Category

Article

Article, Re-blogged

Saran fotografi untuk Ibu Anie Yudhoyono

Kakak saya seorang penggila fotografi. Tadi sore dia, dan teman-temannya yang juga gemar fotografi, menelurkan banyak ide keren sebagai ekspresi dari dukungan mereka terhadap hobi Ibu. Mereka bangga punya Ibu Negara yang cinta fotografi. Izinkan saya untuk meneruskan ide mereka dalam bentuk tulisan, kayaknya dari mereka belum ada deh yang sampaikan hal ini ke Ibu. Mereka mungkin malas tulis surat ke Ibu karena mereka terbiasa bicara pakai gambar, bukan pakai tulisan, yahh….. Namanya juga fotografer, Ibu paham ? Ibu Ani Yudhoyono (Sumber gambar: www.tempo.co Saya paham bahwa fotografer biasanya punya interest yang spesifik. Fotografer yang satu mungkin penggemar berat human interest, sementara yang lainnya fokus ke pemotretan konser. Fotografer lain tergila-gila memotret bangunan sedangkan temannya amat menggemari foto bertema sport. Tapi ga papa ya Bu, saya tetap teruskan gagasan-gagasan kakak saya dan teman-temannya. Namanya juga ide atau saran, ngga perlu diterima walau banyak yang menarik. Idenya terbagi-bagi dalam beberapa kategori, saya ngga ngerti fotografi jadi kalau pemilahan kategorinya tumpang-tindih, maaf ya Bu.

1. Kategori Nature Cukup naik mobil, Ibu bisa memotret banjir di Kampung Melayu, Pluit, Grogol, Bekasi. Pastikan Ibu pakai celana panjang karena di banyak area Ibu harus manjat-manjat. Ada tempat yang tinggi airnya 2 meter, pasti itu sangat menarik untuk dijadikan obyek foto. Pastikan pakai slow speed ya Bu jadi banjirnya terlihat dramatis layaknya air terjun. Sub kategori berikut hanya bisa dicapai dengan pesawat. Daripada nanti ada yang nyindir,”Ibu memotret perginya pake duit negara atau duit pribadi ?”, lebih baik beli tiket promo aja Bu pakai uang sendiri. Ini masuk kategori nature juga, Ibu bisa memotret longsor dan tsunami kecil di Menado dan gempa di Sinabung.

2. Kategori Human Interest Ini murah Bu, tidak usah khawatir ditanya sinis,”Ibu memotret pake duit negara atau duit pribadi ?” Foto kategori ini bisa dilakukan di tempat yang sama dengan pemotretan kategori nature. Coba Ibu foto dari jarak dekat para kakek dan nenek yang rumahnya longsor. Keriput mereka pasti sangat menarik. Air mata para ibu yang anaknya meninggal di Sinabung juga indah. Ibu macroin aja. Air mata mungkin penampakannya akan seperti balon yang berayun dan keriput bisa jadi akan terlihat seperti akar tanaman.Oh ya, saya lupa, Ibu juga bisa memotret para tukang ojek yang penghasilan hariannya nyaris nol karena hujan terus dan tak bisa bawa penumpang. Tukang gorengan, tukang bakso keliling, yah…Pokoknya mereka yang “kerja hari itu untuk makan hari itu”, pasti bagus dijadikan obyek foto Ibu. Jangan lupa untuk memotret para seniman tua yang hidup dibelit utang rumah sakit namun mereka juga tak kunjung mati karena ketakutan saat memikirkan biaya pemakaman yang terus membukit. Muka mereka yang sedih…Kecewa…Marah karena terlupakan…Itu obyek foto yang bagus. Full karakter, Bu.

3. Kategori Sport/Action Di sini Ibu bisa santai karena waktunya panjang, nembakin tukang bunga aja bisa 19 jam jadi Ibu bisa ganti-ganti spot sekaligus ganti-ganti lensa. Ibu bisa pakai tele, wide lens, terserah. Peluru waktu keluar dari senjata juga bisa dimacroin ya, Bu. Selain itu Ibu juga bisa memotret para atlet yang kini sudah tua dan takut mati karena biaya pemakaman mahal sekali. Foto mereka saat berjaya pasti ada namun gambar terakhir mereka saat terbaring lemah mungkin belum ada, lho. Mungkin mereka anti difoto karena mereka sekarang demikian rapuh. Nah, kalau Ibu Negara yang mau memotret, mereka otomatis ngga bisa menolak. Ibu bisa memotret mantan atlet angkat berat sedang mengangkat barbel 0,5 kg, di dipannya yang sudah reyot, misalnya.

4. Kategori Portrait atau Modelling Ibu bisa ke KPK. Banyak loh muka muka ganteng dan cantik yang bisa Ibu jadikan model, apalagi pas mereka memakai baju tahanan, pasti keren soalnya kami-kami yang nyari duit halal nggak bisa pakai baju begitu. Oh ya Bu, saya bisa titip pesanan foto ya Bu ? Tolong fotoin tas dan bajunya Atut ya Bu. Saya penasaran, kata majalah Tempo, dia kerap kali pas keluar dandanannya minimal 1 milyar.

5. Kategori candid Ibu bisa foto candid orang tua yang sedang menangis karena anaknya terbawa banjir atau menteri yang lagi ngopi-ngopi sambil bersenda gurau dengan cucu seraya nonton banjir di TV. Pilihan lain adalah petugas bendungan Katulampa yang sudah belasan jam memantau ketinggian air, ninggalin anak dan istri di rumah yang mungkin sedang kebanjiran.

6. Kategori Landscape Ibu bisa foto sawah yang tersapu banjir atau rumah yang hancur kena longsor di kaki bukit. Pastikan Ibu bawa ajudan yang banyak untuk membantu menjadi mata Ibu. Kalau beruntung, Ibu atau ajudan Ibu mungkin akan melihat hewan langka terseret arus karena longsor yang disebabkan hutan dijadikan real estate. Nah, klik ! ibu langsung potret, deh. Pasti dihargai mahal oleh National Geographic.

