Category

Re-blogged

Article, Re-blogged, Social & Politic

Prospek demokrasi elektoral

[dropcap style=”flat”]M[/dropcap]encermati hasil survei Indeks Demokrasi Global sangat mengejutkan pelbagai pihak. Betapa tidak, hasil survei lembaga kredibel Economist Intelligence Unit tahun 2010 menunjukkan Indonesia hanya berada di peringkat 60 dari 167 negara yang disurvei. Indonesia kalah dibandingkan Thailand (ke-57), Papua Nugini (ke-59), bahkan jauh tertinggal dibanding negara Timor Leste (ke-42). Menurut Burhanuddin Muhtadi dalam bukunya Perang Bintang 2014: Konstelasi dan Prediksi Pemilu dan Pilpres (2013), mengatakan Indeks demokrasi rendah disebabkan lemahnya variable  budaya politik, partisipasi, dan isu-isu kebebasan sipil. Kinerja pemerintah yang juga diwarnai praktik korupsi dan inefisiensi. Isu-isu toleransi, pluralisme juga menciderai prestasi. Fakta di atas menunjukkan, bahwa tahapan konsolidasi atau proses melamar demokrasi masih menemui jalan buntu dan tidak sebanding lurus dengan substansi demokrasi itu sendiri, meskipun secara virtualitas kita telah berada di panggung demokrasi terbuka selama empat belas tahun. Keberhasilan menggelar Pemilu secara langsung dua periode mulai 2004 dan 2009 setidaknya bisa dijadikan salah satu indikator mengukur keberhasilan demokrasi kita.

Mochammad Thoha

Namun, lagi-lagi muncul persoalan, bahwa praktik demokrasi yang berjalan masih menemui jalan buntu, terutama dalam hal memenuhi kualitas kesejahteraan, keadilan, toleransi dan penegakan hukum. Hal ini menjadikan praktik demokrasi yang kita jalankan masih menyisakan tanda tanya, karena sejak awal cita-cita demokrasi yang dicita-citakan the founding father bangsa adalah untuk  mewujudkan negeri yang baldatun thayyibatun  warabbun  ghafur,  yaitu  negeri  adil,  makmur  dan  sejahtera. Untuk itu, kita dituntut pula untuk terus melakukan resolusi dan perbaikan terhadap demokrasi yang di satu sisi masih gagal dalam menciptakan dan mewujudkan kesejahteraan dan keadilan untuk masyarakat. Dan yang tak kalah pentingnya juga adalah soal kepemimpinan dan penegakan hukum (rule of law) ke depan. Mohammad Hatta dalam bukunya Demokrasi Kita menegaskan bahwa cita-cita demokrasi dalam kalbu bangsa Indonesia bersumber dari tiga hal. Pertama, tradisi kolektivisme dari permusyawaratan desa. Kedua, ajaran Islam yang selalu menuntut kebenaran dan keadilan Ilahi dalam masyarakat serta persaudaraan antarmanusia sebagai makhluk Tuhan. Ketiga, paham sosial Barat yang selalu menarik perhatian para pemimpin pergerakan kebangsaan  karena  dasar-dasar  perikemanusiaan  yang  dibelanya dan menjadi tujuan.

Demokrasi yang sehat dan stabil, menjadi kensicayaan dan mutlak diperlukan dalam menjalankan roda kepemimpinan, terlebih saat ini sistem demokrasi yang sehat merupakan fondasi pokok dalam menggarungi pelbagai  persoalan bangsa terutama di bidang ekonomi, penegakan  hukum (rule  of  law), keadilan dan kesejahteraan rakyat. Jack Snyder dalam From Voting  Violance (2000), menegaskan untuk menciptakan demokrasi tidaklah mudah. Resep menuju demokrasi bukan hanya menyingkirkan penguasa otoriter maka datanglah demokrasi. Demokrasi membutuhkan prasyarat  seperti kondisi ekonomi tertentu, pengetahuan dan keterampilan politik para aktor  politik yang bermain dalam ruang demokrasi, tradisi rule of law, dan perlindungan  terhadap hak asasi manusia. Tetapi persoalannya adalah terletak pada pilar utama  demokrasi, yaitu partai politik semakin kehilangan kepercayaan akibat perilaku para politisi yang cenderung gamang alias ambigu dalam menakar persoalan apa yang dihadapi bangsa ini. Hal ini terlihat dari sikap elite politik yang hanya berorientasi  pada kekuasaan semata tidak  untuk kepentingan rakyat. Penegakan hukum di negeri ini masih menyisakan persoalan terutama ketika dihadapkan dengan kasus yang  kentara aroma politik. Prinsif equality before of law terkubur “melempem” ketika  kasus hukumnya mendera elite politik. Inilah  kendala terbesar dalam membangun demokrasi ke depan.

Kehendak Kolektif

Demokrasi yang kita jalankan saat ini adalah kehendak kolektif. Mendesain demokrasi yang sesuai kebutuhan dibutuhkan langkah yang progresif ke depan bagi lahirnya nilai-nilai kemanfaatan bersama (kolektif), yaitu keadilan dan kesejahteraan. Setidaknya ada empat hal membenahi demokrasi kita ke depan. Pertama,  pentingnya  kesadaran  masif  dari pelbagai pihak sebagai  kehendak  kolektif  membagun sistem demokrasi mestinya dimanivestasikan dalam bentuk kerja nyata yang konkret dengan mengedepankan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi atau kelompoknya. Kedua, penegakan hukum (rule of law) mestinya lebih diprioritaskan ke  depan karena  pada hakikatnya indikator demokrasi yang stabil, sehat ketika ada komitmen  bersama  dalam menegakan hukum. Dalam konteks ini penting bagi institusi penegak hukum membangun sinergi antarpenegak hukum, baik KPK Polri dan Kejaksaan. Alexis de Tocqueville dalam Democracy, Revolution, and Society, sebagaimana dikutip Zuhairi Misrawi (2011) dalam tulisannya “Mem-bumikan Empat Pilar” mengatakan, bahwa  akar-akar sosial lahirnya demokrasi bertujuan untuk menegakkan hukum (rule of law). Ketiga, menggugah kesadaran  kritis rakyat  dalam  melawan  penguasa yang saat ini cenderung menindas rakyat kecil. Artinya,  rakyat  sangat  berhak  menuntuk hak-haknya, karena dalam demokrasi rakyat adalah pemilik tunggal icon demokrasi “vox populi vox dei”. Paulo Freire mengutip Fransisco Weffers (2000) menegaskan  kekuasaan tanpa kesadaran kritis melawan penindasan yang dialami rakyat adalah keterancaman lumpuhnya nilai-nilai demokrasi. *****

*Oleh Mochammad Thoha

Mahasiswa Ilmu Politik FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ)
Sekjen Perhimpunan Pergerakan Mahasiswa Indonesia (PPMI)
Impian menjadi Habibie, Jerman
Article, Education, Re-blogged

Impian menjadi Habibie, Jerman

[dropcap]S[/dropcap]iapa yang tak mengenal sosok mantan presiden Indonesia B.J Habibie. Seorang pria yang lahir dari keluarga sederhana dari sebuah daerah di pelosok selatan pulau Sulawesi yang akhirnya menjadi seorang tekhnokrat ulung, handal dan ternama di Negara bertekhnologi tinggi Jerman. Tak pernah terbayangkan pula olehnya bahwa ia nantinya akan menjadi salah seorang dalam deretan pemimpin di Negara tempat ia dilahirkan, Indonesia.

Impian menjadi Habibie, Jerman

Habibie hanyalah seorang sosok pemuda biasa saat pertama sekali menjejakkan kaki di Jerman dan terdaftar sebagai salah satu mahasiswa di RWTH Aachen pada tahun 1955. Namun berkat keuletan dan kegigihannya, Habibie mampu menyelesaikan tidak hanya program Diplom ingeneur-ya saja (setara Master), bahkan mampu menyabet gelar Doctor ingeneur (setara Ph.D) dengan predikat summa cum laude (Istimewa).

Tapi kali ini saya tidak ingin bercerita lebih jauh tentang Pak Habibie. Saya hanya ingin berbagi cerita mengenai pengalaman menempuh pendidikan di Jerman, tempat dimana Pak Habibie dan banyak orang Indonesia serta peöajar Aceh lain yang menuntut ilmu disana.

Berkuliah di negeri orang sebenarnya tidaklah sesulit yang dibayangkan, bahkan banyak kemudahan yang dapat diperoleh guna memudahkan pelajar untuk hidup dan belajar di benua biru ini. Bukan hanya itu saja, bahkan setiap orang sebenarnya mempunyai kesempatan untuk merasakan pengalaman menuntut ilmu di negara bermusim empat ini, selama ia memiliki keinginan dan keyakinan yang kuat.

Biaya hidup

Sering banyak orang beranggapan bahwa biaya hidup diluar negeri sangatlah mahal dan tinggi. Hal ini tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah juga. Jika dibandingkan dengan biaya hidup diluar negeri lainnya, Jerman dapat dikategorikan termasuk kedalam negara yang memiliki living cost(biaya hidup) rendah. Bahkan untuk Eropa, Jerman dapat dikategorikan sebagai yang termurah.

Untuk kehidupan seorang mahasiswa rantau dengan pola hidup sederhana, 750 euro (sekitar 9 jutaan rupiah) sudah mampu untuk menghidupi seluruh biaya hidup selama 1 bulan.  Belum lagi dengan berbagai fasilitas dan kemudahan yang didapat para pemegang kartu mahasiswa, semakin membuat kehidupan pelajar di Jerman menjadi bertambah nyaman, mudah dan murah.

Untuk permasalahan tarnsportasi, dimana umunya mahasiswa di indonesia menggunakan motor atau kenderaan roda empat yang memakan biaya besar untuk perawatannya, maka hal ini tak menjadi soal di eropa. Sistem transportasi yang terintegrasi dan fasilitas semester ticket dengan harga yang sangat murah dan terjangkau, membuat para pelajar di Jerman memiliki kemudahan unutk menuju seluruh destinasi yang ingin dicapai guna menunjang aktivitas kuliahnya. Terkadang untuk beberapa negara bagian, bahkan tiket ini berlaku hingga keluar kota sehingga memudahkan mahasiswa untuk mengunjungi perpustakaan atau universitas di daerah lain. Sepeda pun dapat menjadi pilihan, selain lebih murah dan dapat pula menyehatkan badan.

Untuk urusan pangan tidaklah menjadi persoalan. Aldi, Liddle, Rewe dan beberapa supermarket berharga murah lainnya dapat menjadi pilihan surga berbelanja bagi kebutuhan dapur dan rumah tangga para mahasiswa rantau. Bagi yang ingin mencari produk halal, pertokoan turki, arab maupun toko china dapat menjadi salah satu tujuan belanja untuk membeli ayam, daging sapi, seafood maupun rempah-rempah nusantara. Bagi yang ingin menikmati menu vegetarian, sayur-sayur murah dapat dibeli di  flöhmarkt (pasar murah), yang juga menjual bahan-bahan murah lainnya.

Memasak sendiri tentu menjadi pilihan terbaik untuk menekan biaya konsumsi dibandingkan membeli makanan jadi yang umumnya dapat kita temukan di toko Döner Kebab atau Türkische Pizza. Selain itu Mensa (Kantin Mahasiswa) dapat juga menjadi tujuan untuk mendapatkan makanan murah ala mahasiswa. Namun, untuk menjaga kehalalan makanan, umumnya mahasiswa muslim lebih memilih memakan Spagethi atau menu vegetarian ataupun juga makanan laut yang tersedia. Hajatan baik dari KBRI/KJRI ataupun dari acara perkumpulan persaudaraan sebangsa maupun sesama muslim, terkadang menjadi bonus yang tak terduga dan hal yang selalu ditunggu untuk memungkinkan para makasiswa mendapatkan jamuan makan sehat dan lahap.

Berbicara mengenai kebutuhan sandang, Jerman juga merupakan destinasi yang tepat berbelanja murah bagi mahasiswa untuk mendapatkan pakaian dan alas kaki. Para mahasiswa dapat membeli baju dan celana serta sepatu dengan kualitas dan merek terbaik pada beberapa toko yang menawarkan harga murah, seperti: Deichman, KIK, Kardstadt dan lainnya. Bahkan saat pergantian musim, terkadang pusat-pusat perbelanjaan memberikan diskon yang mencengangkan guna menghabiskan produk mereka. Disebuah toko pakaian C&A misalnya, mereka bahkan pernah memberikan diskon hingga 70% untuk produk-produk baju berkualitas terbaik.

