Category

Travelling

Article, My Story, My Thought, Travelling

Urgensi soft skill dan hard skill dalam pergaulan

Salah seorang tetangga saya ― sekitar 10 tahun lalu ― pernah mengatakan, “belajarlah main gitar, nanti itu akan berikan banyak manfaat untuk pergaulan kamu”. Dulu, saya tidak begitu mengerti maksudnya. Sejauh apa yang saya pahami adalah ― melihat lingkungan sekitar ― mereka yang pandai memainkan alat musik tersebut lebih mudah berbaur dan berinteraksi dalam lingkungan sosialnya.

[dropcap style=”flat”]K[/dropcap]ala itu saya meng-iya-kan ucapan beliau. Saya belajar gitar dan sampai beberapa tahun kemudian saya mampu menguasai beberapa teknik dan bahkan pernah ‘manggung’ untuk menunjukkan kebolehan dalam bermain gitar. Beberapa video saya bermain gitar bisa dilihat disini: 1. Kehilangan, Judika 2. To be with you, Mr. Big

Pergaulan membutuhkan social intelligence, sebuah istilah yang oleh Sean Foleno diartikan sebagai “person’s competence to understand his or her environment optimally and react appropriately for socially successful conduct”. Kehidupan erat hubungannya dengan interaksi sosial, sebagaimana Edward Thorndike, seorang psikolog kenamaan Amerika, yang pertama kali menjelaskan pengertian kecerdasan sosial pada tahun 1920 yaitu “the ability to understand and manage men and women, boys and girls, to act wisely in human relations”. Sehingga kita bisa pahami bahwa memang orang yang peka terhadap lingkungan dapat lebih sukses dalam hidupnya. Jika sebelumnya Anda mengenal interpersonal competency maka istilah tersebut equivalent dengan social intelligence. (Wikipedia).

Intercultural friendship - foto bersama teman-teman di Jerman

Saya menuliskan tentang ini setelah sebelumnya di Facebook saya memposting desain spanduk yang saya buat untuk salah seorang teman. Dari sana saya terbawa ke masa yang saya terangkan di atas, dan beberapa masa kemudian dalam rangka refleksi bagaimana social intelligence telah membawa pengaruh yang signifikan dalam hidup saya.

Tidak jarang kita temui bahwa sebagian besar orang sangat ‘melejit’ dalam kehidupannya, sementara di beberapa kasus sebagian yang lain tampak ‘gamang’. Mereka yang ‘lincah’ sering diasosiakan dengan naluri alamiah yang dianggap mereka dapatkan sejak lahir, tidak jarang juga dihubungkan dengan usia. Sejatinya usia bukanlah ukuran kedewasaan dimana manusia sudah bisa mandiri dalam kehidupan sosialnya, ada juga orang-orang yang bahkan di umur ­quarter life masih belum bisa deal dengan lingkungan sosial. Melalui artikel ini saya ingin berbagi wawasan dan pengalaman hidup tentang dua hal yang akan menunjang Anda dalam social interaction, yaitu ­soft skill dan hard skill.

Memahami dan menguasai soft skill

Apa itu ­soft skill dan hard skill? Istilah bahasa Inggris ini memiliki pengertian personal attributes that enable someone to interact effectively and harmoniously with other people. Sesuatu yang melekat pada diri seseorang yang membuatnya mampu berinteraksi secara efektif dan harmonis dengan orang lain. Hal apa saja yang termasuk soft skill, Wikipedia menyebutkan bahwa diantaranya adalah personality traits, social graces, communication, language, personal habits, friendliness, managing people, leadership, etc. Soft skill juga diidentifikasi sebagai EQ (Emotional Intelligence Quotient), keterampilan ini berbeda dengan hard skill yang umumnya mudah diukur dan dikuantifikasi seperti contohnya pengetahuan dan keterampilan melakukan suatu hal. (Wikipedia). Bermain gitar termasuk dalam kategori hard skill.

Soft skill itu ― seperti yang dijelaskan di atas ― adalah karakter kepribadian. Orang dengan kepribadian seperti apakah yang dapat sukses dalam pergaulan? Sebelum lebih lanjut, mungkin ada baiknya juga Anda mengetahui tipe kepribadian Anda. Ada tiga tipe kepribadian manusia: introvert, extrovert dan ambievert. Orang dengan karaker introvert cenderung menutup diri dari dunia luar. Mereka tidak menyukai kegiatan soliter dan tidak nyaman dengan pertemuan dan kegiatan sosial. Sedangkan extrovert adalah kebalikan introvert, mereka lebih cenderung membuka diri terhadap dunia luar. Suka keramaian, interaksi dan aktivitas sosial. Mereka tidak suka dengan kesendirian, namun biasanya memiliki antusiasme yang tinggi, mudah bergaul dan aktif. Yang terakhir adalah ambievert, adalah gabungan dari kedua karakter sebelumnya. Mereka nyaman dengan interaksi sosial dan tidak bermasalah dengan kesendirian. Saya sepertinya termasuk tipe ambievert. (Anda bisa Googling untuk tahu lebih banyak mengenai ini).