7. Kategori Arsitektur Ibu bisa foto gedung-gedung atau rumah yang hancur karena longsor atau bencana lainnya. Gambar gedung sebelum musibah hampir pasti ‘kan ada,ya. Suatu saat bangunan itu akan diperbaiki,nah..Komplet ‘kan. Jadi ada foto “Sebelum Musibah”, “Selagi Musibah”, dan “Sesudah Musibah”. Pastikan Ibu masuk ke rumah-rumah para tukang becak, satpam ruko. Betapa efisiennya mereka menggunakan lahan:Satu rumah berukuran 6m x 6m bisa menampung 14-15 orang, di dalamnya ada ruang tamu merangkap ruang makan. Tempat tidur merangkap ruang tengah. Kamar mandi merangkap ruang cuci. Kelak, foto-foto ini bisa Ibu jadikan alat untuk mendukung proyek penghancuran taman untuk alih fungsi sebagai apartemen. Oh ya, itu di atas semuanya obyeknya orang lain ya ? Ibu sudah bekerja sangat keras, memberikan sumbangsih tak ternilai bagi dunia fotografi Indonesia. Jadi, ada bagusnya, atas nama hadiah bagi diri sendiri, Ibu juga mengambil foto berikut:

8.Kategori Selfie Ibu bisa memotret diri Ibu saat sedang di kamar hotel di Bali, ketika sedang makan bersama dengan para tamu negara, waktu bermain dengan cucu-cucu, lagi menghirup teh hangat di tengah dingin yang menusuk, atau pas lagi mengunyah pasta di tengah pesta. Ibu, saya rasa ide-ide kakak saya dan teman-temannnya patut diapresiasi. Saya bangga mengenal mereka. Saya bangga mereka punya kreativitas dalam berkesenian yang demikian memukau. Sebagai ibu negara, karena mereka adalah rakyat Ibu, pastilah ibu lebih bangga lagi. Selamat, Bu!