Untuk kebutuhan tempat tinggal, umumnya universitas di jerman memberikan fasilitasStudentenwohnheim (Apartemen Mahasiswa) yang dapat disewa dengan harga murah namun berfasilitas lengkap. Untuk sebuah Zimmer (kamar) di Leipzig seharga 160 euro (sekitar Rp. 1,9 jutaan), penghuni kamar telah mendapatkan kamar dengan full furniture, kamar mandi, internetunlimited, dan sudah termasuk biaya listrik, air dan gas untuk Heizung (pemanas ruangan). Jikapun mahasiswa ingin menyewa apartemen pribadi bersama beberapa teman lainnya, pemerintah kota terkadang memberikan bantuan wohngeld (Uang rumah) untuk mensubsidi biaya sewa rumah dari para mahasiswa yang terkadang mencapai 40% nya.

Ibarat gayung bersambut, mengerti akan kebutuhan seorang mahasiwa yang selalu mencari celah dalam meminimalisir pengeluaran, otoritas pemerintah Jerman pun berusaha untuk memberikan pusat-pusat penyediaan kebutuhan murah bagi para mahasiswa yang membutuhkan.

Sistem pendidikan

Secara umum pendidikan di Jerman terbagi atas tiga tingkatan, yaitu: Pendidikan pra Perguruan Tinggi (Pendidikan umum), Pendidikan Kejuruan (berufschule) dan Pendidikan Perguruan Tinggi. Pada kesempatan ini saya akan mencoba untuk membahas lebih jauh pada tingkatan pendidikan perguruan tinggi, mengingat tingginya minat masyarakat untuk berkuliah di Jerman yang mayoritasnya berada di level ini.

Untuk pendidikan perguruan tinggi, sistem pendidikan di Jerman membagi level ini kedalam tiga jenis, yaitu: (1).Universität (universitas), (2).Fachhochschule (Politekhnik plus), dan (3).Berufsakademie (Akademi Tenaga Kerja). Adapun perbedaan ketiganya terletak pada materi perkuliahan dan tujuan pendidikannya. Universität atau yg sering disebut UNI, lebih berfokus kepada teori dan pengembangan ilmu pengetahuan.  Para Mahasiswa di sini lebih terkonsentrasi untuk mengembangkan teori keilmuan dan sedikit sekali berorientasi pada praktek. Hasil akhir yang ingin dicapai dari lulusan UNI ini adalah para pemikir yang mampu untuk menghasilkan teori dan pengembangan ilmu baru yang dapat mendukung keilmuan yang telah ada.

Sebalikya Fachhochschule atau disingkat FH, lebih berorientasi pada ilmu terapan untuk  pengembangan ilmu agar dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang aplikatif dan dapat digunakan oleh pengguna. Pendiidkan praktikal lebih mendominasi para mahasiwa di sini dengan rasio perbandingan 70:30 untuk ilmu terapan dan teori. Lulusan FH ini diharapkan mampu untuk mengembangkan produk-produk terapan dari ilmu dasar yang telah ada.

Untuk Berufsakademie sendiri lebih berfokus kepada para mahasiwa yang telah memiliki status bekerja atau telah mempunyai kontrak kerja pada suatu perusahaan atau instansi. Mahasiswa disini akan dididik untuk mempelajari ilmu spesifik yang dibutuhkan dalam pelaksanaan tugas pekerjaannya. Hasil akhir dari lulusan ini adalah sebagai tenaga ahli yang handal di bidangnya dan dapat langsung digunakan dalam dunia kerja.

Di jerman saat ini memiliki 2 bentuk program perguruan tinggi, yaitu program klasik yang hanya memiliki dua jenjang, yaitu Diplom (Dipl.) dan Doktor (Dr). dan program baru yang mengakui tiga jenjang, yaitu Bachelor, Magister dan Doktor. Beberapa universitas dan negara bagian masih menggunakan sistem klasik, meskipun semenjak kesepakatan Bologna tahun 1999, sudah semakin banyak yang menggunakan program baru.

Unutk aktivitas perkuliahan di Jerman dan Eropa sendiri pada umunya dimulai pada awal musim dingin atau sekitar bulan oktober setiap tahunnya. Khusus untuk program doktoral, penerimaan mahasiswa baru terkadang dibuka dua kali dalam setahun, yaitu saat musim dingin dan musim panas (sekitar bulan april). Proses perkuliahan untuk program master (atau diplom) dapat menggunakan tiga pilihan, yaitu: Master dengan penelitian, Master dengan kelas atau Master campuran. Sedangkan untuk Program doktoral seluruhnya dilakukan dengan penelitian selama 6 Semester atau 3 tahun.

Untuk penerimaan mahasiswa sendiri, tidak diberlakukannya sistem ujian tertulis (seperti UMPTN) sebagaimana di Indonesia. Mahasiswa hanya perlu mengirimkan berkas lamarannya dan tim penilai universitas akan memutuskan apakah calon mahasiswa ini dapat diterima atau tidak berdasarkan transkrip nilai (abitur) dan pertimbangan akademis lainnya. Khusus bagi mahasiswa asing yang tidak menelesaikan gymnasium (setingkat SLTA) di Jerman dan ingin melanjutkan ke jenjang Diplom atau Magister, maka diwajibkan untuk mengikuti pendidikan Studkol (sekola pra universitas) terlebih dahulu selama 2 semester. Setelah tamat dari sekolah ini, maka para calon mahasiswa dapat melamar di Universitas ataupun Fachhochschule (politekhnik plus) yang mereka inginkan.

Berbicara mengenai biaya pendidikan, hampir sebagian besar Negara bagian di Jerman membebaskan kewajiban membayar uang pendidikan bagi setiap penuntut ilmu, baik bagi warga Negara Jerman maupun warga Negara asing. Jikapun ada yang menetapkan biaya SPP, maksimum yang boleh dibebankan kepada mahasiswa adalah 500 Euro (sekitar 6 juta rupiah). Bahkan di beberapa daerah juga, pemerintah daerahnya memberikan uang selamat datang bagi para mahasiswa baru dengan kisaran bervariatif. Mengambil contoh di Leipzig, setiap tahunnya para mahasiswa dapat mengajukan permohonan Zuzugbonus senilai 150 Euro (sekitar 1,6 juta rupiah).

Kesempatan Beasiswa

Salah satu penyedia beasiswa studi di Jerman yang patut dicoba adalah DAAD (Deutscher Akademischer Austausch Dienst) yang setiap tahunnya menawarkan sekitar 20 beasiswa untuk program pasca sarjana. Erasmus mundus scholarship dapat juga menjadi pilihan lainnya, yang memungkinkan penerima beasiswa untuk menempuh pendidikan setidaknya di dua negara berbeda di Eropa. Beasiswa-beasiwa dari universitas tujuan di Jerman pun dapat menjadi alternatif yang layak dicoba, selain yayasan-yayasan pendidikan baik di Indonesia maupun di Jerman yang berorientasi untuk memajukan sumber daya manusia di suatu daerah, seperti yayasan Habibie maupun yayasan Djarum.

Untuk provinsi Aceh sendiri, komisi beasiswa Aceh telah mengirimkan hampir 90 putra-putri Aceh ke Jerman dalam 3 angkatan selama 3 tahun terakhir ini. Saat ini, angkatan ke empat sedang dipersiapkan untuk pelatihan bahasa Jerman di goethe institut jakarta untuk siap diberangkatkan pada agustus 2012 ini. Kebetulan saya sendiri adalah salah satu penerima beasiswa angkatan sebelumnya yang berkesempatan untuk merasakan pendidikan di Jerman dengan bantuan beasiswa Pemerintah Aceh yang bekerja sama dengan DAAD.

Dengan kesempatan beasiswa yang terbuka lebar dan kemudahan yang diberikan untuk berkuliah di Jerman serta ditambah dengan begitu banyaknya ilmu yang dapat digali di Jerman, maka impian menjadi seperti Pak Habibie pun bukan menjadi mimpi belaka lagi. 


Tulisan ini dibuat oleh Dinaroe, mahasiswa asal Aceh di Jerman dan menjabat sebagai sekretaris Bidang Seni dan Olahraga Ikatan Mahasiswa Aceh Jerman (IMAN). Dikutip dari tulisan aslinya: Impian menjadi Habibie

Indonesia negeri impian orang Jerman
Article, Re-blogged, Travelling

Indonesia, negeri impian orang Jerman

[dropcap style=”flat”]B[/dropcap]eberapa bulan lalu, saya pernah diwawancara oleh Gagasan seputar pengalaman saya berkunjung ke Jerman dalam rangka Summer School. Hasil dari wawancara ini kemudian dipublikasikan dalam Majalah Gagasan edisi 97. Liputannya dalam dilihat di Gagasan.co dan Independentpku.com.

Jerman negeri impian: dipublikasikan di majalah Gagasan edisi 97

Hari ini, ketika googling saya ketikkan “Jerman negeri impian”. Hasil pencarian menunjukkan tulisan hasil wawancara saya tersebut di beberapa media online di atas. Namun ada hal yang menarik kita di salah satu hasil pencarian saya temui tulisan dengan judul “Indonesia, negeri impian orang Jerman”. Judul ini kontras dengan judul hasil wawancara tentang saya.

Ternyata orang Jerman melirik manis untuk tinggal di Indonesia, salah satu komentar di tulisan tersebut mengatakan “Rumput tetangga emang selalu lebih hijau dibandingkan rumput halaman sendiri.. Orang luar negeri pengen tinggal di Indonesia, eh kita malah pengen keluar negeri.. hehehe”. Saya ingin menegaskan bahwa apapun ceritanya cinta tertinggi saya adalah Indonesia, disini saya lahir dan dibesarkan. Namun mengapa saya tertarik dengan Jerman? Jerman adalah negara maju di Eropa, ketertarikan saya lebih kepada eksplorasi ilmu pengetahuan, wawasan dan pengalaman. Saya ingin menggali ilmu kemajuan Jerman agar dapat membuka mata saya akan harapan Indonesia bisa menjadi negara maju, yang bahkan bisa lebih hebat dari Jerman.

Tulisan denga judul “Indonesia, negeri impian orang Jerman” adalah milik seorang Kompasianer bernama Gaganawati. Tulisan aslinya dapat dibacara disini. Karena menarik, akhirnya saya reblog ke website saya dan berikut tulisannya.

Indonesia, negeri impian orang Jerman

Beberapa kawan Kompasianer pernah mengirim inbox kepada saya agar bisa tinggal, kerja atau hidup di Jerman. Supaya hidup lebih hidup. Padahal saya sendiri ingin lebih memilih berada di Tanah Air, jika kondisi memungkinkan.

Indonesia, negeri impian? Ternyata tidak hanya pikiran saya. Buktinya, banyak pengunjung di museum tempat memamerkan foto Kampret-Kompasianer hobi jepret yang menyorot keindahan alam dan budaya Indonesia, berdecak kagum dan meluncur keinginan untuk kembali berlibur ke Indonesia atau pensiun di sana. Negeri khayalan di kayangan.

Indonesia negeri impian orang Jerman

Bagaimana dengan Kompasianer? Setuju kalau Indonesia itu sebuah negeri impian? Mari mengacungkan jari tinggi-tinggi!

Anak disabilitas pun diajak ke pameran

Sabtu, 19 Oktober 2013. Kami membuka museum khusus untuk kawan-kawan suami yang berasal dari Rumania (tinggal lama di Jerman) dan orang lokal (Jerman). Mereka ini tinggal agak jauh dari Seitingen-Oberflacht. Paling tidak, butuh satu jam-an mengendarai mobil.

Seperti pesan lesan dari pihak museum dan pemda, kami boleh menyelenggarakan Sonder Austellung, pameran spesial (tidak hanya hari minggu, jadwal standar). Sebanyak 37 tamu hadir. Usai minum kopi/teh, ditemani kue atau di Jerman dikenal dengan Kaffe trinken, acara pun dimulai.

