Category

Article

Ilustrasi: Foto ini di dalam kereta di Jerman
Article, My Story

Getar cinta di kereta Belanda

[dropcap style=”flat”]H[/dropcap]ari itu adalah Selasa, tepatnya tanggal 24 September  2013. Pada sekitar pukul 19.17 malam di kota Antwerp, Belgia kami memasuki kereta cepat untuk pulang ke apartment di kota Wuppertal, Jerman. Tidak ada perasaan istimewa, hanya rasa sedikit kantuk yang cukup menyita. Agenda yang padat selama di Antwerp membuat kami sedikit lelah, namun bahagia.

Ilustrasi: Foto ini di dalam kereta di Jerman

Kami telah dua hari berada di Antwerp. Saat pertama tiba di Antwerp, kami disambut oleh Professor Jeff, seorang dosen di Antwerp University. Prof. Jeff adalah teman Ibu Lily, dosen pembimbing kami dari Indonesia. Setelah perkenalan singkat, lalu Prof. Jeff mengajak kami berjalan-jalan disekitar Antwerp. Kami ngobrol sambil menikmati pemandangan indah kota Antwerp. Tujuan pertama adalah ke MAS Museum, disana telah menunggu beberapa mahasiswa Prof. Jeff.

Menikmati MAS Museum

MAS Museum adalah museum pertama yang dibangun di kota Antwerp setelah lebih dari satu abad berlalu. Museum ini identik dengan warna merahnya yang berasalah dari batuan pasir dipadu dengan menara kaca disekelilingnya. Dirancang oleh arsitek Belanda Neutelings Riedijk. MAS berasal dari bahasa Belanda (Museum aan de Stroom/Museum di Sungai). Museum ini menyatukan berbagai koleksi publik dan swasta dan pameran artefak berharga dari seluruh dunia. Museum ini telah menjadi kebanggan warga kota Antwerp. Sesampainya disana, kami disambut oleh tiga orang mahasiswa Prof. Jeff, dua diantaranya adalah perempuan. Saya tidak ingat lagi siapa saja nama mereka. Disana kami dibagi berpisah, mahasiswa diajak berjalan keliling ke tempat lain di kota Antwerp, sementara Ibu Lily dan Prof. Jeff akan ke universitas untuk menyiapkan agenda besok pagi.

Sepanjang siang sampai malam harinya kami nikmati kota Antwerp, mulai dari makan hingga belanja souvenir. Agenda hari itu ditutup dengan makan bersama di Pizzeria, sebuah restaurant pizza disebelah gereja Carolus Borromeus. Setelah asyik menikmati santap malam, selanjutnya kami pulang ke penginapan. Kami menginap di Alias Youth Hostel, cukup jauh untuk mencapai tempatnya dari posisi dimana kami makan.

Kunjungan ke Antwerp University

Malam berlalu, dan esoknya kami sudah disambut dengan agenda resmi di Belgia, yaitu kunjungan ke Antwerp University untuk menghadiri workshop “The Company”, sebuah platform kewirausahaan dari universitas tersebut. Dalam penjelasannya, disebutkan bahwa Antwerp university ingin merubah paradigma bahwa di universitasnya tidak hanya sekedar belajar ilmu, tapi juga membimbing mahasiswanya menerapkan ilmunya dalam bentuk produk tepat guna yang bernilai jual. Disini kami diberi tugas baru untuk dilaksanakan di Indonesia, yaitu market research untuk beberapa produk hasil karya mahasiswa universitas tersebut. Kegiatan ini adalah awal kerja sama program pertukaran mahasiswa dengan Antwerp University.

Terlena dengan cerita di Belgia, saya sampai lupa tujuan tulisan ini bercerita tentang getar cinta. Nah begini nih ceritanya.

Pulang ke Wuppertal

Dalam perjalanan pulang ke Wuppertal, kami menaiki kereta yang sangat padat penumpang. Mungkin inilah realitas kota wisata, tidak kenal hari libur tetap saja ramai. Tidak seperti di kereta-kereta yang sebelumnya kami naiki, biasanya kami bisa duduk berdekatan sesama mahasiswa Indonesia. Di kereta ini kami harus memilih apakah berdiri atau berusaha mencari kursi kosong di beberapa gerbong di belakang. Beberapa teman memilih berdiri, sementara saya dan beberapa lainnya memilih berjalan menelusuri gerbong untuk mencari tempat duduk. Perjalanan kereta ini cukup lama, memakan waktu sekitar 2 jam, sehingga kami cukup berani berpisah dari rombongan.

Dari kejauhan, di gerbong depan saya lihat ada satu kursi kosong disebelah kiri dan dua kursi kosong di sebelah kanan. Dua orang teman saya ajak untuk menuju kesana. Dibelakang kursi kosong tersebut terlihat beberapa orang,  sepertinya rombongan keluarga yang sedang asyik bercanda. Ini hal yang tidak biasa saya temui di kereta di Eropa, biasanya penumpang lebih memilih diam menikmati perjalanan, atau sekedar ngobrol biasa dengan teman rombongannya.

Saya di kereta Belanda

Keadaan cukup sesak di dalam kereta, selain karena kereta ramai penumpang, tetapi juga karena ini kereta Belanda. Saya bisa tahu bahwa ini kereta milik perusahaan Belanda dari beberapa ciri-ciri. Pertama adalah keadaan kereta sudah agak lusuh, tidak seperti kereta baru. Kareta Belanda biasanya sudah cukup tua, jadi keadaan ruangan di dalam kereta sudah kurang segar. Mulai dari cat dan kursi yang sudah mulai pudar, juga cahaya lampu yang agak redup. Berbeda dari kereta Jerman yang sebelumnya saya naiki, kebanyakan diantaranya sangat bagus dan masih nyaman.

Kedua adalah ada beberapa coretan di dinding. Coretan tersebut menguatkan keyakinan saya bahwa ini adalah kereta Belanda, sebab beberapa kereta Belanda yang sebelumnya saya naiki dalam perjalanan ke Belgia penuh dengan coretan di beberapa bagian, seperti biasanya di kebanyakan tempat di Indonesia.

Barangkali ketemu jodoh

Diantara beberapa hal yang selalu terbayang dari perjalanan ke luar negeri adalah bertemu jodoh. Selalu menarik membaca beberapa kisah orang-orang yang akhirnya bertemu jodohnya ketika ia berada di luar negeri. Entah itu bertemu ketika sedang dalam masa kuliah, atau ketika menikmati liburan di luar negeri. Beberapa kisah yang saya baca menceritakan suasana pertemuan dan tali kasih yang mesra dari pasangan yang bertemu di negeri orang tersebut. Maklum saya pun jadinya terbawa imajinasi.

Dalam usaha saya menuju kursi kosong tersebut, muncul sesosok gadis berjilbab ditengah asyiknya pandangan saya mengamati keluarga yang sedang bercanda ria ditengah perjalanan. Keluarga tersebut terpisah duduk di sebelah kiri dan kanan. Hal ini menguatkan rasa penasaran saya untuk segera mencapai kursi tersebut. Dalam dugaan saya bahwa mereka sepertinya keluarga dari Indonesia, atau keluarga muslim yang sedang liburan.

Akhirnya bisa duduk juga

Jalan saya semakin dekat mencapai kursi, lirih terdengar percakapan mereka menggunakan bahasa yang saya kenal. “Ya mereka orang Indonesia”, ujar saya senang dalam hati. Dua anak laki-laki kecil yang saya lihat dari kejauhan masih asyik bercanda. Namun, sekilas penampakan gadis yang tadi saya lihat tak lagi muncul. Saya teruskan berjalan hingga sampailah di tepian kursi kosong tersebut, sengaja saya tidak langsung duduk. Sejenak pandangan saya tertuju pada seseorang dibelakang kursi kosong tersebut, ialah gadis manis berjilbab yang saya lihat tadi. Ia sedang mengambil sesuatu dari dalam tas dibawah kakinya. Seketika dia bangkit, saya lepaskan pandangan dan bersegera duduk. Saya tidak ingin dia tahu bahwa saya memperhatikannya.

Disebelah saya, duduk seorang pria asing yang berasal dari Ceko. Wajahnya yang ramah mengajak saya berbicara berkenalan. Dia tanyakan darimana saya berasal, saya jawab dari Indonesia. Beberapa pertanyaan dia ajukan, dan kami saling tanya jawab tentang diri masing-masing. Pria tersebut akan turun di Belanda.

Ingin menyapa keluarga di belakang

Sembari ngobrol dengan teman asing di sebelah, saya juga menyimak pembicaraan keluarga Indonesia di belakang. Ingin sekali saya ngobrol dengan mereka. Lebih kurang sepuluh menit berbicara dengan teman di sebelah, ia tampak mulai mengalihkan fokus, handphonenya sudah berbunyi beberapa kali sepertinya ada telfon masuk namun diabaikan. Kesempatan tersebut saya gunakan untuk mengakhiri pembicaraan dan memulai memikirkan cara menyapa keluarga di belakang.

Saya sedikit malu jika langsung memperkenalkan diri, makanya saya harus muncukan inisiatif trik lain. Kebetulan tadi saya bawa dua orang teman untuk duduk dekat bersama saya, tepatnya mereka duduk berjarak dua kursi di sepan saya di sisi yang berlawanan (saya sisi di kiri mereka sisi di kanan). Saya panggil mereka pakai bahasa Indonesia, sekedar menyapa untuk mengatakan bahwa akhirnya kita bisa duduk juga. Kepada keluarga di belakang, saya ingin beri kode bahwa saya ini orang Indonesia juga. Namun tak saya fikirkan bagaimana trik selanjutnya setelah kode sandi bahasa tersebut saya sampaikan.

Kaget, gadis manis itu menyapa saya

Baru saja sebentar saya menyapa teman Indonesia di depan, datang suara dari belakang mengagetkan saya. Halus suaranya membuat saya terpukau. “Kamu dari Indonesia ya”, begitu suara yang saya tangkap. Saya tolehkan muka ke belakang, jelaslah saya lihat gadis tersebut yang mengucapkannya. Aiih kode bersambut. Saya coba menutupi rasa gemetar. Pertanyaannya berusaha saya jawab dengan tenang, dan ekspresi yang mengesankan. “Oh ya saya dari Indonesia”, jawab saya. Ingin saya sambung dengan balas bertanya apakah ia dari Indonesia juga, ternyata lebih dahulu ia menambah pertanyaanya. Saya mulai GR, dalam hati saya berkata sepertinya dia yang lebih ingin mengenal saya. Asumsi tersebut saya imbangi dengan respon yang baik atas pertanyaanya. Dia bertanya lagi saya sedang apa disini, saya jawab bahwa saya lagi dalam kegiatan pertukaran pelajar dengan mahasiswa Jerman. “Kunjungan ke Belgia setelah program dengan mahasiswa Jerman selesai, ya sambil jalan-jalan”, tambah saya.

Dia bertanya terus sampai beberapa saat, tak menyisakan ruang untuk saya balik bertanya tentang dirinya. Di satu sisi jelas saja saya senang, apalagi ketika menatap wajahnya saya terbawa imajinasi tentang bertemu jodoh, seperti kisah-kisah yang saya sebutkan di atas. Tetapi saya juga ingin segera mengetahui tentang dirinya. Ingin rasanya saya potong bicaranya, dan ajukan pertanyaan tapi itu tidak saya lakukan.

Disela-sela obrolan kami yang semakin seru, terlihat kedua orang tua gadis tersebut melempar senyum kepada saya. Saya balas senyum mereka, sambil menunjukkan simpati agar meninggalkan kesan mendalam. Lagi, gadis tersebut sampaikan pada orang tuanya bahwa saya dari Indonesia juga. Namun, saya tak banyak bicara dengan Ibu dan Bapak itu, karena mereka sibuk bermain dengan dua anak laki-laki mereka. Kami melanjutkan pembicaraan, dan masih gadis tersebut bertanya tentang saya.

Izinkan saya tahu namamu

Pembicaraan sudah semakin jauh, sampai saya menyadari bahwa saya sudah melewatkan satu fase penting di awal, yakni bertanya siapa namanya. Saya paham, jika tidak bertanya di awal maka kesempatannya adalah di akhir ketika pembicaraan hendak selesai. Saya nantikan dengan sabar kesempatan tersebut. Gadis manis, siapa namamu.

Setelah berlalu hampir beberapa puluh menit, akhirnya ia mulai mengurangi porsi bertanya. Saya ambil alir maneuver pertanyaan, namun satu pertanyaan utama saya lewatkan pada kesempatan berharga tersebut. Bukannya mulai bertanya dengan menanyakan nama, saya malah melanjutkan cerita dengan pertanyaan-pertanyaan gadis tersebut.

Akhirnya dapatlah saya mengetahui beberapa hal tentang dirinya. Gadis tersebut ternyata adalah mahasiswa sarjana yang sudah baru saja menyelesaikan kuliahnya di salah satu universitas di kota Amsterdam. Orang tuanya datang untuk menjemputnya pulang ke Indonesia. Hari ini adalah hari terakhirnya berada di Belanda, besok pesawatnya akan membawanya pulang ke tanah air. Dia bawa keluarganya liburan beberapa hari belakangan, mulai dari Belgia dan beberapa negara lainnya. Gadis tersebut berasalah dari pulau jawa, saya lagi-lagi lupa pastinya ia menyebutkan daerah mana ia berasal.

Pembicaraan kami semakin seru dan menyenangkan. Dari bahasa tubuhnya dan matanya, menunjukkan bahwa ia senang berbicara dengan saya. Seolah dia suka dengan  saya, eh obrolan kami maksudnya. Kami pun berbicara lebih komunikatif dan berbalas-balasan, sesekali ia tampak tersipu dan tersenyum lucu karena jawaban-jawaban dari saya. Sengaja saya bawa ia sedikit bercanda agar tidak kaku.