Sumber tulisan: www.garudapenulis.com/pecinta fotografi

Article, Re-blogged

Tamparan Habibie bagi bangsa Indonesia

Sudah membaca buku kisah “Ainun dan Habibie” atau bahkan sudah menonton filmnya? Mungkin kebanyakan anda lebih tertarik dan tersentuh dengan kisah romantis kesetiaan sepasang suami istri, namun justru yang saya rasakan di sepanjang tulisan dalam buku dan film, adalah sebuah pertunjukan “peperangan” dari seorang anak bangsa kepada kebijakan pemerintahnya yang tidak berdaulat dan “tamparan” bagi budaya bangsanya yang tidak mandiri di atas tanah airnya sendiri. Sumber gambar www.tempo.co Pada paruh tahun 80-an akhir, sosok Habibie menjelma menjadi idola dan simbol sosok intelektual yang shalih. Seorang intelektual yang mumpuni diakui dunia barat, yang secara material sudah kaya karena royalti dari rancangan sayap pesawat terbang yang terus mengalir seumur hidup, dan digambarkan sebagai sosok yang taat dan rajin beribadah, bahkan tidak pernah meninggalkan puasa sunnah hari Senin dan Kamis. Pada masanya bahkan masih sampai kini, sosok ini menjadi model bagi banyak sekolah dan lembaga pendidikan Islam, dengan jargon “mencetak cendekiawan yang berotak Jerman dan berhati Mekkah”. Beberapa pihak bahkan menyebut sekolahnya sebagai lembaga yang mencetak Ulil Albab. Bisa jadi karena sedikit banyak sosok Habibie waktu masa itu dianggap pantas sebagai model Ulil Albab dalam perspektif cendekiawan. Begitulah, “ruh intelektual” dari sosok Habibie nampaknya lebih kental dikenal dari “ruh pejuang”. Makna Ulil Albab pun menyempit menjadi makna seorang cendekiawan pandai yang memiliki kesalihan personal. Efeknya adalah lahirlah konsep2 pendidikan Islam yang berupaya memadukan kedua sisi itu dengan nama “IMTAQ dan IPTEK”, dengan ciri khas bergedung hebat, berorientasi mecusuar dan elitis alias terpisah dari masyarakatnya, sebagaimana pusat menara gading para intelektual. Apa yang salah? Mungkin tiada yang salah, namun yang kurang adalah memunculkan “ruh perlawanan” untuk membebaskan bangsanya dari penindasan bangsa lain dan memperjuangkannya menjadi bangsa yang berdaulat dan mandiri. Sesungguhnya itulah esensi semangat dari Habibie muda. Benarkah Habibie hanya seorang Intelektual atau Cendekiawan saja? Sejak menginjakkan kaki di Jerman, yang ada di kepala Habibie adalah membuat pesawat untuk Indonesia, untuk mensejahterakan bangsanya, untuk keadilan sosial di negerinya. Hanya itu! Bukan sebagaimana cita2 para mahasiswa hasil gemblengan pendidikan berorientasi kelas pekerja, yaitu bekerja di perusahaan besar dengan gaji besar Habibie muda sadar dengan potensinya di masa depan. Ia mendatangi pemerintah dan menawarkan untuk membangun Industri Pesawat sendiri. Mental demikian mustahil lahir dari jiwa2 yang tidak merdeka dan tidak mencintai Indonesia. Soekarno dan pemerintahannya tidak mendengar jelas suara itu. Maka, habibie muda melakukan perlawanan. Ia bekerja di negeri Jerman, hasil karyanya begitu dihargai. Bahkan sindiran2 tentang Indonesia, seakan sirna dengan karya-karya yang dibuat oleh Habibie. Rezim Soekarno berubah menjadi Rezim Soeharto. Nama habibie yang sudah meroket di luar negeri, membuat ketertarikan rezim pemerintahan Soeharto. Yang ingin dilakukan Soeharto adalah menjadikan Indonesia menjadi macan di asia. Maka, ia membutuhkan hal2 yang mendukung itu. Teknologi salah satunya. Habibie pun dipanggil. Dia diminta memimpin proyek industri transportasi Indonesia. Lagi-lagi habibie, melihat jeli masa depan Indonesia yang jaya. Ia yakin benar, bila Industri Strategis dikembangkan sedemikian rupa, maka Indonesia yang terdiri atas 17.000 kepulauan ini berubah menjadi pesat. Mantan ketua umum ICMI ini, menyadari bahwa selaiknya potensi besar negeri ini disadari. Visi Habibie terhadap teknologi adalah agar bangsa ini berdaulat, agar pulau2 terpencil bisa terhubung dan sejahtera, agar putra bangsa bisa membuat sendiri pesawat yang murah namun canggih sesuai kebutuhan bangsa ini. Bandingkan dengan visi teknologi dari mobil nasional, robot nasional dsbnya yang hanya berorientasi industri semata. “I have some figures which compare the cost of 1kg of airplane compared to 1kg of rice. 1kg of airplane costs $30000 and 1kg of rice is $0,07. And if you want to pay for your 1kg of high-tech products with a kg of rice, I don’t think we have enough.” (Sumber : BBC: BJ Habibie Profile -1998.) Kalimat diatas merupakan senjata Habibie untuk berdebat dengan lawan politiknya. Habibie ingin menjelaskan mengapa industri berteknologi itu sangat penting. Dan ia membandingkan harga produk dari industri high-tech (teknologi tinggi) dengan hasil pertanian. Ia menunjukkan data bahwa harga 1 kg pesawat terbang adalah $30.000 dan 1 kg beras adalah 7 sen. Artinya 1 kg pesawat terbang hampir setara dengan 450 ton beras. Jadi dengan membuat 1 buah pesawat dengan massa 10 ton, maka akan diperoleh 4,5 juta ton beras. Jadi Habibie sungguh-sungguh menginginkan bangsa ini berdaulat, bukan sekedar mempelajari dan membuat teknologi yang tidak ada kaitannya dengan kondisi bangsa kini dan masa depan. Proyek pesawat terbang, Gatotkaca mengguncang dunia. Barat melalui media, berupaya melunturkan semangat kebangkitan Indonesia. Bahkan, Soeharto yang arogan itu, kini menjadi musuh masa depan bagi Kapitalisme Eropa dan Amerika. Dikisahkan, kritik terhadap permainan korupsi terlihat. Bagaimana mudahnya cara-cara tender kotor sering dilakukan. Habibie mengkritik itu semua. Siapa yang tidak tahu semua Partai dan Pengusaha menghalalkan konspirasi tender proyek pemerintahan untuk logistik pemilu mereka. Jujur, Indonesia tidak pernah kekurangan para Teknokrat yang memiliki kapasitas keilmuan di atas teknokrat barat. Indonesia memliki pula para Politikus ulung yang bersahaja, taqwa bahkan jenius dalam membuat kebijakan pro-rakyat. Indonesia memiliki para ahli kesehatan yang sangat konsen dalam menyelesaikan krisis kesehatan dan penyakit. Bahkan, bila diberikan keleluasaan dan peluang bisa jadi Obat HIV/AIDS itu dapat ditemukan. Potensi Indonesia ini begitu besar. Sangat besar sebesar luasnya wilayah teritorial Indonesia. Inilah pentingnya ruh perjuangan dan pembebasan atas penindasan dan penguatan kemandirian bangsa ditanamkan di sekolah-sekolah. Lihatlah bagaimana ruh intelektual berpadu dengan ruh pembebasan atas penindasan ini nampak pada sosok HOS Cokroaminoto, Ahmad Dahlan, Ki Hadjar Dewantoro, M. Hatta, Kartini dsb. Alangkah jahatnya (bukan lucunya) para pemimpin negeri ini. Mereka kurang bersahabat dengan nurani dan tidak mensyukuri karunia ilahi atas Indonesia. Politik kotor telah jadi kebiasaan dan dihalalkan atas nama kepentingan kelompok. NeoKapitalisme telah subur dan mencengkram. Diperparah oleh sekolah dan lembaga pendidikan yang hanya berorientasi melahirkan intelektual atau kelas pekerja. Padahal sejatinya pendidikan melahirkan jiwa-jiwa pembebas penindasan negeri ini melalui beragam potensi yang dimiliki anak-anak Indonesia, teknologi adalah salah satunya. Alhasil, sampai kapanpun maka Indonesia akan jalan ditempat. Kita tidak sekedar butuh banyak habibie baru, tetapi mereka yang berani berkata benar, memberikan kemampuannya dengan keseriusan dalam membangun negeri, dan tentu negeri yang besar tidak akan melupakan Tuhannya. Maka, sepatutnya lahir para birokrat, politikus, teknokrat, ilmuwan dan akademisi serta kaum muda yang mau berjuang untuk membebaskan negeri ini karena Allah SWT Lihatlah bagaimana Habibie dengan kecintaannya pada Technology berhasil memadukannya dengan kecintaan pada Indonesia, kecintaan pada bangsa Indonesia dan kecintaan pada keluarganya. Semuanya adalah karunia Allah swt yang mesti disyukuri secara terpadu dengan perjuangan sampai mati. Bukan kecintaan pada kelompok dan golongan, dengan mengatasnamakan cinta pada Indonesia. Kita semua yang masih mencintai negeri ini tentu merasa sedih dan terpukul ketika menyaksikan Habibie ditemani Ainun masuk ke dalam hanggar pesawat di PTDI, menyaksikan pesawat CN235. karya anak bangsa yang diperjuangkan dengan jiwa dan raga, teronggok bagai besi tua. Tiada yang berteriak membela, tiada yang peduli. Semua bungkam masa bodoh. Sambil memegang tangan Ainun, Habibie berkata: “Maafkan aku untuk waktu-waktu mu dan anak-anak yang telah kuambil demi cita-cita ini” Sesungguhnya kita tidak sedang menangisi Habibie, tetapi sesungguhnya kita seolah sedang ditampar oleh Habibie, kita sedang menangisi diri sendiri, menangisi ketidakmampuan kita untuk menjadi seperti Habibie atau membuat pendidikan yang banyak melahirkan Habibie. Menjadi seperti Habibie, bukan untuk menjadi intelektual seperti Beliau, namun untuk memiliki cinta murni yang sama, yaitu Cinta pada potensi unik pribadi kita, Cinta pada Bangsa ini, Cinta pada Alam Indonesia, Cinta pada Keluarga, Cinta pada Allah Swt, Cinta pada semua karunia yang ada lalu kemudian memadukannya dalam Perjuangan di Jalan Allah untuk membebaskan bangsa dan manusia demi Peradaban yang lebih adil dan damai. Habibie menyebutnya keterpaduan ini dengan Manunggal. Habibie berkata: ”Manunggal adalah ”Compatible” atau kesesuaian, Karena dalam cinta sejati terdapat empat elemen berupa, Cinta yang mumi, cinta yang suci, cinta yang sejati dan cinta yang sempurna.