Mula-mula suami saya membuka dengan menceritakan pengalamannya hidup di Semarang dan keliling Indonesia. Saya meneruskan dengan tarian Jawa modern, Abyor. Tarian yang tak kalah seksi dibanding tari perut Arab tapi tak maxi, hanya 5 menit digelar di depan mereka.

Tepuk tangan hadirin membuat saya yakin bahwa sekolah-sekolah di Indonesia harus tetap memberikan pelajaran menari (daerah) di sekolah, seperti yang saya dapat sewaktu TK-SMA. Ini bekal saya menjadi duta Indonesia (mengangkat diri sendiri, daripada tidak ada yang menunjuk) ketika berada di mancanegara. Asli!

Selanjutnya, kami berdua menerangkan gambar-gambar jepretan Kampret, satu per satu.

Oh… dari 37 tamu, salah satunya adalah seorang anak muda berumur 25 tahun. Ia cacat sejak umur 5 tahun (saat itu ia tenggelam dan otaknya kemasukan air). Semenjak itulah, ia hanya bisa mengerang, tergolek, dan duduk. Kata orang tuanya yang begitu sabar merawat dalam segala suasana dan di mana pun berada selalu membawanya, mereka ini yakin bahwa si anak yang divonis tidak normal itu mengerti penjelasan pameran, dan bermanfaat untuknya.

Indonesia, negeri impian!

Minggu, 20 Oktober 2013. Satu jam sejak pukul 13.00, tidak ada seorang pun yang datang. Kami bertujuh menanti dengan sabar. Barangkali karena hujan turun deras, orang enggan datang. Lebih enak menarik selimut.

Pukul 14.00, tamu mulai memasuki museum. Lambat laun semakin banyak. Saya sapa beberapa dari mereka dan sedikit menerangkan tentang museum dan gambar yang ada.

Perbincangan semakin menarik ketika beberapa dari mereka mengatakan sudah pernah ke Indonesia. Backpacker! Sudah banyak yang mereka lihat. Sebabnya, mereka tidak bersama grup tetapi dengan angkutan dan rencana seadanya, tanpa guide tanpa travel agency.

Adalah Herr dan Frau S dari Durch Hausen. Mereka bahkan mengaku tuman alias mau datang lagi ke Indonesia karenanya. Mereka mengadakan perjalanan dari Ujung Kulon sampai Flores. Papua adalah pulau yang ingin mereka capai berikutnya. Terima kasih, mas Dhave Dhanang untuk jepretan unik di Baliem!

Ada tamu lain yang ke Indonesia, usai diimingi cerita heboh teman dari liburan di Asia, Thailand dan akhirnya terwujud, pergi ke Asia, Indonesia lewat tabungan bertahun-tahun lamanya. Enam minggu di sana.

Sepasang suami-istri lainnya, seumuran 60-an, bahkan mengatakan sedang memikirkan jalan untuk tinggal di negeri kita segera sesudah istri pensiun beberapa tahun lagi. Pengalaman terdahulu berlibur ke Tanah Air (dari Sumatera sampai NTT), sungguh membuat bayangan negeri kayangan selalu di pelupuk mata. Itu letaknya di Indonesia! Thanks to Kampret atas foto pasangan dari Pulau Nias!

Seorang kawan aerobik yang pernah dua minggu holiday di Bali, mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Ia bahkan memeluk dan mencium saya dua kali (di pipi). Katanya, pameran ini mengingatkan memori indah bersama negeri kita dengan pasir putih, ramah tamah orang-orangnya, makanan yang sedap dan budaya yang luar biasa adi luhungnya. Itu, baru Bali… belum Kalimantan, Jawa, Sumatera, Papua dan pulau-pulau kecil lainnya, sahabat ….

Demikian laporan pandangan mata untuk sementara, berkaitan dengan pameran foto Kampret yang kali ini diselenggarakan di Jerman hingga penutupan tanggal 27 Oktober 2013 (masih seminggu lagi). Bukan event besar tapi sungguh memberikantolle Eindrück, kesan yang dahsyat (itu kata orang Jerman, lho).

So, so, so… jika orang Jerman (yang majemuk, dari berbagai negeri EU alias banyak pendatang bukan orang Jerman asli) sendiri mengatakan bahwa Indonesia adalah negeri impian, saya yakin kita sebagai orang Indonesia, memiliki rasa mencintai dan memiliki yang lebih dari para turis yang jauh-jauh datang ke negeri kita untuk menikmati keindahan kharisma katulistiwa. Tak hanya kena imbas westernisasi tetapi juga nasionalis, terpatri dalam diri. Bukankah Indonesia milik bangsa Indonesia sendiri?

Berada di Negeri rantau, saya semakin setuju atas opini orang Jerman ini. Ya, ada sebuah negeri impian yang tak kan terlupakan, yakni… Indonesia! Salam ACI (Aku cinta Indonesia). Selamat malam! (G76)

Habibi di acara peringatan Hari Lahir Pancasila (Credit: disperindag.depok.go.id)
Article, Re-blogged, Social & Politic

Pluralisme dan demokrasi: Apa yang bisa dipelajari dari Indonesia

[dropcap style=”flat”]M[/dropcap]antan Presiden Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie (1998-1999), bulan Juni lalu di Amerika menjadi pembicara pada seminar di Harvard Kennedy School Ash Center yang bertajuk “Demokrasi dan Pluralisme: Apa yang bisa dipelajari dari Indonesia”.

Habibi di acara peringatan Hari Lahir Pancasila (Credit: disperindag.depok.go.id)

Setelah menjabat selama dua tahun di akhir 1990-an, Habibie memimpin Indonesia pasca-Suharto, transisi dari negara otoriter ke negara demokrasi baru. Professor Tarek Masoud, yang merupakan Ash faculty affiliate menyebut Indonesia sebagai, “salah satu negara demokrasi yang paling mustahil di dunia.”

“Ini bukan tempat di mana kita mengharapkan demokrasi untuk bertahan, terus hidup, dan berkembang.”

Masoud, yang telah menulis tentang akuntabilitas lembaga publik Indonesia menjelaskan, “Hal ini, misalnya, negara yang sangat miskin. Tingkat pendapatan per kapita lebih rendah dari syarat yang kita anggap layak untuk demokrasi untuk bertahan hidup. Selain itu Indonesia juga memiliki etnis yang heterogen, terus-menerus di bawah tarikan kekuatan sentrifugal yang mengancam untuk memisahkan Indonesia, dan beberapa diantaranya telah ditarik terpisah menjadi negara-negara lain, namun Indonesia tetap utuh … Dan Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara-negara mayoritas Muslim di dunia yang demokratis. ”

“Ada banyak yang bisa diperoleh dari pengalaman Indonesia,” kata Masoud. “Apa yang dilakukan oleh Presiden Habibie lakukan pada masa pasca tergulingnya Soeharto? Apa rahasia reformasi demokratis Indonesia dan apakah bisa ditiru di tempat lain? Karena dunia Arab saat ini sedang mengalami proses yang sama yang dilewati Indonesia 16 tahun yang lalu, ini tidak hanya pertanyaan penting sejarah, tapi pertanyaan yang mendesak. ”

Kepresidenan dalam asumsi seorang insinyur

Habibie menyapa seluruh hadiri di auditorium yang penuh sesak dan mulai dengan berbagi cerita dari awal karirnya sebagai insinyur aeronautika. Ia dibesarkan di Indonesia dan dididik di luar negeri di Jerman, mendapatkan PhD di bidang teknik dari Technical University of Aachen. Dikenal untuk pendekatan yang inovatif untuk desain, Habibie memiliki karir yang sangat sukses di Jerman dan dipromosikan menjadi wakil presiden perusahaan aeronautika besar yang mengkhususkan diri dalam pembuatan helikopter, pesawat terbang, dan rudal.

Habibie mengingat saat ini pada tahun 1974 ketika Presiden Soeharto, merekrutnya untuk menjadi ujung tombak upaya industrialisasi negara. “Soeharto meminta saya untuk mempersiapkan Indonesia untuk memasuki milenium berikutnya,” kata Habibie. “Saya protes-saya mengatakan kepadanya ada orang-orang yang jauh lebih baik… Saya hanya bisa membuat pesawat terbang. Gelar sarjana, gelar master, PhD dan semua dalam membuat pesawat terbang. Suharto tidak setuju. “Jika Anda bisa membuat pesawat” katanya, “maka Anda dapat membuat segala sesuatu. ‘”

Di bawah Suharto, Habibie menduduki beberapa jabatan pemerintahan di Indonesia, termasuk Kementerian Teknologi dan Pembangunan di mana ia mengawasi berbagai industri milik negara. Pada bulan Maret 1998, Habibie terpilih menjadi wakil presiden di tengah masa gejolak ekonomi besar di seluruh sebagian besar Asia. Meningkatnya inflasi, meningkatnya pengangguran, dan massa protes menuntut pengunduran diri Soeharto, secara tiba-tiba hanya tiga bulan kemudian Suharto mengundurkan diri dan mengakhiri 32 tahun pemerintahan otoriternya di Indonesia.

Sesuai dengan konstitusi, kepemimpinan jatuh ke tangan Habibie untuk menjabat presiden dan mengambil potongan hancur perekonomian Indonesia. “Kebutuhan dasar Rakyat tidak dapat dijamin, mengikis kepercayaan terhadap presiden dan sistem politik secara keseluruhan,” kata Habibie menggambarkan pergolakan politik yang terjadi saat ia menjabat.

Reformasi bergejolak hampir setiap hari

“Mengingat latar belakang teknis saya, saya bisa menganalisis situasi secara sistematis dan obyektif,” kata Habibie kepada hadirin. Dia mengutarakan istilah “Pusaran sosial atau Social vortex” untuk menggambarkan peralihan kekuasaan yang terjadi di Indonesia dari top-down ke struktur pemerintahan bottom-up di mana kekuasaan terletak di tangan rakyat. “Saya perlu untuk membuat hukum untuk mengontrol kekuatan sosial yang tak terduga ini,” katanya.

Habibie mengnatrakan Indonesia pada dalam reformasi demokrasi yang banyak mempengaruhi pemerintahan selanjutnya, salah satu kebijakannya adalah kebebasan pers. Dia menggambarkan motivasi awalnya untuk membuka pintu oposisi mengatakan: “Saya menerima semua laporan dari pihak intelijen nasional, tentara, angkatan laut, angkatan udara, parlemen, menteri dalam negeri, dan menteri luar negeri. Tak satu pun dari laporan-laporan ini cocok dan hasilnya adalah kekacauan. Bagaimana aku bisa memverifikasi kualitas laporan? Siapa yang bisa dipercaya? Orang-orang yang berdemonstarsi! Kebebasan bersuara akan menghasilkan akurasi yang lebih besar. ”

Selama jangka waktu 15 bulan sebagai presiden, Habibie juga memperluas kesempatan pendidikan internasional, bekerja untuk menstabilkan perekonomian, menyetujui pembentukan partai politik baru, dan melepaskan tahanan politik. “Penjara hanya untuk penjahat,” katanya. “Bukan untuk mereka yang memiliki pendapat lain selain mereka yang berkuasa.”

Meskipun oposisi intens dari para anggota parlemen dan kelas penguasa, Habibie terus mengadakan sweeping perubahan-1.3 undang-undang baru dibuat per harinya . Berbicara tentang kepemimpinan dalam menghadapi konflik dan kekacauan, Habibie mengatakan kepada hadirin: “Saya hanya bisa membuat kemajuan jika saya berani untuk membuat perubahan.”

Pada bulan Oktober 1999, Habibie menyerahkan tampuk kepresidenan kepada Abdurrahman Wahid, seorang pemimpin Islam yang berpengaruh. Hal ini menjadi preseden penting bagi Indonesia pasca-Suharto.

Masa Depan Demokrasi di Indonesia

Habibie, yang tetap aktif dalam politik terutama melalui lembaga The Habibie Center, sebuah think tank yang didirikan pada tahun 1999, menutup diskusi dengan menguraikan enam elemen penting dari masa depan Indonesia, yakni:

1. Penyesuaian Pancasila [mengarahkan filsafat Indonesia agar menekankan “unity in diversity” untuk memperhitungkan globalisasi dan munculnya teknologi.
2. Perkembangan pengumpulan data yang akurat dan tepat waktu.
3. Penguatan sumber daya manusia dengan fokus pada pendidikan.
4. Penurunan pengangguran.
5. Pertumbuhan yang lebih besar, kelas menengah lebih kuat.