Saya ingat belum bertanya namanya

Ditengah asyiknya pembicaraan, saya ingat kembali bahwa belum bertanya namanya. Ingin saya ajukan pertanyaan tersebut, namun saya berfikir bahwa jika demikian maka saya akan mengalihkan pembicaraan yang sedang menyenangkan ini. Maka saya urungkan lagi keinginan tersebut. Saya tunda sampai menjelang akhir.

Ditengah pembicaraan, tiba-tiba muncul suara dari speaker di atas atap kereta. Seorang pemandu masinis sepertinya yang berbicara. Ia menggunakan tiga bahasa, pertama dengan bahasa Belanda, kemudian bahasa Jerman dan bahasa Inggris. Saya Cuma bisa menyimak bahasa Inggris. Saya dengarkan dengan seksama bahwa ia katakan bahwa dalam beberapa menit lagi kereta akan memasuki wilayah Belanda. Itu inti pemberitahuannya.

Petugas imigrasi menghentikan obrolan kami

Saya ingin kembali memulai pembicaraan, namun sayangnya dari kejauhan di arah depan saya lihat sedikit kepanikan. Ada dua orang berbadan besar dan berseragam yang  menghamipiri penumpang di depan. Saya lihat sekilas penumpang menyodorkan passport kepada petugas tersebut, kemudian saya menyadari bahwa mereka adalah petugas imigrasi. Mereka sedang bertugas memeriksa dokumen penumpang, karena kereta akan memasuki wilayah perbatasan Belgia dan Belanda. Hal yang sama kami hadapi ketika menaiki kereta hendaka ke kota Weiden di Jerman, petuga kereta meminta kami menunjukkan dokumen perjalanan.

Pemeriksaan oleh petugas imigrasi di kereta Belanda

Petugas sudah semakin dekat. Beberapa orang di depan terlihat cukup panik mengeluarkan passport mereka, barangkali ada yang lupa meletakkannya dimana. Saya sampaikan kepada teman asing disebelah saya bahwa ada pemeriksaan passport. Teman asing tersebut pun kemudian panik. Ia katakan ke saya bahwa dia tidak membawa passport karena ketinggalan di hotel tempatnya menginap di Belgia. Dia terlihat panik membuka tasnya, mencoba memeriksa apakah memang tertinggal atau mungkin terselip. Namun tak kunjung tampak passport yang dicari, dia terus mengkomunikasikan pencariannya, dia tanyakan kepada saya apa yang bisa ditunjukkan selain passport. Spontan saya jawab apakah ia mempunyai identitas atau tanda pengenal lainnya, ternyata ia mempunyai kartu pengenal yang saya kurang tahu itu kartu apa. Sepertinya semacam KTP, atau sejenisnya.

Tanpa saya sadari, dua orang petugas tersebut sudah muncul di hadapan saya. Saya tunjukkan passport, yang memang saya letakkan di dalam tas kecil yang selalu saya sandang sehingga mudah mengambilnya. Ada sedikit intrograsi, petugas menanyakan saya dari mana dan ada tujuan apa. Saya jawab dengan jelas bahwa saya dari Indonesia dan sedang ada pertukaran pelajar. Selanjutnya petugas melanjutkan ke teman di sebelah saya, ia bertanya menggunakan bahwa asing, sepertinya bahasa Jerman. Namun pada saya ia gunakan bahasa Inggris, mungkin dia tahu saya orang Asia.

Saya tidak tahu apa yang petugas tersebut tanyakan pada teman di sebelah saya, namun dari eskpresinya saya tahu bahwa sedang menyampaikan bahwa ia tidak membawa passport bersamanya dan hanya memiliki identitas diri yang lain. Introgasi berlangsung beberapa saat, namun akhirnya berakhir dengan lega. Petugas tidak memberikan sanksi atau sebagainya terhadap teman asing di sebelah saya.

Petugas pun menghampiri gadis manis dibelakang saya. Ia terlihat tenang menjawab pertanyaan petugas. Kami satu keluarga ujar gadis tersebut pada petugas, tak beberapa lama berselang akhirnya petugas pun berlalu.

Kami berpisah tanpa tahu nama

Beberapa saat lepas dari petugas, saya ingin kembali memulai pembicaraan dengan gadis di belakang. Namun tak sempat keinginan tersebut terwujud. Dua orang teman yang saya bawa mengajak saya kembali ke depan untuk bergabung dengan rombongan. Kita sudah mau turun kata teman saya tersebut.

Akhirnya saya pun berdiri. Saya sempatkan berbicara dengan gadis teman bicara saya tadi. Saya katakan bahwa saya sudah hendak turun di stasiun berikutnya dan akan melanjutkan dengan kereta lain menuju Wuppertal. Kepada keluarganya pun saya katakan demikian. Hanya senyum dan sepenggal kata perpisahan dari orang tua tersebut.

Saya tatap gadis tersebut, mencoba berkomunikasi dengan mata hati. Saya lihat matanya berbinar, saya pun haru. Saya tinggal ia dengan senyuman hangat, semoga perkenalan ini berkesan juga baginya. Namun satu hal, bahwa malangnya sampai sejauh itu saya lupa bertanya namanya.

Saya lambaikan tangan dan kami pun berpisah, sampai jumpa lagi gadis manis di kereta Belanda. Terima kasih atas getar cintanya.

 

Article, My Story, Organization and Movement

HMI English Community: Sarana belajar bahasa Inggris bagi kader hijau-hitam

[dropcap]H[/dropcap]ari ini di pusgit HMI Jl. Melayu hadir 6 orang kader hijau hitam dari beberapa komisariat di cabang Pekanbaru. Saya yang pagi tadi agak terlambat datang mendadak begitu senang karena dari kejauhan mendengar mereka berkomunikasi dengan bahasa asing. Sengaja tak langsung saya hampiri mereka, saya tahan diri di pagar lantai 2 gedung pusgit HMI. Percakapan mereka, walau terbata dan sedikit kaku membuat saya dengan bangga melangkahkan kaki menuju mereka, di ruangan ujung Lt. 2. Hari ini saya akan mengajari mereka bahasa inggris.

Foto bersama mentor dan peserta

Kehadiran saya tak serta merta membuat mereka berhenti berbicara, antusias positif tersebut yang saya rindukan dari organisasi ini. Dalam dua jam kedepan saya akan memulai pembelajaran, tatap muka perdana sejak komunitas ini diresmikan pada tanggal 16 Maret yang lalu. Peserta yang terdaftar dan hadir pada saat itu berjumlah 24 orang. Di pertemuan minggu berikutnya yang hadir cukup surut menjadi 12 orang, dan hari ini tinggal setengahnya. Saya mengampu pembelajaran conversation, pelajaran pertama adalah mengenai Greeting Someone. Kurikulum pembelajaran saya adopsi dari buku “Speak English, Please” karangan Slamet Riyanto.

Untuk mahir conversation bahasa inggris, rajin dan berani berbicara adalah kuncinya. Saya yang tadi penasaran dengan percakapan mereka, langsung saya tindak lanjuti dengan menugaskan mereka mempraktekkan percakapan berpasangan. Seru ternyata melihat mereka! Dalam hati saya, ini kader-kader HMI loh yang sedang berbicara bahasa inggris. Sebuah hal yang tak lazim ditemui. Saya mengolah pembelajaran tadi mulai dari latihan percakapan, belajar tata bahasa yakni penggunaan to be simple present form dan past tense form, soal latihan tertulis, latihan menerjemah bacaan hingga terakhir ditutup dengan presentasi. Di akhir pertemuan, saya minta dua orang untuk maju ke depan merangkum dan menjelaskan materi yang sudah saya berikan. Tanpa ragu, mereka langsung maju dengan yakin dan memang ternyata mereka dapat menjelaskan dengan bagus sekali dan memukau.

Peserta menyimpulkan hasil pembelajaran

Komisariat Takesi, pengelola komunitas ini telah menunjukkan dedikasi dan pengimplemetasian kelimuan yang baik. Ilmu yang didapat dari kampus untuk diabdikan dalam program nyata di organisasi. Komisariat Takesi adalah komisariat yang berada di Fakultas Tarbiyah & Keguruan dan Fakultas Psikologi UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Takesi sendiri adalah singkatan dari nama kedua fakultas tersebut. Gerakan semacam ini sudah sepatutnya menjadi salah satu identifikasi HMI, bahwa kader-kader HMI yang menuntut ilmu yang beragam harus mampu mengembangkannya untuk kemajuan organisasi secara khusus, dan dapat memberikan manfaat bagi banyak orang umumnya. Konsep ini sudah secara matang difikirkan oleh sesepuh-sesepuh HMI dulu, mereka merancang didirikannya lembaga-lembaga di HMI, salah satunya adalah Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam (LAPENMI). Namun, sangat disayangkan seiring waktu berjalan gerakan HMI semakin kurang jelas orientasinya, banyak diwarnai politik, ditambah lagi dengan persaingan tidak sehat, konflik yang mewarnai kehidupan HMI hampir di seluruh pelosok nusantara. Gerakan yang dilakukan oleh komisariat Takesi ini diharapkan mampu menjadi pemancing gerakan-gerakan produktif lainnya dalah gerakan ber-HMI.

HMI English Community ini berdiri atas inisiatif saya. Namun sebenarnya dorongan untuk mendirikannya muncul dari pesan salah seorang Senior HMI di Jakarta, ia katakana “Semoga nanti ada satu dua orang kader HMI Sumatera yang dapat kamu kirimkan ke Jerman sana”. Pesan tersebut disampaikannya ketika saya hendak berangkat ke Jerman pada September tahun lalu. Pesan tersebut terus terfikirkan dalam benak saya. Sepulang dari Jerman, saya terus berupaya mencari cara agar bisa mempopulerkan bahasa inggris di HMI. Namun keadaan tidak cukup mendukung, cabang Pekanbaru dilanda konflik dualisme. Keadaan ini membuat resah para kader-kader, ketegangan dan persinggungan meningkat dalam pergaulan HMI. Keterpecahan ini membuat aktifitas di HMI semakin meredup, banyak kader-kader yang akhirnya memilih mundur dan menarik diri dari hiruk-pikuk di HMI. Namun keinginan saya masih sangat kuat, saya terus mencari cara.

Akhirnya saya putuskan bahwa saya akan gandeng komisariat untuk mewujudkannya. Takesi, komisariat di mana saya berasal, menyambut baik gagasan yang saya tawarkan dan segera mengadakan rapat persiapan. Beberapa kali saya hadir pada rapat tersebut, dan selebihnya saya pandu melalui komunikasi di luar rapat. Ternyata mereka  dapat dengan baik menerjemahakn apa-apa yang saya instruksikan. Saya menyarankan kepada mereka agar dibuatkan struktur pengurusan komunitas ini, agar ada yang bertanggung jawab penuh untuk mengelolanya. Akhirnya ditunjuklah beberapa orang untuk mengisi jabatan, diantaranya sebagai ketua program, sekretaris, dsb. Lebih kurang dua bulan kemudian akhirnya komunitas ini secara resmi didirikan.

Satu minggu setelah persemian, komunitas ini langsung mengadakan diskusi dengan mengundang pemateri dari luar HMI. Adalah Yuspa Rizal S.Pd, alumni UIN Suska Riau yang pernah meraih beasiswa pertukaran pelajar dari IIEF ke Amerika, yang mengisi diskusi tersebut. Adapaun tema yang diangkat adalah “What’s importance of study English”. Diskusi ini bertujuan, selain guna menambah wawasan peserta mengenai bahasa inggris dan manfaatnya, juga ditujukan untuk menjadi sarana pengenalan komunitas ke khalayak di luar. Sebab model pengembangan komunitas ini diarahkan untuk dapat berkolaborasi dengan pihak-pihak luar secara efektif, baik itu secara personal, hubungan antar komunitas, dan kerja sama dalam agenda, sehingga komunitas ini pun dapat memainkan peran yang lebih luas.

Kehadiran komunitas ini diharapkan juga menjadi salah satu metode yang baik dan efektif untuk merekrut lebih banyak mahasiswa untuk menjadi anggota HMI, sebab yang dapat menjadi anggota komunitas ini syaratnya adalah kader HMI. Komunitas ini dijadikan sebagai jawaban atas pemenuhan student interest dan student need. Mengundang ketertarikan mahasiswa terhadap HMI, membalikkan paradigma mahasiswa bahwa di HMI tidak hanya demo dsb. Tetapi juga banyak manfaat dan kegiatan positif lainnya.

Komunitas ini sudah berjalan tiga minggu, namun ternyata masih ada beberapa kendala yang harus dihadapi. Sebagaimana kendala yang umum dihadapi organisasi mahasiswa; kekurangan dana. Untuk fasiltas pembelajaran sementara, digunakan papan tulis tanpa rangka (hanya papan) dan diletakkan di atas kursi. Mensiasati dana, komisariat dan pengelola program telah berinisiastif untuk iuran dana, selain juga didapat dari kontribusi peserta. Melalui ini, diharapkan juga perhatian dari senior dan alumni untuk dapat membantu menyokong terselenggara dan berlangsungnya komunitas ini dengan baik.

Bersyukur dan ikhlas. Bahagia HMI.


 Pendaftaran program masih dibuka! Ayo segera bergabung.
Informasi: Hubungi 081362014412 (Tika)

Pamflet pendaftaran HMI English Community

Article, Re-blogged

How islamic are islamic countries?

[dropcap style=”flat”]B[/dropcap]elum lama berlalu ketika saya membaca status seorang teman yang terdampar di Kuwait. Sebelumnya, teman bersama suami dan anak-anaknya tinggal di Polandia. Teman saya ini bukan orang biasa-biasa saja. Namanya pernah menjadi hits di beberapa media cetak karena kesuksesannya berdakwah di Negeri Non Muslim dan membawa belasan perempuan mengucapkan kalimat syahadat untuk pertama kalinya :). Semoga Allah berkenan mengampuni dosa-dosa beliau sekeluarga :).