Sumber : http://www.menjelma.com/2014/01/tamparan-habibie-bagi-bangsa.html

Article, My Story

Nasihat dari Ketua Umum Pengurus Besar HMI (PB HMI)

Cak Nur memberikan pesan kepada para aktivis yang kemudian pesan tersebut diriwayatkan oleh kakanda Muhammad Arief Rosyid Hasan ketua umum PB HMI yang disampaikannya ketika sharing dan temu ramah dengan pengurus BADKO HMI RIAU-KEPRI di Batam tanggal 21 kemarin.

Dengan Kanda Arif Rosyid (Ketua Umum PBHMI)

Kanda Arief menyebutkan dalam sambutannya bahwa dulu Cak Nur pernah mengatakan bahwa “Aktivis itu akan menuai hasil perjuangannya idealnya dalam kurun waktu 10 tahun mendatang”, itu berdasarkan proses yang ideal tambahnya. Tetapi jika dibarengi dengan akselerasi yang baik dan optimal maka hasil perjuangannya bukan tidak mungkin diperoleh dalam waktu yang lebih cepat. Namun fenomena yang terjadi saat ini adalah para aktivis cepat terlena dan sangat oportunis, aktivis bergerak karena ada manfaat bagi dirinya dan manfaat yang dimaksud sudah bergeser dengan sangat prinsipil. Bergerak karena ada keuntungan materi, dimobilisasi karena ada uang. Bahkan banyak juga aktivis yang akhirnya menyerah karena berfikir tidak ada hasil yang diperolehnnya melainkan hanya aktifitas yang sia-sia belaka. Ini sungguh sangat salah kaprah.

Aktivis saat ini sudah banyak yang keliru, mereka bergerak bukan karena ingin membesarkan diri dan organisasinya melainkan hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Mereka tidak lagi berjalan dengan intelektual, melainkan “proposal”. Kecendrungan mereka untuk berorganisasi adalah semata untuk “mencari hidup” di di dalamnya. Namun dibalik kenikmatan sesat dan sesaat yang didapat itu mereka tidak menyadari hukumnya bahwa “Jika engkau membesarkan organisasi maka ia akan membesarkanmu, kalau engkau berbuat zalim di organisasi maka ia akan menghancurkanmu sehancur-hancurnya”, sudah banyak contohnya, ujar kanda Arif.

Kanda Arif juga menyebutkan bahwa amanah itu adalah harga diri dan ia harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Amanah dan nama organisasi itu melekat di dalam diri, jadi setiap perbuatan kita tidak secara tidak langsung juga membawa nama organisasi. Kita harus menyadari itu. Namun realitas yang terjadi bahwa aktivis organisasi banyak yang berbuat menyimpang, menjual organisasi kemana kemari. Mereka “Mengkapitalisasi organisasi”, maksudnya memperkaya diri di organisasi. Mencari nafkah dari organisasi. Dalam pengakuanya, kanda Arif juga menyebutkan bahwa selama satu semester kepengurusannya ia terus “berperang” dengan orang-orang dan senior yang menganggap HMI itu adalah kantor, tempat “kapitalisasi organisasi”. Ia juga mangatakan bahwa “orang Jakarta” itu seolah merekalah yang memiliki Indonesia. Ia juga mengalami kesulitan dalam kepengurusannya karena orang-orang saat ini syaratnya untuk bergerak sedikit-sedikit uang bahkan banyak yang terus terang meminta transaksi agar kawan-kawan bisa dimobilisasi maka harus ada sejumlah rupiah.

Seharusnya di HMI ini kita belajar dan berjuang, mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. HMI ini adalah kawah candradimuka tempat kita ditempa. Namun lagi-lagi, orang yang tidak kuat menjalani proses akhirnya terseret. Di HMI kita tidak diajarkan untuk berbuat macam-macam, HMI mengajarkan ilmu yang baik dan seharusnya ilmu itu digunakan untuk hal-hal yang baik pula. Kalau berfikir untuk kepentingan hidup, maka kepentingan itu akan selalu ada. Jika kita berbuat baik maka akan ada saja jalan baik untuk kita bisa terbantu. Kanda Arif juga mengingatkan bahwa kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan harus menarik, idenya harus brilliant. Maka dengan itu kegiatan tersebut akan bernilai mahal. Ia juga mewanti-wanti untuk tidak terpaku pada agenda yang mainstream dan juga agar tidak terlalu menanggapi hal-hal yang tidak strategis. Dalam hal ini, BADKO harus mendorong cabang-cabang untuk meningkatkan kreatifitas. Optimisme harus terus dibangun, melihat geliat-geliat aktifitas HMI di komisariat-komisariat kita percaya bahwa HMI ini tidak akan mati, ujar kanda Arif. Aktifitas di komisariat masih luar biasa. Yang kelimpungan itu orang-orang yang di atas yang kepentingannya sudah berbeda dari tujuan organisasi.