Di dalam kehidupan kita menemui berbagai orang dengan beragam karakter, sikap dan tingkah laku. Jika kita ingin berhasil, satu-satunya cara adalah dengan membaur. Namun ada hal yang perlu diperhatikan bahwa Anda seyogiyanya tetap menjadi diri sendiri. Seperti ikan, yang tidak asin sekalipun ia hidup di air asin. Sudah menjadi fakta umum bahwa orang yang luas pergaulannya dan baik komunikasi sosialnya lebih sukses dibanding rata-rata orang lainnya. Keluarlah dari posisi nyaman Anda, beranilah untuk mengahadapi tantangan yang diberikan oleh lingkungan. Tidak bisa tidak, mau tidak mau, Anda harus berlatih untuk itu. Beruntunglah jika mungkin membaca ini Anda masih pelajar ataupun mahasiswa, karena Anda masih punya kesempatan untuk berbenah diri. Dunia kerja dan kehidupan paska studi lebih kejam jika Anda tidak pandai bersosialisasi.

Jujur, dulunya saya tidak memiliki soft skill yang baik. Namun segera saya menyadari bahwa jika begini saja, maka jarak saya dengan sukses akan tetap lebar ― saya akan bawa Anda untuk merefleksi apa yang saya lakukan untuk memperbaikinya sejak masa kuliah. Periode studi ini saya manfaatkan dengan aktif berorganisasi. (Bisa dibaca jawaban wawancara saya tentang manfaat berorganisasi: Wawancara tokoh inspiratif). Berorganisasi akan membiasakan kita untuk berkomunikasi dengan orang lain, paling tidak sesama pengurus organisasi. Hal ini memang membutuhkan adaptasi dan semua orang mengalami masa yang tidak singkat untuk hal ini, maka Anda pun demikian hanya perlu untuk kuat-kuat bertahan jika mungkin banyak karakter orang dan hal-hal yang membuat Anda kurang nyaman. Tantangan Anda adalah untuk beradaptasi dengan baik, pertama sekali bacalah karakter diri Anda, apa yang bermasalah ataupun kurang dari Anda. Fikirkan bagaimana Anda bisa diterima ditengah-tengah pergaulan, karakter Anda seperti apakah yang membuat Anda dapat diterima oleh orang lain. Saran saya cobalah tumbuhkan empati dalam diri Anda, yaitu kemampuan memahami orang lain.  Memahami perasaan, fikiran, menghargai pribadi, akan membuat Anda diterima oleh mereka. Anda harus memiliki pendirian dan fleksibilitas. Kelemahan lainnya mungkin Anda tidak berani berbicara di depan publik, kurang pandai mengolah bahasa yang menarik, tidak percaya diri berada satu forum dengan banyak orang dsb. Dengan berorganisasi maka Anda akan terbiasa untuk melakukan itu semua. Organisasi merupakah ruang belajar soft skill yang baik.

Ada quote yang menarik dari Bill Cosby, “I don’t know the key to success, but the key to failure is trying to please everybody”. Anda tidak mungkin bisa menyenangkan atau membuat semua orang tertarik kepada Anda, dan memberikan upaya yang besar pada hal tersebut hanyalah sia-sia. Tetaplah tampil dengan karakter baik, kerja dan komitmen yang Anda punya. Konsistensi yang Anda lakukan akan melahirkan apresiasi. Ayah saya pernah mengatakan, “sebanyak itu yang suka, sebanyak itu pula yang benci”. Jadilah diri sendiri, namun humanis dan bersahabat.

Ramah dan humoris - bersama teman-teman di Jerman

Berorganisasi juga mengajarkan saya bagaimana bekerja dalam tim. Soft skill ini tidak kalah pentingnya. Mengkomunikasikan ide, menyelaraskan tujuan, meraih target bersama dsb menuntut Anda untuk mampu memahami satu sama lain. Anda hidup di dunia dan berkomunikasi dengan manusia, sederhananya, Anda membutuhkan orang lain untuk mewujudkan ide brilian yang Anda punya. Bagaimana jika Anda tidak pandai mengkomunikasikannya? Anda seorang pakar teknologi, tidak selamanya Anda berbicara dengan rangkaian alat elektronik dan robot, Anda butuh berkomunikasi dengan orang lain untuk mewujudkan inovasi Anda, atau mungkin untuk meyakinkan investor agar berinvestasi pada riset Anda. Terlebih sekarang mulai trend istilah co-founder, co-worker dan alike. Waktu saya di Filipina, saya dikenalkan pada co-lab, dimana orang-orang berkumpul dan mengagas kerja-kerja yang dilakukan bersama. Disana kemampuan Anda untuk mengelola manusia dan kepemimpinan Anda akan diasah. Selain itu, hal ini juga akan membantu Anda untuk mendapatkan soft skill kemampuan memecahkan masalah, berfikir kritis, bernegoisasi, resolusi konflik, menciptakan pengaruh, mengajak dan mengarahkan orang lain dsb. Dunia dewasa ini sudah sangat paham pentingnya kerjasama, dan organisasi adalah kebutuhan manusia modern.

