Category

Article

Article

Aktivis energi matahari

Matahari adalah sumber energi terbesar di alam semesta ini. Bola gas yang berukuran lebih dari 100 kali diameter bumi ini memiliki peran penting terhadap kehidupan di bumi, energi yang dihasilkan matahari adalah sumber energi utama bagi makhluk hidup. Energi matahari dihasilkan dari reaksi inti, yaitu proses bergabungnya atom-atom hidrogen membentuk atom-atom helium. Reaksi inti ini disebut juga reaksi fusi. Energi yang dihasilkan oleh reaksi ini sangat besar, dan ternyata energi ini dimiliki oleh para aktivis? Fakta ini dekemukakan Prof. Laode Kamaluddin, seorang professor Indonesia lulusan Amerika.

Energi yang diperoleh dari reaksi fusi sangat besar dibandingkan yang dibebaskan dari reaksi kimia biasa seperti yang terjadi dalam ledakan TNT atau bom lainnya. Sebagai perbandingan setiap detiknya matahari menggunakan 4000 – 5000 juta ton hidrogen untuk menghasilkan energi sebanyak 100.000 megaton TNT (1 megaton = 1 juta ton). Energi matahari dipancarkan dalam bentuk gelombang elektromagnetik.

“Aktivis itu energinya matahari, besar tapi sayang kekuatannya menyebar, tidak seperti energi laser yang kuat dan fokus.”, ucap Prof Laode dalam sambutannya di acara penutupan Pelatihan TOEFL bagi calon penerima beasiswa yang diselenggarakan oleh Yayasan Insancita Bangsa (YIB). Latihan yang berat itu adalah memfokuskan diri, sambung Prof. Laode.

Ritme kegiatan aktivis memang syarat akan berbagai aktivitas, namun menurut beliau meskipun demikian jangan sampai kita tidak memliki skala prioritas. Kita harus mampu menentukan prioritas untuk satu waktu tertentu. Setiap perjuangan dan impian besar harus dikerjakan dengan fokus, antara fikiran dan usaha harus klop. Kesempatan itu tidak datang untuk orang yang mampu melihatnya, tetapi kepada orang yang mampu menangkapnya. Salah satu faktor yang membuat gagal biasanya adalah kegagalan kita untuk bersungguh-sungguh, untuk fokus. Menyalahkan lingkungan dan faktor eksternal lainnya adalah sikap yang tidak bijaksana. Perjuangan yang dilalui saat ini harus diyakini memberikan manfaat besar di masa yang akan datang, “Perjuangan satu buan bisa jadi nikmat untuk 40 tahun mendatang”. Itu yang kadang tak klop dalam diri kita. “Kita semua mempunyai kemauan dan segala persyaratan untuk menjadi orang besar”, sanjung beliau kepada hadirin.

YIB adalah yayasan yang didirikan oleh Jusuf Kalla, alumni HMI yang saat ini menjadi wakil presiden RI terpilih. “Pak Jusuf Kalla memiliki impian besar melihat adik-adiknya mampu menggantikan beliau, mampu berhasil lebih tinggi lagi”, ujar Prof Laode. Dalam suatu kesempatan berbincang dengan alumni HMI lainnya, yaitu kakanda Andi Hakim, mengatakan bahwa dalam banyak kesempatan kunjungan Jusuf Kalla ke luar negeri beliau selalu heran mengapa yang menyambutnya bukan kader-kader HMI. Oleh karena itu, ujar kanda Andi, program pengiriman kader-kader HMI ke luar negeri adalah upaya Jusuf Kalla untuk semakin meningkatkan eksistensi alumni HMI di kancah internasional.

Selain fokus, perhatian terhadap hal-hal detail juga merupakan faktor utama yang membantu kesuksesan. Berikutnya adalah cinta, jika kita mencintai apa yang kita lakukan maka bukan mustahil kita akan mendapatkan yang diinginkan. Segala tantangan jangan dianggap sebagai beban, tugas kita adalah kembali rekonsiliasi dengan jiwa.

Dalam sambutannya, Prof. Laode juga berbagi pengalamannya berjuang mendapatkan kesempatan studi ke Amerika. “Saya belajar bahasa dengan keras waktu itu, juga belajar GRE dan GMAT karena Amerika mensyaratkan itu. Dulu bahan belajar tidak sebanyak sekarang. Dulu itu saya belajar tanpa ada yang mengajari seperti kalian saat ini, tetapi saya berusaha sendiri untuk mencari bacaan-bacaan bahasa inggris dan radio berbahasa inggris. Tapi saya tidak pernah menyerah karena saya berkeyakinan bahwa kalau saya tidak lolos kesempatan ini maka masa depan saya selesai”, ungkap Prof. Laode menguatkan peserta. Saat ini kita bisa dengan mudah mendapatkan sumber bacaan bahasa Inggris, seperti dari koran dan media online. “Kalian sudah harus berlangganan koran berbahasa Inggris untuk belajar”, tambah beliau. Beberapa peserta mengeluhkan biaya berlangganan, namun segera ditampik Prof. Laode, “Habiskan baca satu sampai selesai baru beli baru”. Seketika peserta pun tertawa.

Tantangan untuk kalian saat ini adalah switch mental dari aktivis ke scientist. Untuk menjadi ahli harus mempu menguasai ilmu fokus, termasuk menghilangkan sikap selalu berargumentasi dan menyalahkan lingkungan. Peluang masih terbuka, tinggal dibutuhkan special effort. “Untuk membuat garis, dibutuhkan dua titik atau lebih agar bisa disambung”, ujar Prof. Laode, menekankan agar terus berusaha membuat titik-titik keberhasilan. Aktivis itu sudah punya mental petarung, saat di switch sudah mudah saja, tambah beliau.

Dalam akhir sambutannya, Prof. Laode menyimpulkan beberapa hal yang harus diperbaiki aktivis untuk menghadapi masa depan, yaitu memperbaiki mentalitas, tingkat konsentrasi dan lupakan sejenak dreaming politik sampai Anda punya pendidikan yang tinggi. “Semua ada fasenya, kalian ini masih fase Makkiyah, fase perjuangan dan bekerja keras menumpas kejahiliyahan. Jangan langsung ingin masuk fase Madaniyah”, kias Prof. Laode.

Prof. Laode lalu menyampaikan perkataan Jusuf Kalla bahwa pertarungan masa depan adalah Knowledege Based Competition. Ilmu pengetahuan harus menjadi investasi untuk masa depan. Sekali layar terkembang, pantang surut kebelakang. Once you make decission, you just go!

Prof. Laode Kamaluddin
Ketua Yayasan Insancita Bangsa dan Ketua Dewan Pakar KAHMI
Article, Science & Technology, Yayasan Insancita Bangsa

The hospital specifically for Hiv-Aids (Controversial topic)

[dropcap style=”flat”]T[/dropcap]he most affecting news story a few days ago was that one of provinces in Indonesia would build the HIV-AIDS hospital. Honestly this news directly made volunteers combating HIV-AIDS and Buddies (Volunteers who work to advocate HIV-AIDS Victims) was shocked. It becomes more difficult to achieve the goal of combating HIV-AIDS program especially in CST (Care and Support Treatment) for human living with HIV.

Saivol Virdaus

Stigma and discrimination will increase because of this plan. Our people have not been ready yet when they know their neighbor, family member or people around them are infected by HIV. Our societies have not understood well yet about it. They still believe in myth that the human living with HIV is the human having bad moral and think that the virus will infect easily. In this way our societies will know the status and the stigma and discrimination will increase in the middle of our society. Actually their status is protected by regulation of health minister number 21, 2013.

As the evidences that our societies has not comprehensively understood yet how HIV spreads to others, frightened to be infected is very high. Because they don’t understand that HIV just infects through three medias (blood, sperm and mother’s milk). They still consider that it can infect through wind, contact each other, living together and many others which just make them afraid and avoid somebody living with HIV.

Moreover our societies still consider that somebody infected by HIV is bad person and has bad moral because of free sex. In fact, many victims in HIV are housewife and children. They don’t know anything and never do anything in high risk, thus they are just the victims maybe from their husband.

The effects of discrimination towards a HIV-infected person are very dangerous. Sometimes they will feel depressed and will infect to others with unsafe sex. The worker who advocates them can’t control what they do, because actually in this situation they need support and care from others.

In my opinion this idea will be useless. I have the following suggestions are the first, it well be better if the money that will be used to fund the hospital to support the human living with HIV. The second is to build shelter building for them to easily get together and do some activities. The third is to educate our societies about what HIV is and how HIV infect. And the last is to subsidize antiretroviral virus (ARV) when the foreign funding in combating HIV program is not here anymore.

*Written by Saivol Virdaus

Ayis Mukholik
Article, Yayasan Insancita Bangsa

Studying in Europe is one of my old dream

[dropcap style=”flat”]S[/dropcap]tudying in Europe is one of my old dreams. I tried hard to learn English many years ago. I began to study it when I was in Islamic Boarding School. I used English and Arabic as a daily conversation. For about seven years, I talked to my friends bilingually, afraid of punishment given to those speak Indonesia.