Islamic countries

Ada apa dengannya di Kuwait? Teman saya mengalami benturan budaya yang luar biasa. Dia terkaget-kaget. Sementara saya tersenyum-senyum membaca statusnya. Sebagai alumni Jeddah, kota terbesar nomor 2 di Arab Saudi, saya tidak heran sedikit pun membaca ‘kegalauan’nya. Been there, done that.

“How Islamic  are Islamic Countries” adalah sebuah penelitian lama yang hasilnya dipublikasikan tahun 2010 silam.

Berikut kutipan dari kompas.com (http://nasional.kompas.com/read/2011/11/05/09034780/Keislaman.Indonesia): Sebuah penelitian sosial bertema ”How Islamic are Islamic Countries” menilai Selandia Baru berada di urutan pertama negara yang paling islami di antara 208 negara, diikuti Luksemburg di urutan kedua. Sementara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim menempati urutan ke-140. Adalah Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University yang melakukan penelitian ini. Hasilnya dipublikasikan dalam Global Economy Journal (Berkeley Electronic Press, 2010). Pertanyaan dasarnya adalah seberapa jauh ajaran Islam dipahami dan memengaruhi perilaku masyarakat Muslim dalam kehidupan bernegara dan sosial? Ajaran dasar Islam yang dijadikan indikator dimaksud diambil dari Al Quran dan hadis, dikelompokkan menjadi lima aspek. Pertama, ajaran Islam mengenai hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia. Kedua, sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial. Ketiga, sistem perundang-undangan dan pemerintahan. Keempat, hak asasi manusia dan hak politik. Kelima, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan internasional dan masyarakat non-Muslim. Setelah ditentukan indikatornya, lalu diproyeksikan untuk menimbang kualitas keberislaman 56 negara Muslim yang menjadi anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang rata-rata berada di urutan ke-139 dari sebanyak 208 negara yang disurvei. Penasaran dengan hasilnya? Saya kasih sontekan sedikit. Selain Selandia Baru, urutan ke-2 hingga 5 ditempati oleh berturut-turut : Luxemburg, IRLANDIA *uhukUhuk*, Eslandia dan Finlandia. Negara dengan penduduk mayoritas muslim yang menempati urutan tertinggi adalah … Malaysia! Menempati peringkat ke-39. Indonesia sendiri, sudah disebutkan dalam kutipan artikelnya, urutan ke-140. Arab Saudi? Di urutan ke 131. Beberapa negara ‘penting’ dunia lainnya, misalnya Amerika Serikat, menempati urutan ke-25. Jepang di urutan ke-29 dan Jerman, salah satu negara terbesar di Eropa, di urutan ke-17. Saya lahir dan besar di Indonesia yang konon merupakan “Negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia.” Pernah berkesempatan tinggal di Arab Saudi, “Negeri Penjaga Dua Kota Suci Umat Muslim Sedunia.” Baru-baru ini berkesempatan liburan ke Kuala Lumpur, ibukota Malaysia, “Negara Mayoritas Muslim yang Berada di Peringkat Tertinggi.” Dan kini…saya berada di  Irlandia, peraih medali perunggu “Negara Paling Islami” :D. Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzziban :). Kuwait sendiri urutannya tak terlalu buruk.  Bayangkan, teman saya saja yang terdampar di “Negeri Paling Islami no.48″ bisa sebegitu stres-nya hehehe. Bagaimana dengan kita-kita yang pernah tinggal di Saudi, si peringkat ke-131? Madam-madam Jeddah, mana suaranya? Ahahhahahahaha. Jujur saja, selama tinggal di Indonesia dulu, saya merasa biasa-biasa saja. Tidak pernah merasa terzalimi. Ya, kadang-kadang mungkin terselip sakit hati. Saya anggap wajar-wajar saja masalah muamalah di Indonesia. Mungkin kasarnya…pasrah. Hingga akhirnya saya ke Jeddah. For me, Jeddah is better than Jakarta. ‘Gemerlap’nya sih mirip-mirip. Yang  namanya ‘gap’ antara si kaya dan si miskin menganga sedemikian lebar baik di Jakarta maupun di Jeddah. Alasan pertama saya lebih senang di Jeddah karena beberapa hal. Bensin murah, mobil murah, penghasilan suami jauh lebih besar (daripada di Jakarta), enggak terlalu macet, kemana-mana terasa dekat, bahkan beberapa bahan pokok di Jeddah lebih murah daripada di Jakarta. Unbelievable. Belum lagi kesempatan untuk umrah sepuasnya. Tahun lalu dimampukanNya kami untuk naik haji. Di tahun terakhir kami di sana sebelum akhirnya dibukakan pintu rezeki di negara lain. Sekali lagi, Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzziban :). Saya akui, secara umum perilaku orang-orang Arab di Jeddah cukup mengecewakan. Meskipun pengalaman pribadi saya tidak separah beberapa teman saya yang sudah sebegitu sewotnya sama orang-orang Arab hehehe. Saya pun tak bosan-bosannya menuliskan bahwa beberapa episode-episode terbaik dalam hidup saya bertempat di Jeddah. Selama di sana, saya tergolong ‘yang paling bahagia’ hehehehe. Meskipun tak sedikit hal yang membuat saya selalu mengelus dada, “How come they call themself a moslem?” Berusaha untuk selalu berfokus pada hal-hal yang menyenangkan, membuat 30 bulan pengalaman tinggal di Jeddah menjadi ‘rangkuman kenangan indah’. Ingat saja hal-hal luar  biasa yang selalu membuat saya bersyukur. Tak pernah luput mengenang Mekkah dan Madinah sebagai tempat-tempat terindah yang pernah saya datangi. Begitu mudahnya dulu kami menghampiri kedua kota suci tersebut. Sementara tak sedikit umat Islam di Indonesia baru hanya sebatas memimpikannya saja. Bentar…hapus air mata dulu *drama-part :P*. Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzziban :). Dulu, saya suka bertanya-tanya, mengapa teman-teman yang berada di Eropa bisa sebegitu ngebetnya tinggal di sana. Tak sedikit yang mencari-cari cara setelah lulus sekolah agar bisa tetap bermukim di sana. Bahkan, ada yang sudah terpikir untuk menggadaikan status kewarganegaraannya. Ingin berganti warna paspor. Apa enaknya hidup berlama-lama dalam ‘kulkas”? :P. Konon, bangsa Irlandia ini memang salah satu bangsa paling ramah di dunia. Selama lebih dari 3 bulan tinggal di sini, saya sudah membuktikan sendiri. Terpukau oleh keramahan mereka. Ada  juga yang rasial kok, saya pernah diteriakin di perempatan jalan, “Go home!” oleh seorang pria separuh baya. Tapi santai saja. Orang-orang lain tidak ada yang peduli, tuh. Enggak penting memikirkan sebagian kecil yang kurang ramah. Di Athlone, hampir tak ada pengemis. Kalau pun ada tunawisma, penampilannya enggak germbel-gembel amat. Di Jakarta, yang bilang Pajero bukan barang mewah ada, yang gembel jadi tukang semir sepatu tak kalah banyaknya . Di Jeddah, Ferrari bukan barang langka, tapi pengemis terpencar di berbagai sudut kota. Fakta-fakta yang menguatkan pernyataan Ahmad Syafii Maarif dalam tulisannya yang saya share di status FB saya : ” …Bagi saya penggunaan perkataan ringkih terasa lebih puitis dan tajam, dibandingkan padanannya dalam istilah bahasa Indonesia. Itulah sebabnya dalam tulisan ini perkataan ringkih digunakan. Benarkah Dunia Islam itu ringkih? Tanpa memerlukan data hasil riset yang mendalam, berdasarkan pengamatan umum saja, pasti jawabannya: benar! Kesenjangan sosial-ekonomi hampir merata di seluruh dunia Islam. Keadilan yang demikian keras diperintahkan Alquran tidak digubris oleh penguasa yang mungkin sudah menunaikan ibabah haji berkali-kali…” Dulu sih, semasa di Jakarta dan Jeddah, bila mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari orang lain, tak pernah menjadi pikiran. Dimaklumi saja. Di Jakarta, sering dicuekin sama satpam di mal. Padahal kepada seorang Ibu yang turun dari mobil mentereng dengan berbagai aksesoris wah di badannya, tersenyum mengangguk setengah membungkukkan badan. Hidupnya sudah cukup ‘berwarna’ dalam menjalani tugas sebagai satpam, tak usahlah menyimpan dendam yang tidak perlu. Di Jeddah, pernah mendapat pengalaman pahit saat antre di kasir dalam toko di mal. Sebelumnya, saat 2 perempuan arab berdebat soal antrean, penjaga kasir dengan tegas melerai dan menunjuk ibu yang memang sudah datang lebih dahulu. Giliran saya diselak orang Arab, saya protes, kasirnya malah diam seribu bahasa. Ya, sudahlah. Saking sudah seringnya, sudah mati rasa ane hehehe. Terdampar di tempat lebih jauh, berbaur di tengah-tengah masyarakat non muslim, dari ras yang secara fisik sangat berbeda pula, malah mendapat perlakuan yang sangat menyenangkan. Sepele, ya? Biarpun suami suka meledek saya yang dianggapnya, “Dasar kamu ini. Belum apa-apa sudah lebay soal eropa”, menurut saya ini bukan hal sepele :). Setiap pagi mengantar anak ke sekolah, kami selalu berjalan kaki. Hampir 100% orang-orang yang berpapasan akan tersenyum menyapa, “Good morning.” Di Jeddah, seringnya mendapat pandangan penuh tanda tanya, mungkin berpikir, “Prikitiwww, mbak-mbak TKW ini cakep juga, yak.” Ahahahahaha. Di Athlone, saat mengantre di kasir setelah berbelanja barang-barang dapur dll di supermarket, semua orang mengantre dengan tertib. Bahkan, kasir benar-benar menunggu kita selesai mengemasi barang baru melayani customer setelah kita. Awalnya saya sering gugup. Saking takutnya kalau mengganggu antrean, mau buru-buru masukin barang ke stroller + plastik + ransel, barang-barang malah berserakan jatuh ke lantai. Malunya minta ampun. Tapi kasir cuma tersenyum, “That’s ok. Take your time.” Bahkan, ibu-ibu berambut kuning yang mengantre di belakang saya ikut memunguti barang-barang yang jatuh. Masya Allah. Sudah terbiasa diperlakukan bak TKW di tengah-tengah umat yang seiman, rasanya terharu diperlakukan seperti itu. Lebay? Whatever. Kata-kata “thank you”, “sorry”, berhamburan begitu mudah dari bibir mereka. Jadinya saya pun, biarpun awalnya agak kagok, jadi terbiasa selalu ber “thank you” dan ber “sorry” ria :). Di Irlandia, pajak memang termasuk tinggi. Biarpun gak setinggi di negara eropa lain pada umumnya. Tapi fasilitasnya juga enggak main-main. Jalanan dibuat senyaman mungkin. Angkutan umum sangat diperhatikan. Harga mobil sangat mahal. Bensinnya apalagi. Tapi lihatlah, sebagian besar penduduk jadinya berbaur di trotoar jalan kaki atau dalam angkutan umum. Bagus juga ide pajak tinggi dan dikenakan secara proporsional. Agar si ‘tajir’ mikir-mikir kalau mau beli barang mahal dan yang kurang mampu tak terlampau tersakiti. Sekolah gratis dengan fasilitas yang sangat memadai *nyengirLebar*. Malah, di selebaran pengumuman buat orang tua murid, ditulis jelas-jelas larangan untuk ‘tampil mewah’. Baju harus seragam. Seragam resmi terasa mahal? Kepala sekolah mempersilakan membeli di tempat lain yang lebih murah asal warnanya mirip. Disebutkan dengan jelas jenis-jenis sepatu tertentu yang TIDAK BOLEH digunakan ke sekolah. Bahkan, kotak untuk bekal makan pun dianjurkan untuk sesederhana mungkin. Ini semua dituliskan secara resmi dalam selembar kertas yang dibagi-bagikan pada orang tua murid sebelum hari pertama sekolah si anak. ‘Attitude’ adalah landasan utama pendidikan anak-anak di usia dini. Saya perhatikan betul, guru-guru dan kepala sekolahnya sangat disiplin dalam masalah tingkah laku. Mereka tak terlalu peduli dengan kemampuan kognitif. Tapi coba saja ada anak yang berani memukul temannya, kepala sekolah tidak segan-segan menarik tangan si anak dan menceramahinya panjang lebar dengan nada yang tinggi. Saya pernah melihat langsung. Soal penampilan pun tidak ada yang heboh-heboh. Ada lah beberapa yang agak ‘gaya’ tapi bisa dihitung jari. Pede-pede saja kemana-mana pakai training pants + kaos + jaket + sepatu kets + ransel :D. Mbak-nya mau mendaki gunung, ya? Ahahahahaha. Di Irlandia, dalam memperlakukan orang lain, people don’t really care whether you’re Catholic, Moslem or even you don’t believe in any religion at all :). Berperilaku sopan dan non diskriminatif adalah hal universal buat siapa saja. Ajaran yang saya tahu pasti adalah landasan muamalah dalam Islam. Sadly, you can hardly see this in (most of) moslem countries. Ironically, pretty easy to see the practice in non-moslem countries. Tanya kenapa? Memang, awal di Athlone, saya benar-benar teruji oleh udara dingin. Tapi tak lama. Baru 3 bulan tinggal di sini, rasa betah menerjang sedemikian kuat. Meskipun keinginan untuk mengganti status paspor sama sekali belum ada. Tapi saya ingin agar anak-anak saya suatu hari nanti melangkahkan kaki mereka sejauh yang mereka bisa. Saya doakan, semoga saya dianugerahkan kesehatan yang mumpuni (menjalani pola hidup sehat ala FC adalah salah satu ikhtiar saya dari sekarang untuk doa yang ini), tak perlu meresahkan anak-anak kelak, sehingga saya bisa menghabiskan sisa usia di negeri kelahiran tercinta. Sampai akhir menutup mata. Amin :). Kembali mengutip pendapat Profesor Komaruddin Hidayat (UIN Syarif Hidayatullah) Hasil penelitian ini juga menyisakan pertanyaan besar dan mendasar: mengapa semarak dakwah dan ritual keagamaan di Indonesia tak mampu mengubah perilaku sosial dan birokrasi sebagaimana yang diajarkan Islam, yang justru dipraktikkan di negara-negara sekuler? Tampaknya keber-agama-an kita lebih senang di level semarak ritual untuk mengejar kesalehan individual, tetapi menyepelekan kesalehan sosial. Kalau seorang Muslim sudah melaksanakan lima rukun Islam—syahadat, shalat, puasa, zakat, haji—dia sudah merasa sempurna. Semakin sering berhaji, semakin sempurna dan hebatlah keislamannya. Pada hal misi Rasulullah itu datang untuk membangun peradaban yang memiliki tiga pilar utama: keilmuan, ketakwaan, dan akhlak mulia atau integritas. Hal yang terakhir inilah, menurut penelitian Rehman dan Askari, dunia Islam mengalami krisis. *** Saya setuju sekali, kita terlalu sering menyepelekan ‘kesalehan sosial’. Pengalaman saya naik haji kemarin, selain menyisakan rasa haru yang masih terus berbekas hingga kini, terselip rasa kecewa yang mendalam. Seusai wukuf, jemaah biro haji kami keluar dari tenda ke arah jalan untuk menuju stasiun kereta. Saya tercekat melihat suasana jalan raya yang sudah kosong dari para jemaah ‘haji koboi’ yang sudah kembali ke Mina/Musdalifah. Kotornya luar biasa. Bau pesing tak terkira. Ceceran makanan, botol minuman dan entah cairan apa itu *yucky* berbaur menjadi satu. Subhanallah, sampahnya tidak main-main. Besoknya, saat akan tawaf ke Mekkah, jam 7 pagi kami sudah berjalan ke arah jembatan untuk menunggu taksi. Lautan sampah di mana-mana. Baunya pun sangat menyengat. Saya ingat saat itu sempat bergumam kepada suami, “Kebersihan sebagian dari iman.” Kebersihan tidak hanya menyangkut diri sendiri, tapi orang lain dan lingkungan sekitar, kan? Saat sepi pun, kalau tawaf, saya sering memperhatikan ‘rusuh’nya keadaan di sekitar hajar aswad. Tidak pernah damai suasananya. Sikut-sikutan, teriak-teriak, dorong-dorongan. Itu cuma amalan sunnah, saudara-saudaraku. Teringat pesan ustaz Syafiq yang mengisi ceramah pengajian di acara syukuran salah satu teman di Jeddah sebelum kami berangkat haji, “Jangan melakukan amalan sunnah dengan cara-cara haram.” Malah, bagi sebagian muslim, yang penting : salat, zakat, puasa. Perlakuan kepada orang lain, gaya hidup sehari-hari, tidak akan mempengaruhi keislaman kita selama kita salat-zakat-puasa. Sadar tidak sadar, penyempitan makna “rahmatan lil ‘aalamin” dilakukan oleh kaum muslim sendiri. Dalam salah satu ceramah, Cak Nun bertutur, “Apakah di sini anda bisa punya cara untuk mengetahui seberapa iman anda? Bisa nggak kita mengukur akidah? Bisa nggak kita mengukur, kita ini Islam atau belum Islam? Kalau engkau menjawab “bisa”, lho, itu rak cangkemmu? Lha atimu? (itu kan mulutmu, lha hatimu?). Kita tidak bisa menilai Islamnya orang, kita tidak bisa menilai sesat atau bukan kecuali MUI.” Ucapannya disambut tawa jamaah. Ketika beberapa waktu lalu, saat ramai-ramainya pilkada DKI, saya berdebat dalam sebuah grup masalah akhlak vs aqidah. Seorang teman tak ragu-ragu menyematkan label ‘sekuler/liberal’ kepada saya? Untuknya, sebuah kalimat syahadat akan selalu berada di tempat teratas, jauh melampaui masalah-masalah yang berkaitan dengan kesalehan sosial. Dia mengejek, “Lo lebih pilih manusia daripada Tuhan?” Saya menjawab, “Pilihan yang mana? Memuliakan sesama manusia adalah perintah Tuhan.” Untuk saya pribadi, sangat jelas. Islam itu seimbang dunia akhirat. Terlalu condong kepada salah satu hanya akan membuat keseimbangannya goyah. Pengalaman hidup di Jakarta, Jeddah dan kini Athlone membuat saya mensyukuri betapa ‘liberal’nya saya. Sedangkan dalam hati saya selalu bersyukur saya dilahirkan sebagai seorang muslim. Dan selalu memohon agar Tuhan tidak akan memalingkan saya hingga akhir hayat nanti :). Akhlak itu tidak kalah pentingnya dengan akidah. Kalau Anda berdakwah dengan mengatakan babi haram, ini itu adalah konspirasi, menolak nasi kotak hasil acara paskah terang-terangan di media sosial, memasang status publik tentang haramnya mengucapkan ucapan Natal dan mengutuk muslim lain yang tetap melumrahkan ucapan tersebut, apa iya mereka akan berbondong-bondong mengakui kebesaran keyakinan Anda? Satu lagi dari Cak Nun yang mungkin bisa jadi bahan renungan, “Tuhan yang tahu akidahmu. Masyarakat butuh akhlakmu.” Tugas kita sesungguhnya bukanlah untuk membawa seluruh umat manusia untuk  bersyahadat bersama dalam satu bendera penafsiran yang sama (Sunni? Syiah? Wahabi? Salafi?). Tapi untuk menunjukkan (bukan menghakimi apalagi mengancam) bahwa : Islam = rahmatan lil aalamin. Bahkan rasulullah pun menekankan dirinya HANYA sebagai PEMBAWA PERINGATAN dan PENJELASAN. Bukan pemegang daftar siapa yang masuk surga siapa yang masuk neraka, kan? Katakanlah, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku bagi kalian hanyalah pembawa peringatan dan penjelasan.” (QS. al-Hajj [22]: 49). Alquran, adalah petunjuk dan rahmat. Bukan untuk  mengancam-ancam orang yang tidak sepaham. Maksudnya apa? Renungkan sendiri :). Semoga bertahun-tahun setelah tahun 2010, saat penelitian “How Islamic are Islamic Countries?” digelar kembali, jajaran negara-negara muslim bisa bertengger di peringkat 10 besar. Amin :).