Kegiatan lainnya yang saya lakukan adalah menjadi volunteer. Saat ini banyak bermunculan gerakan aksi dan kerja sosial, Anda dapat bergabung disana untuk berinteraksi dengan mereka. Hal ini akan memperluas wawasan, jaringan perkenalan dan bahkan bermanfaat untuk jaringan profesional Anda. Anda tidak mesti berteman hanya dengan mereka yang sama fikiran dan kecenderungan dengan Anda. Bagaimana Anda bisa menjalin hubungan baik dengan berbagai ragam tipe orang akan membuat kualitas soft skill Anda semakin tinggi. Sikap saling menghargai wajib dijunjung tinggi dalam hal ini. Privacy  juga menjadi hal yang Anda bisa mengerti. Salah seorang teman saya orang Jerman contohnya, ia tidak mengatakan tidak menyukai profilnya tampil di internet ketika saya meminta ia untuk menuliskan testimony tentang saya. Tentu hal ini harus saya hormati, dan kami tetap berkomunikasi aktif sampai saat ini via email. Anda tidak bisa dan tidak elok untuk terlalu memaksakan kehendak kepada orang lain. Dalam sebuah kerja tim di Filipina contohnya, saya memiliki anggota dari beberapa Negara seperti Bostwana, Canada, Brunei, Indonesia dan Vietnam. Ketika kami merembukkan ide apa yang akan kami angkat, setiap orang memilki pandangan tersendiri. Beberapa telihat ngotot, namun kami tahu, hal yang kami lakukan haruslah berdiskusi dengan dingin dan menghargai setiap masukan, lalu menyepakati yang terbaik. Dengan demikian tujuan bersama dapat tercapai.

Pertukaran pelajar juga bisa menjadi hal sangat penting untuk Anda pertimbangkan. Saya mengikuti intercultural student exchange beberapa kali dengan mahasiswa asing dan Indonesia dari berbagai daerah yang dilaksanakan di dalam dan di luar negeri. Ini bahkan lebih menantang dari yang Anda takutkan, bagaimana Anda bisa berbaur, bertukar fikiran dan bekerjasama dengan orang yang sama sekali berbeda. Belum lagi kendala bahasa, ingat bahasa juga merupakan soft skill, maka perlu kiranya untuk membekali diri sebaik mungkin. Kita hidup di zaman globalisasi, Anda akan hanyut jika tidak mampu menyelam di dalamnya.

Travel backpacker juga bisa menjadi latihan bagi Anda. Jauh di negeri yang mungkin tidak seorang pun Anda kenal membuat Anda tidak punya pilihan selain berkomunikasi dengan orang lain dan menghadapi berbagai macam karakter manusia ― beberapa mungkin sangat aneh dan Anda tidak bisa memaksa mereka sesuai keinginan Anda. Saya bisa survive berjalan ke daerah-daerah di Indonesia dengan modal komunikasi yang baik, berkeliling di Jakarta, Jogjakarta dsb, bahkan menetap dalam waktu yang cukup lama. Bahkan juga saya mampu melakukan perjalanan ke luar negeri seorang diri, Singapura, Malaysia, Filipina dsb tanpa mengalami hambatan yang berarti (Alhamdulillah), terutama karena saya mengembangkan soft skill komunikasi dalam diri saya.

Sebuah nasihat bijak dari seorang teman saya mengatakan, “diluar sana terdapat banyak dan sangat banyak orang yang lebih pintar dan lebih hebat daripada kita, namun tidak semua orang memiliki sikap yang baik dan bersahaja”. Perhatikanlah bahwa orang dengan soft skill yang baik lebih cendrung disenangi banyak orang. Soft skill bisa menjadi pembeda karakter Anda, maka dari itu memilki soft skill yang baik adalah keuntungan.

Memahami dan menguasi hard-skill

Hard skill bisa juga diartikan sebagai job skill atau occupation. Keterampilan seperti menulis, matematika, melukis, membuat pernak-pernik, mahir pemograman komputer, microsoft office ataupun software, menginstal laptop atau bahkan memasak, dan mungkin juga menjahit dan membuat boneka, juga termasuk dalam kelompok ini.

Skill ini akan menjadi nilai plus Anda dalam pergaulan, atau bahkan untuk kehidupan Anda sesungguhnya. Karena jika dikelola dengan baik maka tidak menutup kemungkinan itu akan menjadi sumber pendapatan bagi Anda. Dalam sebuah buku yang diberikan oleh teman saya berjudul “one person multiple career”, dijelaskan bahwa mempunyai additional skill  dipandang sudah merupakan keharusan di zaman ini. Memilki keterampilan yang banyak bukan merupakan suatu yang mustahil, sebagaimana nyatanya seseorang bisa memilki lebih dari satu karir.

Dalam pergaulan dan pertemanan yang baik, pihak yang ada di dalamnya haruslah mampu saling berbagi manfaat. Saya tipe orang yang suka berkolaborasi dengan orang lain, seperti membuat project bersama tentang suatu hal. Bayangkan dalam pergaulan Anda tersedia orang-orang dengan kemampuan yang dibutuhkan, tentu apa yang Anda rencakan dapat lebih mudah terwujud. Dari sanalah, selalu dalam pergaulan saya akan mencari tahu lebih banyak mengenai teman-teman saya. Saya percaya semua orang punya potensi dan keahlian. Berteman bagi saya tidak sekedar ‘kenal’, saya harus tahu ‘kurang’ dan ‘lebihnya’ karena dengan begitu saya bisa saling mendukung, saling mengisi dan saling berbagi.