Ayis Mukholik

The dream will come true. I got the information that Insan Bina Cita Foundation, managed by KAHMI hold the short course for a month in PPPPTK Bahasa. I got the information from Maritsa Nur Fitri, one of the participants. She gave me the connection to the committee. Then the committee called me by a telephone and interviewed many questions about my readiness to join the course. She believed that I have potential to increase my score. Previously, I just got 480 of my last Toefl score.

I came to the course in the third day at 10.00 a.m. all participants greeted me warmly. I was so nervous but I felt so glad to face the challenge in this one month. Here I was encouraged to master English like my friends do. I study more from them and get new experience. My chance to study abroad is open. I renew my aim to study there. I would like to take Islamic Studies department in University of Leiden in Netherland. Studying there is very exciting because it has graduated many Islamic scholars. One of graduates is my lecturer in IAIN Walisongo, Semarang. He inspired me to learn and observe the Islamic old manuscript, such as Koran San’a. This Koran is the oldest manuscript founded by Germany archeology at 1978 in Yaman. This discovery convinces me that Koran revelation is proof of God existence.

My simple reason to continue my study in Islamic Studies is continuing my educational subject before. I graduated from Islamic studies department in IAIN Walisongo, Semarang. Then, I continued taking master of religion and philosophy in UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. I would like to take PhD in Islamic Studies in Leiden University.

My expectation of studying is being professional lecturer of Islamic studies. I will dedicate my knowledge to others. Being lecturer is my vision because I believe that teaching is the noble profession. So I can improve my insights by sharing knowledge with many students. My prophet said that teaching is kind of Jariyah charity. It means that sharing the knowledge to others sincerely causes getting God’s mercy in hereafter.

The points above are my reasons for being lecturer. Exactly, studying of Islamic studies in abroad can open my insight to see Islam from global perspective. Consequently, I know Islam is the important lesson to be studied from different culture.

*Written by Ayis Mukholik
Paricipant of Yayasan Insancita Bangsa Scholarship Training 2014
HMI and my way abroad
Article

HMI and my way abroad: A story of Yayasan Insancita Bangsa scholarship training

Around twenty five meters from the ground, coated by the wind of summer and the warm shine of the sun in the Weiden’s tower of St. Michael, I stood up, unfurled the flag. It was like a heroic moment, won the great battle. No, I’m not a knight warrior, nor the rebel who occupies a land. Or you might think I am the Kaisar Wilhelm who fight in the Battle of Weiden with French Imperial Guide, Soviet Army and Bulagiran Army in 1921. The epic sense of that story was what fill my heart. Frankly, I am just a cadre of HMI with the black-green flag strecthed along my arm. That was in September 2013, I joined Summer School in Ostbayerische Technische Hoschschule Amberg-Weiden. Germany has been being my dream since couple years ago. Getting this chance is really a blessing. This country is also the place for me to pursue master’s degree, and this is a must for me. My efforts to achieve it has brought me here. The long road will starts from now.

Wednesday afternoon, my phone was ringing, apparently it was a call from a staff of PKMN KAHMI. Few days ago I met a staff who served as general secretary in KAHMI Riau Area. He told me that Yayasan Insancita Bangsa in cooperation with PKMN KAHMI is currently conducting a selection process to hold a scholarship training in Jakarta. No doubt, I accept his offer and prepare all requirements soon after that. Once I sent all the required documents via email, few hours later I got a response  that my application has just been received and will be proceed immediately. What a luck, two days later the staff of PKMN KAHMI informed me that I passed the selection process and I was invited to get in Jakarta soon. Actually I applied for the second round starting from September. The staff told me that a successful participant is unable to continue to join the undergoing training due to a case. In order to fulfil the quota, she found another participant to replace her. By chance, I was the first person who sent application for the second round selection. That’s why I got the offer. Although the training has been running about one week, I don’t see it as a problem. I believe that I can catch-up the lesson.

My heart skipped a beat, as tight as speed of Citilink Aircraft at the airport runway path Sultan Syarif Kasim to fly to Jakarta. While my lips are whispering something, “Bismillahirrahmanirrahim (in the name of God), Europe 2015..Europe 2015..Europe 2015”, my brain comes to it’s imagination as if this flight is my departure to study in Germany.

I joined the class in Friday morning. I got my first impression, how grateful I am I could get together with all twenty like-minded persons who all are cadres of HMI willing to go abroad. Obviously this chance has re-burn my spirit and nurture my ambition of studying abroad.

Guided by all highly professional lecturers have made me sure that this is the way. Besides teaching, they share their experience with us about studying abroad. Another good thing, this forum is something I never found during 4 years I joined HMI. I smiled, this is the new image of HMI where the cadres looks very competent, professional, visionary, critical and very fluent spaking English.

The knowledge I got here is very useful. I do not want to trifle this opprtunity. This intensive training has facilitated me to get closer to my dream, and so do I should facilitate my self with spirit to learn. My goal for this training is absolutely to sharpen my English ability. University abroad assign very high standard for English competency of their potential student. I has no choice but have to study hard to pass it. Having a dream to Europe, always makes me awake.

Each of us here already has target-country and the university. Some of us want to go to UK and US, others  wants to Europe, but interesting one that there is a friend that choose Mumbai University in India. The reason beyond decision for the country and the university is different, some because of their interest to the country, and the rest is because of the university. For Europe, among all of us, I am the only person to choose Germany. In addition to the participants, there are also two of them that choose Netherlands, exactly the University of Leiden. I my self choose Techniche Universitas Muchen (TUM) School of Education.

Graduated from the faculty of education and teacher training, I assign to continue my Master in the same field. My major for bachelor is chemical education, but for master I will choose education in general. I have already visited to the website of TUM School of Education. From the information they provide, the enrollment period is during September until March every year for Winter Course. And now is August, only few months left to get the maximum preparation.

A dream is only a dream without action. It is a very simple rule for every dreamer. There is no dream that is too high except the low optimism and effort. Dream will not wait, we chase for them and if we get it, ready or not, we must be ready. Having said like that, I bear in mind that I should keep on focus. I will make it. Germany, I’m coming!

Jakarta, August 24th 2014.


*Has been corrected by Mr. Gunawan Widiyanto

Impian menjadi Habibie, Jerman
Article, Education, Re-blogged

Impian menjadi Habibie, Jerman

[dropcap]S[/dropcap]iapa yang tak mengenal sosok mantan presiden Indonesia B.J Habibie. Seorang pria yang lahir dari keluarga sederhana dari sebuah daerah di pelosok selatan pulau Sulawesi yang akhirnya menjadi seorang tekhnokrat ulung, handal dan ternama di Negara bertekhnologi tinggi Jerman. Tak pernah terbayangkan pula olehnya bahwa ia nantinya akan menjadi salah seorang dalam deretan pemimpin di Negara tempat ia dilahirkan, Indonesia.

Impian menjadi Habibie, Jerman

Habibie hanyalah seorang sosok pemuda biasa saat pertama sekali menjejakkan kaki di Jerman dan terdaftar sebagai salah satu mahasiswa di RWTH Aachen pada tahun 1955. Namun berkat keuletan dan kegigihannya, Habibie mampu menyelesaikan tidak hanya program Diplom ingeneur-ya saja (setara Master), bahkan mampu menyabet gelar Doctor ingeneur (setara Ph.D) dengan predikat summa cum laude (Istimewa).

Tapi kali ini saya tidak ingin bercerita lebih jauh tentang Pak Habibie. Saya hanya ingin berbagi cerita mengenai pengalaman menempuh pendidikan di Jerman, tempat dimana Pak Habibie dan banyak orang Indonesia serta peöajar Aceh lain yang menuntut ilmu disana.

Berkuliah di negeri orang sebenarnya tidaklah sesulit yang dibayangkan, bahkan banyak kemudahan yang dapat diperoleh guna memudahkan pelajar untuk hidup dan belajar di benua biru ini. Bukan hanya itu saja, bahkan setiap orang sebenarnya mempunyai kesempatan untuk merasakan pengalaman menuntut ilmu di negara bermusim empat ini, selama ia memiliki keinginan dan keyakinan yang kuat.

Biaya hidup

Sering banyak orang beranggapan bahwa biaya hidup diluar negeri sangatlah mahal dan tinggi. Hal ini tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah juga. Jika dibandingkan dengan biaya hidup diluar negeri lainnya, Jerman dapat dikategorikan termasuk kedalam negara yang memiliki living cost(biaya hidup) rendah. Bahkan untuk Eropa, Jerman dapat dikategorikan sebagai yang termurah.

Untuk kehidupan seorang mahasiswa rantau dengan pola hidup sederhana, 750 euro (sekitar 9 jutaan rupiah) sudah mampu untuk menghidupi seluruh biaya hidup selama 1 bulan.  Belum lagi dengan berbagai fasilitas dan kemudahan yang didapat para pemegang kartu mahasiswa, semakin membuat kehidupan pelajar di Jerman menjadi bertambah nyaman, mudah dan murah.

Untuk permasalahan tarnsportasi, dimana umunya mahasiswa di indonesia menggunakan motor atau kenderaan roda empat yang memakan biaya besar untuk perawatannya, maka hal ini tak menjadi soal di eropa. Sistem transportasi yang terintegrasi dan fasilitas semester ticket dengan harga yang sangat murah dan terjangkau, membuat para pelajar di Jerman memiliki kemudahan unutk menuju seluruh destinasi yang ingin dicapai guna menunjang aktivitas kuliahnya. Terkadang untuk beberapa negara bagian, bahkan tiket ini berlaku hingga keluar kota sehingga memudahkan mahasiswa untuk mengunjungi perpustakaan atau universitas di daerah lain. Sepeda pun dapat menjadi pilihan, selain lebih murah dan dapat pula menyehatkan badan.