Tulisan ini adalah karya mbak Jihanda Vincka. Versi aslinya dapat di lihat di sini.

Article, Re-blogged

Life is always started by a DREAM

[dropcap style=”flat”]B[/dropcap]erawal dari ketidaksengajaan memilih jurusan yang ‘asal-asalan’ dan universitas yang juga asal-asal pilih, dengan motto “yang penting lulus SNMPTN” akhirnya terdamparlah saya di Pekanbaru, sebuah kota ‘asing’ yang sama sekali tidak pernah saya kunjungi sebelumnya. Jangankan dikunjungi, sedikitpun belum pernah kota ini terlintas dalam benak saya.

Willin Julian Sari

Ketika awal perkuliahan, semua terasa berat. Mulai dari lingkungan kampus yang benar-benar beda,  hidup sendiri di negeri orang dan tak ada satupun kenalan. Saya sempat frustasi dan ingin pindah. Begitu kuatnya hasrat ingin pindah kuliah, hingga saya akhirnya memutuskan untuk mengikuti tes UMB lagi di tahun 2010, dan alhamdulillah saya lulus di UNSYIAH. Namun, meskipun telah lulus, setelah diskusi dengan keluarga dan dengan pemikiran yang panjang serta tidak menonjolkan keegoisan diri, akhirnya saya memutuskan untuk tetap kuliah di Pekanbaru. Ini merupakan keputusan yang sulit sehingga saya tahu saya harus mencari suatu kesibukan, suatu hal yang akan membuat saya betah untuk tinggal disini lebih lama.

Minat bahasa inggris sejak lama
Dari dulu, hobi saya berkecimpung di dunia bahasa inggris. Mulai dari mengikuti perlombaan apapun yang berbau bahasa inggris sampai pernah menjadi interpreter. Saya coba mencari info kesana kemari tentang perlombaan bahasa inggris. Pucuk dinanti ulam pun tiba, Singapore Consulate bekerjasama dengan pemerintah provinsi Riau mengadakan perlombaan debat bahasa inggris terbesar pada tahun 2010 tersebut.

Saya memutuskan untuk mencoba peruntungan di lomba tersebut, meskipun saya amat sangat awam dalam dunia perdebatan. Saya mencari team partner kesana kemari, and that is a hard thing guys. Tidak ada yang mau! Hingga akhirnya saya bertemu dengan bang Robi Kurniawan, salah satu mahasiswa jurusan bahasa inggris yang juga merupakan seorang alumni penerima beasiswa bergengsi IELSP. Akhirnya saya, bang Robi dan kak Rahma (teman bang Robi) menjadi team. Mereka berdua adalah orang-orang yang sudah berpengalaman dan sangat matang dalam dunia perdebatan bahasa inggris. Hingga thanks God kami berhasil meraih juara III tingkat provinsi Riau. Sebenarnya bang Robi dan kak Rahma bisa saja menjadi juara I kalau saja partnernya waktu itu bukan saya. Hahahaha.

Kenal dengan bang Robi
Bisa dibilang bahwa bang Robi adalah jembatan pertama saya dengan dunia luar. Bang robi mengenalkan saya dengan teman-teman yang hebat dari jurusan bahasa inggris dan juga mengenalkan saya pada English Zone, sebuah komunitas bahasa inggris yang hampir semua membernya sudah pernah mendapatkan beasiswa ataupun program keluar negeri. Dari English Zone saya mulai mengenal banyak orang dan mempunyai banyak kawan serta link tentunya. Sampai akhirnya saya bisa kenal dengan bang Renza, seorang alumni program pertukaran pemuda antar negara ke Kanada. Perlahan-lahan, saya juga mulai kenal dengan kak Alfa Noni yang juga merupakan seorang alumni program yang sama dengan bang Renza. Kak Alfa Noni merupakan ketua PCMI (Alumni peserta program pertukaran pemuda antar negara) Riau. Meskipun pada awalnya saya hanya mengenal kak Noni melalui Facebook (Oh fesbuk, kau sungguh berarti). Saya juga mulai mengenal kakak-kakak lainnya yang juga anggota PCMI melalui Facebook.

Menyusun daftar mimpi
Terbakar api cemburu kepada kakak-kakak yang sudah pernah menginjakkan kakinya di negeri orang sebagai duta bangsa secara gratis, saya pun mulai menuliskan daftar mimpi saya yang harus dicapai, diantaranya:
1. Tamat S1 paling lambat ketika umur 21
2. Tamat S1 dengan IPK diatas 3,5
3. Dapat program beasiswa keluar negeri sebelum tamat S1
4. Dapat beasiswa S2 keluar negri

Saya tempel tulisan daftar mimpi-mimp di dinding kamar. Bismillah. Saya mulai bekerja keras untuk membuat daftar mimpi saya bukan hanya menjadi sebuah daftar, tapi menjadi sebuah kenyataan. Saya belajar keras untuk mendapatkan IPK diatas 3,5. Saya masuk sanggar untuk belajar seni demi mengikuti program pertukaran pemuda antar negara, and I worked hard for everything.

Terkena gangguan ginjal
Saya mulai suka dan betah tinggal di Pekanbaru. Alhamdulillah. Namun ternyata Allah punya rencana lain. Di akhir tahun 2010 saya mendapat kabar yang saya yakin tak seorang pun mau menerima kabar ini. Saya harus ikhlas menerima kenyataan bahwa saya terkena gangguan ginjal. Seperti tersambar petir disiang bolong, saya tidak tau harus berkata apa. Hanya tangisan yang dapat menggambarkan suasana hati di kala itu.

Saya mulai berobat. Pada awalnya, dokter mengatakan bahwa Insya Allah penyakit saya akan sembuh dalam waktu tiga bulan. Namun dokter hanyalah manusia, manusia tidak punya kuasa untuk mengubah takdir dan jalan hidup manusia lainnnya, Allah-lah dan hanya Allah jua lah yang punya kuasa atas hal itu. Allah mungkin berkata, “Belum waktunya Wilin, sabar..”. Dan…yap, saya masih mengidap penyakit gangguan ginjal itu.

Kemudian ketika saya pulang ke Aceh, saya mulai berobat tradisional. Saya mendatangi mantri dan meminum ramuan yang kalau boleh dibilang, seperti taik Kerbau. Demi sembuh, demi semuanya, saya harus ikhlas meminum ramuan itu setiap hari. Allahu Akbar.. lagi-lagi hanya air mata yang dapat mengerti bagaimana perasaan hati saat itu. Akhirnya sebelum kembali kuliah ke Pekanbaru, saya ditemani Ibu berobat ke dokter ahli ginjal ternama di kota Medan. Dokter itu punya klinik, yang isinya semua pasien berpenyakit ginjal. Ketika saya berobat, dokter tersebut menyuruh saya berhenti kuliah untuk sementara sampai saya sembuh. Duhai Allah..apalagi ini.