Ilustrasi bekerja salam tim - foto bersama dengan teman-teman di Jerman

Bagaimana caranya memiliki hard skill? Ada beberapa cara yang Anda bisa tempuh untuk hal tersebut. Namun pertama yang harus Anda ketahui adalah Anda akan lebih mudah untuk menguasai sesuatu hal jika Anda mencintai hal tersebut. Coba fikirkan apa yang Anda sukai, ataupun Anda fikir sangat perlu untuk Anda kuasai demi menunjang kehidupan masa depan, atau mungkin kuliah yang Anda jalani saat ini, tuntutan pekerjaan Anda nantinya dsb.

Saat ini sudah banyak lembaga kursus keterampilan baik yang diselenggarakan oleh pemerintah ataupun swasta. Anda hanya perlu giat mencari tahu. Saya pernah mengikuti PKBM tentang keterampilan membuat souvenir dan sablon yang diselenggarakan oleh pemerintah bekerja sama dengan pihak swasta. Keterampilan seperti ini, mungkin bagi sebagian orang dianggap remeh. Tetapi sungguh kejelian kita memanfaatkannya yang akan membuatnya berbeda. Tidak hanya bisa ditransformasikan menjadi bernilai ekonomis, tetapi juga bernilai sosial. Anda bisa menjadi orang yang sangat bermanfaat dalam pergaulan jika misalnya Anda dapat membantu teman-teman yang tidak pandai dalam suatu hal. Dengan begitu Anda akan menjadi pribadi yang disenangi. Ini yang saya sebut sebagai pentingnya hard skill dalam pergaulan.

Kemampuan membaca trend perkembangan karir dan masa depan juga dapat membantu Anda. 10-15 tahun lalu misalnya di saat computer mulai booming, sebagian besar orang tidak tertarik karena tidak mampu melihat masa depan teknologi ini, namun sebagian yang lain dengan cerdas memahaminya dan mengambil langkah-langkah untuk belajar, sepertinya misalnya mengikuti kursus mengetik, kursus perbaikan komputer dsb, sampai pada masanya komputer sudah semakin berkembang dan orang-orang baru mulai tersadar, nah dia sudah lebih dahulu menguasai hal tersebut. Tentu ini akan menjadi percepatan bagi Anda untuk sukses dalam kehidupan berbekal skill.

Anda juga bisa belajar otodidak. Saya contohnya berfikir bahwa keterampilan desain grafis sangat bagus untuk saya pelajari. Dan akhirnya saya memutuskan untuk mulai belajar, saya menyempatkan mempelajarinya disela-sela waktu luang, di masa liburan dsb. Ternyata keahlian ini sangat bermanfaat, terutamanya untuk keperluan pribadi saya. Desain foto, buku, spanduk tidak lagi saya upahkan ke orang lain. Saya bahkan juga bisa menghasilkan uang dari skill ini. Dan otomatis dalam pergaulan banyak teman yang mendapat manfaat dari keterampilan saya ini, saya dapat membantu mereka terkait keperluan desain. Bahkan di organisasi yang saya ikuti, saya mampu memberikan banyak sumbangsih dalam hal publikasi kegiatan yang membutuhkan desain grafis. Saya diingat dan dikenal sebagai orang yang mahir dalam bidang ini. Hal itu secara tidak langsung menegaskan posisi Anda dalam pergaulan sosial.

Cara lainnya adalah dengan begabung ke komunitas hobi. Sebagian orang senang berbagi dan memperluas pengetahuannya dengan berkumpul di komunitas hobi tertentu. Apalagi saat ini komunitas semacam itu tumbuh subur. Tidak hanya di dunia nyata tetapi juga di dunia maya. Jika Anda, misalnya, adalah penggiat pemograman website, maka Anda tinggal temukan informasi megenai keberadaan komunitas tersebut. Ruang seperti itu memberikan sumber daya yang luas untuk pengembangan keahlian dan kehidupan sosial Anda. Jika mungkin Anda adalah blogger, ratusan bahkan ribuan komunitas blogger sudah berkembang pada saat ini. Selain menambah ilmu, juga akan menambah jaringan perkenalan dan profesional.

Saya contohnya, juga menguasai hard skill WordPress. Sebuah Content Management System (CMS) untuk pembuatan website. Visi mendorong saya untuk membuat sebuah media publikasi. Lagi, saya belajar otodidak dan bergabung dengan komunitas WordPress untuk belajar dan sharing mengenai ilmu tersebut. Dan otomatis di sisi lainnya orang-orang yang berada di lingkungan saya mendapatkan manfaat dari skill saya ini. Di dunia teknologi saat ini sepertinya tidak ada lagi alasan untuk kita tidak bisa belajar mengenai sesuatu hal. Banyak informasi yang kita bisa dapatkan dan pelajari asal ada kemauan.