Jika kita terus berbuat yang terbaik maka organisasi ini kelak akan menjadi penolong. Kanda Arif bercerita mengenai terpilihnya dan menguatnya dukungan terhadap Abraham Samad ketika menjalani pemilihan sebagai ketua KPK dan juga contohnya ketika Hamdan Zoelva terpilih sebagai ketua MK. Selain kapasitas dan kapabilitas yang dimiliknya yang membuatnya akhirnya terpilih, ada hal yang juga sangat menentukan bahwa “dia itu kawan kita juga”, atau istilahnya adalah HMI Connection. “Kodenya itu”, ujar kanda Arif. Abraham Samad dan Hamda Zoelva adalah mantan aktivis HMI.

Ada hal yang sangat memprihatinkan jika kita amati ucapan kanda Harry Azhar Aziz dalam pembicaraanya di dialog pelantikan BADKO di Batam ketika itu. Ia menyebutkan bahwa saat ini mantan anggota HMI itu sudah menyebar hampir di seluruh lembaga pemerintahan, baik itu di DRR, KPU, KPPU, dan sebagainya. Sekitar 30-40% alumni HMI ada di setiap lembaga pemerintahan. Tetapi kenapa negara ini juga tidak kunjung baik? Kanda Harry menyebutkan bahwa kebanyakan kita adalah orang agama tetapi perilakunya tidak agamis. Barangkali hal ini juga yang menjadi sorotan Kanda Arif bahwa sistem yang ada yang akhirnya melipat kawan-kawan untuk berbuat macam-macam. Segelintir orang akhirnya terseret kedalam jurang. Sebut saja beberapa orang alumni HMI yang saat ini terjerat kasus korupsi, namun adilkah kita jika terlalu membesar-besarkan penyebab masalah itu akibat proses yang ada di HMI. Sungguh tidak adil jika kita menilai begitu, HMI tidak pernah mengajarkan hal-hal buruk. Kita harus tetap membangun optimisme, ujarnya.


Catatan: Tulisan ini dibuat dengan modifikasi dan penambahan ide dari penulis. Redaksi dan penjelasan beberapa kata-kata dari narasumber tidak sepenuhnya murni, ada pengembangan ide dan penambahan gagasan dari penulis. Foto: Seusai acara pelantikan BADKO HMI Riau-Kepri periode 2013-2015 dan seminar nasional tentang rekayasa politik dan penegakan supremasi hukum untuk mewujudkan Indonesia yang berkeadilan. Batam, 21 Desember 2013.

Article, My Story

Lima kali aku bermimpi; sebuah sajak

Alf laam miim
lima kali aku bermimpi
kali pertama sua Al-Ayyubi
kepadaku ia berwasiat sepenuh hati
cintai Rasulmu
karena itulah senjataku dulu
waktu mengembalikan Al-Aqsha
ke pangkuan agamaku

Kali kedua dua Al-Fatih
kepadaku ia berbisik lirih
cintai rasulmu
karena itulah senjata Al-Ayyubi
yang ku pinjam
kala menaklukkan konstantinopel
di bawah kaki

Kali ketiga sua diponegoro
kepadaku ia berkata purna
cintai rasulmu dan belalah negerimu
karena seperti itulah aku dahulu
melawan kepongahan para kuffar penjajah
yang menginjak-injak
ini pertiwi punya muruah

Kali keempat sua Soedirman
kepadaku ia serius berpesan
teruska perjuanganku
yang belum tertuntaskan
aku ini jenderal santri
darahku darah santri
nyawaku nyawa santri
nafasku nafas santri
lahir dan besarku asuhan kiai
kubela mati-matian Indonesia ini
karena menggenapi pesan baginda Nabi
yang ditancapkan kiaiku ke sanubari

“Insyaflah!
barangsiapa mati
padahal hidupnya
belum pernah berperang
membela keadilan
bahkan hatinya berhasrat perangpun tidak
maka matinya ia
di atas cabang kemunafikan”
Allahu akbar! Allahu akbar!

Kali kelima aku bermimpi
melihat cahaya terang sekali
tak kuat aku memandangnya
hingga pingsanlah aku dibuatnya

Duhai Tuhan
mungkinkah itu cahaya Muhammad
yang ku rindukan siang dan malam?

Duhai Tuhanku
beri aku kekuatan
yang tak kan pernah Engkau berikan
kepada orang sesuah aku di kemudian


 

:: Karya Ust. Rich (Kang Monif, Ph.D)

Dalam buku Rasulullah Business School

rasulullah-business-school

 

 

DI Kedubes Jerman
Article, My Story, Travelling

Cerita Ibu kota: Dari dilema Kedubes Jerman hingga ketemu sesepuh HMI

[dropcap style=”light”]H[/dropcap]ari ini diawali dengan sepotong roti dan segelas teh panas. Sekedar makan untuk mengganjal perut. Sekitar jam 6 pagi perjalanan dimulai dari kediaman Ibu Lily (Dosen pendamping Jerman) di kawasan Cempaka Putih Timur. Tujuan pertama adalah ke UIN Jakarta, berhubung Ibu Lily adalah Pembantu Dekan bidang akademik di fak. teknik dan beliau mengejar waktu untuk menghadiri rapat dekanat pada pukul 8 nanti.

DI Kedubes Jerman

Setiba di UIN Jakarta, kami harus menunggu beliau hingga selesai rapat pukul 10 wib. Sekitar pukul 11 kami berangkat menuju Kedubes Jerman yang berlokasi di sekitar kawasan bundaran HI. Sementara appointment ke Kedubes pada pukul 1, maklum kondisi macet di Jakarta mengharuskan kita berangkat lebih awal. Ternyata kondisi jalanan belum begitu macet sehingga kami tiba lebih awal dan harus menunggu.