Untuk urusan pangan tidaklah menjadi persoalan. Aldi, Liddle, Rewe dan beberapa supermarket berharga murah lainnya dapat menjadi pilihan surga berbelanja bagi kebutuhan dapur dan rumah tangga para mahasiswa rantau. Bagi yang ingin mencari produk halal, pertokoan turki, arab maupun toko china dapat menjadi salah satu tujuan belanja untuk membeli ayam, daging sapi, seafood maupun rempah-rempah nusantara. Bagi yang ingin menikmati menu vegetarian, sayur-sayur murah dapat dibeli di  flöhmarkt (pasar murah), yang juga menjual bahan-bahan murah lainnya.

Memasak sendiri tentu menjadi pilihan terbaik untuk menekan biaya konsumsi dibandingkan membeli makanan jadi yang umumnya dapat kita temukan di toko Döner Kebab atau Türkische Pizza. Selain itu Mensa (Kantin Mahasiswa) dapat juga menjadi tujuan untuk mendapatkan makanan murah ala mahasiswa. Namun, untuk menjaga kehalalan makanan, umumnya mahasiswa muslim lebih memilih memakan Spagethi atau menu vegetarian ataupun juga makanan laut yang tersedia. Hajatan baik dari KBRI/KJRI ataupun dari acara perkumpulan persaudaraan sebangsa maupun sesama muslim, terkadang menjadi bonus yang tak terduga dan hal yang selalu ditunggu untuk memungkinkan para makasiswa mendapatkan jamuan makan sehat dan lahap.

Berbicara mengenai kebutuhan sandang, Jerman juga merupakan destinasi yang tepat berbelanja murah bagi mahasiswa untuk mendapatkan pakaian dan alas kaki. Para mahasiswa dapat membeli baju dan celana serta sepatu dengan kualitas dan merek terbaik pada beberapa toko yang menawarkan harga murah, seperti: Deichman, KIK, Kardstadt dan lainnya. Bahkan saat pergantian musim, terkadang pusat-pusat perbelanjaan memberikan diskon yang mencengangkan guna menghabiskan produk mereka. Disebuah toko pakaian C&A misalnya, mereka bahkan pernah memberikan diskon hingga 70% untuk produk-produk baju berkualitas terbaik.

Untuk kebutuhan tempat tinggal, umumnya universitas di jerman memberikan fasilitasStudentenwohnheim (Apartemen Mahasiswa) yang dapat disewa dengan harga murah namun berfasilitas lengkap. Untuk sebuah Zimmer (kamar) di Leipzig seharga 160 euro (sekitar Rp. 1,9 jutaan), penghuni kamar telah mendapatkan kamar dengan full furniture, kamar mandi, internetunlimited, dan sudah termasuk biaya listrik, air dan gas untuk Heizung (pemanas ruangan). Jikapun mahasiswa ingin menyewa apartemen pribadi bersama beberapa teman lainnya, pemerintah kota terkadang memberikan bantuan wohngeld (Uang rumah) untuk mensubsidi biaya sewa rumah dari para mahasiswa yang terkadang mencapai 40% nya.

Ibarat gayung bersambut, mengerti akan kebutuhan seorang mahasiwa yang selalu mencari celah dalam meminimalisir pengeluaran, otoritas pemerintah Jerman pun berusaha untuk memberikan pusat-pusat penyediaan kebutuhan murah bagi para mahasiswa yang membutuhkan.

Sistem pendidikan

Secara umum pendidikan di Jerman terbagi atas tiga tingkatan, yaitu: Pendidikan pra Perguruan Tinggi (Pendidikan umum), Pendidikan Kejuruan (berufschule) dan Pendidikan Perguruan Tinggi. Pada kesempatan ini saya akan mencoba untuk membahas lebih jauh pada tingkatan pendidikan perguruan tinggi, mengingat tingginya minat masyarakat untuk berkuliah di Jerman yang mayoritasnya berada di level ini.

Untuk pendidikan perguruan tinggi, sistem pendidikan di Jerman membagi level ini kedalam tiga jenis, yaitu: (1).Universität (universitas), (2).Fachhochschule (Politekhnik plus), dan (3).Berufsakademie (Akademi Tenaga Kerja). Adapun perbedaan ketiganya terletak pada materi perkuliahan dan tujuan pendidikannya. Universität atau yg sering disebut UNI, lebih berfokus kepada teori dan pengembangan ilmu pengetahuan.  Para Mahasiswa di sini lebih terkonsentrasi untuk mengembangkan teori keilmuan dan sedikit sekali berorientasi pada praktek. Hasil akhir yang ingin dicapai dari lulusan UNI ini adalah para pemikir yang mampu untuk menghasilkan teori dan pengembangan ilmu baru yang dapat mendukung keilmuan yang telah ada.

Sebalikya Fachhochschule atau disingkat FH, lebih berorientasi pada ilmu terapan untuk  pengembangan ilmu agar dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang aplikatif dan dapat digunakan oleh pengguna. Pendiidkan praktikal lebih mendominasi para mahasiwa di sini dengan rasio perbandingan 70:30 untuk ilmu terapan dan teori. Lulusan FH ini diharapkan mampu untuk mengembangkan produk-produk terapan dari ilmu dasar yang telah ada.

Untuk Berufsakademie sendiri lebih berfokus kepada para mahasiwa yang telah memiliki status bekerja atau telah mempunyai kontrak kerja pada suatu perusahaan atau instansi. Mahasiswa disini akan dididik untuk mempelajari ilmu spesifik yang dibutuhkan dalam pelaksanaan tugas pekerjaannya. Hasil akhir dari lulusan ini adalah sebagai tenaga ahli yang handal di bidangnya dan dapat langsung digunakan dalam dunia kerja.

Di jerman saat ini memiliki 2 bentuk program perguruan tinggi, yaitu program klasik yang hanya memiliki dua jenjang, yaitu Diplom (Dipl.) dan Doktor (Dr). dan program baru yang mengakui tiga jenjang, yaitu Bachelor, Magister dan Doktor. Beberapa universitas dan negara bagian masih menggunakan sistem klasik, meskipun semenjak kesepakatan Bologna tahun 1999, sudah semakin banyak yang menggunakan program baru.

Unutk aktivitas perkuliahan di Jerman dan Eropa sendiri pada umunya dimulai pada awal musim dingin atau sekitar bulan oktober setiap tahunnya. Khusus untuk program doktoral, penerimaan mahasiswa baru terkadang dibuka dua kali dalam setahun, yaitu saat musim dingin dan musim panas (sekitar bulan april). Proses perkuliahan untuk program master (atau diplom) dapat menggunakan tiga pilihan, yaitu: Master dengan penelitian, Master dengan kelas atau Master campuran. Sedangkan untuk Program doktoral seluruhnya dilakukan dengan penelitian selama 6 Semester atau 3 tahun.

Untuk penerimaan mahasiswa sendiri, tidak diberlakukannya sistem ujian tertulis (seperti UMPTN) sebagaimana di Indonesia. Mahasiswa hanya perlu mengirimkan berkas lamarannya dan tim penilai universitas akan memutuskan apakah calon mahasiswa ini dapat diterima atau tidak berdasarkan transkrip nilai (abitur) dan pertimbangan akademis lainnya. Khusus bagi mahasiswa asing yang tidak menelesaikan gymnasium (setingkat SLTA) di Jerman dan ingin melanjutkan ke jenjang Diplom atau Magister, maka diwajibkan untuk mengikuti pendidikan Studkol (sekola pra universitas) terlebih dahulu selama 2 semester. Setelah tamat dari sekolah ini, maka para calon mahasiswa dapat melamar di Universitas ataupun Fachhochschule (politekhnik plus) yang mereka inginkan.

Berbicara mengenai biaya pendidikan, hampir sebagian besar Negara bagian di Jerman membebaskan kewajiban membayar uang pendidikan bagi setiap penuntut ilmu, baik bagi warga Negara Jerman maupun warga Negara asing. Jikapun ada yang menetapkan biaya SPP, maksimum yang boleh dibebankan kepada mahasiswa adalah 500 Euro (sekitar 6 juta rupiah). Bahkan di beberapa daerah juga, pemerintah daerahnya memberikan uang selamat datang bagi para mahasiswa baru dengan kisaran bervariatif. Mengambil contoh di Leipzig, setiap tahunnya para mahasiswa dapat mengajukan permohonan Zuzugbonus senilai 150 Euro (sekitar 1,6 juta rupiah).