Memiliki hard skill adalah kelebihan yang akan menunjukkan kualitas diri dan meninggikan selling-point pribadi Anda. Namun, sehebat apapun hard-skil yang Anda punya, Anda tetap butuh berkomunikasi untuk marketingnya. Maka dari itu, sebuah kombinasi ­soft dan hard skill akan membuat Anda benar-benar diperhitungkan dalam kehidupan ini.

Jakarta, 24 Februari 2015

Indonesia negeri impian orang Jerman
Article, Re-blogged, Travelling

Indonesia, negeri impian orang Jerman

[dropcap style=”flat”]B[/dropcap]eberapa bulan lalu, saya pernah diwawancara oleh Gagasan seputar pengalaman saya berkunjung ke Jerman dalam rangka Summer School. Hasil dari wawancara ini kemudian dipublikasikan dalam Majalah Gagasan edisi 97. Liputannya dalam dilihat di Gagasan.co dan Independentpku.com.

Jerman negeri impian: dipublikasikan di majalah Gagasan edisi 97

Hari ini, ketika googling saya ketikkan “Jerman negeri impian”. Hasil pencarian menunjukkan tulisan hasil wawancara saya tersebut di beberapa media online di atas. Namun ada hal yang menarik kita di salah satu hasil pencarian saya temui tulisan dengan judul “Indonesia, negeri impian orang Jerman”. Judul ini kontras dengan judul hasil wawancara tentang saya.

Ternyata orang Jerman melirik manis untuk tinggal di Indonesia, salah satu komentar di tulisan tersebut mengatakan “Rumput tetangga emang selalu lebih hijau dibandingkan rumput halaman sendiri.. Orang luar negeri pengen tinggal di Indonesia, eh kita malah pengen keluar negeri.. hehehe”. Saya ingin menegaskan bahwa apapun ceritanya cinta tertinggi saya adalah Indonesia, disini saya lahir dan dibesarkan. Namun mengapa saya tertarik dengan Jerman? Jerman adalah negara maju di Eropa, ketertarikan saya lebih kepada eksplorasi ilmu pengetahuan, wawasan dan pengalaman. Saya ingin menggali ilmu kemajuan Jerman agar dapat membuka mata saya akan harapan Indonesia bisa menjadi negara maju, yang bahkan bisa lebih hebat dari Jerman.

Tulisan denga judul “Indonesia, negeri impian orang Jerman” adalah milik seorang Kompasianer bernama Gaganawati. Tulisan aslinya dapat dibacara disini. Karena menarik, akhirnya saya reblog ke website saya dan berikut tulisannya.

Indonesia, negeri impian orang Jerman

Beberapa kawan Kompasianer pernah mengirim inbox kepada saya agar bisa tinggal, kerja atau hidup di Jerman. Supaya hidup lebih hidup. Padahal saya sendiri ingin lebih memilih berada di Tanah Air, jika kondisi memungkinkan.

Indonesia, negeri impian? Ternyata tidak hanya pikiran saya. Buktinya, banyak pengunjung di museum tempat memamerkan foto Kampret-Kompasianer hobi jepret yang menyorot keindahan alam dan budaya Indonesia, berdecak kagum dan meluncur keinginan untuk kembali berlibur ke Indonesia atau pensiun di sana. Negeri khayalan di kayangan.

Indonesia negeri impian orang Jerman

Bagaimana dengan Kompasianer? Setuju kalau Indonesia itu sebuah negeri impian? Mari mengacungkan jari tinggi-tinggi!

Anak disabilitas pun diajak ke pameran

Sabtu, 19 Oktober 2013. Kami membuka museum khusus untuk kawan-kawan suami yang berasal dari Rumania (tinggal lama di Jerman) dan orang lokal (Jerman). Mereka ini tinggal agak jauh dari Seitingen-Oberflacht. Paling tidak, butuh satu jam-an mengendarai mobil.

Seperti pesan lesan dari pihak museum dan pemda, kami boleh menyelenggarakan Sonder Austellung, pameran spesial (tidak hanya hari minggu, jadwal standar). Sebanyak 37 tamu hadir. Usai minum kopi/teh, ditemani kue atau di Jerman dikenal dengan Kaffe trinken, acara pun dimulai.

Mula-mula suami saya membuka dengan menceritakan pengalamannya hidup di Semarang dan keliling Indonesia. Saya meneruskan dengan tarian Jawa modern, Abyor. Tarian yang tak kalah seksi dibanding tari perut Arab tapi tak maxi, hanya 5 menit digelar di depan mereka.

Tepuk tangan hadirin membuat saya yakin bahwa sekolah-sekolah di Indonesia harus tetap memberikan pelajaran menari (daerah) di sekolah, seperti yang saya dapat sewaktu TK-SMA. Ini bekal saya menjadi duta Indonesia (mengangkat diri sendiri, daripada tidak ada yang menunjuk) ketika berada di mancanegara. Asli!

Selanjutnya, kami berdua menerangkan gambar-gambar jepretan Kampret, satu per satu.

Oh… dari 37 tamu, salah satunya adalah seorang anak muda berumur 25 tahun. Ia cacat sejak umur 5 tahun (saat itu ia tenggelam dan otaknya kemasukan air). Semenjak itulah, ia hanya bisa mengerang, tergolek, dan duduk. Kata orang tuanya yang begitu sabar merawat dalam segala suasana dan di mana pun berada selalu membawanya, mereka ini yakin bahwa si anak yang divonis tidak normal itu mengerti penjelasan pameran, dan bermanfaat untuknya.