Ada hal yang memperihatinkan ketika pengurusan visa. Kami baru diperbolehkan masuk sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan (sesuai email). Menurut saya, adalah perlakuan tidak terhormat bahwa semua pengunjung keduber harus antri dibalike tembok besi nan tinggi lagi tebal, tanpa tempat duduk dan atap (disamping jalan raya). Ternyata hal ini berlaku untuk semu kalangan. Dan pengunjung tidak diperbolehkan masuk sebelum waktunya. Setelah cukup lama menunggu, sampailah pada giliran kami memasuki gedung kedubes melaui pintu kecil diantara pagar besar. Setelah melalui pintu tersebut, kami sampai pada pos pemeriksaan. Seluruh electronic devices harus dititip ke petugas, kami diberikan Id yg dìgantungkan di leher. Setelah melalui itu barulah kami dipersilahkan naik ke gedung utama.

Sampai di ruang pengurusan visa, kami disambut oleh puluhan orang yg sudah cukup lama mengantri. Ada pengumuman tertempel yg mengatakan bahwa syarat yg tidak lengkap tidak akan dilayani. Diantara sejumlah syarat, ada satu syarat yang sering menjadi masalah: yakni bukti laporan keuangan (ditunjukkan dengan bukti rekening bank dalam tiga bulan terakhir. Setiap orang yang hendak ke Jerman harus memiliki sejumlah saldo lebih kurang 75 Euro dikali jumlah hari berada di Jerman dan catatan keuangan harus diinilai “stabil”, berarti ada pemasukan dan transaksi yang signifikan. Tentu saja ini cukup memberatkan. Jika tidak mencukupi, maka mereka tidak akan mengeluarkan visa. Sebenarnya ada beberapa alasan mengapa pihak Jerman memberlakukan ini, diantaranya adalah untuk sebagai jaminan agar nanti jika terjadi hal buruk maka dana tersebut dapat digunakan sehingga tidak menyusahkan pihak Jerman dan menghindari para pendatang terlantar di Jerman. Kami sempat mendiskusikan ini, sempat kami dapat salah satu analisa bahwa hanya orang kaya lah yang bisa ke luar negeri. Dan saya bukan orang kaya, saya hanya pandai-pandai dan diberikan keberuntungan oleh Allah Swt.

Pihak Kedubes ternyata sangat ketak dan tidak mentorelir kesalahan apapun. Saat itu ada bebera orang teman yg mengalami masalah ini, sehingga besok pagi harus datang kembali untuk melengkapi persyaratan. Singkat, kami selesai pukul 4 wib sebagai orang terakhir yang dilayani pada hari itu.

Setelah dari kedubes, kami dibawa makan dan ngumpul di kawasan menteng jalan Besuki daerah Sekolah Dasar di mana dahulunya Presiden USA Barack Husein Obama pernah belajar. Wah saya merasa cukup berkesan berada di sana.

Pukul jam 6 kami mulai jalan pulang, ternyata saya dibawa singgah ke rumah ayahanda Ibu Lily, yakni Bapak Khairunnas. Dalam obrolah saya dengan keluarga yang ramah itu, bapak Khairunnas bercerita bahwa dia dahulunya adalah ketua umum HMI Cabang Jakarta. Beliau dahulu yang memberikan training pada beberapa tokoh besar saat ini seperti Akbar Tandjung, Jimly Assiddiqie dan beberapa lainnya. Beliau juga pembesar HMI saat ini yang masih aktif memperhatikan HMI bersama tokoh-tokoh lainnya. Kami bercerita mengenai HMI di masa beliau dan peran dan fungsi strategis yang beliau mainkan ketika itu, terutama pada sekitar zaman G30SPKI. Beliau juga bercerita mengenai peran beliau dalam pembangunan Graha Insan Cita milik HMI, dan pendirian yayasan terkait HMI. Beliau juga sempat bercerita mengenai kantor PB HMI yang berlokasi di kawasan menteng. Gedung bersejarah itu akan dijual oleh pemiliknya (HMI hanya mempunya sepertiga gedung). Beliau mengatakan akan membantu pengambil alihan gedung sehingga bisa dimili seutuhnya oleh HMI.

Selain cerita HMI, beliau juga bercerita bahwa dulu beliau melanjutkan kuliah di Jepang. Dan beliau sangat mengapresiasi keberangkatan kami ke Jerman. Beliau juga bercerita tentang pengalaman beliau ketika di Jerman (eh ternyata sudah pernah toh), maklum kakanda ini sudah menjelajah dunia.

Article, My Story

The signal

….belajar betul-betul kamu di Jerman sana,… ada puluhan ribu kader HMI yang senang berwacana revolusi dan perubahan tapi males baca serius… belajar saja baik-baik mudah2an tiap tahun satu dua atau tiga kader sumatera boleh kamu ajak menyusul ke sana, insya allah lah.” – pesan kakanda Andi Hakim kepada saya. Dibaca pagi ini.

IMG_1190

Saya ingat sekali saat itu ketika impian-impian saya mulai terwujud. Salah satu diantaranya ketika saya hendak mewujudkan impian “sudah harus ke luar negeri sebelum tamat kuliah; saya dapat kesempatan ke Filipina”. Ada sinyal-sinyal yang menggetarkan dan terasa sangat aneh. Seolah ini jawaban.

Ada hal menarik ketika malam hari ketika esoknya saya hendak berangkat ke Filipina (impian terwujud). Malam itu saya seolah merasa melayang. Ada aura-aura di sekitar tubuh saya yang terbang bebas lepas dengan harmoni. Terasa begitu damai. Suatu kondisi yang belum pernah saya rasakan sama sekali. Rasa syukur tak terhingga menggema di fikiran saya kepada yang Maha Kuasa. Saya tidak bisa menjelaskan dengan rinci apa yang sebenarnya sedang terjadi. Namun setidaknya itulah jawaban saya kepada beberapa teman yang bertanya tentang apa yang saya rasakan ketika impian terwujud (impian hasil perjuangan dengan sungguh-sungguh/bukan simsalabim).