Saya mengikuti apa yang dikatakan dokter, karna saya ingin sembuh. Namun, dokter yang saya temui ini selalu memberikan obat-obat paten dengan harga selangit sehingga memaksa Ibu saya untuk menyerah, tidak sanggup lagi membawa saya berobat ke dokter tersebut. Akhirnya saya berobat dengan dokter spesialis penyakit dalam di Aceh, kampung halaman saya. Lama kelamaan penyakit saya semakin memburuk. Badan saya mulai membulat ‘aneh’ akibat efek samping obat, sehingga diputuskan bahwa saya harus dirawat inap. Lima hari dirawat inap, tidak ada perubahan. sehingga saya harus dilarikan dan dirujuk kerumah sakit di Medan.

Tetes air mata ungkapan rasa sakit
Sesampainya saya di Medan, Allahu Akbar..hanya Allah yang tau bagaimana rasa sakit yang saya derita. Hingga akhirnya ketika saya sudah masuk ruangan. Pada malam harinya dokter sudah memberikan suntikan, rasa sakit itu baru hilang. Namun setiap hari rasa sakit itu datang lagi, yang ada di benak saya adalah beginikah rasanya sakit? Wahai Allah.. betapa indah nikmat kesehatan yang Engkau berikan, namun dulu aku sangat jarang mensyukurinya.

Tidak hanya penyakit gangguan ginjal yang saya derita, namun segala penyakit datang dan hadir disaat yang bersamaan waktu itu. Penyakit kulit, ambeyen dan efek samping obat sehingga muka saya membesar dan membulat, perut saya membuncit, tungkai saya kurus. Saya mulai berkumis dan berbulu, dan orang-orang mulai melihat aneh pada saya.

Ketika semua penyakit itu kumat dan kambuh rasa sakitnya, hanya tetesan air mata yang dapat saya katakan. Tapi Allah tidak pernah sia-sia dalam memberikan sesuatu. Saya dipertemukan dengan dokter yang luar biasa hebatnya. Saya dididik untuk ikhlas, pasrah dan percaya pada Allah. Wahai dokter, tak akan pernah kulupakan jasamu.

Sakit membuat lebih dekat dengan Allah
Sakit ini membawa saya menjadi lebih dekat dengan Allah. Hal yang semestinya sudah harus saya lakukan dari dulu. Jadi mungkin Allah memberikan sakit ini karena Allah telah rindu pada saya, Allah ingin saya kembali pada pelukan-Nya. Ternyata seluruh badan ini rindu ingin bersujud pada Rabbnya. Ajal serasa sangat dekat waktu itu. Saya benar-benar merasa kalau mungkin sudah waktunya saya kembali pada yang menciptakan saya. Namun saya memohon pada Allah untuk tidak menjemput saya dulu, dan menunda penjemputan itu hingga saya berhasil membahagiakan keluarga saya. Secara rahasia, saya membuat janji dengan Allah, bahwa saya rela dijemput kalau saya sudah membahagiakan keluarga. “Tolong tunda ya Allah..”. Dan Allah mengabulkan. Allah menunda penjemputan itu. Mungkin Allah memang ingin melihat saya menepati janji.

Alhamdulillah, meskipun penyakit ini masih melekat pada saya sampai detik ini dan tak ada satu orang dokter pun yang bisa mengatakan kapan saya bisa sembuh dan sampai kapan saya harus mengidap penyakit ini. Saya ingin bisa hidup ‘seperti normal’ dan berkuliah lagi.

Mulai kuliah kembali, tidak dapat dukungan keluarga
Tidak ada satu orang pun yang mendukung saya untuk kembali berkuliah. Semuanya menyuruh saya stay di kampung halaman, dirumah saja, beristirahat, berhenti bermimpi dan mengejar mimpi. Seolah saya disuruh hanya pasrah ‘menunggu ajal’ menjemput. Tak ada satupun kawan. Tak satu manusia pun mempercayai saya, bahkan keluarga sendiri. Akhirnya saya kembali curhat pada Allah. Hanya Allah-lah yang percaya pada saya. Saya putuskan untuk melawan semua nasehat orang, dan mengikuti keegoisan saya untuk kembali berkuliah setelah cuti selama satu semester, dengan segala konsekuensi yang harus saya terima nantinya (termasuk menghandle diri sendiri ketika sakit). Tapi satu.. saya percaya pada diri saya sendiri.

Mengubah daftar mimpi
Saya kembali berkuliah. dan saya mengubah daftar mimpi saya yang semula hanya empat menjadi enam, sebagai berikut :
1. Tamat S1 paling lambat ketika umur 21
2. Tamat S1 dengan IPK diatas 3,5
3. Dapat program beasiswa keluar negri sebelum tamat S1
4. Dapat berbusana muslimah secara syar’i paling lambat ketika umur 21
5. Dapat menghapal juz amma paling lambat ketika umur 21
6. Dapat beasiswa S2 keluar negri

Bismillah lagi. Saya mulai lagi mengejar mimpi. Saya mulai sibuk beraktivitas lagi. Tidak mudah karena saya sama sekali tidak pernah mendapat dukungan keluarga. Bahkan ketika saya mengikuti tes beasiswa IELSP dan PPAN (Pertukaran Pemuda Antar Negara), saya dimarahi habis-habisan oleh Ibu yang amat sangat khawatir dengan keadaan saya. Sedih, disaat saya mengaharapkan doa dan dukungan keluarga, dan hal itu belum bisa saya dapatkan. Namun saya mencoba mengerti pemikiran keluarga, mereka terlalu menyayangi saya sehingga teramat sangat khawatir jikalau saya kenapa-kenapa. Tugas saya bukan menyerah, tapi tugas saya adalah membuat mereka percaya dan mengerti. I am not a quitter!!!

Masuk Tribun Pekanbaru, keluarga mulai mengerti
Saya yakin kalau saya berada dijalan yang benar, saya punya supporter yang sangat kuat dan hebat mengalahkan supporter mana pun di dunia ini, Allah azza wajala. Berbekal dukungan sang Khaliq, saya mencoba mengukir prestasi hingga alhamdulillah saya ‘masuk’ koran Tribun Pekanbaru sebanyak dua kali. Koran tersebut saya bawa ke Aceh dan saya tunjukkan kepada keluarga. Mereka menangis. Terima kasih duhai supporter hebatku. Sejak saat ini, keluarga dapat mulai mengerti jalan pikiran saya. Mengenai impian keluar negri, banyak yang mentertawakan. Bahkan keluarga saya sendiri. “Anakku, jangan mimpi tinggi-tinggi, gila nanti, masuk RSJ nanti”. Saya tersenyum, dan berbisik dalam hati bahwa tidak ada yang tidak mungkin, karena saya punya supporter yang Maha Kaya.

Setelah mengikuti seleksi PPAN 2012 saya hanya mendapat posisi runner up I Korea, artinya saya tidak berhasil dan tidak berangkat keluar negeri. Fisik saya pun tidak setangguh dulu seperti sebelum sakit. Sekarang ini saya memang gampang sekali sakit, gampang capek, demam, dan sebagainya. Saya mulai melupakan mimpi keluar negeri. Pahit memang, seolah ada suara dalam diri yang mengatakan agar saya harus ikhlas menerima kenyataan bahwa saya sekarang tidak lebih dari sosok penyakitan! Mana mungkin ada pihak yang mau memberikan kepercayaan pada orang penyakitan. Apalagi sebagai duta bangsa. Benar-benar seperti mimpi di siang bolong rasanya. Saya mencoba untuk realistis, sehingga saya hanya fokus pada studi saja. Saya hanya fokus untuk tamat kuliah. Hanya itu.

Mulai penelitian
Saya mengambil penelitian labor, yang artinya saya seperti ilmuwan yang di tipi-tipi bekerja di labor seharian. Tangisan kembali hadir. rasa tak sanggup badan ini menyelesaikan penelitian. tegak seharian sudah membuat badan saya lemah selemah-lemahnya. Saya hanya bisa menangis lagi. Ingin berkata dan bercerita, tapi tak akan ada orang yang mengerti perasaan hati.

Perlahan saya tetap lakukan penelitian, hingga akhirnya alhamduliilah.. It is done guys! Di penghujung tahun 2013, waktu itu saya sedang demam dan tiba-tiba kak Noni menghubungi meminta saya untuk melengkapi beberapa persyaratan mengikuti program JENESYS 2.0 ke Jepang. Dan, tanggal 06 desember 2013 saya berangkat ke Jepang. Duhai Allah begitu indah rencana-Mu.

Allah kasih hadiah berangkat ke Jepang
Pada saat landing di Jepang pada tanggal 07 Desember pagi, saya hendak mengangis rasanya. Serasa hidup dalam mimpi. Setelah berusaha selama ini, menggenapkan doa, sabar dan pasrah akhirnya Allah datang memberi hadiah. Lagi-lagi hanya Allah yang dapat mengerti bagaimana rasa hati saat itu.

Selama di Jepang kehidupan benar-benar seperti mimpi. Apalagi ketika bisa berdiskusi dengan istri PM Jepang dan istri Presiden RI. Kawan, mimpi itu sangat manis ketika menjadi kenyataan. Serasa terbalaskan segala perjuangan yang telah dilakukan selama ini. Ketika pulang dari Jepang, saya hanya bisa berkata pada ibu bahwa anaknya tidak gila. Anaknya benar-benar berhasil menginjakkan kaki di negeri orang sebagai duta bangsa secara gratis. Mimpi anaknya menjadi kenyataan! Perkataan bermimpi setinggi bayang-bayang ternyata sama sekali tidak berlaku di dunia ini!!!

Kejar tamat kuliah
Setelah pulang dari Jepang saya pun mengebut pasang gigi empat untuk menyelesaikan studi S1. Dan alhamdulillah, kemarin tepat tanggal 12 Februari 2014, ketok palu sidang resmi dengannya saya menggandeng gelar sarjana. Duhai kawan, sekali lagi, manisnya mimpi ketika menjadi kenyataan.

Siapa yang menyangka bahwa gadis penyakitan, yang tak satu orang pun mempercayainya dulu, akhirnya bisa juga keluar negeri dan meraih gelar sarjana. Daftar mimpi-mimpi tidak lagi hanya menjadi daftar, tapi mulai menjadi kenyataan. Pertama, alhamdulillah IPK saya diatas 3,5. Kemudian saya bisa tamat sebelum umur 22. Alhamdulillah saya bisa mendapatkan beasiswa keluar negeri sebelum saya tamat kuliah dan yang lebih alhamdulillahnya saya bisa berbusana muslimah secacra syar’i. Mengenai hapalan Juz ‘amma, alhamdulillah saya sudah hapal sebagian, butuh perjuangan sedikit lagi untuk menghapal Juz ‘amma secara keseluruhan, waktu saya kurang lebih lima bulan lagi untuk mewujudkannya. Dan untuk mimpi saya yang terakhir. Insyaallah seperti mimpi-mimpi saya sebelumnya, ia akan segera menjadi kenyataan. Aamiin..

Daftar mimpi baru
Sekarang saya siap untuk menulis daftar mimpi yang ingin saya raih kedepannya. Kawan, yang perlu kita lakukan hanya percaya pada diri sendiri, bahwa kita bisa menjadi apa saja yang kita inginkan tak peduli seberapa banyak orang yang ‘tidak’ mempercainya selama kita berada di jalan yang benar dan mendapat support dari the greatest suppoter, Allah azza wajala.

Hidup cuma sekali, so let’s make it become extra ordinary.
Sampai ketemu di tulisan berikutnya yah guys 😉


 

Penulis adalah Willin Julian Sari, mahasiswa Pendidikan Kimia UIN Suska Riau angkatan 2009.
Tulisan asli dapat di lihat di catatan Facebook: https://www.facebook.com/notes/willin-yulian-sari/life-is-always-started-by-a-dream/10152019030416156

 

Article, Re-blogged

Lupakan soal beasiswa luar negeri, kamu pejuang malas!

[dropcap style=”flat”]T[/dropcap]entu saja tulisan ini bukan untuk Anda, pembaca yang budiman. Tulisan ini adalah untuk orang yang tidak Anda kenal. Orang yang memiliki keinginan untuk mendapatkan beasiswa luar negeri tetapi tidak sadar kalau dirinya menderita kemalasan stadium tinggi. Saya menyebutnya pejuang malas dengan ciri-ciri seperti ini:

Anak dusun keliling dunia

  1. Menanyakan hal-hal yang sebenarnya ada di website atau buku panduan beasiswa. Mereka malas membaca.
  2. Selalu mengatakan ‘tes TOEFL/IELTS mahal banget’ tapi malas menabung dan tetap rajin nongkrong di cafe.
  3. Sibuk berpikir caranya lolos beasiswa meskipun tidak memenuhi syarat. Mereka tidak fokus berusaha agar bisa memenuhi syarat. Anehnya, dengan begitu mereka merasa kreatif.
  4. Mudah bertanya “syarat beasiswanya apa saja?” Seakan itu satu rahasia yang tidak ada di website atau buku panduan (terutama jika ditanyakan lewat email ketika penanya memiliki akses internet yang memadai).
  5. Bertanya “jurusan yg cocok buat saya apa ya?” seakan orang lain lebih paham tentang dirinya. Untuk menggali bakat dan minat sendiri saja mereka malas.
  6. Bahkan bertanya “berkas lamaran dikirim ke mana ya?” Seakan itu sandi rahasia yg tabu ditulis di buku panduan.
  7. Menyangka topik penelitian didapat dengan bertanya “tema tesis yg bagus apa ya?” bukan dari membaca penelitian yang sudah ada.
  8. Latihan essay IELTS 250 kata malas sekali tetapi ngetwit nyinyir pada orang bisa dari sore sampe subuh @dipataruno.
  9. Lupa satu hal penting: jika beasiswa bisa didapat dengan cara yang dipakai mereka, berarti semua orang bisa dapat beasiswa.
  10. Lupa pertanyaan renungan pejuang beasiswa: “Apa bedanya perjuangan saya dengan pejuang lain dan mengapa saya yang harus terpilih?”
  11. Merasa kursus TOEFL dua juta mahal banget tapi selalu semangat ganti HP baru.
  12. Merasa buku IELTS/TOEFL mahal dan lebih baik pinjem sementara tetap kenceng merokok atau rajin ke salon.
  13. Semangat gonta ganti lensa kamera tapi selalu berharap dapat buku petunjuk beasiswa tanpa membeli.
  14. Bangga membeli tas baru bermerek tapi tidak merasa bersalah membaca buku TOEFL hasil fotokopian.
  15. Malu pakai jam tangan imitasi tapi merasa keren bisa download buku TOEFL/IELTS secara ilegal.