Indonesia, negeri impian!

Minggu, 20 Oktober 2013. Satu jam sejak pukul 13.00, tidak ada seorang pun yang datang. Kami bertujuh menanti dengan sabar. Barangkali karena hujan turun deras, orang enggan datang. Lebih enak menarik selimut.

Pukul 14.00, tamu mulai memasuki museum. Lambat laun semakin banyak. Saya sapa beberapa dari mereka dan sedikit menerangkan tentang museum dan gambar yang ada.

Perbincangan semakin menarik ketika beberapa dari mereka mengatakan sudah pernah ke Indonesia. Backpacker! Sudah banyak yang mereka lihat. Sebabnya, mereka tidak bersama grup tetapi dengan angkutan dan rencana seadanya, tanpa guide tanpa travel agency.

Adalah Herr dan Frau S dari Durch Hausen. Mereka bahkan mengaku tuman alias mau datang lagi ke Indonesia karenanya. Mereka mengadakan perjalanan dari Ujung Kulon sampai Flores. Papua adalah pulau yang ingin mereka capai berikutnya. Terima kasih, mas Dhave Dhanang untuk jepretan unik di Baliem!

Ada tamu lain yang ke Indonesia, usai diimingi cerita heboh teman dari liburan di Asia, Thailand dan akhirnya terwujud, pergi ke Asia, Indonesia lewat tabungan bertahun-tahun lamanya. Enam minggu di sana.

Sepasang suami-istri lainnya, seumuran 60-an, bahkan mengatakan sedang memikirkan jalan untuk tinggal di negeri kita segera sesudah istri pensiun beberapa tahun lagi. Pengalaman terdahulu berlibur ke Tanah Air (dari Sumatera sampai NTT), sungguh membuat bayangan negeri kayangan selalu di pelupuk mata. Itu letaknya di Indonesia! Thanks to Kampret atas foto pasangan dari Pulau Nias!

Seorang kawan aerobik yang pernah dua minggu holiday di Bali, mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Ia bahkan memeluk dan mencium saya dua kali (di pipi). Katanya, pameran ini mengingatkan memori indah bersama negeri kita dengan pasir putih, ramah tamah orang-orangnya, makanan yang sedap dan budaya yang luar biasa adi luhungnya. Itu, baru Bali… belum Kalimantan, Jawa, Sumatera, Papua dan pulau-pulau kecil lainnya, sahabat ….

Demikian laporan pandangan mata untuk sementara, berkaitan dengan pameran foto Kampret yang kali ini diselenggarakan di Jerman hingga penutupan tanggal 27 Oktober 2013 (masih seminggu lagi). Bukan event besar tapi sungguh memberikantolle Eindrück, kesan yang dahsyat (itu kata orang Jerman, lho).

So, so, so… jika orang Jerman (yang majemuk, dari berbagai negeri EU alias banyak pendatang bukan orang Jerman asli) sendiri mengatakan bahwa Indonesia adalah negeri impian, saya yakin kita sebagai orang Indonesia, memiliki rasa mencintai dan memiliki yang lebih dari para turis yang jauh-jauh datang ke negeri kita untuk menikmati keindahan kharisma katulistiwa. Tak hanya kena imbas westernisasi tetapi juga nasionalis, terpatri dalam diri. Bukankah Indonesia milik bangsa Indonesia sendiri?

Berada di Negeri rantau, saya semakin setuju atas opini orang Jerman ini. Ya, ada sebuah negeri impian yang tak kan terlupakan, yakni… Indonesia! Salam ACI (Aku cinta Indonesia). Selamat malam! (G76)

DI Kedubes Jerman
Article, My Story, Travelling

Cerita Ibu kota: Dari dilema Kedubes Jerman hingga ketemu sesepuh HMI

[dropcap style=”light”]H[/dropcap]ari ini diawali dengan sepotong roti dan segelas teh panas. Sekedar makan untuk mengganjal perut. Sekitar jam 6 pagi perjalanan dimulai dari kediaman Ibu Lily (Dosen pendamping Jerman) di kawasan Cempaka Putih Timur. Tujuan pertama adalah ke UIN Jakarta, berhubung Ibu Lily adalah Pembantu Dekan bidang akademik di fak. teknik dan beliau mengejar waktu untuk menghadiri rapat dekanat pada pukul 8 nanti.

DI Kedubes Jerman

Setiba di UIN Jakarta, kami harus menunggu beliau hingga selesai rapat pukul 10 wib. Sekitar pukul 11 kami berangkat menuju Kedubes Jerman yang berlokasi di sekitar kawasan bundaran HI. Sementara appointment ke Kedubes pada pukul 1, maklum kondisi macet di Jakarta mengharuskan kita berangkat lebih awal. Ternyata kondisi jalanan belum begitu macet sehingga kami tiba lebih awal dan harus menunggu.