Semua adalah pertolongan Allah
Coba dengarkan kesaksian saya bagaimana Allah membantu terwujudnya impian saya. Hari itu, sekitar dua hari sebelum akhirnya saya berangkat ke Filipina. Sudah lewat satu minggu lamanya saya berusaha mencari bantuan biaya kesana kemari namun tidak ada jawaban yang menentramkan. Rupiah belum terkumpul. Malam itu saya temui salah seorang kakanda alumni HMI yang kebetulan sudah akrab berkeliling dunia. Saya jumpai beliau di rumahnya setelah janji untuk bertemu di sore hari.

Saya datang ke rumah beliau ketika waktu sudah hampir maghrib. Namun “…..beliau masih belum pulang”, ujar istrinya. Saya putuskan untuk terlebih dahulu shalat magrib di sebuah mushalla tidak jauh dari rumah kakanda tersebut. Saya shalat dengan penuh kepasrahan dan pengaharapan, dalam fikiran saya ini adalah saat-saat terakhir saya untuk berusaha. Saat itu uang yang saya miliki adalah satu lembar tok Rp. 50.000, tidak ada lagi pegangan lainnya. Selesai shalat, tergerak saja hati saya untuk memberikan sepenuhnya uang yang saya punya untuk mushalla tersebut. Tidak terfikir bagaimana nantinya untuk saya makan ketika pulang dsb. Saya hanya fikir ikhlas demi Allah semata denga penuh pengharapan. Seusai itu, saya kembali ke rumah kakanda tersebut. Kami bertemu dan beliau memberikan motivasi serta nasihat kepada saya.

Esoknya keajaiban datang
Pagi hari saya mulai kembali beraktifitas mengurus bantuan pembiayaan. Betapa kagetnya saya ketika saya dapat kepastian bantuan biaya keberangkatan. Tidak tanggung-tanggung, sejumlah 135 kali lipat dari apa yang saya sedekahkan malam itu. Saya bergitu bersyukur dan sangat terharu dengan bantuan Allah Swt yang Ia berikan melalui hambanya.

Siangnya, saya bergegas mengurus segala hal untuk keberangkatan. Beli tiket, perlengkapan dan segala keperluan. Saya menangis dalam perjalanan siang hari itu. Saya masih tidak percaya Allah berikan saya kesempatan ini.

Ya Allah, bantu kami menjadi hamba-hambamu yang terbaik, selalu taat padaMu, menjalankan segala perintah dan menjauhi laranganMu.

Saya do’akan sukses dan berhasil selalu kepada sahabat-sahabat yang lagi berjuang maupun yang akan merencanakan perjuangan. Saya suka dengan orang-orang yang berjuang.

Salam sukses,
Adhitya Fernando

Penelitian di laboratorium
Article, My Story

Guru

[dropcap style=”light”]S[/dropcap]aya menganjurkan untuk semua sahabat dapat belajar banyak hal dan aktif menggali dari berbagai sumber. Punya ilmu, pengetahuan dan wawasan yang luas. Pengetahuan dan ilmu itu berbeda. Ilmu adalah pengetahuan yang disusun secara sistematis, sehingga bisa dipelajari dan diajarkan kepada orang lain. Orang yang memiliki banyak pengetahuan belum tentu memiliki ilmunya. Orang awam yang suka membaca berita politik belum tentu dia memiliki ilmu politik, begitu juga sebaliknya.

Penelitian di laboratorium

Ilmu, pengetahuan dan wawasan adalah modal berharga untuk kita bisa survive dan melejit dalam urusan apapun. Mencari ilmu dapat dilakukan dengan banyak cara. Zaman teknologi informasi ini, akses informasi sudah begitu luas dan mudah. Sehingga term “Guru” yang masih dianggap adalah seorang yang menjadi pengajar tatap muka menjadi semakin tereduksi. Istilah guru sudah semakin luas dan berkembang.

Di luar sana, banyak akses terhadap pengetahuan, terutama melalui internet. Banyak orang yang mendedikasikan waktu dan pengetahuannya untuk berbagi ilmu. Ada hal menarik, beberapa tahun belakangan ini saya banyak mendapat Guru untuk berbagai hal dan bidang. Salah satu yang sekarang cukup aktif sekarang ini adalah mengenai website. Teman-teman banyak yang bertanya, dari mana hubungannya hingga saya bisa menguasai ilmu mengenai hal tersebut, sementara jejak akademis saya tidak ada berkaitan dengan itu? Saya tersenyum menjawabnya, ya saya memang begitu kadang banyak yang tidak menduga bahwa saya punya ketertarikan dan minat belajar di berbagai hal.

Ditengah aktifitas keseharian saya yang cukup beraneka ragam, mulai dari akademis, organisasi dsb. Saya selalu menyempatkan diri untuk belajar hal-hal baru di luar waktu normal dan itu tidak disangka oleh sebagian teman. Sebelum tidur di waktu normal biasanya saya akan isi dengan membaca buku serta belajar berbagai hal, beragam topik dan tema buku, ini membuat wawasan dan ketertarikan saya menjadi berkembang. Dalam konsep hidup, saya selalu menekankan untuk memiliki identitas berbeda dan menonjol. Apa yang saya dapat banggakan dan apa yang membuat saya menjadi “dicari” dan unggul.

Dalam hal pembelajaran saya mengenai website, adalah seorang Belanda yang aktif berkomunikasi lewat e-mail mengajari saya banyak hal mengenai itu. Saya juga punya rekan-rekan di luar sana tempat saya belajar banyak hal dan berbagi informasi, umunya saya berkomunikasi via email dan social media. Ya mereka adalah Guru-Guru saya.