Sebagai penutup Habibie menyatakan bahwa “Indonesia perlu menjadi jembatan penting antara Asia dan Amerika Serikat dan antara Asia dan Eropa”. Sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim dengan lebih dari 300 kelompok etnis dan agama minoritas yang cukup besar, Indonesia menyajikan model untuk bagaimana pluralisme dan demokrasi dapat hidup berdampingan.


Dikutip dari situs: Harvard Kennedy School Ash Center

Nasihat Salim. A Fillah kepada Prabowo Subianto
Article, Prabowo-Hatta for President, Re-blogged

Nasihat Salim A. Fillah kepada Prabowo Subianto

[dropcap style=”flat”]S[/dropcap]alim A. Fillah, ulama muda Indonesia yang juga merupakan seorang penulis menuliskan nasihat kepada Prabowo Subianto dalam rangka majunya beliau menjadi calon Presiden Indonesia. Pesan tersebut direspon langsung secara terbuka oleh Prabowo Subianto melalui akun twitternya @PrabowoO8, “Sore ini saya membaca tulisan saudara kita di Melbourne @SalimaFillah. Terima kasih bung Salim. Saya catat baik-baik”.

Berikut nasihat Salim. A Fillah kepada Prabowo Subianto:

Nasihat Salim. A Fillah kepada Prabowo Subianto

Pak Prabowo, Kami Memilih Anda, Tapi…

 


Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi sungguh orang yang jauh lebih mulia daripada kita semua, Abu Bakr Ash Shiddiq, pernah mengatakan, “Saya telah dipilih untuk memimpin kalian, padahal saya bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Kalau saya berlaku baik, bantulah saya. Dan kalau anda sekalian melihat saya salah, maka luruskanlah.”

Maka yang kami harapkan pertama kali dari Anda, Pak Prabowo, adalah sebuah kesadaran bahwa Anda bukan pahlawan tunggal dalam masa depan negeri ini. Barangkali memang pendukung Anda ada yang menganggap Andalah orang terbaik. Tetapi sebagian yang lain hanya menganggap Anda adalah sosok yang sedang tepat untuk saat ini. Sebagian yang lainnya lagi menganggap Anda adalah “yang lebih ringan di antara dua madharat”.

Tentu saja, mereka yang tidak memiliih Anda menganggap Anda bukan yang terbaik, tidak tepat, dan juga berbahaya.

Dan jika Anda, Pak Prabowo, nantinya terpilih menjadi Presiden, maka mereka semua akan menjadi rakyat yang dibebankan kepada pundak Anda tanggungjawabnya di hadapan Allah. Maka kami berbahagia ketika Anda berulang kali berkata di berbagai kesempatan, “Jangan mau dipecah belah. Jangan mau saling membenci. Kalau orang lain menghina kita, kita serahkan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan Maha Besar.”

Dan Anda juga harus menyadari bahwa barangsiapa merasa jumawa dengan kekuasaan, maka beban kepemimpinan itu akan Allah pikulkan sepelik-peliknya di dunia, dan tanggungjawabnya akan Dia jadikan penyesalan serta siksa di akhirat. Adapun pemimpin yang takut kepada Allah, maka Dia jadikan manusia taat kepadanya, dan Dia menolong pemimpin itu dalam mengemban amanahnya.

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi sungguh orang yang jauh lebih perkasa daripada kita semua, ‘Umar ibn Al Khaththab, pernah mengatakan, “Seandainya tidaklah didorong oleh harapan bahwa saya akan menjadi orang yang terbaik di antara kalian dalam memimpin kalian, orang yang terkuat bagi kalian dalam melayani keperluan-keperluan kalian, dan orang yang paling teguh mengurusi urusan-urusan kalian, tidaklah saya sudi menerima jabatan ini. Sungguh berat bagi Umar, menunggu datangnya saat perhitungan.”

Maka yang kami harapkan berikutnya dari Anda, Pak Prabowo, adalah sebuah cita-cita yang menyala untuk menjadi pelayan bagi rakyat Indonesia. Sebuah tekad besar, yang memang selama ini sudah kami lihat dari kata-kata Anda. Dan sungguh, kami berharap, ia diikuti kegentaran dalam hati, seperti ‘Umar, tentang beratnya tanggungjawab kelak ketika seperempat milyar manusia Indonesia ini berdiri di hadapan pengadilan Allah untuk menjadi penggugat dan Anda adalah terdakwa tunggal bila tidak amanah, sedangkan entah ada atau tidak yang sudi jadi pembela.

Pak Prabowo, jangankan yang tak mendukung Anda, di antara pemilih Andapun ada yang masih meragukan Anda karena catatan masa lalu. Saya hendak membesarkan hati Anda, bahwa ‘Umar pun pernah diragukan oleh para tokoh sahabat ketika dinominasikan oleh Abu Bakr sebab dia dianggap keras, kasar, dan menakutkan. Tapi Anda bukan ‘Umar. Usaha Anda untuk meyakinkan kami bahwa kelak ketika terpilih akan berlaku penuh kasih kepada yang Anda pimpin harus lebih keras daripada ‘Umar.

Pak Prabowo, kami memilih Anda karena kami tahu, seseorang tak selalu bisa dinilai dari rekam jejaknya. ‘Umar yang dahulu ingin membunuh Nabi, kini berbaring mesra di sampingnya. Khalid yang dahulu panglima kebatilan, belakangan dijuluki ‘Pedang Allah’. Tapi Anda bukan ‘Umar. Tapi Anda bukan Khalid. Usaha Anda untuk berubah terus menjadi insan yang lebih baik daripada masa lalu Anda akan terus kami tuntut dan nantikan. Ya, maaf dan dukungan justru dari orang-orang yang diisukan pernah Anda ‘culik’ menjadi modal awal kepercayaan kami kepada Anda.

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi orang yang jauh lebih dermawan daripada kita semua, ‘Utsman ibn ‘Affan, pernah mengatakan, “Ketahuilah bahwa kalian berhak menuntut aku mengenai tiga hal, selain kitab Allah dan Sunnah Nabi; yaitu agar aku mengikuti apa yang telah dilakukan oleh para pemimpin sebelumku dalam hal-hal yang telah kalian sepakati sebagai kebaikan, membuat kebiasaan baru yang lebih baik lagi layak bagi ahli kebajikan, dan mencegah diriku bertindak atas kalian, kecuali dalam hal-hal yang kalian sendiri menyebabkannya.”

Ummat Islam amat besar pengorbanannya dalam perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pun demikian, sejarah juga menyaksikan mereka banyak mengalah dalam soal-soal asasi kenegaraan Indonesia. Cita-cita untuk mengamalkan agama dalam hidup berbangsa rasanya masih jauh dari terwujud.

Tetapi para bapak bangsa, telah menitipkan amanah Maqashid Asy Syari’ah (tujuan diturunkannya syari’at) yang paling pokok untuk menjadi dasar negara ini. Lima hal itu; pertama adalah Hifzhud Diin (Menjaga Agama) yang disederhanakan dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Kedua Hifzhun Nafs (Menjaga Jiwa) yang diejawantahkan dalam sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Ketiga Hifzhun Nasl (Menjaga Kelangsungan) yang diringkas dalam sila Persatuan Indonesia. Keempat Hifzhul ‘Aql (Menjaga Akal) yang diwujudkan dalam sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Dan kelima, Hifzhul Maal (Menjaga Kekayaan) yang diterjemahkan dalam sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Pak Prabowo, kami memilih Anda sebab kami berharap Anda akan melaksanakan setidak-tidaknya kelima hal tersebut; menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga kelangsungan, menjaga akal, dan menjaga kekayaan; dengan segala perwujudannya dalam kemaslahatan bagi rakyat Indonesia. Kami memilih Anda ketika di seberang sana, ada wacana semisal menghapus kolom agama di KTP, melarang perda syari’ah, mengesahkan perkawinan sejenis, mencabut tata izin pendirian rumah ibadah, pengalaman masa lalu penjualan asset-aset bangsa, lisan-lisan yang belepotan pelecehan kepada agama Allah, hingga purna-prajurit yang tangannya berlumuran darah ummat.

Pak Prabowo, seperti ‘Utsman, jadilah pemimpin pelaksana ungkapan yang amat dikenal di kalangan Nahdlatul ‘Ulama, “Al Muhafazhatu ‘Alal Qadimish Shalih, wal Akhdzu bil Jadidil Ashlah.. Memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.”

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi orang yang lebih zuhud daripada kita semua, ‘Ali ibn Abi Thalib, pernah mengatakan, “Barangsiapa mengangkat dirinya sebagai pemimpin, hendaknya dia mulai mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain. Dan hendaknya ia mendidik dirinya sendiri dengan cara memperbaiki tingkah lakunya sebelum mendidik orang lain dengan ucapan lisannya. Orang yang menjadi pendidik bagi dirinya sendiri lebih patut dihormati ketimbang yang mengajari orang lain.”

Pak Prabowo, hal yang paling hilang dari bangsa ini selama beberapa dasawarsa yang kita lalui adalah keteladanan para pemimpin. Kami semua rindu pada perilaku-perilaku luhur terpuji yang mengiringi tingginya kedudukan. Kami tahu setiap manusia punya keterbatasan, pun juga Anda Pak. Tapi percayalah, satu tindakan adil seorang pemimpin bisa memberi rasa aman pada berjuta hati, satu ucapan jujur seorang pemimpin bisa memberi ketenangan pada berjuta jiwa, satu gaya hidup sederhana seorang pemimpin bisa menggerakkan berjuta manusia.

Pak Prabowo, kami memilih Anda sebab kami tahu, kendali sebuah bangsa takkan dapat dihela oleh satu sosok saja. Maka kami menyeksamai sesiapa yang ada bersama Anda. Lihatlah betapa banyak ‘Ulama yang tegak mendukung dan tunduk mendoakan Anda. Balaslah dengan penghormatan pada ilmu dan nasehat mereka. Lihatlah betapa banyak kaum cendikia yang berdiri memilih Anda, tanpa bayaran teguh membela. Lihatlah kaum muda, bahkan para mahasiswa.

Didiklah diri Anda, belajarlah dari mereka; hingga Anda kelak menjelma apa yang disampaikan Nabi, “Sebaik-baik pemimpin adalah yang kalian mencintainya dan dia mencintai kalian. Yang kalian doakan dan dia mendoakan kalian.”

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi orang yang lebih adil daripada kita semua, ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, pernah mengatakan, “Saudara-saudara, barangsiapa menyertai kami maka silahkan menyertai kami dengan lima syarat, jika tidak maka silahkan meninggalkan kami; yakni, menyampaikan kepada kami keperluan orang-orang yang tidak dapat menyampaikannya, membantu kami atas kebaikan dengan upayanya, menunjuki kami dari kebaikan kepada apa yang kami tidak dapat menuju kepadanya, dan jangan menggunjingkan rakyat di hadapan kami, serta jangan membuat-buat hal yang tidak berguna.”

Sungguh karena pidato pertamanya ini para penyair pemuja dan pejabat penjilat menghilang dari sisi ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, lalu tinggallah bersamanya para ‘ulama, cendikia, dan para zuhud. Bersama merekalah ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz mewujudkan pemerintahan yang keadilannya dirasakan di segala penjuru, sampai serigalapun enggal memangsa domba. Pak Prabowo, sekali lagi, kami memilih Anda bukan semata karena diri pribadi Anda. Maka pilihlah untuk membantu urusan Anda nanti, orang-orang yang akan meringankan hisab Anda di akhirat.

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi kalaupun Anda tidak terpilih, kami yakin, pengabdian tak memerlukan jabatan. Tetaplah bekerja untuk Indonesia dengan segala yang Anda bisa, sejauh yang Anda mampu.

Sungguh Anda terpilih ataupun tidak, kami sama was-wasnya. Bahkan mungkin, rasa-rasanya, lebih was-was jika Anda terpilih. Kami tidak tahu hal yang gaib. Kami tidak tahu yang disembunyikan oleh hati. Kami tidak tahu masa depan. Kami hanya memilih Anda berdasarkan pandangan lahiriyah yang sering tertipu, disertai istikharah kami yang sepertinya kurang bermutu.

