , not only through school, but also through life lesson is something so incredibly important  and the more we go out in society”. That expression is not wrong, but learning have a context. Life’s learning is a thing that is not programmed. It is different from education.According to Indonesian dictionary, education is a programmed learning experience in the form of formal education. We quite often hear that people say they do not need education, while without attending school they cansucceed and even more than the others. How should we see education, and what is it really does not have strong impact.

Education is a long-term investment. The result is impossible to be acquired within a short time. As Confusius said, “If you want one year prosperity, grow seeds. If you want ten years prosperty, plant trees. If you want one hundred year prosperity, educate people”. What Confusius’s says has very strong implisit meaning. There is a hidden powerful effect of education. In the modern management education view, education is functiones to be technical-economic. The functionrefers to itcontribution to economy. Education guides the students to improve their knowledge and develop their skill, shape attitudes and good behaviour. All of this aspect is everything they need to lead their life and to compete in the competitive economy. So therefore, we could say that education is not only an instrument for the economic development, but also for economic growth.

The recent studies, shows that in this modern era, education has a significant correlation to people prosperity. In the United States in 1992, someone with the Doctoral education has revenue $ 55 million per year, Master $ 40 million, and bachelor $ 33 million. Meanwhile, people with high school backgorund only has average income for $ 19 per year.

The same thing happens in Indonesia. Let’s take the avarage income of rural and urban of Indonesian society. The university graduate is about Rp. 3.5 million per month. Diploma graduate around Rp. 3 million, high school graduate Rp. 1.9 million and elementary school graduate is only Rp. 1.1 million. This fact shows that how education can really changes a people life, even building a nation. The higher number of educated people, and higher the progress of the nation will be, and it is directly proportional to the number of residents. This study has been realized in this modern age. We can take a look at comparation between our country and Malaysia. “The number of Doctoral in specific field in Indonesia is only 98 persons. It is not as comparable as the total number of Indonesian residents. Compared to Malaysia, this country has 599 Doctor in avarage in the specific field”. And now let’s see the prosperity of both country.

Indonesian education today still has a large number of problems. Low quality, limited access to education, the teachers that are not distributed evenly, and the quality of the teachers. Various constraints of the education have made adverse effect now and in the future. Evenmore, Indonesia in the upcoming years will have demographical bonus. The illustration given by Anies Baswedan shows that 5,6 millions children attend elementary school, but only 2.3 million who graduate. What is missing is total 3.3 million per year, if it is allowed to stand for about 10 years, then it will be 33 million in total. We call it a demographical bonus, and itdangerous. “Big, young, uneducated”, said Anies Baswedan. This condition is very influential on the progress of the nation.

As we have stated above, we will feel the impact of education for about ten years next. At the same time, the global challenges become stronger and harder. Globalisation if not supported by the resiliency of a country will only become a problem. Education is the only key solution, but a big question arises. That is how to accelerate the results of education. Is there possibility or another solution? This is not a lucky situation for Indonesia.

There are several things to be addressed well to accelerate the result of education, ranging from technical education to practical education. But before comeing to it, we should see the big picture of our country, Indonesian people have to be the focus of our development. All this time, Indonesia only priorities to it natural resources, meanwhile we can run out of natural resources. We should change our priority to the human resources. This is the era of human capital. Investment on people will have impact.It is not too late, we should stay optimistic. Once we set our priority to the human, now it’s time for us to think about how to organize this big idea,how to transform the idea into implementation.

Education is not only about teacher, it is everyone’s responsibility. We should make a massive movement, and it should involve a very large number of human. And actually Indonesia has got the resource. The major composition of Indonesian population is young age and the character of youth is fast-moving, creative, innovative, active and energetic. Youth must become part of this movement. Indonesia Mengajar is one of best examplesof how to organize the youth to help fix the education in this country. “Indonesian mother’s womb still spawned fighters”, Anies Baswedan said. Yes that is true. We all can that see the spirit of Indonesian youth makes us proud. Investment on youth, involving them in the education movement is one of the keys to accelerate the result of Indonesian education.