Anda tentu tidak memenuhi kriteria di atas karena Anda adalah pejuang hebat. Jika ada orang yang seperti demikian, katakan pada mereka “lupakan soal beasiswa luar negeri karena kamu pejuang malas!”


Tulisan ini merupakan buah pikiran dari Made Andi.

Article, My Story

Visi melampaui generasi

[dropcap style=”flat”]S[/dropcap]aat di Jerman, saya bertemu dengan Mr. Gregor Ziegler. Pemilik perusahaan Ziegler, sebuah industri energi terbarukan yang berkembang pesat di Jerman. Pasarnya sudah masuk Eropa dan sekitarnya. Ziegler berlokasi di kota Flossburg, sebuah kawasan sejuk yang hampir sebagian besar permukaan datarannya ditutupi oleh padang rumput hijau yang menyegarkan mata.
Dengan Mr. Ziegler
Mr. Ziegler bilang kepada saya “10 atau 20 tahun lagi harus kamu yang gantian menerima kunjungan mahasiswa ke perusahaanmu”. Dia bercerita bahwa Ziegler, perusahaan besar ini dirintisnya dari kecil, dikembangkannya dari hobinya mengelola produk hutan (pohon), saat akhirnya bisnisnya sukses adalah ketika ia sudah masuk usia senja. Tapi siapa kini yang menikmati? Ya anak-anak dan keluarganya mendapat warisan dari impian dan kegigihan sang kakek. Nah begitu juga dengan kita, kalau tidak kita yang bersemangat saat ini maka siapa lagi yang akan membangun sejarah membanggakan setidaknya pada keluarga sendiri.
Sering tidak kita perhatikan keluarga yang dari moyangnya orang berpendidikan tinggi, coba deh lihat anak-anak sampai cucunya biasanya juga adalah orang-orang terpandang yang berpendidikan tinggi. Kakek atau nenek mereka telah memberikan warisan paling berharga pada generasi mereka. Hasil jerih payah dan tekad sang kakek atau nenek yang dulunya gigih memperjuangkan pendidikannya.
Inspirasi dari Mr. Ziegler hanyalah salah satu dari apa yang saya dapat selama pertukaran pelajar yang saya jalani. Kisah perjalanan yang sempat saya cicip itu kini alhamdulillah menjadi bara motivasi yang selalu membakar semangat untuk terus giat berusaha, naik ke level tinggi dan lebih tinggi lagi. Bahwasanya, saya dulu pernah berhasil berjuang, masa’ saat ini saya harus loyo? Standar harus terus naik. Apa kira-kira visimu yang melampaui generasi, sobat?
Article, My Story

Once upon a time in Yogyakarta: momen LK II HMI

[dropcap style=”flat”]M[/dropcap]elihat kembali foto-foto memori membuat saya senyum-senyum sumringah atas apa yang sudah saya lakukan. Termasuk kisah perjalanan di foto ini. Kedatangan saya ke Yogyakarta pertama kali ialah pada tahun 2012 lalu, namun sebenarnya perjalanan ke Yogya ini adalah bonus karena sama sekali tidak direncanakan sebelumnya.

Di depan Monumen serangan umum 1 Maret 1949. Yogyakarta

Tepatnya sekitar bulan Juli 2012 lalu, bulan di mana kawan-kawan seangkatan di kampus pada sibuk-sibuknya mengerjakan skripsi dan mengurus perhelatan pemasangan toga, sementara saya mulai sibuk pula mengurus hal lainnya yakni menyiapkan babak baru perjalanan perdana menggunakan pesawat terbang. Entah mengapa di tahun-tahun saat seharusnya saya mempersiapkan kelulusan, saya merasa ada cita rasa yang kurang dari diri ini, saya masih merasa gersang dan butuh mengeksplorasi hal-hal baru dan kejadian itu berlangsung sangat kejam, bahwa saya meninggalkan sama sekali urusan kampus dan memilih menuruti apa yang pikiran dan hati tuntunkan.

Mulailah saya memantapkan hati untuk mengikuti Latihan Kader II (Intermediate training) HMI. Dalam angan saya, sekali jalan harus dua tiga pulau terlampaui. LK II HMI memang sudah saya targetkan sejak jauh hari, namun menjelajah Ibu Kota dan naik pesawat terbang juga sudah terselip dalam impian saya. Saya berfikir keras bagaimanalah caranya agar ini kesampaian. Dan ini pun berlangsung sangat ambisius, tidak masalah uang pas-pasan, tidak masalah jikalau pun harus pergi sendiri. Yang penting sampai..

Menguras fikiran akhirnya dapatlah saya jalan dan jatuhkan pilihan pada LK II HMI yang akan dilaksanakan di Cilegon. Selesai di Cilegon harus singgah di Jakarta (titik).

Bukannya mengolah skripsi, malah saya sibuk-sibuknya membuat makalah yang akan disajikan pada saat LK II nanti. Ada lebih kurang satu bulan saya investasikan untuk persiapan, mulai dari menyiapkan syarat-syarat lainnya seperti Screening Test, Surat Rekomendasi, belajar kembali materi-materi HMI, dan termasuk cari tahu mengenai cara naik pesawat terbang (maklum pertama kali dan berangkat sendiri). Kalau soal biaya, alhamdulillah pada saat itu saya lagi banjir-banjirnya terima uang (beasiswa dsb) sehingga digunakan sebagian untuk mewujudkan impian.

Akhirnya sampailah saat keberangkatan, 9 Juli 2012. Beberapa orang teman mengantarkan saya sampai ke Bandara SSK Pekanbaru. Saat itu cukup cemas rasanya, nasihat teman-teman malah membuat saya semakin bingung. Nanti sampai di bandara langsung check in, bayar airport tax, perhatikan nomor penerbangan dan blablabla. Saya takutnya malu-maluin, tapi sebenarnya itu tidak menjadi persoalan, mungkin dasarnya gengsi saja. Mulai naik pesawat dan merasakan dag-dig-dug saat mulai terbang, agak panik sih sebenarnya, tapi saya pura-pura terbiasa saja. Sampai akhirnya ngobrol dengan orang disebelah memaksa saya untuk jujur mengatakan bahwa saya baru pertama kali naik pesawat dan baru akan pertama kali juga ke Jakarta. Dan untungnya laki-laki paruh baya teman ngobrol saya itu cukup bersahabat, walaupun saya tahu dia cukup tertawa kecil terhadap saya di dalam hati. Orang itu menasehati saya dan memberikan pesan agar nanti di Jakarta harus begini dan begini, sehabis disini sambung damri kesini, dan ketemu orang jangan begini. Segala macam ia beritahu ke saya, termasuk mengingatkan di Jakarta rawan penipuan dan copet, kamu harus hati-hati katanya. Tampak raut mukanya menunjukkan bahwa ia lelah ingin tidur, namun karena saya terus saja bertanya ini dan itu akhirnya ia pun seperti keasyikan bercerita. Terakhir ia mengatakan bahwa ia akan ke Singapura mengunjungi istrin dan anak-anaknya disana.

Sampai di Bandara Suta dan berbekal catatan rute perjalanan yang harus ditempuh agar sampai di Cilegon. Saya cukup linglung, banyak sekali orang yang menawari jasa perjalanan dan dari tiga orang agen yang menemui saya ketiganya memberi rute yang berbeda-beda pula, satunya mengaku rute ini lebih cepat dan lebih murah. Lama juga saya berdiam diri sambil duduk membolak-balikkan buku, mencoba mengalihkan perhatian para calo yang terus mebuntuti. Satu jam lamanya hingga saya memutuskan untuk memilih jalan yang hati saya katakan benar, naik damri! Saat bertanya mengenai rute damri pun kembali saya mendapat beragam jawaban, sampai saya berfikir apakah saya akan hilang dan tersesat di Jakarta ini? Akhirnya saya naik damri dan turun di kawasan pluit. Sampai disana nanti kamu tanya aja lagi kata seorang bapak di bus damri. Turun di pluit saya langsung ditarik beberapa calo bus terminal bayangan, saya bilang mau ke Cilegon, semua agen mengatakan iya ini bus ke Cilegon. Saya panik dan kembali berpura-pura diam dan ada perlu lain sehingga mereka mengabaikan saya. Saya coba tanya ke seorang penjual asongan, saya yakin orangnya baik dan jujur. Terang saja, dia mengatakan untung kamu gak ikut bus itu. Kamu harusnya nyebrang ke seberang sana, jalan terus sampai halte dan nanti lihat ada bus dan naik bus yang ada tulisan ini warna ini, nah itu cuma bus yang ke Cilegon dari sini. Behh…saya kaget! Apa jadinya kalau saya ikut bus tadi. Hati saya mengatakan bahwa ia orang jujur dan saya pilih ikuti saran orang itu. Akhirnya benar, saya jalan ke Cilegon dan butuh sekitar 5-6 jam hingga akhirnya sampai ke tempat yang saya tuju.

Seminggu mengikuti LK II di Cilegon dan sampailah saatnya pulang. Beberapa kawan akhirnya sepakat diajak kompromi untuk memilih tidak langsung pulang melainkan jalan ke Ibu Kota terlebih dahulu. Akhirnya pagi terakhir di Cilegon kami diantarkan ke stasiun kereta api untuk berangkat ke Jakarta. Sampai jua akhirnya di tanah batavia.

Di Jakarta, kami yang semua tidak paham seluk beluk jalan Ibu Kota akhirnya kembali berkelana dengan meraba-raba, menerka-nerka dan bertanya. Tetapi karena kami ramai maka setidaknya jelas lebih berani dan tidak terlalu was-was. Di Jakarta kami berkeliling panjang, mulai dari Menteng Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Barat dan semua nama bagian Jakarta kami kelilingi. Kami menginap di sekretariat PB HMI yang terletak di kawasan Menteng. Dari sinilah kami menjelajah Ibu Kota, dari rusun-rusun kumuh hingga menara gedung tinggi dan kantor pemerintahan. Termasuk kantor Kemenpora, pada saat itu saya ingat sekali awal petama Andi Malaranggeng diperiksa di kantornya. Saat kami mampir disana dan mencoba menemui kanda Andi Malaranggeng, bagian tamu mengatakan bahwa sedang ada pemeriksaan oleh BPK dan KPK (seingat saya) sehingga untuk sementara tamu tidak diperkenankan bertemu.

Di Jakarta kami berkeliling seperti tidak mengenal lelah dan lapar, mulai dari main ke taman suropati, museum proklamasi dan banyak deh pokoknya. Ada sekitar satu minggu hingga akhirnya saya dan kawan-kawan berpisah. Dua orang kawan yang masing-masing berasal dari Sidrap dan Aceh memilih untuk pulang terlebih dahulu, sementara saya dan dua orang kawan yang berasal dari Batam memilih untuk bertualang ke Yogyakarta. Horeee besok saya akan ke Yogja..!

Perjalanan ke Yogyakarta kami rencanakan menggunakan kereta api, pagi itu kami sampai di stasiun kereta tetapi ternyata tiket jurusan Yogya sudah habis terjual. Tidak patah arang, kami memilih untuk pergi ke terminal bus dan mencari kemungkinan bus yang berangkat ke Yogya. Adalah akhirnya bus Raharja Putra Mulia yang mengantarkan kami lewat jalan darat sampai di Yogya.

Di Yogya kami menginap di daerah Bantul, cukup jauh dari pusat kota. Kerabat salah seorang kawan kebetulan tinggal disana, sehingga tidak ada tempat lain untuk mendapatkan penginapan gratis selain disana. Saat itu sudah masuk bulan puasa, sehingga puasa pertama adalah di Yogya. Walau dalam kondisi berpuasa, tidak menyurutkan langkah kami mengeliling Yogya. Kami terus menjelajah, main ke Malioboro sampai ziarah ke makam almarhum Prof. Lafran Pane (pendiri HMI). Perjalanan ini seperti napak tilas sejarah HMI. Banyak tempat yang kami kunjungi di Yogya, selain jalan-jalan tidak lupa pula belanja. Baju batik oleh-oleh dari Yogya masih saya simpan hingga saat ini.

Saat di Yogya, keputusan sulit harus diambil. Dua orang teman yang berasal dari Batam sudah dibelikan tiket pulang oleh seniornya, dan tiket itu berangkat dari Yogya. Saya ciut karena saya belum punya tiket dan uang untuk pulang ke Pekanbaru. Saran dari kawan, saya disuruh balik ke Jakarta diongkosi dan nanti di Jakarta saya cari cara untuk pulang ke Pekanbaru.

Akhirnya stasiun kereta api Lempuyangan Yogya memisahkan saya dan kawan-kawan. Berangkat malam dari Yogyakarta menuju Jakarta seorang diri dalam perjalanan 12 jam.

Tiba di Jakarta, namun kali ini saya seorang diri. Saya menginap di mushalla PB HMI. Masih ingat jelas bahwa ketika itu PB HMI sedang konflik sehingga sangat jarang senior-senior HMI yang beraktifitas disana saat itu. Padahal harapannya saya bisa ketemu banyak senior dan dapat bantuan untuk biaya pulang. Beberapa orang senior memang ada yang saya jumpai disana, tetapi belum ada yang berikan bantuan biaya. Mereka kasih saran untuk temui kakanda ini dan kakanda itu, saya dikasih alamat dan kantornya di Jakarta. Memberanikan diri akhirnya kali ini saya berkelana sendiri, sudah merasa cukup terbiasa.