Mungkin jika Anda terpilih nanti, urusan kami tak selesai sampai di situ. Bahkan kami juga akan makin sibuk. Sibuk mendoakan Anda. Sibuk mengingatkan Anda tentang janji Anda. Sibuk memberi masukan demi kemaslahatan. Sibuk meluruskan Anda jika bengkok. Sibuk menuntut Anda jika berkelit.

Inilah kami. Kami memilih Anda Pak Prabowo, tapi..

Tapi sebagai penutup tulisan ini, mari mengenang ketika Khalifah ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz meminta nasehat kepada Imam Hasan Al Bashri terkait amanah yang baru diembannya. Maka Sang Imam menulis sebuah surat ringkas. Pesan yang disampaikannya, ingin juga kami sampaikan pada Anda, Pak Prabowo. Bunyi nasehat itu adalah, “Amma bakdu. Durhakailah hawa nafsumu! Wassalam.”

Doa kami,

Hamba Allah yang tertawan dosanya, warga negara Republik Indonesia.

Salim A Fillah


Salah satu tugas ulama dan dai adalah ber-amar ma’ruf nahi munkar, termasuk menasehati pemimpin. Sedangkan pemimpin yang baik adalah sosok yang terbuka menerima kritik dan nasehat, terutama yang datang dari ulama.

*Dikutip dari situs Bersama Dakwah.

Passport Indonesia
Article, Re-blogged

Sudahkah Anda memiliki passport?

[dropcap style=”flat”]S[/dropcap]etiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Passport Indonesia

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki “surat ijin memasuki dunia global.”. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.

“Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?” Saya katakan saya tidak tahu. Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya. Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

The Next Convergence
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. Dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport. Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide-nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut.

Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.

Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.


*Artikel ini ditulis oleh Rhenald Kasali, Guru Besar Universitas Indonesia

Capres Indonesia 2014
Article, Re-blogged, Social & Politic

Membedah gagasan calon presiden Indonesia

[dropcap style=”flat”]B[/dropcap]elakangan, saya mencoba membaca dan mulai membandingkan gagasan-gagasan yang diusung oleh para calon Presiden yang bermunculan. Dari sekian nama yang berseliweran, saya baru menemukan gagasan dari Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie, Anis Matta dan Anies Baswedan. Calon lain tampak belum mengeluarkan gagasannya, kemungkinan mereka masih menyimpan ide segar untuk Indonesia-nya pasca pemilu legislatif atau memang mereka tidak memikirkan gagasan.

Capres Indonesia 2014

Kita coba kupas satu per satu dari 4 nama yang telah saya sebutkan di atas.

1. Prabowo Subianto

Prabowo dan Partai Gerindra mengusung “6 Program Transformasi Aksi Bangsa”. Enam program ini meliputi isu ekonomi, pangan, energi, infrastruktur, birokrasi, dan pembangunan manusia. Menariknya gagasan yang dibawa oleh Prabowo adalah dia selalu mengupayakan adanya kuantifikasi (angka) dalam program turunannya. Seperti peningkatan pendapatan per kapita hingga USD 3500, membangun 3000 km jalan raya dan kereta api dan mencetak 2 juta Ha lahan pertanian baru. Buat saya, cara penyajian gagasan semacam ini sangatlah baik karena memberikan kesempatan bagi calon pemilih untuk bisa mengkritisi gagasan program yang ada dan merefleksikan dengan kebutuhan terhadap pembangunan Indonesia. Belakangan, Prabowo bahkan mulai mengeluarkan angka-angka rupiah yang diperlukan untuk menjalankan programnya. Terakhir saya membaca rencana infrastruktur yang beliau butuhkan adalah 505 Triliun.

2. Aburizal Bakrie

Aburizal Bakrie dan Partai Golkar mengusung tema “Visi Indonesia 2045: Negara Kesejahteraan”. Berbeda dengan Prabowo, Ical, sapaan akrab Aburizal Bakrie memulai gagasan dengan target/indikator pembangunan Indonesia yang di bagi menjadi 3 fase. Setiap fase ada pencapaian yang ingin dicapai, yang menurut saya masih terfokus pada indikator ekonomi, seperti rasio gini, pertumbuhan dan pendapatan per kapita. Ada beberapa indikator juga terkait isu sosial seperti tingkat kemiskinan dan pengangguran, namun saya tidak melihat standar apa yang digunakan dalam menentukan penilaian indikator ini. Selanjutnya, Ical mencoba menurunkan target pencapaian ini menjadi strategi-strategi. Bagus dan melingkupi semua aspek pembangunan, namun sayangnya diskusi yang dimunculkan masihlah bersifat normatif. Kalimat-kalimat ala orde baru seperti ‘mengoptimalkan’, ‘memajukan’, ‘mensinergikan’, dan ‘mempercepat’ masih menjadi pilihan kata yang digunakan. Alhasil, saya melihat strategi Ical dengan pengusungan ‘blue print’ ini merupakan buah pemikiran yang baik dan patut di tiru, namun dalam tatanan implementasi, ini masih sulit untuk divisualisasikan. Strategi pembuatan ‘cetak biru’ yang bersifat makro abstrak ini cenderung tidak cocok untuk pemilih generasi baru demokrasi.

3. Anis Mata

Anis Matta, dengan buku “Gelombang ketiga Indonesia” mencoba memberikan gambaran atau peta tentang situasi yang terjadi di Indonesia saat ini. Melalui bukunya, Anis Matta mencoba berkomunikasi dengan generasi pemilih baru demokrasi, bahwa dirinya mengerti betul kebutuhan dari generasi ‘posmo’ ini. Anis memberikan sebuah cara pandang baru dalam pembangunan Indonesia, yaitu dengan memahami manusia Indonesia itu sendiri. Dengan memahami karakter manusia Indonesia, seorang pemimpin akan mengetahui cara terbaik dalam membangun manusia dan bangsa Indonesia. Itu mengapa, Anis, dalam bukunya mengatakan bahwa peran pemimpin (dalam konteks ini Presiden) adalah membentuk pribadi manusia Indonesia. Apakah manusia Indonesia masihlah seperti yang Koentjoroningrat karakterkan di tahun 1976 ataukah sudah ada perubahan? Anis meyakini telah terjadi perubahan, sehingga menjadi sangat penting untuk pemimpin Indonesia menemukan arah dan gaya kepemimpinan baru di republik ini. Anis menekankan pentingnya titik equilibrium antara pembangunan ekonomi dan kebebasan politik. Di salah satu bagian buku, Anis juga mengutarakan urgensi bagi pemimpin Indonesia dalam memanfaatkan semua fitur demokrasi untuk menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

4. Anies Baswedan

Anies Baswedan dengan jargon “Menuntaskan janji kemerdekaan’”membawa tema ‘Indonesia 1945′: 1 Semangat, 9 Pekerjaan, 4 Janji Kemerdekaan dan 5 Tahun bekerja. Anies menurut saya masuk dengan gagasan yang disajikan dengan cara ‘posmo’. Sangat anak muda, mudah dipahami, dan menggunakan kata kata persuasif yang membuat orang mau bekerjasama dengannya. 9 pekerjaan yang di angkat oleh Anies adalah 9 aspek pembangunan yang ia pilih dan beri label: Indonesia Merdeka, Indonesia Beradab, Indonesia Sejatera, Indonesia Adil dan Makmur, Indonesia Cerdas, Indonesia Sehat, Indonesia Erat, Indonesia Bermartabat dan Indonesia Gotong Royong. Setiap tema pembangunan ini memiliki sasaran/target masing-masing yang diturunkan menjadi strategi pencapaian tersendiri. Namun, saya melihat, Anies masih menggunakan kalimat-kalimat kualitatif (gaya sastrawan) ketimbang memunculkan angka-angka pencapaian. Selain itu, Anies masih banyak mengupas kondisi eksisting Indonesia dan menjadikan itu sebagai landasan dalam mendefinisikan tantangan Indonesia.

Menariknya, saya melihat, Anies menaruh titik tekan (setidaknya saya nilai dari sejauh mana elaborasi strategi) pada dua bidang, yaitu ekonomi dan pendidikan. Saya kira ini sesuai dengan latar belakang seorang Anies yang peduli kualitas sumber daya manusia dan tantangan meningkatkan level ekonomi Indonesia. Sebagai seorang alumnus luar negeri, Anies terlihat dari cara penyajiannya yang gemar membandingkan kondisi Indonesia dengan kondisi negara lain. Menurut saya, yang perlu dilakukan Anies selanjutnya adalah bekerjasama dengan para pakar sesama Ph.D lainnya untuk menurunkan gagasan besar dia menjadi narasi narasi kecil yang konkrit dan mampu di implementasikan.

Demikian komparasi saya terhadap 4 gagasan yang sudah ada. Buat saya, Indonesia perlu memaksa dirinya untuk terbiasa mengkomparasi gagasan yang di bawa oleh calon Presiden atau Partai Politik. Dengan membandingkan gagasan yang ada, kita menjadi mengetahui bagaimana gambaran Indonesia kedepan, memberikan kesempatan kepada kita untuk mengkritisi rencana kebijakan yang ada bila dinilai tidak valid. Dan yang paling penting, kita memilih dengan landasan rasional, yaitu membandingkan gagasan.

#analisisekonomipolitik


*Artikel ini merupakan tulisan Ridwansyah Yusuf Ahmad. Tulisan aslinya dapat dilihat di:  Membedah gagasan calon presiden Indonesia

Article, Re-blogged

How islamic are islamic countries?

[dropcap style=”flat”]B[/dropcap]elum lama berlalu ketika saya membaca status seorang teman yang terdampar di Kuwait. Sebelumnya, teman bersama suami dan anak-anaknya tinggal di Polandia. Teman saya ini bukan orang biasa-biasa saja. Namanya pernah menjadi hits di beberapa media cetak karena kesuksesannya berdakwah di Negeri Non Muslim dan membawa belasan perempuan mengucapkan kalimat syahadat untuk pertama kalinya :). Semoga Allah berkenan mengampuni dosa-dosa beliau sekeluarga :).

Islamic countries

Ada apa dengannya di Kuwait? Teman saya mengalami benturan budaya yang luar biasa. Dia terkaget-kaget. Sementara saya tersenyum-senyum membaca statusnya. Sebagai alumni Jeddah, kota terbesar nomor 2 di Arab Saudi, saya tidak heran sedikit pun membaca ‘kegalauan’nya. Been there, done that.

“How Islamic  are Islamic Countries” adalah sebuah penelitian lama yang hasilnya dipublikasikan tahun 2010 silam.