*Written as a task in the writing class. Scholarship Training by Yayasan Insancita Bangsa.

Buka bersama alumni 2008 SMA N 3 Mandau tahun 2013
Organization and Movement, Survey

Data alumni dan kuesioner acara reuni dan buka bersama alumni tahun 2008 SMA N 3 Mandau

Silahkan diisi formulir berikut demi kelancaran pelaksanaan dan suksesnya acara.

Silahkan isikan data dan lengkapi kuesioner berikut untuk penyelenggaraan acara reuni dan buka bersama alumni 2008 SMA N 3 Mandau tahun 2014. Data dapat disimpan sebagai personal copy agar dapat mempermudah komunikasi dan silaturahmi di masa yang akan datang.

Terima kasih, sampai jumpa di acara reuni dan buka bersama alumni.

Buka bersama alumni 2005 SMP N 3 Mandau tahun 2013
Organization and Movement, Survey

Data alumni dan kuesioner acara reuni dan buka bersama alumni tahun 2005 SMP N 3 Mandau

Silahkan diisi formulir berikut demi kelancaran pelaksanaan dan suksesnya acara.

Silahkan isikan data dan lengkapi kuesioner berikut untuk penyelenggaraan acara reuni dan buka bersama alumni 2005 SMP N 3 Mandau tahun 2014. Data dapat disimpan sebagai personal copy agar dapat mempermudah komunikasi dan silaturahmi di masa yang akan datang.

Terima kasih, sampai jumpa di acara reuni dan buka bersama alumni.

Impian menjadi Habibie, Jerman
Article, Education, Re-blogged

Impian menjadi Habibie, Jerman

[dropcap]S[/dropcap]iapa yang tak mengenal sosok mantan presiden Indonesia B.J Habibie. Seorang pria yang lahir dari keluarga sederhana dari sebuah daerah di pelosok selatan pulau Sulawesi yang akhirnya menjadi seorang tekhnokrat ulung, handal dan ternama di Negara bertekhnologi tinggi Jerman. Tak pernah terbayangkan pula olehnya bahwa ia nantinya akan menjadi salah seorang dalam deretan pemimpin di Negara tempat ia dilahirkan, Indonesia.

Impian menjadi Habibie, Jerman

Habibie hanyalah seorang sosok pemuda biasa saat pertama sekali menjejakkan kaki di Jerman dan terdaftar sebagai salah satu mahasiswa di RWTH Aachen pada tahun 1955. Namun berkat keuletan dan kegigihannya, Habibie mampu menyelesaikan tidak hanya program Diplom ingeneur-ya saja (setara Master), bahkan mampu menyabet gelar Doctor ingeneur (setara Ph.D) dengan predikat summa cum laude (Istimewa).

Tapi kali ini saya tidak ingin bercerita lebih jauh tentang Pak Habibie. Saya hanya ingin berbagi cerita mengenai pengalaman menempuh pendidikan di Jerman, tempat dimana Pak Habibie dan banyak orang Indonesia serta peöajar Aceh lain yang menuntut ilmu disana.

Berkuliah di negeri orang sebenarnya tidaklah sesulit yang dibayangkan, bahkan banyak kemudahan yang dapat diperoleh guna memudahkan pelajar untuk hidup dan belajar di benua biru ini. Bukan hanya itu saja, bahkan setiap orang sebenarnya mempunyai kesempatan untuk merasakan pengalaman menuntut ilmu di negara bermusim empat ini, selama ia memiliki keinginan dan keyakinan yang kuat.

Biaya hidup

Sering banyak orang beranggapan bahwa biaya hidup diluar negeri sangatlah mahal dan tinggi. Hal ini tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah juga. Jika dibandingkan dengan biaya hidup diluar negeri lainnya, Jerman dapat dikategorikan termasuk kedalam negara yang memiliki living cost(biaya hidup) rendah. Bahkan untuk Eropa, Jerman dapat dikategorikan sebagai yang termurah.