Kesempatan Beasiswa

Salah satu penyedia beasiswa studi di Jerman yang patut dicoba adalah DAAD (Deutscher Akademischer Austausch Dienst) yang setiap tahunnya menawarkan sekitar 20 beasiswa untuk program pasca sarjana. Erasmus mundus scholarship dapat juga menjadi pilihan lainnya, yang memungkinkan penerima beasiswa untuk menempuh pendidikan setidaknya di dua negara berbeda di Eropa. Beasiswa-beasiwa dari universitas tujuan di Jerman pun dapat menjadi alternatif yang layak dicoba, selain yayasan-yayasan pendidikan baik di Indonesia maupun di Jerman yang berorientasi untuk memajukan sumber daya manusia di suatu daerah, seperti yayasan Habibie maupun yayasan Djarum.

Untuk provinsi Aceh sendiri, komisi beasiswa Aceh telah mengirimkan hampir 90 putra-putri Aceh ke Jerman dalam 3 angkatan selama 3 tahun terakhir ini. Saat ini, angkatan ke empat sedang dipersiapkan untuk pelatihan bahasa Jerman di goethe institut jakarta untuk siap diberangkatkan pada agustus 2012 ini. Kebetulan saya sendiri adalah salah satu penerima beasiswa angkatan sebelumnya yang berkesempatan untuk merasakan pendidikan di Jerman dengan bantuan beasiswa Pemerintah Aceh yang bekerja sama dengan DAAD.

Dengan kesempatan beasiswa yang terbuka lebar dan kemudahan yang diberikan untuk berkuliah di Jerman serta ditambah dengan begitu banyaknya ilmu yang dapat digali di Jerman, maka impian menjadi seperti Pak Habibie pun bukan menjadi mimpi belaka lagi. 


Tulisan ini dibuat oleh Dinaroe, mahasiswa asal Aceh di Jerman dan menjabat sebagai sekretaris Bidang Seni dan Olahraga Ikatan Mahasiswa Aceh Jerman (IMAN). Dikutip dari tulisan aslinya: Impian menjadi Habibie

Indonesia negeri impian orang Jerman
Article, Re-blogged, Travelling

Indonesia, negeri impian orang Jerman

[dropcap style=”flat”]B[/dropcap]eberapa bulan lalu, saya pernah diwawancara oleh Gagasan seputar pengalaman saya berkunjung ke Jerman dalam rangka Summer School. Hasil dari wawancara ini kemudian dipublikasikan dalam Majalah Gagasan edisi 97. Liputannya dalam dilihat di Gagasan.co dan Independentpku.com.

Jerman negeri impian: dipublikasikan di majalah Gagasan edisi 97

Hari ini, ketika googling saya ketikkan “Jerman negeri impian”. Hasil pencarian menunjukkan tulisan hasil wawancara saya tersebut di beberapa media online di atas. Namun ada hal yang menarik kita di salah satu hasil pencarian saya temui tulisan dengan judul “Indonesia, negeri impian orang Jerman”. Judul ini kontras dengan judul hasil wawancara tentang saya.

Ternyata orang Jerman melirik manis untuk tinggal di Indonesia, salah satu komentar di tulisan tersebut mengatakan “Rumput tetangga emang selalu lebih hijau dibandingkan rumput halaman sendiri.. Orang luar negeri pengen tinggal di Indonesia, eh kita malah pengen keluar negeri.. hehehe”. Saya ingin menegaskan bahwa apapun ceritanya cinta tertinggi saya adalah Indonesia, disini saya lahir dan dibesarkan. Namun mengapa saya tertarik dengan Jerman? Jerman adalah negara maju di Eropa, ketertarikan saya lebih kepada eksplorasi ilmu pengetahuan, wawasan dan pengalaman. Saya ingin menggali ilmu kemajuan Jerman agar dapat membuka mata saya akan harapan Indonesia bisa menjadi negara maju, yang bahkan bisa lebih hebat dari Jerman.

Tulisan denga judul “Indonesia, negeri impian orang Jerman” adalah milik seorang Kompasianer bernama Gaganawati. Tulisan aslinya dapat dibacara disini. Karena menarik, akhirnya saya reblog ke website saya dan berikut tulisannya.

Indonesia, negeri impian orang Jerman

Beberapa kawan Kompasianer pernah mengirim inbox kepada saya agar bisa tinggal, kerja atau hidup di Jerman. Supaya hidup lebih hidup. Padahal saya sendiri ingin lebih memilih berada di Tanah Air, jika kondisi memungkinkan.

Indonesia, negeri impian? Ternyata tidak hanya pikiran saya. Buktinya, banyak pengunjung di museum tempat memamerkan foto Kampret-Kompasianer hobi jepret yang menyorot keindahan alam dan budaya Indonesia, berdecak kagum dan meluncur keinginan untuk kembali berlibur ke Indonesia atau pensiun di sana. Negeri khayalan di kayangan.

Indonesia negeri impian orang Jerman

Bagaimana dengan Kompasianer? Setuju kalau Indonesia itu sebuah negeri impian? Mari mengacungkan jari tinggi-tinggi!

Anak disabilitas pun diajak ke pameran

Sabtu, 19 Oktober 2013. Kami membuka museum khusus untuk kawan-kawan suami yang berasal dari Rumania (tinggal lama di Jerman) dan orang lokal (Jerman). Mereka ini tinggal agak jauh dari Seitingen-Oberflacht. Paling tidak, butuh satu jam-an mengendarai mobil.

Seperti pesan lesan dari pihak museum dan pemda, kami boleh menyelenggarakan Sonder Austellung, pameran spesial (tidak hanya hari minggu, jadwal standar). Sebanyak 37 tamu hadir. Usai minum kopi/teh, ditemani kue atau di Jerman dikenal dengan Kaffe trinken, acara pun dimulai.

Mula-mula suami saya membuka dengan menceritakan pengalamannya hidup di Semarang dan keliling Indonesia. Saya meneruskan dengan tarian Jawa modern, Abyor. Tarian yang tak kalah seksi dibanding tari perut Arab tapi tak maxi, hanya 5 menit digelar di depan mereka.

Tepuk tangan hadirin membuat saya yakin bahwa sekolah-sekolah di Indonesia harus tetap memberikan pelajaran menari (daerah) di sekolah, seperti yang saya dapat sewaktu TK-SMA. Ini bekal saya menjadi duta Indonesia (mengangkat diri sendiri, daripada tidak ada yang menunjuk) ketika berada di mancanegara. Asli!

Selanjutnya, kami berdua menerangkan gambar-gambar jepretan Kampret, satu per satu.

Oh… dari 37 tamu, salah satunya adalah seorang anak muda berumur 25 tahun. Ia cacat sejak umur 5 tahun (saat itu ia tenggelam dan otaknya kemasukan air). Semenjak itulah, ia hanya bisa mengerang, tergolek, dan duduk. Kata orang tuanya yang begitu sabar merawat dalam segala suasana dan di mana pun berada selalu membawanya, mereka ini yakin bahwa si anak yang divonis tidak normal itu mengerti penjelasan pameran, dan bermanfaat untuknya.

Indonesia, negeri impian!

Minggu, 20 Oktober 2013. Satu jam sejak pukul 13.00, tidak ada seorang pun yang datang. Kami bertujuh menanti dengan sabar. Barangkali karena hujan turun deras, orang enggan datang. Lebih enak menarik selimut.

Pukul 14.00, tamu mulai memasuki museum. Lambat laun semakin banyak. Saya sapa beberapa dari mereka dan sedikit menerangkan tentang museum dan gambar yang ada.

Perbincangan semakin menarik ketika beberapa dari mereka mengatakan sudah pernah ke Indonesia. Backpacker! Sudah banyak yang mereka lihat. Sebabnya, mereka tidak bersama grup tetapi dengan angkutan dan rencana seadanya, tanpa guide tanpa travel agency.

Adalah Herr dan Frau S dari Durch Hausen. Mereka bahkan mengaku tuman alias mau datang lagi ke Indonesia karenanya. Mereka mengadakan perjalanan dari Ujung Kulon sampai Flores. Papua adalah pulau yang ingin mereka capai berikutnya. Terima kasih, mas Dhave Dhanang untuk jepretan unik di Baliem!

Ada tamu lain yang ke Indonesia, usai diimingi cerita heboh teman dari liburan di Asia, Thailand dan akhirnya terwujud, pergi ke Asia, Indonesia lewat tabungan bertahun-tahun lamanya. Enam minggu di sana.

Sepasang suami-istri lainnya, seumuran 60-an, bahkan mengatakan sedang memikirkan jalan untuk tinggal di negeri kita segera sesudah istri pensiun beberapa tahun lagi. Pengalaman terdahulu berlibur ke Tanah Air (dari Sumatera sampai NTT), sungguh membuat bayangan negeri kayangan selalu di pelupuk mata. Itu letaknya di Indonesia! Thanks to Kampret atas foto pasangan dari Pulau Nias!

Seorang kawan aerobik yang pernah dua minggu holiday di Bali, mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Ia bahkan memeluk dan mencium saya dua kali (di pipi). Katanya, pameran ini mengingatkan memori indah bersama negeri kita dengan pasir putih, ramah tamah orang-orangnya, makanan yang sedap dan budaya yang luar biasa adi luhungnya. Itu, baru Bali… belum Kalimantan, Jawa, Sumatera, Papua dan pulau-pulau kecil lainnya, sahabat ….

Demikian laporan pandangan mata untuk sementara, berkaitan dengan pameran foto Kampret yang kali ini diselenggarakan di Jerman hingga penutupan tanggal 27 Oktober 2013 (masih seminggu lagi). Bukan event besar tapi sungguh memberikantolle Eindrück, kesan yang dahsyat (itu kata orang Jerman, lho).