Berikut kutipan dari kompas.com (http://nasional.kompas.com/read/2011/11/05/09034780/Keislaman.Indonesia): Sebuah penelitian sosial bertema ”How Islamic are Islamic Countries” menilai Selandia Baru berada di urutan pertama negara yang paling islami di antara 208 negara, diikuti Luksemburg di urutan kedua. Sementara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim menempati urutan ke-140. Adalah Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University yang melakukan penelitian ini. Hasilnya dipublikasikan dalam Global Economy Journal (Berkeley Electronic Press, 2010). Pertanyaan dasarnya adalah seberapa jauh ajaran Islam dipahami dan memengaruhi perilaku masyarakat Muslim dalam kehidupan bernegara dan sosial? Ajaran dasar Islam yang dijadikan indikator dimaksud diambil dari Al Quran dan hadis, dikelompokkan menjadi lima aspek. Pertama, ajaran Islam mengenai hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia. Kedua, sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial. Ketiga, sistem perundang-undangan dan pemerintahan. Keempat, hak asasi manusia dan hak politik. Kelima, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan internasional dan masyarakat non-Muslim. Setelah ditentukan indikatornya, lalu diproyeksikan untuk menimbang kualitas keberislaman 56 negara Muslim yang menjadi anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang rata-rata berada di urutan ke-139 dari sebanyak 208 negara yang disurvei. Penasaran dengan hasilnya? Saya kasih sontekan sedikit. Selain Selandia Baru, urutan ke-2 hingga 5 ditempati oleh berturut-turut : Luxemburg, IRLANDIA *uhukUhuk*, Eslandia dan Finlandia. Negara dengan penduduk mayoritas muslim yang menempati urutan tertinggi adalah … Malaysia! Menempati peringkat ke-39. Indonesia sendiri, sudah disebutkan dalam kutipan artikelnya, urutan ke-140. Arab Saudi? Di urutan ke 131. Beberapa negara ‘penting’ dunia lainnya, misalnya Amerika Serikat, menempati urutan ke-25. Jepang di urutan ke-29 dan Jerman, salah satu negara terbesar di Eropa, di urutan ke-17. Saya lahir dan besar di Indonesia yang konon merupakan “Negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia.” Pernah berkesempatan tinggal di Arab Saudi, “Negeri Penjaga Dua Kota Suci Umat Muslim Sedunia.” Baru-baru ini berkesempatan liburan ke Kuala Lumpur, ibukota Malaysia, “Negara Mayoritas Muslim yang Berada di Peringkat Tertinggi.” Dan kini…saya berada di  Irlandia, peraih medali perunggu “Negara Paling Islami” :D. Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzziban :). Kuwait sendiri urutannya tak terlalu buruk.  Bayangkan, teman saya saja yang terdampar di “Negeri Paling Islami no.48″ bisa sebegitu stres-nya hehehe. Bagaimana dengan kita-kita yang pernah tinggal di Saudi, si peringkat ke-131? Madam-madam Jeddah, mana suaranya? Ahahhahahahaha. Jujur saja, selama tinggal di Indonesia dulu, saya merasa biasa-biasa saja. Tidak pernah merasa terzalimi. Ya, kadang-kadang mungkin terselip sakit hati. Saya anggap wajar-wajar saja masalah muamalah di Indonesia. Mungkin kasarnya…pasrah. Hingga akhirnya saya ke Jeddah. For me, Jeddah is better than Jakarta. ‘Gemerlap’nya sih mirip-mirip. Yang  namanya ‘gap’ antara si kaya dan si miskin menganga sedemikian lebar baik di Jakarta maupun di Jeddah. Alasan pertama saya lebih senang di Jeddah karena beberapa hal. Bensin murah, mobil murah, penghasilan suami jauh lebih besar (daripada di Jakarta), enggak terlalu macet, kemana-mana terasa dekat, bahkan beberapa bahan pokok di Jeddah lebih murah daripada di Jakarta. Unbelievable. Belum lagi kesempatan untuk umrah sepuasnya. Tahun lalu dimampukanNya kami untuk naik haji. Di tahun terakhir kami di sana sebelum akhirnya dibukakan pintu rezeki di negara lain. Sekali lagi, Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzziban :). Saya akui, secara umum perilaku orang-orang Arab di Jeddah cukup mengecewakan. Meskipun pengalaman pribadi saya tidak separah beberapa teman saya yang sudah sebegitu sewotnya sama orang-orang Arab hehehe. Saya pun tak bosan-bosannya menuliskan bahwa beberapa episode-episode terbaik dalam hidup saya bertempat di Jeddah. Selama di sana, saya tergolong ‘yang paling bahagia’ hehehehe. Meskipun tak sedikit hal yang membuat saya selalu mengelus dada, “How come they call themself a moslem?” Berusaha untuk selalu berfokus pada hal-hal yang menyenangkan, membuat 30 bulan pengalaman tinggal di Jeddah menjadi ‘rangkuman kenangan indah’. Ingat saja hal-hal luar  biasa yang selalu membuat saya bersyukur. Tak pernah luput mengenang Mekkah dan Madinah sebagai tempat-tempat terindah yang pernah saya datangi. Begitu mudahnya dulu kami menghampiri kedua kota suci tersebut. Sementara tak sedikit umat Islam di Indonesia baru hanya sebatas memimpikannya saja. Bentar…hapus air mata dulu *drama-part :P*. Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzziban :). Dulu, saya suka bertanya-tanya, mengapa teman-teman yang berada di Eropa bisa sebegitu ngebetnya tinggal di sana. Tak sedikit yang mencari-cari cara setelah lulus sekolah agar bisa tetap bermukim di sana. Bahkan, ada yang sudah terpikir untuk menggadaikan status kewarganegaraannya. Ingin berganti warna paspor. Apa enaknya hidup berlama-lama dalam ‘kulkas”? :P. Konon, bangsa Irlandia ini memang salah satu bangsa paling ramah di dunia. Selama lebih dari 3 bulan tinggal di sini, saya sudah membuktikan sendiri. Terpukau oleh keramahan mereka. Ada  juga yang rasial kok, saya pernah diteriakin di perempatan jalan, “Go home!” oleh seorang pria separuh baya. Tapi santai saja. Orang-orang lain tidak ada yang peduli, tuh. Enggak penting memikirkan sebagian kecil yang kurang ramah. Di Athlone, hampir tak ada pengemis. Kalau pun ada tunawisma, penampilannya enggak germbel-gembel amat. Di Jakarta, yang bilang Pajero bukan barang mewah ada, yang gembel jadi tukang semir sepatu tak kalah banyaknya . Di Jeddah, Ferrari bukan barang langka, tapi pengemis terpencar di berbagai sudut kota. Fakta-fakta yang menguatkan pernyataan Ahmad Syafii Maarif dalam tulisannya yang saya share di status FB saya : ” …Bagi saya penggunaan perkataan ringkih terasa lebih puitis dan tajam, dibandingkan padanannya dalam istilah bahasa Indonesia. Itulah sebabnya dalam tulisan ini perkataan ringkih digunakan. Benarkah Dunia Islam itu ringkih? Tanpa memerlukan data hasil riset yang mendalam, berdasarkan pengamatan umum saja, pasti jawabannya: benar! Kesenjangan sosial-ekonomi hampir merata di seluruh dunia Islam. Keadilan yang demikian keras diperintahkan Alquran tidak digubris oleh penguasa yang mungkin sudah menunaikan ibabah haji berkali-kali…” Dulu sih, semasa di Jakarta dan Jeddah, bila mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari orang lain, tak pernah menjadi pikiran. Dimaklumi saja. Di Jakarta, sering dicuekin sama satpam di mal. Padahal kepada seorang Ibu yang turun dari mobil mentereng dengan berbagai aksesoris wah di badannya, tersenyum mengangguk setengah membungkukkan badan. Hidupnya sudah cukup ‘berwarna’ dalam menjalani tugas sebagai satpam, tak usahlah menyimpan dendam yang tidak perlu. Di Jeddah, pernah mendapat pengalaman pahit saat antre di kasir dalam toko di mal. Sebelumnya, saat 2 perempuan arab berdebat soal antrean, penjaga kasir dengan tegas melerai dan menunjuk ibu yang memang sudah datang lebih dahulu. Giliran saya diselak orang Arab, saya protes, kasirnya malah diam seribu bahasa. Ya, sudahlah. Saking sudah seringnya, sudah mati rasa ane hehehe. Terdampar di tempat lebih jauh, berbaur di tengah-tengah masyarakat non muslim, dari ras yang secara fisik sangat berbeda pula, malah mendapat perlakuan yang sangat menyenangkan. Sepele, ya? Biarpun suami suka meledek saya yang dianggapnya, “Dasar kamu ini. Belum apa-apa sudah lebay soal eropa”, menurut saya ini bukan hal sepele :). Setiap pagi mengantar anak ke sekolah, kami selalu berjalan kaki. Hampir 100% orang-orang yang berpapasan akan tersenyum menyapa, “Good morning.” Di Jeddah, seringnya mendapat pandangan penuh tanda tanya, mungkin berpikir, “Prikitiwww, mbak-mbak TKW ini cakep juga, yak.” Ahahahahaha. Di Athlone, saat mengantre di kasir setelah berbelanja barang-barang dapur dll di supermarket, semua orang mengantre dengan tertib. Bahkan, kasir benar-benar menunggu kita selesai mengemasi barang baru melayani customer setelah kita. Awalnya saya sering gugup. Saking takutnya kalau mengganggu antrean, mau buru-buru masukin barang ke stroller + plastik + ransel, barang-barang malah berserakan jatuh ke lantai. Malunya minta ampun. Tapi kasir cuma tersenyum, “That’s ok. Take your time.” Bahkan, ibu-ibu berambut kuning yang mengantre di belakang saya ikut memunguti barang-barang yang jatuh. Masya Allah. Sudah terbiasa diperlakukan bak TKW di tengah-tengah umat yang seiman, rasanya terharu diperlakukan seperti itu. Lebay? Whatever. Kata-kata “thank you”, “sorry”, berhamburan begitu mudah dari bibir mereka. Jadinya saya pun, biarpun awalnya agak kagok, jadi terbiasa selalu ber “thank you” dan ber “sorry” ria :). Di Irlandia, pajak memang termasuk tinggi. Biarpun gak setinggi di negara eropa lain pada umumnya. Tapi fasilitasnya juga enggak main-main. Jalanan dibuat senyaman mungkin. Angkutan umum sangat diperhatikan. Harga mobil sangat mahal. Bensinnya apalagi. Tapi lihatlah, sebagian besar penduduk jadinya berbaur di trotoar jalan kaki atau dalam angkutan umum. Bagus juga ide pajak tinggi dan dikenakan secara proporsional. Agar si ‘tajir’ mikir-mikir kalau mau beli barang mahal dan yang kurang mampu tak terlampau tersakiti. Sekolah gratis dengan fasilitas yang sangat memadai *nyengirLebar*. Malah, di selebaran pengumuman buat orang tua murid, ditulis jelas-jelas larangan untuk ‘tampil mewah’. Baju harus seragam. Seragam resmi terasa mahal? Kepala sekolah mempersilakan membeli di tempat lain yang lebih murah asal warnanya mirip. Disebutkan dengan jelas jenis-jenis sepatu tertentu yang TIDAK BOLEH digunakan ke sekolah. Bahkan, kotak untuk bekal makan pun dianjurkan untuk sesederhana mungkin. Ini semua dituliskan secara resmi dalam selembar kertas yang dibagi-bagikan pada orang tua murid sebelum hari pertama sekolah si anak. ‘Attitude’ adalah landasan utama pendidikan anak-anak di usia dini. Saya perhatikan betul, guru-guru dan kepala sekolahnya sangat disiplin dalam masalah tingkah laku. Mereka tak terlalu peduli dengan kemampuan kognitif. Tapi coba saja ada anak yang berani memukul temannya, kepala sekolah tidak segan-segan menarik tangan si anak dan menceramahinya panjang lebar dengan nada yang tinggi. Saya pernah melihat langsung. Soal penampilan pun tidak ada yang heboh-heboh. Ada lah beberapa yang agak ‘gaya’ tapi bisa dihitung jari. Pede-pede saja kemana-mana pakai training pants + kaos + jaket + sepatu kets + ransel :D. Mbak-nya mau mendaki gunung, ya? Ahahahahaha. Di Irlandia, dalam memperlakukan orang lain, people don’t really care whether you’re Catholic, Moslem or even you don’t believe in any religion at all :). Berperilaku sopan dan non diskriminatif adalah hal universal buat siapa saja. Ajaran yang saya tahu pasti adalah landasan muamalah dalam Islam. Sadly, you can hardly see this in (most of) moslem countries. Ironically, pretty easy to see the practice in non-moslem countries. Tanya kenapa? Memang, awal di Athlone, saya benar-benar teruji oleh udara dingin. Tapi tak lama. Baru 3 bulan tinggal di sini, rasa betah menerjang sedemikian kuat. Meskipun keinginan untuk mengganti status paspor sama sekali belum ada. Tapi saya ingin agar anak-anak saya suatu hari nanti melangkahkan kaki mereka sejauh yang mereka bisa. Saya doakan, semoga saya dianugerahkan kesehatan yang mumpuni (menjalani pola hidup sehat ala FC adalah salah satu ikhtiar saya dari sekarang untuk doa yang ini), tak perlu meresahkan anak-anak kelak, sehingga saya bisa menghabiskan sisa usia di negeri kelahiran tercinta. Sampai akhir menutup mata. Amin :). Kembali mengutip pendapat Profesor Komaruddin Hidayat (UIN Syarif Hidayatullah) Hasil penelitian ini juga menyisakan pertanyaan besar dan mendasar: mengapa semarak dakwah dan ritual keagamaan di Indonesia tak mampu mengubah perilaku sosial dan birokrasi sebagaimana yang diajarkan Islam, yang justru dipraktikkan di negara-negara sekuler? Tampaknya keber-agama-an kita lebih senang di level semarak ritual untuk mengejar kesalehan individual, tetapi menyepelekan kesalehan sosial. Kalau seorang Muslim sudah melaksanakan lima rukun Islam—syahadat, shalat, puasa, zakat, haji—dia sudah merasa sempurna. Semakin sering berhaji, semakin sempurna dan hebatlah keislamannya. Pada hal misi Rasulullah itu datang untuk membangun peradaban yang memiliki tiga pilar utama: keilmuan, ketakwaan, dan akhlak mulia atau integritas. Hal yang terakhir inilah, menurut penelitian Rehman dan Askari, dunia Islam mengalami krisis. *** Saya setuju sekali, kita terlalu sering menyepelekan ‘kesalehan sosial’. Pengalaman saya naik haji kemarin, selain menyisakan rasa haru yang masih terus berbekas hingga kini, terselip rasa kecewa yang mendalam. Seusai wukuf, jemaah biro haji kami keluar dari tenda ke arah jalan untuk menuju stasiun kereta. Saya tercekat melihat suasana jalan raya yang sudah kosong dari para jemaah ‘haji koboi’ yang sudah kembali ke Mina/Musdalifah. Kotornya luar biasa. Bau pesing tak terkira. Ceceran makanan, botol minuman dan entah cairan apa itu *yucky* berbaur menjadi satu. Subhanallah, sampahnya tidak main-main. Besoknya, saat akan tawaf ke Mekkah, jam 7 pagi kami sudah berjalan ke arah jembatan untuk menunggu taksi. Lautan sampah di mana-mana. Baunya pun sangat menyengat. Saya ingat saat itu sempat bergumam kepada suami, “Kebersihan sebagian dari iman.” Kebersihan tidak hanya menyangkut diri sendiri, tapi orang lain dan lingkungan sekitar, kan? Saat sepi pun, kalau tawaf, saya sering memperhatikan ‘rusuh’nya keadaan di sekitar hajar aswad. Tidak pernah damai suasananya. Sikut-sikutan, teriak-teriak, dorong-dorongan. Itu cuma amalan sunnah, saudara-saudaraku. Teringat pesan ustaz Syafiq yang mengisi ceramah pengajian di acara syukuran salah satu teman di Jeddah sebelum kami berangkat haji, “Jangan melakukan amalan sunnah dengan cara-cara haram.” Malah, bagi sebagian muslim, yang penting : salat, zakat, puasa. Perlakuan kepada orang lain, gaya hidup sehari-hari, tidak akan mempengaruhi keislaman kita selama kita salat-zakat-puasa. Sadar tidak sadar, penyempitan makna “rahmatan lil ‘aalamin” dilakukan oleh kaum muslim sendiri. Dalam salah satu ceramah, Cak Nun bertutur, “Apakah di sini anda bisa punya cara untuk mengetahui seberapa iman anda? Bisa nggak kita mengukur akidah? Bisa nggak kita mengukur, kita ini Islam atau belum Islam? Kalau engkau menjawab “bisa”, lho, itu rak cangkemmu? Lha atimu? (itu kan mulutmu, lha hatimu?). Kita tidak bisa menilai Islamnya orang, kita tidak bisa menilai sesat atau bukan kecuali MUI.” Ucapannya disambut tawa jamaah. Ketika beberapa waktu lalu, saat ramai-ramainya pilkada DKI, saya berdebat dalam sebuah grup masalah akhlak vs aqidah. Seorang teman tak ragu-ragu menyematkan label ‘sekuler/liberal’ kepada saya? Untuknya, sebuah kalimat syahadat akan selalu berada di tempat teratas, jauh melampaui masalah-masalah yang berkaitan dengan kesalehan sosial. Dia mengejek, “Lo lebih pilih manusia daripada Tuhan?” Saya menjawab, “Pilihan yang mana? Memuliakan sesama manusia adalah perintah Tuhan.” Untuk saya pribadi, sangat jelas. Islam itu seimbang dunia akhirat. Terlalu condong kepada salah satu hanya akan membuat keseimbangannya goyah. Pengalaman hidup di Jakarta, Jeddah dan kini Athlone membuat saya mensyukuri betapa ‘liberal’nya saya. Sedangkan dalam hati saya selalu bersyukur saya dilahirkan sebagai seorang muslim. Dan selalu memohon agar Tuhan tidak akan memalingkan saya hingga akhir hayat nanti :). Akhlak itu tidak kalah pentingnya dengan akidah. Kalau Anda berdakwah dengan mengatakan babi haram, ini itu adalah konspirasi, menolak nasi kotak hasil acara paskah terang-terangan di media sosial, memasang status publik tentang haramnya mengucapkan ucapan Natal dan mengutuk muslim lain yang tetap melumrahkan ucapan tersebut, apa iya mereka akan berbondong-bondong mengakui kebesaran keyakinan Anda? Satu lagi dari Cak Nun yang mungkin bisa jadi bahan renungan, “Tuhan yang tahu akidahmu. Masyarakat butuh akhlakmu.” Tugas kita sesungguhnya bukanlah untuk membawa seluruh umat manusia untuk  bersyahadat bersama dalam satu bendera penafsiran yang sama (Sunni? Syiah? Wahabi? Salafi?). Tapi untuk menunjukkan (bukan menghakimi apalagi mengancam) bahwa : Islam = rahmatan lil aalamin. Bahkan rasulullah pun menekankan dirinya HANYA sebagai PEMBAWA PERINGATAN dan PENJELASAN. Bukan pemegang daftar siapa yang masuk surga siapa yang masuk neraka, kan? Katakanlah, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku bagi kalian hanyalah pembawa peringatan dan penjelasan.” (QS. al-Hajj [22]: 49). Alquran, adalah petunjuk dan rahmat. Bukan untuk  mengancam-ancam orang yang tidak sepaham. Maksudnya apa? Renungkan sendiri :). Semoga bertahun-tahun setelah tahun 2010, saat penelitian “How Islamic are Islamic Countries?” digelar kembali, jajaran negara-negara muslim bisa bertengger di peringkat 10 besar. Amin :).