Untuk kehidupan seorang mahasiswa rantau dengan pola hidup sederhana, 750 euro (sekitar 9 jutaan rupiah) sudah mampu untuk menghidupi seluruh biaya hidup selama 1 bulan.  Belum lagi dengan berbagai fasilitas dan kemudahan yang didapat para pemegang kartu mahasiswa, semakin membuat kehidupan pelajar di Jerman menjadi bertambah nyaman, mudah dan murah.

Untuk permasalahan tarnsportasi, dimana umunya mahasiswa di indonesia menggunakan motor atau kenderaan roda empat yang memakan biaya besar untuk perawatannya, maka hal ini tak menjadi soal di eropa. Sistem transportasi yang terintegrasi dan fasilitas semester ticket dengan harga yang sangat murah dan terjangkau, membuat para pelajar di Jerman memiliki kemudahan unutk menuju seluruh destinasi yang ingin dicapai guna menunjang aktivitas kuliahnya. Terkadang untuk beberapa negara bagian, bahkan tiket ini berlaku hingga keluar kota sehingga memudahkan mahasiswa untuk mengunjungi perpustakaan atau universitas di daerah lain. Sepeda pun dapat menjadi pilihan, selain lebih murah dan dapat pula menyehatkan badan.

Untuk urusan pangan tidaklah menjadi persoalan. Aldi, Liddle, Rewe dan beberapa supermarket berharga murah lainnya dapat menjadi pilihan surga berbelanja bagi kebutuhan dapur dan rumah tangga para mahasiswa rantau. Bagi yang ingin mencari produk halal, pertokoan turki, arab maupun toko china dapat menjadi salah satu tujuan belanja untuk membeli ayam, daging sapi, seafood maupun rempah-rempah nusantara. Bagi yang ingin menikmati menu vegetarian, sayur-sayur murah dapat dibeli di  flöhmarkt (pasar murah), yang juga menjual bahan-bahan murah lainnya.

Memasak sendiri tentu menjadi pilihan terbaik untuk menekan biaya konsumsi dibandingkan membeli makanan jadi yang umumnya dapat kita temukan di toko Döner Kebab atau Türkische Pizza. Selain itu Mensa (Kantin Mahasiswa) dapat juga menjadi tujuan untuk mendapatkan makanan murah ala mahasiswa. Namun, untuk menjaga kehalalan makanan, umumnya mahasiswa muslim lebih memilih memakan Spagethi atau menu vegetarian ataupun juga makanan laut yang tersedia. Hajatan baik dari KBRI/KJRI ataupun dari acara perkumpulan persaudaraan sebangsa maupun sesama muslim, terkadang menjadi bonus yang tak terduga dan hal yang selalu ditunggu untuk memungkinkan para makasiswa mendapatkan jamuan makan sehat dan lahap.

Berbicara mengenai kebutuhan sandang, Jerman juga merupakan destinasi yang tepat berbelanja murah bagi mahasiswa untuk mendapatkan pakaian dan alas kaki. Para mahasiswa dapat membeli baju dan celana serta sepatu dengan kualitas dan merek terbaik pada beberapa toko yang menawarkan harga murah, seperti: Deichman, KIK, Kardstadt dan lainnya. Bahkan saat pergantian musim, terkadang pusat-pusat perbelanjaan memberikan diskon yang mencengangkan guna menghabiskan produk mereka. Disebuah toko pakaian C&A misalnya, mereka bahkan pernah memberikan diskon hingga 70% untuk produk-produk baju berkualitas terbaik.

Untuk kebutuhan tempat tinggal, umumnya universitas di jerman memberikan fasilitasStudentenwohnheim (Apartemen Mahasiswa) yang dapat disewa dengan harga murah namun berfasilitas lengkap. Untuk sebuah Zimmer (kamar) di Leipzig seharga 160 euro (sekitar Rp. 1,9 jutaan), penghuni kamar telah mendapatkan kamar dengan full furniture, kamar mandi, internetunlimited, dan sudah termasuk biaya listrik, air dan gas untuk Heizung (pemanas ruangan). Jikapun mahasiswa ingin menyewa apartemen pribadi bersama beberapa teman lainnya, pemerintah kota terkadang memberikan bantuan wohngeld (Uang rumah) untuk mensubsidi biaya sewa rumah dari para mahasiswa yang terkadang mencapai 40% nya.