Ada hal yang memperihatinkan ketika pengurusan visa. Kami baru diperbolehkan masuk sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan (sesuai email). Menurut saya, adalah perlakuan tidak terhormat bahwa semua pengunjung keduber harus antri dibalike tembok besi nan tinggi lagi tebal, tanpa tempat duduk dan atap (disamping jalan raya). Ternyata hal ini berlaku untuk semu kalangan. Dan pengunjung tidak diperbolehkan masuk sebelum waktunya. Setelah cukup lama menunggu, sampailah pada giliran kami memasuki gedung kedubes melaui pintu kecil diantara pagar besar. Setelah melalui pintu tersebut, kami sampai pada pos pemeriksaan. Seluruh electronic devices harus dititip ke petugas, kami diberikan Id yg dìgantungkan di leher. Setelah melalui itu barulah kami dipersilahkan naik ke gedung utama.

Sampai di ruang pengurusan visa, kami disambut oleh puluhan orang yg sudah cukup lama mengantri. Ada pengumuman tertempel yg mengatakan bahwa syarat yg tidak lengkap tidak akan dilayani. Diantara sejumlah syarat, ada satu syarat yang sering menjadi masalah: yakni bukti laporan keuangan (ditunjukkan dengan bukti rekening bank dalam tiga bulan terakhir. Setiap orang yang hendak ke Jerman harus memiliki sejumlah saldo lebih kurang 75 Euro dikali jumlah hari berada di Jerman dan catatan keuangan harus diinilai “stabil”, berarti ada pemasukan dan transaksi yang signifikan. Tentu saja ini cukup memberatkan. Jika tidak mencukupi, maka mereka tidak akan mengeluarkan visa. Sebenarnya ada beberapa alasan mengapa pihak Jerman memberlakukan ini, diantaranya adalah untuk sebagai jaminan agar nanti jika terjadi hal buruk maka dana tersebut dapat digunakan sehingga tidak menyusahkan pihak Jerman dan menghindari para pendatang terlantar di Jerman. Kami sempat mendiskusikan ini, sempat kami dapat salah satu analisa bahwa hanya orang kaya lah yang bisa ke luar negeri. Dan saya bukan orang kaya, saya hanya pandai-pandai dan diberikan keberuntungan oleh Allah Swt.

Pihak Kedubes ternyata sangat ketak dan tidak mentorelir kesalahan apapun. Saat itu ada bebera orang teman yg mengalami masalah ini, sehingga besok pagi harus datang kembali untuk melengkapi persyaratan. Singkat, kami selesai pukul 4 wib sebagai orang terakhir yang dilayani pada hari itu.

Setelah dari kedubes, kami dibawa makan dan ngumpul di kawasan menteng jalan Besuki daerah Sekolah Dasar di mana dahulunya Presiden USA Barack Husein Obama pernah belajar. Wah saya merasa cukup berkesan berada di sana.

Pukul jam 6 kami mulai jalan pulang, ternyata saya dibawa singgah ke rumah ayahanda Ibu Lily, yakni Bapak Khairunnas. Dalam obrolah saya dengan keluarga yang ramah itu, bapak Khairunnas bercerita bahwa dia dahulunya adalah ketua umum HMI Cabang Jakarta. Beliau dahulu yang memberikan training pada beberapa tokoh besar saat ini seperti Akbar Tandjung, Jimly Assiddiqie dan beberapa lainnya. Beliau juga pembesar HMI saat ini yang masih aktif memperhatikan HMI bersama tokoh-tokoh lainnya. Kami bercerita mengenai HMI di masa beliau dan peran dan fungsi strategis yang beliau mainkan ketika itu, terutama pada sekitar zaman G30SPKI. Beliau juga bercerita mengenai peran beliau dalam pembangunan Graha Insan Cita milik HMI, dan pendirian yayasan terkait HMI. Beliau juga sempat bercerita mengenai kantor PB HMI yang berlokasi di kawasan menteng. Gedung bersejarah itu akan dijual oleh pemiliknya (HMI hanya mempunya sepertiga gedung). Beliau mengatakan akan membantu pengambil alihan gedung sehingga bisa dimili seutuhnya oleh HMI.

Selain cerita HMI, beliau juga bercerita bahwa dulu beliau melanjutkan kuliah di Jepang. Dan beliau sangat mengapresiasi keberangkatan kami ke Jerman. Beliau juga bercerita tentang pengalaman beliau ketika di Jerman (eh ternyata sudah pernah toh), maklum kakanda ini sudah menjelajah dunia.

Article, My Story, Travelling

Perjalanan impian

[quote cite=”Adhitya Fernando”]Saya belum puas, impian saya sebenarnya itu menjejakkan kaki di negara Eropa, Jerman. Dan lagi itu adalah keharusan. Sepulang dari Filipina saya langsung bergerak cepat mengolah segala kemungkinan untuk dapat ke Jerman. Saya manfaatkan sebaik-baiknya semangat dan kondisi prima saya mumpung impian baru terwujud. Alhamdulillah akhirnya pun pasport saya dapat stempel imigrasi dari Jerman. Saya sudah sampai di Jerman. Dan singgah ke beberapa negara Eropa lainnya seperti Belanda dan Belgia. Alangkah indahnya hidup ini. [/quote] Adhitya dan Emil

[dropcap size=”4″]S[/dropcap]Senang sekali sepertinya sahabatku Emil Fuadi (Uda Fuad Adja). Beliau malam ini sedang dalam perjalanan menuju daerah di ujung utara pulau Sumatera, Aceh, mengikuti kegiatan PMI (Palang Merah Indonesia). Tadi saya antar beliau ke terminal AKAP untuk selanjutnya berangkat menggunakan bus. Akhirnya keinginannya untuk mengembara kesampaian juga. Betapa riangnya dia saya saksikan berlari menuju bus. Ini adalah kisah yang cukup panjang untuk diurai.