Tulisan ini adalah karya mbak Jihanda Vincka. Versi aslinya dapat di lihat di sini.

Article, Re-blogged

Life is always started by a DREAM

[dropcap style=”flat”]B[/dropcap]erawal dari ketidaksengajaan memilih jurusan yang ‘asal-asalan’ dan universitas yang juga asal-asal pilih, dengan motto “yang penting lulus SNMPTN” akhirnya terdamparlah saya di Pekanbaru, sebuah kota ‘asing’ yang sama sekali tidak pernah saya kunjungi sebelumnya. Jangankan dikunjungi, sedikitpun belum pernah kota ini terlintas dalam benak saya.

Willin Julian Sari

Ketika awal perkuliahan, semua terasa berat. Mulai dari lingkungan kampus yang benar-benar beda,  hidup sendiri di negeri orang dan tak ada satupun kenalan. Saya sempat frustasi dan ingin pindah. Begitu kuatnya hasrat ingin pindah kuliah, hingga saya akhirnya memutuskan untuk mengikuti tes UMB lagi di tahun 2010, dan alhamdulillah saya lulus di UNSYIAH. Namun, meskipun telah lulus, setelah diskusi dengan keluarga dan dengan pemikiran yang panjang serta tidak menonjolkan keegoisan diri, akhirnya saya memutuskan untuk tetap kuliah di Pekanbaru. Ini merupakan keputusan yang sulit sehingga saya tahu saya harus mencari suatu kesibukan, suatu hal yang akan membuat saya betah untuk tinggal disini lebih lama.

Minat bahasa inggris sejak lama
Dari dulu, hobi saya berkecimpung di dunia bahasa inggris. Mulai dari mengikuti perlombaan apapun yang berbau bahasa inggris sampai pernah menjadi interpreter. Saya coba mencari info kesana kemari tentang perlombaan bahasa inggris. Pucuk dinanti ulam pun tiba, Singapore Consulate bekerjasama dengan pemerintah provinsi Riau mengadakan perlombaan debat bahasa inggris terbesar pada tahun 2010 tersebut.

Saya memutuskan untuk mencoba peruntungan di lomba tersebut, meskipun saya amat sangat awam dalam dunia perdebatan. Saya mencari team partner kesana kemari, and that is a hard thing guys. Tidak ada yang mau! Hingga akhirnya saya bertemu dengan bang Robi Kurniawan, salah satu mahasiswa jurusan bahasa inggris yang juga merupakan seorang alumni penerima beasiswa bergengsi IELSP. Akhirnya saya, bang Robi dan kak Rahma (teman bang Robi) menjadi team. Mereka berdua adalah orang-orang yang sudah berpengalaman dan sangat matang dalam dunia perdebatan bahasa inggris. Hingga thanks God kami berhasil meraih juara III tingkat provinsi Riau. Sebenarnya bang Robi dan kak Rahma bisa saja menjadi juara I kalau saja partnernya waktu itu bukan saya. Hahahaha.

Kenal dengan bang Robi
Bisa dibilang bahwa bang Robi adalah jembatan pertama saya dengan dunia luar. Bang robi mengenalkan saya dengan teman-teman yang hebat dari jurusan bahasa inggris dan juga mengenalkan saya pada English Zone, sebuah komunitas bahasa inggris yang hampir semua membernya sudah pernah mendapatkan beasiswa ataupun program keluar negeri. Dari English Zone saya mulai mengenal banyak orang dan mempunyai banyak kawan serta link tentunya. Sampai akhirnya saya bisa kenal dengan bang Renza, seorang alumni program pertukaran pemuda antar negara ke Kanada. Perlahan-lahan, saya juga mulai kenal dengan kak Alfa Noni yang juga merupakan seorang alumni program yang sama dengan bang Renza. Kak Alfa Noni merupakan ketua PCMI (Alumni peserta program pertukaran pemuda antar negara) Riau. Meskipun pada awalnya saya hanya mengenal kak Noni melalui Facebook (Oh fesbuk, kau sungguh berarti). Saya juga mulai mengenal kakak-kakak lainnya yang juga anggota PCMI melalui Facebook.

Menyusun daftar mimpi
Terbakar api cemburu kepada kakak-kakak yang sudah pernah menginjakkan kakinya di negeri orang sebagai duta bangsa secara gratis, saya pun mulai menuliskan daftar mimpi saya yang harus dicapai, diantaranya:
1. Tamat S1 paling lambat ketika umur 21
2. Tamat S1 dengan IPK diatas 3,5
3. Dapat program beasiswa keluar negeri sebelum tamat S1
4. Dapat beasiswa S2 keluar negri

Saya tempel tulisan daftar mimpi-mimp di dinding kamar. Bismillah. Saya mulai bekerja keras untuk membuat daftar mimpi saya bukan hanya menjadi sebuah daftar, tapi menjadi sebuah kenyataan. Saya belajar keras untuk mendapatkan IPK diatas 3,5. Saya masuk sanggar untuk belajar seni demi mengikuti program pertukaran pemuda antar negara, and I worked hard for everything.

Terkena gangguan ginjal
Saya mulai suka dan betah tinggal di Pekanbaru. Alhamdulillah. Namun ternyata Allah punya rencana lain. Di akhir tahun 2010 saya mendapat kabar yang saya yakin tak seorang pun mau menerima kabar ini. Saya harus ikhlas menerima kenyataan bahwa saya terkena gangguan ginjal. Seperti tersambar petir disiang bolong, saya tidak tau harus berkata apa. Hanya tangisan yang dapat menggambarkan suasana hati di kala itu.

Saya mulai berobat. Pada awalnya, dokter mengatakan bahwa Insya Allah penyakit saya akan sembuh dalam waktu tiga bulan. Namun dokter hanyalah manusia, manusia tidak punya kuasa untuk mengubah takdir dan jalan hidup manusia lainnnya, Allah-lah dan hanya Allah jua lah yang punya kuasa atas hal itu. Allah mungkin berkata, “Belum waktunya Wilin, sabar..”. Dan…yap, saya masih mengidap penyakit gangguan ginjal itu.