Ibarat gayung bersambut, mengerti akan kebutuhan seorang mahasiwa yang selalu mencari celah dalam meminimalisir pengeluaran, otoritas pemerintah Jerman pun berusaha untuk memberikan pusat-pusat penyediaan kebutuhan murah bagi para mahasiswa yang membutuhkan.

Sistem pendidikan

Secara umum pendidikan di Jerman terbagi atas tiga tingkatan, yaitu: Pendidikan pra Perguruan Tinggi (Pendidikan umum), Pendidikan Kejuruan (berufschule) dan Pendidikan Perguruan Tinggi. Pada kesempatan ini saya akan mencoba untuk membahas lebih jauh pada tingkatan pendidikan perguruan tinggi, mengingat tingginya minat masyarakat untuk berkuliah di Jerman yang mayoritasnya berada di level ini.

Untuk pendidikan perguruan tinggi, sistem pendidikan di Jerman membagi level ini kedalam tiga jenis, yaitu: (1).Universität (universitas), (2).Fachhochschule (Politekhnik plus), dan (3).Berufsakademie (Akademi Tenaga Kerja). Adapun perbedaan ketiganya terletak pada materi perkuliahan dan tujuan pendidikannya. Universität atau yg sering disebut UNI, lebih berfokus kepada teori dan pengembangan ilmu pengetahuan.  Para Mahasiswa di sini lebih terkonsentrasi untuk mengembangkan teori keilmuan dan sedikit sekali berorientasi pada praktek. Hasil akhir yang ingin dicapai dari lulusan UNI ini adalah para pemikir yang mampu untuk menghasilkan teori dan pengembangan ilmu baru yang dapat mendukung keilmuan yang telah ada.

Sebalikya Fachhochschule atau disingkat FH, lebih berorientasi pada ilmu terapan untuk  pengembangan ilmu agar dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang aplikatif dan dapat digunakan oleh pengguna. Pendiidkan praktikal lebih mendominasi para mahasiwa di sini dengan rasio perbandingan 70:30 untuk ilmu terapan dan teori. Lulusan FH ini diharapkan mampu untuk mengembangkan produk-produk terapan dari ilmu dasar yang telah ada.

Untuk Berufsakademie sendiri lebih berfokus kepada para mahasiwa yang telah memiliki status bekerja atau telah mempunyai kontrak kerja pada suatu perusahaan atau instansi. Mahasiswa disini akan dididik untuk mempelajari ilmu spesifik yang dibutuhkan dalam pelaksanaan tugas pekerjaannya. Hasil akhir dari lulusan ini adalah sebagai tenaga ahli yang handal di bidangnya dan dapat langsung digunakan dalam dunia kerja.

Di jerman saat ini memiliki 2 bentuk program perguruan tinggi, yaitu program klasik yang hanya memiliki dua jenjang, yaitu Diplom (Dipl.) dan Doktor (Dr). dan program baru yang mengakui tiga jenjang, yaitu Bachelor, Magister dan Doktor. Beberapa universitas dan negara bagian masih menggunakan sistem klasik, meskipun semenjak kesepakatan Bologna tahun 1999, sudah semakin banyak yang menggunakan program baru.

Unutk aktivitas perkuliahan di Jerman dan Eropa sendiri pada umunya dimulai pada awal musim dingin atau sekitar bulan oktober setiap tahunnya. Khusus untuk program doktoral, penerimaan mahasiswa baru terkadang dibuka dua kali dalam setahun, yaitu saat musim dingin dan musim panas (sekitar bulan april). Proses perkuliahan untuk program master (atau diplom) dapat menggunakan tiga pilihan, yaitu: Master dengan penelitian, Master dengan kelas atau Master campuran. Sedangkan untuk Program doktoral seluruhnya dilakukan dengan penelitian selama 6 Semester atau 3 tahun.