Selain itu, saya inisiatif untuk menghubungi kanda-kanda pemateri pada saat LK II kemarin. Betapa beruntungnya saya ketika hampir semua yang saya hubungi merespon dengan baik dan memberikan bantuan biaya. Cerah juga jalan saya untuk pulang. Namun, tidak lantas saya memlilih pulang. Saya ingin menikmati Jakarta beberapa hari lagi. Saya hubungi teman yang saat itu kuliah di Jakarta, beliau berdomisili di daerah Ciputat, lagi-lagi seorang diri saya menyusuri jalanan Jakarta. Dengan sahabat saya itu, saya diajakan mengunjungi beberapa tempat dan istimewanya diajak menyaksikan Kick Andy live dari studionya. Wah keren banget ini.

Tidak terasa sudah hampir satu bulan saya di Jakarta. Banyak agenda yang saya jalani disini. Setalah nginap beberapa hari di rumah sahabat saya di Ciputat akhirnya saya kembali ke Menteng, dari Menteng saya diajak untuk tinggal beberapa hari dengan senior HMI yang berasal dari Pekanbaru. Bersama beliau, kembali saya diajak keliling Jakarta, sampai ke ujung di pelabuhan ikan muara angke.

Meski saat itu bulan puasa, namun alhamdulillah puasa saya penuh tanpa bolong seharipun selama disana. Ada cerita menarik ketika mengenai puasa di Jakarta, saya diajak untuk ikut agenda buka bersama di rumah salah seorang Alumni HMI, Akbar Tandjung. Di Jakara memang sering diselenggarakan acara seperti itu, bahkan presiden, menteri dan tokoh-tokoh lainnya punya jadwal acara sendiri di rumahnya dan mengundang banyak pejabat dan tokoh lain untuk hadir. Di rumah Akbar Tandjung, saya kurang ingat alamat rumahnya, disanalah pertama kali saya bertemu dengan kanda Anas Urbaningrum – yang saat ini sedang dirundung masalah. Saya ingat ketika itu mantan presiden BJ. Habibie yang memberikan ceramah di rumah Akbar Tandjung.

Sekitar satu minggu menjelang lebaran akhirnya saya pulang kembali ke Pekanbaru bersama senior HMI. Petualangan panjang sudah mendekati akhir.

Sampai di Pekanbaru, awal niatnya saya akan fokus mempersiapkan untuk tamat. Namun dasar petualang, hati ini tetap gelisah. Ada satu lagi yang mengganjal di hati, impian saya untuk ke luar negeri sebelum tamat kuliah terpaksa harus diabaikan dan mungkin akan jadi mimpi selamanya jika saya memilih untuk menyudahi petualangan ini. Keinginan saya kembali liar, saya pilih investasikan waktu untuk menggapai mimpi ke luar negeri. Wisuda kembali saya tunda.

Akhirnya tercapai juga mimpi saya ke luar negeri, Filipina dan Jerman menjadi saksi pencapaian saya di tahun setelahnya, 2013. Saat ini di 2014 insya Allah saya sudah menggenapi semua angan-angan dan impian saya selama kuliah. Hari ini saya baru mendaftar untuk ikut ujian Munaqasyah (ujian skripsi). Insya Allah saya akan tamat di awal tahun ini. Do’akan ya…

Article, My Story

Ibuku kini orang penting (Teori post-parental women, emansipasi wanita dan analisis kisah Megawati)

[dropcap style=”flat”]B[/dropcap]eberapa bulan ini saya merasa cukup aneh dan terkaget-kaget dengan Ibu saya, Ibunda Hartati. Sekarang jika saya coba komunikasi dengan Ibu (saya memanggilnya Mama), maka sering kali saya dapati balasan sms atau telfon bahwa Ibu sekarang lagi sibuk ada pertemuan disana dan disini dengan warga masyarakat.

Foto keluarga (Lebaran 1434 H)

Ibu saya memang aktif dan berkiprah sejak dulunya di lingkungan masyarakat, namun kalau saya katakan saat ini Ibu sudah jadi orang penting. Kiprahnya sekarang begitu besar dan semakin terasa. Beliau dipanggil kesana kesini untuk membangun bersama masyarakat. Saya merasa bangga, sekaligus kadang saya merasa lucu dan tergelitik dengan curhat-curhat ibu saya yang begitu jelasnya ia menceritakan bagaimana kiprahnya saat ini. Ya beliau sudah membesarkan saya dan anak-anaknya, ia kini mempunya waktu luang yang cukup besar dan itu dimanifestasikan dengan aktualisasi dirinya ke dalam masyarakat.

Saya jadi ingat apa yang disimpulkan oleh David Gudmann yang membuat studi tentang Megawati. Ada juga Mclntyre yang melakukan hal yang sama. Mclntyre menyebutkan bahwa karir politik Megawati, Ibu rumah tangga ini dimulai dengan hidup tenang dengan awalnya mengurus anak-anak.

Sejarah mulanya adalah ketika Soerjadi sadar dengan pengaruh Bung Karno, Soerjadi yang waktu itu menjabat sebagai ketua umum DPP PDI ingin memanfaatkannya dengan menampilkan putri-puti tokoh proklamator kemerdekaan Indonesia, salah satunya Megawati, sebagai calon anggota DPR mewakili partainya periode 1987-1992. Asumsi Soerjadi ini tidak salah, buktinya saat kampanye politik PDI pada pemilu tahun 1992 gambar-gambar Bung Karno bertebaran.

Namun sampai kongres PDI di Medan pada tahun 1993, Megawati ketika itu juga bersama Guruh Soekarnoputra masih belum memperlihatkan tanda-tanda pengaruhnya. Nama Megawati tidak masuk perhitungan sebagai calon Ketua Umum DPP PDI periode itu. Meskipun pada saat itu Soerjadi terpilih kembali menjadi ketua umum, kisruh yang terjadi menanggapi hasil keputusan tersebut memunculkan dorongan untuk diadakannya Kongres Luar biasa (KLB) PDI yang beberapa thesis menyebutkan bahwa ini adalah faktor peran Negara yang ingin mendominasi dan berusaha melemahkan pengaruh sumber-sumber kekuatan di luar Negara. Sama halnya pada kasus Mantan Presiden Abdurrahman Wahid yang dipisahkan dari organisasinya (NU). Abdurrahman Wahid yang ketika itu menjadi ketua umum PBNU dengan massa berjumlah puluhan juta harus disingkarkan dan dibatasi ruang geraknya. Negera, ketika itu takut akan perluasan transformasi politik dan pengaruh organisasi besar diluarnya, oleh karenanya jumlah partai yang peserta pemilu dibatasi menjadi hanya tiga (PPP, Golkar dan PDI). Dampaknya Abdurrahman Wahid dengan potensi sumber kekuasaan yang besar belum bisa ditransformasikan menjadi kekuasaan politik yang real. Begitu jualah yang terjadi dengan Soerjadi. Ia disingkarkan dari organisasinya melalui rekayasa yang menyebabkan terjadinya KLB.

KLB PDI telah membuka jalan bagi Megawati untuk meraih sumber kekuasaan politik, namanya mulai mencuat sebagai kandidat ketua umum. Meskipun pada saat itu tokoh-toko PDI lainnya menyangsikan kemampuan Megawati dalam memimpin dan memahami aspirasi rakyat. Berbeda kisahnya dengan Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gusdur. Negara melihat Gusdur sebagai bibit potensial yang akan menandingi kekuatannya. Namun sepak terjang Gusdur ternyata sangat tajam, tidak surut dengan lepasnya ia dari kekuasaan tertinggi NU ketika itu yang terjadi pada Muktamar NU tahun 1994 – yang dapat dikatakan bahwa sebenarnya itu adalah pertarungan antara kekuasaan Negara berhadapan dengan Gudsur. Untungnya bagi Gusdur, perubahan orientasi politik negara dengan memberi angin kepada kalangan “Islam Modernis Kota”  yang mengkonsolidasikan diri melalui Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) – yang pendiriannya diresmikan Negara. Restu negara ini menunjukkan sikap negara yang membuka diri dari isolasi terhadap kekuatan-kekuatan masyarakat ke arah yang lebih terbuka. Gusdur berhasil merebut kekuasaan politik melalui kiprahnya awalnya mendirikan organisasi Fordem (Forum Demokrasi), di mana ia sendiri bertindak sebagai ketuanya. Terbentuknya Fordem telah menggabungkan sumber kekuatan Gusdur dari massa Islam, non-Islam dan “sekuler”. Dengan dasar-dasar dan sumber-sumber inilah akhirnya Gusdur mentranspformasikan potensi kekuatannya ke dalam struktur kekuasaan kongkret dan resmi dalam konfigurasi kekuatan-kekuatan politik dengan didirikannya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Melalui PKB, Gusdur berhasil melembagakan basis kekuatan politik resmi untuk tujuan yang lebih besar. Melalui PKB, Gusdur melangkah menuju kursi Presiden.

Kembali membahas Megawati, haruslah diingat bahwa Megawati adalah perempuan. Melejitnya pengaruh Megawati selain karena pengaruh Soekarno, dan kemampuan Megawati yang terus terasah dan terbukti. Melainkan juga adalah pengaruh identitasnya sebagai perempuan itu sendiri. Laki-laki yang dipimpin oleh Megawati menjadi terpesona dengan kemampuan yang dimilikinya dan hal ini membuat lawan-lawan politik Megawati menjadi pusing. Keberhasilan seperti ini juga bisa terlihat pada Cory Aquino, Aung San Suu Kyi dan Benazir Bhuto. Juga karena mereka perempuan dapat menyimbolkan kemurnian, karena ia bukanlah kepala keluarga, bukan pemimpin kaum preman, juga bukan pemimpin konglomerat, bukan jendral dan lainnya.

Tetapi, jika alasannya karena perempuan, mengapa putri-putri Bung Karno lainnya, seperti Rachmawati dan Sumawati tidak menikmati pengaruh yang sama? Pertanyaan ini hanya ingin menunjukkan bahwa Megawati sesungguhnya punya karakter sendiri. Jika yang muncul sebagai representasi Bung Karno adalah Guruh, Guntur, Rachmawati, atau yang lainnya belum tentu dan kemungkinan besar tidak akan mencapai sukses seperti Megawati.

Dalam berbagai kemelut politik yang dihadapinya Megawati Justru tampil “garang”. Sikap seperti ini, dikatakan Mclntyre adalah sikap dari kaum perempuan yang telah mengalami post-parental women. Ini terbukti dengan alasan ketika megawati berkata tentang alasannya masuk politik pada 1987: “Saya tak bermimpi menjadi pemimpin. tetapi, karena saya kira anak-anak sekarang sudah dewasa, saya bisa aktif dalam dunia politik.

Post-parental women merupakan fase dimana kaum perempuan telah menemukan diri dalam kapasitas, baik sebagai eksekutif maupun (kepemimpinan) politik yang sbelumnya terbiarkan dan tidak disadari. Asal-usul kapasitas ini ada di dalam sifat-sifat agresif yang karena mengalami keadaan sangat darurat (chronic emergency) ketika bertindak sebagai orang tua, mengasuh keluarga dan anak-anak terpaksa diberikan kepada suami-suami atau partner-partner mereka. Namun kemudian, (kapasitas) itu mereka peroleh kembali setelah asuhannya menjadi dewasa.

David Gutmann menyebutkan bahwa ada sifat-sifat keibuan dalam diri Megawati yang berpengaruh besar terhadap daya imbauannya dalam aktivitas politik. Tetapi mengingat alasan utama terjunnya Megawati ke dalam dunia politik bersifat post-parental women, maka ujar Mclyntyre, sangat memungkinkan bagi kita untuk menganggap bahwa apa yang sesungguhnya sedang kita lihat bukanlah figur lemah-gemulai dan bersifat keibuan, melainkan seorang perempuan post-parental yang tegas dan androgeny.

Hal ini juga yang membuat saya befikiran bahwa Emansipasi wanita adalah hal yang salah kaprah dalam artian sebenarnya. Emansipasi wanita saat ini sangat radikal, bahwa perempuan-perempuan muda diangkat derajatnya setara dengan laki-laki dan diberi wewenang dan hak yang sama untuk bebas menuruti keinginan karirnya, sehingga menyebabkan banyak Ibu muda yang lalai dan anak-anaknya terbengkalai. Mereka tidak memenuhi hak anak untuk mendapat asuhan dan kasih sayang penuh dari orang tua, ini menyebabkan anak-anak tumbuh besar dengan miskin perhatian. Dan ini juga yang menyebabkan prilaku-prilaku aneh dari perbuatan anak muda yang saat ini banyak menyimpang. Mereka berbuat kriminal, narkoba dan tidak jelas masa depannya sebagai pelarian atas perhatian dan kasih sayang yang seharusnya mereka dapatkan dari lingkungamn terdekatnya, yaitu keluarga.

Maka, emansipasi yang bisa didapatkan dengan sepenuhnya, menurut hemat saya adalah bagi wanita-wanita yang sudah bebas tanggung jawab rumah tangga. Dalam artian telah membesarkan anak-anak mereka hingga cukup dewasa dan mampu mencoba mandiri. Sehingga peran Ibu sudah masuk ke dalam fase pengawasan dan pengarahan saja, dan ini bisa dijalani dengan cukup ringan. Sehingga para Ibu bisa membagi fokusnya pada akselerasi dan pengabdian karirnya di luar rumah tangga.