Kemudian ketika saya pulang ke Aceh, saya mulai berobat tradisional. Saya mendatangi mantri dan meminum ramuan yang kalau boleh dibilang, seperti taik Kerbau. Demi sembuh, demi semuanya, saya harus ikhlas meminum ramuan itu setiap hari. Allahu Akbar.. lagi-lagi hanya air mata yang dapat mengerti bagaimana perasaan hati saat itu. Akhirnya sebelum kembali kuliah ke Pekanbaru, saya ditemani Ibu berobat ke dokter ahli ginjal ternama di kota Medan. Dokter itu punya klinik, yang isinya semua pasien berpenyakit ginjal. Ketika saya berobat, dokter tersebut menyuruh saya berhenti kuliah untuk sementara sampai saya sembuh. Duhai Allah..apalagi ini.

Saya mengikuti apa yang dikatakan dokter, karna saya ingin sembuh. Namun, dokter yang saya temui ini selalu memberikan obat-obat paten dengan harga selangit sehingga memaksa Ibu saya untuk menyerah, tidak sanggup lagi membawa saya berobat ke dokter tersebut. Akhirnya saya berobat dengan dokter spesialis penyakit dalam di Aceh, kampung halaman saya. Lama kelamaan penyakit saya semakin memburuk. Badan saya mulai membulat ‘aneh’ akibat efek samping obat, sehingga diputuskan bahwa saya harus dirawat inap. Lima hari dirawat inap, tidak ada perubahan. sehingga saya harus dilarikan dan dirujuk kerumah sakit di Medan.

Tetes air mata ungkapan rasa sakit
Sesampainya saya di Medan, Allahu Akbar..hanya Allah yang tau bagaimana rasa sakit yang saya derita. Hingga akhirnya ketika saya sudah masuk ruangan. Pada malam harinya dokter sudah memberikan suntikan, rasa sakit itu baru hilang. Namun setiap hari rasa sakit itu datang lagi, yang ada di benak saya adalah beginikah rasanya sakit? Wahai Allah.. betapa indah nikmat kesehatan yang Engkau berikan, namun dulu aku sangat jarang mensyukurinya.

Tidak hanya penyakit gangguan ginjal yang saya derita, namun segala penyakit datang dan hadir disaat yang bersamaan waktu itu. Penyakit kulit, ambeyen dan efek samping obat sehingga muka saya membesar dan membulat, perut saya membuncit, tungkai saya kurus. Saya mulai berkumis dan berbulu, dan orang-orang mulai melihat aneh pada saya.

Ketika semua penyakit itu kumat dan kambuh rasa sakitnya, hanya tetesan air mata yang dapat saya katakan. Tapi Allah tidak pernah sia-sia dalam memberikan sesuatu. Saya dipertemukan dengan dokter yang luar biasa hebatnya. Saya dididik untuk ikhlas, pasrah dan percaya pada Allah. Wahai dokter, tak akan pernah kulupakan jasamu.

Sakit membuat lebih dekat dengan Allah
Sakit ini membawa saya menjadi lebih dekat dengan Allah. Hal yang semestinya sudah harus saya lakukan dari dulu. Jadi mungkin Allah memberikan sakit ini karena Allah telah rindu pada saya, Allah ingin saya kembali pada pelukan-Nya. Ternyata seluruh badan ini rindu ingin bersujud pada Rabbnya. Ajal serasa sangat dekat waktu itu. Saya benar-benar merasa kalau mungkin sudah waktunya saya kembali pada yang menciptakan saya. Namun saya memohon pada Allah untuk tidak menjemput saya dulu, dan menunda penjemputan itu hingga saya berhasil membahagiakan keluarga saya. Secara rahasia, saya membuat janji dengan Allah, bahwa saya rela dijemput kalau saya sudah membahagiakan keluarga. “Tolong tunda ya Allah..”. Dan Allah mengabulkan. Allah menunda penjemputan itu. Mungkin Allah memang ingin melihat saya menepati janji.

Alhamdulillah, meskipun penyakit ini masih melekat pada saya sampai detik ini dan tak ada satu orang dokter pun yang bisa mengatakan kapan saya bisa sembuh dan sampai kapan saya harus mengidap penyakit ini. Saya ingin bisa hidup ‘seperti normal’ dan berkuliah lagi.

Mulai kuliah kembali, tidak dapat dukungan keluarga
Tidak ada satu orang pun yang mendukung saya untuk kembali berkuliah. Semuanya menyuruh saya stay di kampung halaman, dirumah saja, beristirahat, berhenti bermimpi dan mengejar mimpi. Seolah saya disuruh hanya pasrah ‘menunggu ajal’ menjemput. Tak ada satupun kawan. Tak satu manusia pun mempercayai saya, bahkan keluarga sendiri. Akhirnya saya kembali curhat pada Allah. Hanya Allah-lah yang percaya pada saya. Saya putuskan untuk melawan semua nasehat orang, dan mengikuti keegoisan saya untuk kembali berkuliah setelah cuti selama satu semester, dengan segala konsekuensi yang harus saya terima nantinya (termasuk menghandle diri sendiri ketika sakit). Tapi satu.. saya percaya pada diri saya sendiri.

Mengubah daftar mimpi
Saya kembali berkuliah. dan saya mengubah daftar mimpi saya yang semula hanya empat menjadi enam, sebagai berikut :
1. Tamat S1 paling lambat ketika umur 21
2. Tamat S1 dengan IPK diatas 3,5
3. Dapat program beasiswa keluar negri sebelum tamat S1
4. Dapat berbusana muslimah secara syar’i paling lambat ketika umur 21
5. Dapat menghapal juz amma paling lambat ketika umur 21
6. Dapat beasiswa S2 keluar negri

Bismillah lagi. Saya mulai lagi mengejar mimpi. Saya mulai sibuk beraktivitas lagi. Tidak mudah karena saya sama sekali tidak pernah mendapat dukungan keluarga. Bahkan ketika saya mengikuti tes beasiswa IELSP dan PPAN (Pertukaran Pemuda Antar Negara), saya dimarahi habis-habisan oleh Ibu yang amat sangat khawatir dengan keadaan saya. Sedih, disaat saya mengaharapkan doa dan dukungan keluarga, dan hal itu belum bisa saya dapatkan. Namun saya mencoba mengerti pemikiran keluarga, mereka terlalu menyayangi saya sehingga teramat sangat khawatir jikalau saya kenapa-kenapa. Tugas saya bukan menyerah, tapi tugas saya adalah membuat mereka percaya dan mengerti. I am not a quitter!!!

Masuk Tribun Pekanbaru, keluarga mulai mengerti
Saya yakin kalau saya berada dijalan yang benar, saya punya supporter yang sangat kuat dan hebat mengalahkan supporter mana pun di dunia ini, Allah azza wajala. Berbekal dukungan sang Khaliq, saya mencoba mengukir prestasi hingga alhamdulillah saya ‘masuk’ koran Tribun Pekanbaru sebanyak dua kali. Koran tersebut saya bawa ke Aceh dan saya tunjukkan kepada keluarga. Mereka menangis. Terima kasih duhai supporter hebatku. Sejak saat ini, keluarga dapat mulai mengerti jalan pikiran saya. Mengenai impian keluar negri, banyak yang mentertawakan. Bahkan keluarga saya sendiri. “Anakku, jangan mimpi tinggi-tinggi, gila nanti, masuk RSJ nanti”. Saya tersenyum, dan berbisik dalam hati bahwa tidak ada yang tidak mungkin, karena saya punya supporter yang Maha Kaya.

Setelah mengikuti seleksi PPAN 2012 saya hanya mendapat posisi runner up I Korea, artinya saya tidak berhasil dan tidak berangkat keluar negeri. Fisik saya pun tidak setangguh dulu seperti sebelum sakit. Sekarang ini saya memang gampang sekali sakit, gampang capek, demam, dan sebagainya. Saya mulai melupakan mimpi keluar negeri. Pahit memang, seolah ada suara dalam diri yang mengatakan agar saya harus ikhlas menerima kenyataan bahwa saya sekarang tidak lebih dari sosok penyakitan! Mana mungkin ada pihak yang mau memberikan kepercayaan pada orang penyakitan. Apalagi sebagai duta bangsa. Benar-benar seperti mimpi di siang bolong rasanya. Saya mencoba untuk realistis, sehingga saya hanya fokus pada studi saja. Saya hanya fokus untuk tamat kuliah. Hanya itu.

Mulai penelitian
Saya mengambil penelitian labor, yang artinya saya seperti ilmuwan yang di tipi-tipi bekerja di labor seharian. Tangisan kembali hadir. rasa tak sanggup badan ini menyelesaikan penelitian. tegak seharian sudah membuat badan saya lemah selemah-lemahnya. Saya hanya bisa menangis lagi. Ingin berkata dan bercerita, tapi tak akan ada orang yang mengerti perasaan hati.

Perlahan saya tetap lakukan penelitian, hingga akhirnya alhamduliilah.. It is done guys! Di penghujung tahun 2013, waktu itu saya sedang demam dan tiba-tiba kak Noni menghubungi meminta saya untuk melengkapi beberapa persyaratan mengikuti program JENESYS 2.0 ke Jepang. Dan, tanggal 06 desember 2013 saya berangkat ke Jepang. Duhai Allah begitu indah rencana-Mu.

Allah kasih hadiah berangkat ke Jepang
Pada saat landing di Jepang pada tanggal 07 Desember pagi, saya hendak mengangis rasanya. Serasa hidup dalam mimpi. Setelah berusaha selama ini, menggenapkan doa, sabar dan pasrah akhirnya Allah datang memberi hadiah. Lagi-lagi hanya Allah yang dapat mengerti bagaimana rasa hati saat itu.

Selama di Jepang kehidupan benar-benar seperti mimpi. Apalagi ketika bisa berdiskusi dengan istri PM Jepang dan istri Presiden RI. Kawan, mimpi itu sangat manis ketika menjadi kenyataan. Serasa terbalaskan segala perjuangan yang telah dilakukan selama ini. Ketika pulang dari Jepang, saya hanya bisa berkata pada ibu bahwa anaknya tidak gila. Anaknya benar-benar berhasil menginjakkan kaki di negeri orang sebagai duta bangsa secara gratis. Mimpi anaknya menjadi kenyataan! Perkataan bermimpi setinggi bayang-bayang ternyata sama sekali tidak berlaku di dunia ini!!!

Kejar tamat kuliah
Setelah pulang dari Jepang saya pun mengebut pasang gigi empat untuk menyelesaikan studi S1. Dan alhamdulillah, kemarin tepat tanggal 12 Februari 2014, ketok palu sidang resmi dengannya saya menggandeng gelar sarjana. Duhai kawan, sekali lagi, manisnya mimpi ketika menjadi kenyataan.

Siapa yang menyangka bahwa gadis penyakitan, yang tak satu orang pun mempercayainya dulu, akhirnya bisa juga keluar negeri dan meraih gelar sarjana. Daftar mimpi-mimpi tidak lagi hanya menjadi daftar, tapi mulai menjadi kenyataan. Pertama, alhamdulillah IPK saya diatas 3,5. Kemudian saya bisa tamat sebelum umur 22. Alhamdulillah saya bisa mendapatkan beasiswa keluar negeri sebelum saya tamat kuliah dan yang lebih alhamdulillahnya saya bisa berbusana muslimah secacra syar’i. Mengenai hapalan Juz ‘amma, alhamdulillah saya sudah hapal sebagian, butuh perjuangan sedikit lagi untuk menghapal Juz ‘amma secara keseluruhan, waktu saya kurang lebih lima bulan lagi untuk mewujudkannya. Dan untuk mimpi saya yang terakhir. Insyaallah seperti mimpi-mimpi saya sebelumnya, ia akan segera menjadi kenyataan. Aamiin..

Daftar mimpi baru
Sekarang saya siap untuk menulis daftar mimpi yang ingin saya raih kedepannya. Kawan, yang perlu kita lakukan hanya percaya pada diri sendiri, bahwa kita bisa menjadi apa saja yang kita inginkan tak peduli seberapa banyak orang yang ‘tidak’ mempercainya selama kita berada di jalan yang benar dan mendapat support dari the greatest suppoter, Allah azza wajala.

Hidup cuma sekali, so let’s make it become extra ordinary.
Sampai ketemu di tulisan berikutnya yah guys 😉


 

Penulis adalah Willin Julian Sari, mahasiswa Pendidikan Kimia UIN Suska Riau angkatan 2009.
Tulisan asli dapat di lihat di catatan Facebook: https://www.facebook.com/notes/willin-yulian-sari/life-is-always-started-by-a-dream/10152019030416156

 

Close