So, so, so… jika orang Jerman (yang majemuk, dari berbagai negeri EU alias banyak pendatang bukan orang Jerman asli) sendiri mengatakan bahwa Indonesia adalah negeri impian, saya yakin kita sebagai orang Indonesia, memiliki rasa mencintai dan memiliki yang lebih dari para turis yang jauh-jauh datang ke negeri kita untuk menikmati keindahan kharisma katulistiwa. Tak hanya kena imbas westernisasi tetapi juga nasionalis, terpatri dalam diri. Bukankah Indonesia milik bangsa Indonesia sendiri?

Berada di Negeri rantau, saya semakin setuju atas opini orang Jerman ini. Ya, ada sebuah negeri impian yang tak kan terlupakan, yakni… Indonesia! Salam ACI (Aku cinta Indonesia). Selamat malam! (G76)

Habibi di acara peringatan Hari Lahir Pancasila (Credit: disperindag.depok.go.id)
Article, Re-blogged, Social & Politic

Pluralisme dan demokrasi: Apa yang bisa dipelajari dari Indonesia

[dropcap style=”flat”]M[/dropcap]antan Presiden Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie (1998-1999), bulan Juni lalu di Amerika menjadi pembicara pada seminar di Harvard Kennedy School Ash Center yang bertajuk “Demokrasi dan Pluralisme: Apa yang bisa dipelajari dari Indonesia”.

Habibi di acara peringatan Hari Lahir Pancasila (Credit: disperindag.depok.go.id)

Setelah menjabat selama dua tahun di akhir 1990-an, Habibie memimpin Indonesia pasca-Suharto, transisi dari negara otoriter ke negara demokrasi baru. Professor Tarek Masoud, yang merupakan Ash faculty affiliate menyebut Indonesia sebagai, “salah satu negara demokrasi yang paling mustahil di dunia.”

“Ini bukan tempat di mana kita mengharapkan demokrasi untuk bertahan, terus hidup, dan berkembang.”

Masoud, yang telah menulis tentang akuntabilitas lembaga publik Indonesia menjelaskan, “Hal ini, misalnya, negara yang sangat miskin. Tingkat pendapatan per kapita lebih rendah dari syarat yang kita anggap layak untuk demokrasi untuk bertahan hidup. Selain itu Indonesia juga memiliki etnis yang heterogen, terus-menerus di bawah tarikan kekuatan sentrifugal yang mengancam untuk memisahkan Indonesia, dan beberapa diantaranya telah ditarik terpisah menjadi negara-negara lain, namun Indonesia tetap utuh … Dan Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara-negara mayoritas Muslim di dunia yang demokratis. “

“Ada banyak yang bisa diperoleh dari pengalaman Indonesia,” kata Masoud. “Apa yang dilakukan oleh Presiden Habibie lakukan pada masa pasca tergulingnya Soeharto? Apa rahasia reformasi demokratis Indonesia dan apakah bisa ditiru di tempat lain? Karena dunia Arab saat ini sedang mengalami proses yang sama yang dilewati Indonesia 16 tahun yang lalu, ini tidak hanya pertanyaan penting sejarah, tapi pertanyaan yang mendesak. “

Kepresidenan dalam asumsi seorang insinyur

Habibie menyapa seluruh hadiri di auditorium yang penuh sesak dan mulai dengan berbagi cerita dari awal karirnya sebagai insinyur aeronautika. Ia dibesarkan di Indonesia dan dididik di luar negeri di Jerman, mendapatkan PhD di bidang teknik dari Technical University of Aachen. Dikenal untuk pendekatan yang inovatif untuk desain, Habibie memiliki karir yang sangat sukses di Jerman dan dipromosikan menjadi wakil presiden perusahaan aeronautika besar yang mengkhususkan diri dalam pembuatan helikopter, pesawat terbang, dan rudal.

Habibie mengingat saat ini pada tahun 1974 ketika Presiden Soeharto, merekrutnya untuk menjadi ujung tombak upaya industrialisasi negara. “Soeharto meminta saya untuk mempersiapkan Indonesia untuk memasuki milenium berikutnya,” kata Habibie. “Saya protes-saya mengatakan kepadanya ada orang-orang yang jauh lebih baik… Saya hanya bisa membuat pesawat terbang. Gelar sarjana, gelar master, PhD dan semua dalam membuat pesawat terbang. Suharto tidak setuju. “Jika Anda bisa membuat pesawat” katanya, “maka Anda dapat membuat segala sesuatu. ‘”

Di bawah Suharto, Habibie menduduki beberapa jabatan pemerintahan di Indonesia, termasuk Kementerian Teknologi dan Pembangunan di mana ia mengawasi berbagai industri milik negara. Pada bulan Maret 1998, Habibie terpilih menjadi wakil presiden di tengah masa gejolak ekonomi besar di seluruh sebagian besar Asia. Meningkatnya inflasi, meningkatnya pengangguran, dan massa protes menuntut pengunduran diri Soeharto, secara tiba-tiba hanya tiga bulan kemudian Suharto mengundurkan diri dan mengakhiri 32 tahun pemerintahan otoriternya di Indonesia.

Sesuai dengan konstitusi, kepemimpinan jatuh ke tangan Habibie untuk menjabat presiden dan mengambil potongan hancur perekonomian Indonesia. “Kebutuhan dasar Rakyat tidak dapat dijamin, mengikis kepercayaan terhadap presiden dan sistem politik secara keseluruhan,” kata Habibie menggambarkan pergolakan politik yang terjadi saat ia menjabat.

Reformasi bergejolak hampir setiap hari

“Mengingat latar belakang teknis saya, saya bisa menganalisis situasi secara sistematis dan obyektif,” kata Habibie kepada hadirin. Dia mengutarakan istilah “Pusaran sosial atau Social vortex” untuk menggambarkan peralihan kekuasaan yang terjadi di Indonesia dari top-down ke struktur pemerintahan bottom-up di mana kekuasaan terletak di tangan rakyat. “Saya perlu untuk membuat hukum untuk mengontrol kekuatan sosial yang tak terduga ini,” katanya.

Habibie mengnatrakan Indonesia pada dalam reformasi demokrasi yang banyak mempengaruhi pemerintahan selanjutnya, salah satu kebijakannya adalah kebebasan pers. Dia menggambarkan motivasi awalnya untuk membuka pintu oposisi mengatakan: “Saya menerima semua laporan dari pihak intelijen nasional, tentara, angkatan laut, angkatan udara, parlemen, menteri dalam negeri, dan menteri luar negeri. Tak satu pun dari laporan-laporan ini cocok dan hasilnya adalah kekacauan. Bagaimana aku bisa memverifikasi kualitas laporan? Siapa yang bisa dipercaya? Orang-orang yang berdemonstarsi! Kebebasan bersuara akan menghasilkan akurasi yang lebih besar. “

Selama jangka waktu 15 bulan sebagai presiden, Habibie juga memperluas kesempatan pendidikan internasional, bekerja untuk menstabilkan perekonomian, menyetujui pembentukan partai politik baru, dan melepaskan tahanan politik. “Penjara hanya untuk penjahat,” katanya. “Bukan untuk mereka yang memiliki pendapat lain selain mereka yang berkuasa.”

Meskipun oposisi intens dari para anggota parlemen dan kelas penguasa, Habibie terus mengadakan sweeping perubahan-1.3 undang-undang baru dibuat per harinya . Berbicara tentang kepemimpinan dalam menghadapi konflik dan kekacauan, Habibie mengatakan kepada hadirin: “Saya hanya bisa membuat kemajuan jika saya berani untuk membuat perubahan.”

Pada bulan Oktober 1999, Habibie menyerahkan tampuk kepresidenan kepada Abdurrahman Wahid, seorang pemimpin Islam yang berpengaruh. Hal ini menjadi preseden penting bagi Indonesia pasca-Suharto.

Masa Depan Demokrasi di Indonesia

Habibie, yang tetap aktif dalam politik terutama melalui lembaga The Habibie Center, sebuah think tank yang didirikan pada tahun 1999, menutup diskusi dengan menguraikan enam elemen penting dari masa depan Indonesia, yakni:

1. Penyesuaian Pancasila [mengarahkan filsafat Indonesia agar menekankan “unity in diversity” untuk memperhitungkan globalisasi dan munculnya teknologi.
2. Perkembangan pengumpulan data yang akurat dan tepat waktu.
3. Penguatan sumber daya manusia dengan fokus pada pendidikan.
4. Penurunan pengangguran.
5. Pertumbuhan yang lebih besar, kelas menengah lebih kuat.

Sebagai penutup Habibie menyatakan bahwa “Indonesia perlu menjadi jembatan penting antara Asia dan Amerika Serikat dan antara Asia dan Eropa”. Sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim dengan lebih dari 300 kelompok etnis dan agama minoritas yang cukup besar, Indonesia menyajikan model untuk bagaimana pluralisme dan demokrasi dapat hidup berdampingan.