Banyak juga yang bertanya, dimana dan kepada siapa saya belajar bahasa? Haha itu saya juga punya Gurunya. Buku adalah teman saya untuk itu. Mengenai bahasa, umumnya saya memang cukup jarang mau meladeni teman-teman yang mencoba berkomunikasi dengan Bahasa asing. Mungkin itu yang membuat mereka penasaran. Saya aktif membaca buku, media asing dan berkomunikasi dengan teman-teman overseas dengan bahasa mereka agar tetap terpelihara kemampuan tersebut. Saya masih merasa cukup canggung untuk membiasakan bicara menggunakan bahasa asing dengan teman-teman sesama bangsa, saya kadang merasa tidak enak untuk itu. Sebagai gantinya saya aplikasikan dalam hal-hal lain terkait pembelajaran bahasa tersebut.

Saya mempunyai pandangan bahwa belajar adalah kebutuhan mendasar bagi semua orang. Dengan belajar akan membuat kualitas seseorang menjadi meningkat. Saya senang belajar secara otodidak dan diam-diam.

Saya salut dengan orang-orang yang diluar bidang kajiannya tetapi mampu menguasai berbagai hal lain. Ilmuwan-ilmuwan muslim dahulunya adalah pembelajar yang sangat baik, mereka adalah orang-orang prodigy (cerdas) dan polymath (menguasai banyal hal). Kita juga semesetinya seperti itu, tidak boleh berpuas diri hanya dengan satu kemampuan tertentu. Oleh karena itu, belajarlah berbagai hal dan buat wawasan dalam kehidupan anda semakin luas, niscaya anda akan menemukan suatu kebahagiaan dibaliknya dan semakin haus untuk belajar. Ini yang membuat kita selalu hidup walaupun “Guru” tidak lagi berjumpa tatap muka (sekolah).

Article, My Story

Kenal dari Facebook

[dropcap style=”flat”]B[/dropcap]elakangan ini seolah menjadi trend dalam aktifitas saya bertemu sahabat-sahabat baru yang ternyata mereka kenal saya “dari Facebook”. Saat di kampus, singgah di fotocopy, saat belanja di kedai atau supermarket ataupun di beberapa tempat lainnya sering kali ada satu atau dua orang yang lantas menyapa saya. Terakhir pagi ini saya disapa oleh seorang adik junior mahasiswa Fapertapet UIN Suska Riau ketika hendak masuk laboratorium

100 likes copy2

“Bang Adit kan?” Atau dengan ekspresi “Bang Adhitya..?” menyapa saya. Dengan segera saya hentikan sejenak aktfitas saat itu dan balik bertanya. Saya jawab “Iya, maaf abang lupa namanya”. Hehe sekedar alibi saja agar tidak terkesan melupakan, padahal saya benar-benar tidak kenal awalnya. Lalu mereka jawab, “Iya saya si anu..si anu”, saya potong dengan tanya lagi, “sebelumnya kita ketemu dimana ya..? abg lupa”. “Bukan bang, kita baru ketemu, saya kenalnya dari Facebook” jawab mereka. Haha

Saya melalui status ini menyampaikan terimakasih atas kebaikan mereka mau menyapa. Saya senang memiliki banyak sahabat seperti kalian. Saya tidak tahu kalian memandang saya seperti apa, tapi yang jelas saya anggap ini adalah apresiasi atas diri saya. Semoga bermanfaat berkenalan dengan saya.

Saya cukup aneh juga. Saya catat bahwa belakangan ini aktifitas komunikasi saya di telfon seluler lebih banyak (sekitar 50 %) diisi dengan nomor-nomor baru dari orang yang saya tidak kenal sebelumnya. Mereka perkenalkan diri dan menyampaikan maksudnya menghubungi saya. Bertanya ini dan itu, ketika saya tanya dapat nomor saya dari mana mereka pun menjawab. Ada yang dapat dan dikasih rekomendasi dari teman saya si anu dan si anu, ada yang bilang dapat dari facebook atau media sosial lainnya. Saya memang mem-publish nomor kontak di banyak sosial media. Di website pribadi, facebook dan lainnya.

Saya tidak pernah permasalahkan dan tidak sedikitpun keberatan dengan komunikasi yang dibangun. Saya senang membantu kalian semua. Kebanyakan mereka bertanya tentang program-progam yang saya ikuti, ada yang minta tips atau saran, ada yang minta rekomendasi, ada yang minta bantu arahan dsb.

Selama itu sopan, santun dan beretika saya akan tanggapi. Sejauh ini saya catat bahwa komunikasi yang dibangun sangat baik. Melalui ini saya juga sampaikan mohon maaf terkadang saya merasa tidak dapat membantu secara maksimal dikarenakan agenda, atau waktu yang juga terbatas. Tapi saya selalu berniat baik di dalam hati dapat membantu seutuhnya dan sepenuhnya.

Saya alhamdulillah juga sering mendapat bantuan dari banyak orang, mulai dari dukungan moril bahkan bantuan materil. Saya bersyukur atas itu dan sebagai balasnya, saya bersikap baik pula kepada setiap yang meminta bantuan yang secara langsung ataupun tidak. Saya pun ingin bisa membantu secara finansial, tapi itu belum mungkin saya lakukan secara intens. Tapi saya selalu coba dan lakukan sedikit demi sedikit, paling tidak jika memang ada selembar gambar pahlawan kertas biru akan saya kasih dengan senang hati. Semoga ini memupuk jiwa saya dan mengundang rezeki besar bagi saya, hinggapun saya dapat lebih membantu orang banyak. Do’akan saya punya rezeki banyak dan berdamai dengan dinansial, Insya Allah niat saya berbagi akan terus tumbuh.

Terakhir, saya juga sampaikan bahwa saya cukup anti dengan sikap ekslusif. Beberapa orang meng-ekslusifkan diri dalam pergaulan. Belum menjadi apa-apa sudah seperti pejabat kelas atas. Ahh saya tidak ingin begitu, saya ingin bersahabat dengan lebih banyak orang dan berbahagia ditengah mereka.

Salam dari saya,
Adhitya Fernando


Maksud foto:

Mari bergandengan tangan bersama membangun kehidupan yang lebih baik dan lebih sukses

Close