Untuk penerimaan mahasiswa sendiri, tidak diberlakukannya sistem ujian tertulis (seperti UMPTN) sebagaimana di Indonesia. Mahasiswa hanya perlu mengirimkan berkas lamarannya dan tim penilai universitas akan memutuskan apakah calon mahasiswa ini dapat diterima atau tidak berdasarkan transkrip nilai (abitur) dan pertimbangan akademis lainnya. Khusus bagi mahasiswa asing yang tidak menelesaikan gymnasium (setingkat SLTA) di Jerman dan ingin melanjutkan ke jenjang Diplom atau Magister, maka diwajibkan untuk mengikuti pendidikan Studkol (sekola pra universitas) terlebih dahulu selama 2 semester. Setelah tamat dari sekolah ini, maka para calon mahasiswa dapat melamar di Universitas ataupun Fachhochschule (politekhnik plus) yang mereka inginkan.

Berbicara mengenai biaya pendidikan, hampir sebagian besar Negara bagian di Jerman membebaskan kewajiban membayar uang pendidikan bagi setiap penuntut ilmu, baik bagi warga Negara Jerman maupun warga Negara asing. Jikapun ada yang menetapkan biaya SPP, maksimum yang boleh dibebankan kepada mahasiswa adalah 500 Euro (sekitar 6 juta rupiah). Bahkan di beberapa daerah juga, pemerintah daerahnya memberikan uang selamat datang bagi para mahasiswa baru dengan kisaran bervariatif. Mengambil contoh di Leipzig, setiap tahunnya para mahasiswa dapat mengajukan permohonan Zuzugbonus senilai 150 Euro (sekitar 1,6 juta rupiah).

Kesempatan Beasiswa

Salah satu penyedia beasiswa studi di Jerman yang patut dicoba adalah DAAD (Deutscher Akademischer Austausch Dienst) yang setiap tahunnya menawarkan sekitar 20 beasiswa untuk program pasca sarjana. Erasmus mundus scholarship dapat juga menjadi pilihan lainnya, yang memungkinkan penerima beasiswa untuk menempuh pendidikan setidaknya di dua negara berbeda di Eropa. Beasiswa-beasiwa dari universitas tujuan di Jerman pun dapat menjadi alternatif yang layak dicoba, selain yayasan-yayasan pendidikan baik di Indonesia maupun di Jerman yang berorientasi untuk memajukan sumber daya manusia di suatu daerah, seperti yayasan Habibie maupun yayasan Djarum.

Untuk provinsi Aceh sendiri, komisi beasiswa Aceh telah mengirimkan hampir 90 putra-putri Aceh ke Jerman dalam 3 angkatan selama 3 tahun terakhir ini. Saat ini, angkatan ke empat sedang dipersiapkan untuk pelatihan bahasa Jerman di goethe institut jakarta untuk siap diberangkatkan pada agustus 2012 ini. Kebetulan saya sendiri adalah salah satu penerima beasiswa angkatan sebelumnya yang berkesempatan untuk merasakan pendidikan di Jerman dengan bantuan beasiswa Pemerintah Aceh yang bekerja sama dengan DAAD.

Dengan kesempatan beasiswa yang terbuka lebar dan kemudahan yang diberikan untuk berkuliah di Jerman serta ditambah dengan begitu banyaknya ilmu yang dapat digali di Jerman, maka impian menjadi seperti Pak Habibie pun bukan menjadi mimpi belaka lagi. 


Tulisan ini dibuat oleh Dinaroe, mahasiswa asal Aceh di Jerman dan menjabat sebagai sekretaris Bidang Seni dan Olahraga Ikatan Mahasiswa Aceh Jerman (IMAN). Dikutip dari tulisan aslinya: Impian menjadi Habibie

Close