Dikutip dari situs: Harvard Kennedy School Ash Center

Nasihat Salim. A Fillah kepada Prabowo Subianto
Article, Prabowo-Hatta for President, Re-blogged

Nasihat Salim A. Fillah kepada Prabowo Subianto

[dropcap style=”flat”]S[/dropcap]alim A. Fillah, ulama muda Indonesia yang juga merupakan seorang penulis menuliskan nasihat kepada Prabowo Subianto dalam rangka majunya beliau menjadi calon Presiden Indonesia. Pesan tersebut direspon langsung secara terbuka oleh Prabowo Subianto melalui akun twitternya @PrabowoO8, “Sore ini saya membaca tulisan saudara kita di Melbourne @SalimaFillah. Terima kasih bung Salim. Saya catat baik-baik”.

Berikut nasihat Salim. A Fillah kepada Prabowo Subianto:

Nasihat Salim. A Fillah kepada Prabowo Subianto

Pak Prabowo, Kami Memilih Anda, Tapi…

 


Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi sungguh orang yang jauh lebih mulia daripada kita semua, Abu Bakr Ash Shiddiq, pernah mengatakan, “Saya telah dipilih untuk memimpin kalian, padahal saya bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Kalau saya berlaku baik, bantulah saya. Dan kalau anda sekalian melihat saya salah, maka luruskanlah.”

Maka yang kami harapkan pertama kali dari Anda, Pak Prabowo, adalah sebuah kesadaran bahwa Anda bukan pahlawan tunggal dalam masa depan negeri ini. Barangkali memang pendukung Anda ada yang menganggap Andalah orang terbaik. Tetapi sebagian yang lain hanya menganggap Anda adalah sosok yang sedang tepat untuk saat ini. Sebagian yang lainnya lagi menganggap Anda adalah “yang lebih ringan di antara dua madharat”.

Tentu saja, mereka yang tidak memiliih Anda menganggap Anda bukan yang terbaik, tidak tepat, dan juga berbahaya.

Dan jika Anda, Pak Prabowo, nantinya terpilih menjadi Presiden, maka mereka semua akan menjadi rakyat yang dibebankan kepada pundak Anda tanggungjawabnya di hadapan Allah. Maka kami berbahagia ketika Anda berulang kali berkata di berbagai kesempatan, “Jangan mau dipecah belah. Jangan mau saling membenci. Kalau orang lain menghina kita, kita serahkan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan Maha Besar.”

Dan Anda juga harus menyadari bahwa barangsiapa merasa jumawa dengan kekuasaan, maka beban kepemimpinan itu akan Allah pikulkan sepelik-peliknya di dunia, dan tanggungjawabnya akan Dia jadikan penyesalan serta siksa di akhirat. Adapun pemimpin yang takut kepada Allah, maka Dia jadikan manusia taat kepadanya, dan Dia menolong pemimpin itu dalam mengemban amanahnya.

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi sungguh orang yang jauh lebih perkasa daripada kita semua, ‘Umar ibn Al Khaththab, pernah mengatakan, “Seandainya tidaklah didorong oleh harapan bahwa saya akan menjadi orang yang terbaik di antara kalian dalam memimpin kalian, orang yang terkuat bagi kalian dalam melayani keperluan-keperluan kalian, dan orang yang paling teguh mengurusi urusan-urusan kalian, tidaklah saya sudi menerima jabatan ini. Sungguh berat bagi Umar, menunggu datangnya saat perhitungan.”

Maka yang kami harapkan berikutnya dari Anda, Pak Prabowo, adalah sebuah cita-cita yang menyala untuk menjadi pelayan bagi rakyat Indonesia. Sebuah tekad besar, yang memang selama ini sudah kami lihat dari kata-kata Anda. Dan sungguh, kami berharap, ia diikuti kegentaran dalam hati, seperti ‘Umar, tentang beratnya tanggungjawab kelak ketika seperempat milyar manusia Indonesia ini berdiri di hadapan pengadilan Allah untuk menjadi penggugat dan Anda adalah terdakwa tunggal bila tidak amanah, sedangkan entah ada atau tidak yang sudi jadi pembela.

Pak Prabowo, jangankan yang tak mendukung Anda, di antara pemilih Andapun ada yang masih meragukan Anda karena catatan masa lalu. Saya hendak membesarkan hati Anda, bahwa ‘Umar pun pernah diragukan oleh para tokoh sahabat ketika dinominasikan oleh Abu Bakr sebab dia dianggap keras, kasar, dan menakutkan. Tapi Anda bukan ‘Umar. Usaha Anda untuk meyakinkan kami bahwa kelak ketika terpilih akan berlaku penuh kasih kepada yang Anda pimpin harus lebih keras daripada ‘Umar.

Pak Prabowo, kami memilih Anda karena kami tahu, seseorang tak selalu bisa dinilai dari rekam jejaknya. ‘Umar yang dahulu ingin membunuh Nabi, kini berbaring mesra di sampingnya. Khalid yang dahulu panglima kebatilan, belakangan dijuluki ‘Pedang Allah’. Tapi Anda bukan ‘Umar. Tapi Anda bukan Khalid. Usaha Anda untuk berubah terus menjadi insan yang lebih baik daripada masa lalu Anda akan terus kami tuntut dan nantikan. Ya, maaf dan dukungan justru dari orang-orang yang diisukan pernah Anda ‘culik’ menjadi modal awal kepercayaan kami kepada Anda.

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi orang yang jauh lebih dermawan daripada kita semua, ‘Utsman ibn ‘Affan, pernah mengatakan, “Ketahuilah bahwa kalian berhak menuntut aku mengenai tiga hal, selain kitab Allah dan Sunnah Nabi; yaitu agar aku mengikuti apa yang telah dilakukan oleh para pemimpin sebelumku dalam hal-hal yang telah kalian sepakati sebagai kebaikan, membuat kebiasaan baru yang lebih baik lagi layak bagi ahli kebajikan, dan mencegah diriku bertindak atas kalian, kecuali dalam hal-hal yang kalian sendiri menyebabkannya.”

Ummat Islam amat besar pengorbanannya dalam perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pun demikian, sejarah juga menyaksikan mereka banyak mengalah dalam soal-soal asasi kenegaraan Indonesia. Cita-cita untuk mengamalkan agama dalam hidup berbangsa rasanya masih jauh dari terwujud.

Tetapi para bapak bangsa, telah menitipkan amanah Maqashid Asy Syari’ah (tujuan diturunkannya syari’at) yang paling pokok untuk menjadi dasar negara ini. Lima hal itu; pertama adalah Hifzhud Diin (Menjaga Agama) yang disederhanakan dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Kedua Hifzhun Nafs (Menjaga Jiwa) yang diejawantahkan dalam sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Ketiga Hifzhun Nasl (Menjaga Kelangsungan) yang diringkas dalam sila Persatuan Indonesia. Keempat Hifzhul ‘Aql (Menjaga Akal) yang diwujudkan dalam sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Dan kelima, Hifzhul Maal (Menjaga Kekayaan) yang diterjemahkan dalam sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Pak Prabowo, kami memilih Anda sebab kami berharap Anda akan melaksanakan setidak-tidaknya kelima hal tersebut; menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga kelangsungan, menjaga akal, dan menjaga kekayaan; dengan segala perwujudannya dalam kemaslahatan bagi rakyat Indonesia. Kami memilih Anda ketika di seberang sana, ada wacana semisal menghapus kolom agama di KTP, melarang perda syari’ah, mengesahkan perkawinan sejenis, mencabut tata izin pendirian rumah ibadah, pengalaman masa lalu penjualan asset-aset bangsa, lisan-lisan yang belepotan pelecehan kepada agama Allah, hingga purna-prajurit yang tangannya berlumuran darah ummat.

Pak Prabowo, seperti ‘Utsman, jadilah pemimpin pelaksana ungkapan yang amat dikenal di kalangan Nahdlatul ‘Ulama, “Al Muhafazhatu ‘Alal Qadimish Shalih, wal Akhdzu bil Jadidil Ashlah.. Memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.”

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi orang yang lebih zuhud daripada kita semua, ‘Ali ibn Abi Thalib, pernah mengatakan, “Barangsiapa mengangkat dirinya sebagai pemimpin, hendaknya dia mulai mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain. Dan hendaknya ia mendidik dirinya sendiri dengan cara memperbaiki tingkah lakunya sebelum mendidik orang lain dengan ucapan lisannya. Orang yang menjadi pendidik bagi dirinya sendiri lebih patut dihormati ketimbang yang mengajari orang lain.”

Pak Prabowo, hal yang paling hilang dari bangsa ini selama beberapa dasawarsa yang kita lalui adalah keteladanan para pemimpin. Kami semua rindu pada perilaku-perilaku luhur terpuji yang mengiringi tingginya kedudukan. Kami tahu setiap manusia punya keterbatasan, pun juga Anda Pak. Tapi percayalah, satu tindakan adil seorang pemimpin bisa memberi rasa aman pada berjuta hati, satu ucapan jujur seorang pemimpin bisa memberi ketenangan pada berjuta jiwa, satu gaya hidup sederhana seorang pemimpin bisa menggerakkan berjuta manusia.