Malam ini saya baru menelfon Ibu, satu jam berbicara dan bercerita, lalu beliau minta izin untuk mengakhiri pembicaraan karena harus bersiap-siap lagi “terjun”. “Mama mau terjun lagi do, malam ini ada pertemuan. Mama shalat dulu dan siap-siap ya. Nanti kita telfon lagi”, ucap Ibu. Oh Ibuku….sukses selalu Ibu. I Love you.

Article, Turun Tangan

Turun Tangan Pekanbaru: Mengajar, Menginspirasi dan Silaturahmi ke Sapulidi

[dropcap style=”flat”]R[/dropcap]elawan Turun Tangan Pekanbaru kembali turun aksi, setelah sebelumnya berhasil menarik perhatian dan simpati masyarakat pada moment hari Ibu 22 Desember lalu. Di mana pada waktu itu Turun Tangan Pekanbaru menggelar aksi bentang spanduk yang bertuliskan “Anakku…rahim Ibumu tidak dipakai untuk lewatnya seorang calon koruptor” di Car Free Day Pekanbaru. Bukan banyaknya relawan yang turun pada hari itu yang mengusik perhatian masyarakat, melainkan pesan yang disampaikan melalui spanduknya. “Gilaaa..kena banget sindirannya. Mudah-mudahan para koruptor sadar dengan kalimat itu”, komentar Lindra di media sosial menanggapi foto aksi yang kami unggah.

Hari ibu

Masyarakatpun ketika itu begitu antusias dengan kehadiran kami, banyak yang jadinya pengen tahu tentang apa itu Turun Tangan. Dan otomatis pembicaraan pun kami arahkan juga untuk mengenal Anies Baswedan, pengunjung yang bertanya banyak yang bersimpati namun juga tidak sedikit yang awalnya menyayangkan pilihan Anies ikut konvensi. Tapi dengan penjelasan yang baik, sebagian pesar pengunjung yang kami sapa akhirnya bisa menerima walaupun tidak sepenuhnya. Aksi kami turut mengundang sorotan kamera, banyak pengunjung yang minta foto bersama kami dengan bentangan spanduk.

Mengulang sukses hari ibu, di minggu berikutnya kami kembali turun aksi di lokasi yang sama CFD Pekanbaru. Namun kali ini konsepnya adalah orasi damai atau mimbar bebas, kami berkeliling orasi menggunakan toa (pengeras suara) seputar lokasi CFD. Pesan yang kami sampaikan menyesuaikan dengan suasana CFD, pesan yang ringan namun memiliki urgensi. Tema yang kami orasikan menyentuh aspek politik, seputar mendorong kebaikan di negeri ini.

Aksi CFD Pekanbaru

Memasuki tahun baru 2014, aktifitas relawan di awal-awal minggu bulan Januari ini tidak begitu tampak. Hanya kumpul-kumpul dan diskusi di base camp relawan, yakni rumah Ibu Yulhaida Badar, anggota senior Turun Tangan dan kebetulan salah seorang anaknya adalah ketua angkatan Pengajar Muda di Indonesia Mengajar.

Di akhir minggu bulan Januari ini, tepatnya pada malam minggu tanggal 26 lalu Turun Tangan Pekanbaru, komunitas yang dikomandoi oleh Adhitya Fernando ini kembali merapat dan kumpul bersama. Namun aktifitas kali ini diramaikan oleh hadir dan bergabungnya beberapa perwakilan beberapa komunitas lain yang ada di Pekanbaru, diantaranya adalah Bayu Rizka Wigasandra–ketua komunitas Chapter of Pekanbaru Manchester United (COP MU) dan Al Azhari Refni–ketua komunitas Berbagi Nasi (berbaginasi.com). Ini adalah pertanda baik untuk eksistensi Turun Tangan dan gaung kegiatan yang akan dilaksanakan nantinya.

Merencanakan program
Pertemuan malam minggu itu membahas mengenai beberapa program yang akan dilaksanakan. Ada tiga program yang akhirnya disepakati, yakni program Kelas Inspirasi, pembuatan Biopori dan donor darah.

Rpat Turun Tangan

Program Kelas Inspirasi dijadwalkan akan dimulai perdana pada hari minggu pagi esoknya. Anak-anak di kelurahan Simpang Tiga kecamatan Bukit Raya Pekanbaru tepatnya di perumahan Maya Graha. Rumah Ibu Rosmini, seorang penggerak masyarakat yang aktif berkecimpung di Posyandu, menjadi tempat dilaksanakannya Kelas Inspirasi. Ibu Rosmini sangat mendukung Turun Tangan dan Anies Baswedan. Kelas Inspirasi dimulai pada pukul 10.00 Wib, kehadiran relawan Turun Tangan disambut antusias oleh anak-anak disana yang sudah menunggu beberapa menit sebelumnya. Mereka terlihat begitu ceria, sambil menjinjing buku pelajaran Matematika, PKn dan Kesenian. Ketiga mata pelajaran itu menjadi fokus pengajaran pada Kelas Inspirasi. Untuk Matematika atau ilmu alam diampu oleh Ibu Yulhaida, Adhitya Fernando dan Anggun R Alifah, PKn diampu oleh Ariandi Zulkarnain dan M. Saddam sementara kesenian diampu oleh Rafzamzali dan Adhitya Anzaroktavian.

Kelas Inspirasi
Kelas Inspirasi dibuka dengan membahas mata pelajaran selama lebih kurang 1.5 jam, setelah itu aktifitas diisi dengan diskusi inspirasi dan motivasi. “Cita-cita saya ingin jadi dokter biar bisa membantu orang sakit”, ujar Nabila, seorang anak peremuan yang saat ini duduk di kelas 4 SD. Ada yang cita-citanya ingin jadi Dokter, Koki dsb. Syifa, siswi kelas 3 SD punya keinginan belajar ke negeri China dan Korea. Ketika ditanya apa motivasinya, dia menjawab karena ingin merasakan bagaimana hidup disana. Sepertinya ia tahu bahwa disana lebih maju. Kelas inspirasi ditutup pukul 12.00 dan diakhiri dengan foto bersama.

Siang hari pukul 13.00 kami melanjutkan agenda yakni kunjungan ke Sapulidi (@sapulidi), yakni salah satu pusat komunitas yang ada di Pekanbaru. Base camp sapulidi terletak di Jl. Kaharuddin Nasution, tidak jauh dari lokasi Kelas Inspirasi. Di Sapulidi, kami disambut langsung oleh Bang Richard, pendiri Sapulidi dan beberapa anggota komunitas Sapulidi lainnya. Perbincangan kami berlangsung di sebuah Gazebo di tengah taman yang asri. Kehadiran dan perkenalan kami disambut hangat oleh Sapulidi, sehangat sajian Teh Serai yang dihidangkan ke kami.

Kami mendiskusikan mengenai geliat aktifitas-aktifitas komunitas terutama di Pekanbaru. Bang Richard memaparkan visinya yang ingin membantu membangun kemandirian anak-anak muda melalui aktifitas yang profuktif, konsepnya yaitu melalui social business entrepreneurship. Sapulidi menfungsikan dirinya sebagai business incubator dengan fokusnya kepada seni dan budaya. Barang-barang bekas berupa potongan kayu dan lainnya disulap menjadi kerajinan yang unik untuk desain interior dan hal ini dikerjakan melalui project U Wood Desain yang saat ini sudah banyak menerima order desain interior dari berbagai tempat seperti hotel dan kantor pemerintah. Aspek budaya juga merupakan bidang yang dikelola oleh Sapulidi. Salah satu yang sekarang sedang dijalani adalah memasyarakatkan kunjungan ke Museum. Bekerja sama dengan Riau Heritage, Sapulidi membuat program untuk menarik perhatian warga mengunjungi Museum Sang Nila Utama yang berada di Pekanbaru. Selain itu, aspek lingkungan juga dibidangi oleh Sapulidi, yakni melalui project Green management.

Bersama bang richard pendiri Sapulidi
Bang Richard adalah seorang visioner yang begitu konsisten dan komitmen dengan visi pengembangan dan pemberdayaan kaum muda. Beliau dengan semangat bercerita dan berbagi kepada Turun Tangan Pekanbaru mengenai ide dan gagasan beliau. Niatnya begitu mulia, membesarkan kaum muda khususnya di Pekanbaru, agar mereka bisa mandiri dan memiliki jiwa sosial yang tinggi

Diskusi di Sapulidi
Sapu Lidi ini konspenya mirip dengan GK Enchanted Farm, sebuah platform social business entreperneurship di Filipina. Penulis (Adhitya Fernando) pernah berkunjung ke GK Enchanted Farm pada Februari 2013 lalu. Aksi nyata dan visi pemberdayaan dan pengembangan komunitas serta masyaraka begitu konsisten dilakukan oleh GK. Sebuah lembah kosong yang awalnya ditempati rakyat miskin dan kriminal di daerah Bulacan Filipina kini disulap menjadi daerah sejahtera dan produktif. Lembah gersang itu diubah oleh Tony Meloto, pendiri GK Enchanted Farm. Visinya tak tanggung-tanggung, ingin menjadikan lembah tersebut menjadi Green Valley, layaknya Sillicon Valley di Amerika, lembah tempat perusahaan-perusahaan besar Amerika membangun bisnisnya. Penduduk Green Valley kini sejahtera, setiap penduduk dibekali dengan keterampilan usaha, mereka dibimbing hingga berhasil mengangkat kehidupannya. Bahkan anak muda disana sudah jadi jutawan berkat bisnis yang dilakoninya disana.

Bisnis yang dibangun diantaranya adalah sistem pertanian terpadu, lembah gersang dan tandus diubah menjadi lahan pertanian yang subur. Setiap sektor digarap menjadi bisnis, mulai dari itik yang telornya dipasarkan dengan modern, kerjaninan, eco wisata dan banyak lainnya. Bedanya dengan Sapulidi ialah Sapulidi lebih terfokus pada aspek budaya dan seni, sehingga kerajinan dan seni interior bernilai tinggi dapat ditemukan disana.

Social business seperti ini harus dikembangkan dengan masif di Indonesia. Jaring-jaring kesejateraan masyarakat ada disana. Oleh karena itu dibutuhkan lebih banyak orang sumber daya manusia yang bersedia mengambangkannya, terutama para mahasiswa. Potensi penggerak bangsa ada pada kita.

Tidak hanya seputar kegiatan sosial, diskusi kami juga masuk ke ranah politik. Kami membincangkan seputar keadaan Indonesia yang kami sepakat mengatakan bahwa Indonesia saat ini sedang terperosok di berbagai bidang. Menyoal seputar pemilihan president yang akan berlangsung pada bulan April tahun 2014 ini, bang Richard juga mengutarakan dukungannya kepada Anies Baswedan. “Saya termasuk pengagumnya Anies Baswedan. Program-progam yang diusungnya juga hebat, seperti Indonesia Menagajar. Anies sudah menunjukkan kontribusinya pada Indonesia. Saat ini Anies sudah dikenal banyak orang dan dunia, walau memang yang mengenai Anies itu rata-rata adalah golongan terpelajar”, ujar bang Richard. Dalam penyampaiannya itu, bang Richard seperti hendak membuka sesuatu yang bisa kami tebak, bang Richard menyayangkan kenapa Anies Baswedan ikut dalam konvensi sebagai calon Presiden. Bang Richard menyayangkan bahwa Anies selama ini sudah sangat nyata perannya, cukup teruskan saja dan buat lebih besar, melalui ini Anies akan lebih dipandang baik ketimbang masuk ke dunia politik yang saat ini “kotor” dan siapa yang masuk kesana selurus apapun bisa dipastikan “bengkok” juga, ujar bang Richard. Keraguan ini dijawab dengan baik oleh kawan-kawan relawan. “Memang benar, kami pada awalnya juga berfikiran seperti itu, lebih baik Pak Anies tetap di dunianya saat ini yang nyaman, riuh dengan tepuk tangan”, balas Bu Yulhaida mengawali jawabannya. Dunia politik saat ini memang sudah mengalami pergeseran nilai, dulu politik dijadikan sarana pengabdian sementara saat ini politik dijadikan ajang perebutan kepentingan dan mencari uang.

Dunia politik saat ini memang sudah “kotor”, namun harus sampai kapan? Sambung relawan lain menjawab. Kalau dibiarkan terus begini maka Indonesia cepat atau lambat akan hancur. Oleh karena itu politik harus dibenahi oleh orang baik, orang-orang baik kita dukung dan kita kawal dalam menjalankan politik. “Menurut saya Anies lebih baik terus berkecimpung di dunia sosial, bangun kemandirian sampai di tingkat grass root, dengan fokus pada hal itu dia juga bisa membangun Indonesia”, sanggah bang Richard. “Dunia politik mengatur hajat hidup orang banyak, salah satunya soal pajak. Siapa yang akan mengurus pajak kita dan mengelolanya dengan baik sepenuhnya untuk kepentingan masyarakat? Selama ini kita hanya menjadi pembayar pajak yang taat, dan pengelolaannya yang menyimpang kita biarkan saja. Sampai naiknya harga LPJ pun diatur oleh politik, haruskah ini kita biarkan?”, sambung Alifah. Diskusi dan sharing ini masih berlanjut sampai akhirnya Adzan Ashar berkumandang. Perbincangan politik yang kami lakukan saat itu berlangsung seru dan mendidik.
Menutup pembicaraan, Sapulidi sepakat untuk membangun kerja sama dengan Turun Tangan. Kami merancang program bersama nantinya. Salah satsunya program biopori akan kami laksanakan di Sapulidi, melihat kawasan taman Sapulidi cukup sering tergenang air ketika hujan.

Turun Tangan Pekanbaru akan melakukan kunjungan rutin setiap minggunya ke berbagai komunitas, organisasi dan masyarakat, dengan harapan ini akan menjadi sarana sosialisasi dan tukar pikiran juga pencerdasan politik.

*****

Close