Sahabat saya ini sebenarnya walau bangga dengan saya, tetapi juga ada rasa iri dan keinginan yang sama untuk dapat seperti saya berkelana ke berbegai tempat dan daerah di Indonesia bahkan dunia. Sudah tak terhitung lagi ia ungkapkan keinginannya tersebut dengan cara-cara bermacam ragam, mulai dari terus terang sampai bercanda merendah diri. Itu semangat positif. Sebut saja, sebelumnya saya sudah beberapa kali berhasil menginjakkan kaki di beberapa daerah di Indonesia. Sebelum berangkat malam ini, sahabat saya itu sempat berujar lagi bahwa perjalanannya tidak seperti saya yang sudah merambah manca negara. Saya tegaskan pada dia bahwa saya pun tidak langsung “jreeeng” terbang ke luar.

Saya mulai dari nol juga sahabat. Sebenarnya beliau juga tahu itu. Saya mulai dari mencoba merambah jalan ke event-event lokal di kawasan kampus pada masa-masa awal kuliah. Setelah itu merangsek naik ke arena lokal kota Pekanbaru. Saya giatkan lagi selanjutnya dapat kesempatan ke luar Pekanbaru, bahkan ke luar Riau tetapi masih di Sumatera. Saya tidak berhenti sampai disitu, saya niatkan lagi untuk keluar Sumatera. Akhirnya saya sampai di tanah Jawa. Adalah Himpunan Mahasiswa Islam yang pertama berhasil membawa saya berjalan-jalan di daerah Ibu Kota. Sampai sejauh itu, akses ke luar semakin banyak. Saya mulai semakin sering dapat kesempatan ke luar. Menjelajah ibu kota pun sudah hampir menjadi biasa.

Saya tidak berpuas diri, saya masih menyandang impian untuk ke luar negeri, itu adalah keharusan bagi saya. saya berusaha belajar banyak hal dan mencari tahu berbagai hal berkaitan kesempatan ke luar negeri, persiapan dan berbagai kelengkapan lainnya. Saya investasikan waktu khusus untuk ini. Saya mulai membuat pasport. Cari tahu info pengurusannya, harga dsb. Padalah belum tahu akan digunakan untuk kemana pasport tersebut. Tetapi saya percaya bahwa tugas kita adalah mempersiapkan segala sesuatunya, agar kelak saat kesempatan datang kita akan dengan segera dapat menangkapnya.

Alhasil gayung bersambut. Saya dapat kesempatan untuk menjelajah negara Asia yang sekarang sedang terkena musibah badai. Adalah Filipina negara yang pertama menjadi saksi terwujudnya impian saya. Saat ke Filipina saya dapat bonus mengunjungi Singapura dan berjalan-jalan disana untuk beberapa waktu. Sebuah negara kecil yang menjadi penguasa ekonomi Asia, “..red small dot“, Habibie memberi julukan pada negara yang cuma sebesar Jakarta tersebut. Singapura sepertinya agak kurang senang dengan kepemimpinan Habibie, banyak kepentingan negaranya yang terhambat oleh Habibie.

Saya belum puas, impian saya sebenarnya itu menjejakkan kaki di negara Eropa, Jerman. Dan lagi itu adalah keharusan. Sepulang dari Filipina saya langsung bergerak cepat mengolah segala kemungkinan untuk dapat ke Jerman. Saya manfaatkan sebaik-baiknya semangat dan kondisi prima saya mumpung impian baru terwujud. Alhamdulillah akhirnya pun pasport saya dapat stempel imigrasi dari Jerman. Saya sudah sampai di Jerman. Dan singgah ke beberapa negara Eropa lainnya seperti Belanda dan Belgia. Alangkah indahnya hidup ini. Saya makin bersemangat untuk mewujudkan impian-impian besar lainnya.

Saya ingin hidup dalam dunia impian yang menjadi nyata. Insya Allah saya akan terus bercerita tentang usaha-usaha saya dalam mewujudkan impian. Semoga menjadi hikmah dan pelajaran bagi generasi berikutnya untuk juga dapat semangat berusaha. Saya hampir lupa menceritakan tentang sahabat saya di atas.

Foto di atas adalah foto ketika saya dan sahabat saya berada di Telaga Dewi di puncak Gunung Singgalang. Saya seorang penjelajah dan petualang. Saya senang mencoba hal baru dan selalu bersemangat untuk itu. Teman-teman punya cerita dan keinginan apa? Boleh berbagi di komentar.

Sukses selalu untuk sahabat semuanya..aminn.

Close