Pak Prabowo, kami memilih Anda sebab kami tahu, kendali sebuah bangsa takkan dapat dihela oleh satu sosok saja. Maka kami menyeksamai sesiapa yang ada bersama Anda. Lihatlah betapa banyak ‘Ulama yang tegak mendukung dan tunduk mendoakan Anda. Balaslah dengan penghormatan pada ilmu dan nasehat mereka. Lihatlah betapa banyak kaum cendikia yang berdiri memilih Anda, tanpa bayaran teguh membela. Lihatlah kaum muda, bahkan para mahasiswa.

Didiklah diri Anda, belajarlah dari mereka; hingga Anda kelak menjelma apa yang disampaikan Nabi, “Sebaik-baik pemimpin adalah yang kalian mencintainya dan dia mencintai kalian. Yang kalian doakan dan dia mendoakan kalian.”

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi orang yang lebih adil daripada kita semua, ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, pernah mengatakan, “Saudara-saudara, barangsiapa menyertai kami maka silahkan menyertai kami dengan lima syarat, jika tidak maka silahkan meninggalkan kami; yakni, menyampaikan kepada kami keperluan orang-orang yang tidak dapat menyampaikannya, membantu kami atas kebaikan dengan upayanya, menunjuki kami dari kebaikan kepada apa yang kami tidak dapat menuju kepadanya, dan jangan menggunjingkan rakyat di hadapan kami, serta jangan membuat-buat hal yang tidak berguna.”

Sungguh karena pidato pertamanya ini para penyair pemuja dan pejabat penjilat menghilang dari sisi ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, lalu tinggallah bersamanya para ‘ulama, cendikia, dan para zuhud. Bersama merekalah ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz mewujudkan pemerintahan yang keadilannya dirasakan di segala penjuru, sampai serigalapun enggal memangsa domba. Pak Prabowo, sekali lagi, kami memilih Anda bukan semata karena diri pribadi Anda. Maka pilihlah untuk membantu urusan Anda nanti, orang-orang yang akan meringankan hisab Anda di akhirat.

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi kalaupun Anda tidak terpilih, kami yakin, pengabdian tak memerlukan jabatan. Tetaplah bekerja untuk Indonesia dengan segala yang Anda bisa, sejauh yang Anda mampu.

Sungguh Anda terpilih ataupun tidak, kami sama was-wasnya. Bahkan mungkin, rasa-rasanya, lebih was-was jika Anda terpilih. Kami tidak tahu hal yang gaib. Kami tidak tahu yang disembunyikan oleh hati. Kami tidak tahu masa depan. Kami hanya memilih Anda berdasarkan pandangan lahiriyah yang sering tertipu, disertai istikharah kami yang sepertinya kurang bermutu.

Mungkin jika Anda terpilih nanti, urusan kami tak selesai sampai di situ. Bahkan kami juga akan makin sibuk. Sibuk mendoakan Anda. Sibuk mengingatkan Anda tentang janji Anda. Sibuk memberi masukan demi kemaslahatan. Sibuk meluruskan Anda jika bengkok. Sibuk menuntut Anda jika berkelit.

Inilah kami. Kami memilih Anda Pak Prabowo, tapi..

Tapi sebagai penutup tulisan ini, mari mengenang ketika Khalifah ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz meminta nasehat kepada Imam Hasan Al Bashri terkait amanah yang baru diembannya. Maka Sang Imam menulis sebuah surat ringkas. Pesan yang disampaikannya, ingin juga kami sampaikan pada Anda, Pak Prabowo. Bunyi nasehat itu adalah, “Amma bakdu. Durhakailah hawa nafsumu! Wassalam.”

Doa kami,

Hamba Allah yang tertawan dosanya, warga negara Republik Indonesia.

Salim A Fillah


Salah satu tugas ulama dan dai adalah ber-amar ma’ruf nahi munkar, termasuk menasehati pemimpin. Sedangkan pemimpin yang baik adalah sosok yang terbuka menerima kritik dan nasehat, terutama yang datang dari ulama.

*Dikutip dari situs Bersama Dakwah.

Di dalam pesawat Airbus A330-300 menuju Frankurt, Jerman
Article, Interview

Jawaban wawancara tokoh inspiratif

[dropcap style=”flat”]W[/dropcap]awancara ini dilakukan oleh salah satu organisasi rohis kampus dan dimuat dalam rubrik yang bertujuan untuk mengajak pembaca (red: mahasiswa) untuk aktif dalam organisasi (tidak apatis). Jadi pertanyaannya akan tentang pengalaman organisasi dan prestasi.

Di dalam pesawat Airbus A330-300 menuju Frankurt, Jerman

1. Apa motivasi kakak agar terus bergerak maju?

Ya benar untuk terus bergerak maju diperlukan sebuah dorongan yang kita kenal dengan motivasi. Sederhana saja, sebagaimana Rasulullah mengajarkan kepada kita agar senantiasa menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Bagaimana agar hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini, itu adalah motivasi yang kakak pegang selain Islam memotivasi umatnya agar menjadi umat yang terbaik dengan selalu mengikuti ajaran Al-Qur’an dan Hadist.

Motivasi itu ada yang disebut motivasi internal dan motivasi eksternal. Motivasi internal datang dari dalam diri pribadi sedangkan motivasi eksternal datang dari luar diri, seperti dari lingkungan, saudara, teman dsb. Orang yang selalu tergerak maju biasanya memiliki motivasi internal yang lebih besar dari motivasi eksternal, dan mereka cenderung mandiri dalam artian untuk bergerak mereka tidak tergantung pada motivasi eksternal. Mereka memiliki apa yang dikatakan Long life motivation, suatu motivasi yang begitu membara di dalam dirinya dan tidak habis sepanjang waktu.

Motivasi internal dapat diciptakan dengan impian, cita-cita dan dibakar dengan ambisi yang membara. Bagi kakak pribadi, impian adalah salah satu motivasi terbesar dalam hidup kakak. Kakak memiliki daftar impian yang menanti untuk diwujudkan. Dengan memiliki impian, setidaknya kita sudah memiliki separuh jalan menuju kemajuan. Impian itu mendorong kita untuk berusaha lebih giat, dan selalu terpacu untuk meraihnya. Tentunya ada ilmu yang mesti dimiliki untuk bagaimana impian itu dapat dimutakhirkan menjadi suatu kenyataan. Selain motivasi internal, tidak dipungkiri bahwa motivasi internal terkadang juga diperlukan seperti halnya dukungan lingkungan, dukungan keluarga dsb. Seorang yang selalu tergerak untuk maju biasanya cakap dalam memadu-padankan dua motivasi ini dan  menjaga keseimbangannya agar dapat menjadi pendorong mereka untuk bergerak.

 

2. Apa visi dan misi kakak secara umum ketika bergabung dalam suatu organisasi?

Secara umum, ketika kita memutuskan untuk bergabung dengan suatu organisasi maka visi misi organisasi tersebut secara otomatis dan harus terinternalisasi kedalam diri kita. Secara tidak langsung kakak katakan bahwa apa yang menjadi visi misi kita hendaknya selaras dengan visi misi organisasi yang ingin kita masuki. Namun memang, tidak dinafikkan bahwa terkadang ada visi misi lain yang menjadi alasan lain kita bergabung dengan suatu organisasi. Seyogiyanya alasan tersebut tidaklah pragmatis, melainkan adalah bagaimana keberadaan kita dapat memberi kebermanfaatan bagi organisasi tersebut. Kita harus berupaya agar menjadi orang paling terdepan dan paling bisa diandalkan untuk pengembangan organisasi tersebut, menjadi kader (tulang punggung) organisasi.

Bergabung ke dalam suatu organisasi bisa merupakan pilihan ataupun juga suatu keterpanggilan, maka yang paling baik adalah panggilan pengabdian. Untuk mahasiswa baru ataupun yang baru tergerak untuk memiliki pengalaman berorganisasi, adalah wajar jika visi misi yang didengungkan terkesan sedikit pragmatis. Boleh jadi ada yang mengatakan alasan berorganisasi adalah untuk mendapat banyak teman, untuk mendapatkan pengalaman, untuk terkenal dsb. Ya satu sisi maklum saja kalau mereka beralasan seperti demikian, karena terkedang beberapa organisasi dalam merekrut anggotanya seperti menjual “barang yang unik danmenarik”. Tanpa bermaksud mengabaikan nilai luhur berorganisasi adalah untuk bagaimana seseorang dapat beraktualisasi diri, menempa diri dengan segala keterampilan dan pembelajaran.

 

3. Apa keuntungan yang akan diperoleh ketikaseorang mahasiswa memilih untuk aktif dalam organisasi?

“Jangan tanyakan apa yang diberikan Negara kepadamu, tetapi tanyakan apa yang engkau berikan untuk Negaramu”, ucap Presiden Amerika John F Kennedy. Seperti itu jugalah hendaknya berorganisasi. Berorganisasi, terlebih dalam organisasi mahasiswa. Jangankan untuk bicara keuntungan materi ataupun yang lainnya, bahkan tidak jarang materi kita lah yang malah terpakai. Lalu kenapa orangingin berorganisasi? Pasti ada suatu hal dalam berorganisasi yang sangat bermanfaat. Organisasi mahasiswa banyak memberikan manfaat yang khususnya pada perkembangan diri mahasiswa. Ya, organisasi itu wadah pengembangan diri, wadah untuk menemukan jati diri. Organisasi mengajarkan banyak hal yang tidak didapatdi bangku perkuliahan, tetapi ilmu yang didapat di organisasi adalah keterampilan yang sangat berharga. Di organisasi kita akan belajar banyak hal, yang paling utama adalah belajar bersosialisasi dan bekerja sama dengan orang lain. Di organisasi kita juga belajar kepemimpinan, belajar berkomunikasi, belajar merancang kegiatan, belajar melaksanakan progam, belajar mandiri, belajar bertanggung jawab dan juga membina prestasi. Banyak hal lain yang menjadi manfaat berorganisasi, tetapi setidaknya itu yang umumnya.

 

4. Jikakeuntungan yang diperoleh adalah relasi yang banyak, bukankah tidak hanya dalam organisasi kita bisamemperolehnya?

Benar, relasi tidak hanya diperoleh di organisasi. Dalam pergaulan hidup sehari hari bahkan mungkin kita bisa saja mendapat lebih banyak relasi. Lantas, apa bedanya relasi dalam berorganisasi? Memiliki banyak relasi itu bagus, tetapi tidak tahu bagaimana “memanfaatkan relasi” itu yang tidak bagus. Di organisasi kita tergabung dalam kesatuan orang-orang berkelompok. Berorganisasi membuat kita akan lebih sering berinteraksi dengan banyak orang. Interaksinya adalah interaksi yang positif dan produktif, seperti dalam berorganisasi ada program kerja yang mesti dilaksanakan. Dalam pelaksanaannya kita memerlukan koordinasi dengan banyak orang, disana kita belajar berinteraksi berkomunikasi untuk mewujudkan tujuan program kerja yang ingin dicapai. Untuk itu diperlukan kemahiran dan kecakapan membina relasi dengan pihak-pihak terkait. Dengan seringnya kita berkecimpung dengan hal demikian, maka dengan sendirinya kita akan belajar dan pandai dalam mengelola relasi. Dan ilmu seperti ini banyak berguna dalam kehidupan social bermasyarakat maupun dalam kegiatan perkuliahan yang kita jalani. Baik dalam hubungan dengan teman sekelas, dengan dosen dsb. Orang-orang yang berorganisasi biasanya akan terlihat berbeda, mereka lebih lihai dan lebih menonjol dari pada orang-orang yang tidak berorganisasi. Ya, orang besar di dunia ini pun dibesarkan oleh kemampuan mereka dalam berorganisasi.

 

5. Bagaimanapendapat kakak tentang pernyataan ”aktivis lamban dalam menyelesaikanpendidikannya”?

Pertama, kakak tidak menyangkal pernyataan tersebut. Memang, kenyataan yang ada membuat kita secara tidak langsung men-generalisasikan bahwa aktivis itu lamban dalam menyelesaikan pendidikannya. Dan dalam menjawab ini pun kakak agak sedikit hati-hati agar tidak dikatakan bahwa kakak mendukung pernyataan diatas..hehe (personal experience). Tanpa bermaksud memberikan pembenaran, coba kita perhatikan bahwa beban kerja seorang aktivis itu dua kali lipat dibanding mahasiswa biasa pada umumnya. Jika mahasiswa biasa hanya disibukkan dengan aktivitas akademik dsb seperti (kantin,kos, kampus dan percintaan dll), pada saat yang sama seorang aktivis juga dibebankan dengan tugas-tugas keorganisasian. Mereka harus memaksimalkan waktuuntuk membuat kuliah mereka menjadi efektif. Sebagaimana kita tahu bahwa beban SKS mahasiswa saat ini saja sudah terasa sangat membebani, menyita waktu dan mempersempit ruang gerak mahasiswa.

Jika kita perhatikan, tidak sedikit juga aktivis yang dapat menyelesaikan studinya tepat waktu ataupun tidak terkesan lamban. Tapi secara pribadi, kakak ingin menanyakan ulang “keaktivisan” mereka..hehe just kidding. Bukan kakak memandang buruk hal tersebut, malah kakak mengapresiasi karena ituadalah sebuah prestasi. Namun yang pasti, bagi seorang aktivis, cepat atau lambat dalam menyelesaikan studi bukanlah merupakan persoalan, bukan indikator yang menjamin kesuksesan. Aktivis itu tahu prioritas, dan juga kakak pribadi mengakui bahwa kegiatan-kegiatan “keaktivisan” itu memang menyenangkan. Jujur bahwa terkadang memang kalau harus memilih antara masuk kuliah dengan kegiatan, terkadang aktivis akan lebih rela meluangkan waktunya untuk kegiatan..hehe. Tapi pastinya dengan perhitungan yang cukup matang dengan memperhatikan izin dsb. Mungkin karena ini juga muncul stigma bahwa aktivis itu lamban dalam menyelesaikan studinya.

Dalam hal kesuksesan, terkadang kita dapat menyimpulkan hal yangterbalik. Coba kita lihat tokoh-tokoh besar di Negara ini tidak jarang bahwa mereka dulunya adalah seorang aktivis. Nah, pastinya ada modal lain yang dipunyai aktivis sehingga mereka dapat lebih melesat sukses dibanding mahasiswa lainnya. Kita harus jujur mengakui hal ini. Aktivis itu biasanya adalahorang-orang yang talented,orang-orang yang terlatih dan terampil, terutama lagi dalam kehidupansebenarnya. Aktivis itu telah menjalani sekelumit proses yang melejitkanpotensi pribadinya menjadi matang dan biasanya aktivis lah yang lebih siapdalam kehidupan. Mereka lebih cepat beradaptasi dan lebih gesit, makanyaaktivis itu banyak yang sukses..hehe. Tapi ya tentu akan lebih baik jikaaktivis tidak lalai dan dapat menyelesaikan studinya tepat waktu. Walau memang kalau kita telisik lebih dalam bahwa tidak ada proses perjalanan yang ideal,semua ada pola yang keteraturannya tidak dapat ditebak dan artinya tidak dapatdisimpulkan sekilas. Boleh jadi saat ini seseorang, baik itu aktivis ataupun tidak, dalam kehidupannya terkesan tidak baik atau terkesan lamban sebagaimana pernyataan diatas, tetapi dibalik itu siapa yang tahu masa depan? Jadi intinya,apapun yang kita lakukan maka kerjakanlah dengan sebaik-baiknya dan rencanakanlah dengan sesukses-suksesnya. Mudah-mudahan kita menjadi orang yang berhasil.

 

6. Bagaimanatips memilih organisasi yang dapat menampung dan mengembangkan kreativitas, bakat dan minat?

Zaman sekarang ini sudah banyak tumbuh dan berkembang berbagai organisasi yang memenuhi “student need and student interest”. Organisasi mahasiswa zaman ini pun telah lebih adaptif dengan mengayomi berbagai kreativitas, bakat dan minat mahasiswa. Adabeberapa hal yang mesti diperhatikan sebelum akhirnya memutuskan untukbergabung. Untuk mendapatkan keputusan suatu organisasi fit and proper untuk kita ikuti, maka kita pribadi harus lebihaktif dan proaktif untuk mencari tahu sebanyak mungkin informasi mengenaiorganisasi tersebut.

Pertama kita harus lebih jeli dalam mengukur apa kreativitas, bakat ataupun minat kita.Tepatnya kita harus memiliki passion atau gairah. Diri kita pribadi dahulu yang harus menentukan hal tersebut,menentukan apa yang menjadi minat dan ketertarikan kita.

Kedua kita bisa mencari sebanyak mungkin informasi mengenaiorganisasi yang sesuai dengan kreativitas, bakat dan minat yang ingin kitakembangkan. Ada tipe organisasi yang kreativitas, bakat dan minta tertentu adalah fokus utama dalam pergerakannya, seperti contohnya organisasi keahlian dan profesi. Dalam organisasi mahasiswa, ada terdapat organisasi yang bergerak dalam hal olahraga bela diri, ada olahraga catur dsb. Ada organisasi kesenian,ada organisasi yang bergerak dalam aktivitas mengenai alam, ada organisasi yangmengembangkan musik, dan ada juga organisasi yang berorientasi dan berfokuspada da’wah Islam dsb. Namun ada juga organisasi yang secara umum, hal-halterkait kreativitas, bakat dan minat ditampung dalam suatu bidang di dalamstruktur organisasi tersebut. Contohnya di dalam sebuah organisasi ada bidang minat dan bakat.

Ketiga selanjutnya kita dapat membuat list atau daftar organisasi yang telah memenuhi target kita.

Keempat dari daftar yang telah kita buat kita lalu harus mensortir organsisasi tersebut dalam daftar pilihan yang lebih kecil (lebih sedikit), menjadi pilihan-pilihan organisasi yang lebih tepat dan mana yang paling pas dengan yang kita inginkan.

Kelima untuk itu kita harus melakukan klarifikasi dan penilaian yang akurat untuk menentukan pilihan yang benar-benar tepat. Kitabisa memulai dengan mencari tahu tentang keberadaan organisasi yang kita tetapkan dalam daftar sortiran tersebut. Bisanya setiap organisasi akan membukaseluasnya informasi mengenai organisasi tersebut, kita dapat datang dan bertanya kepada pengurus organisasi tersebut untuk mendapat keterangan yang kita inginkan. Selain itu penting juga untuk mencari tahu informasi dari orang lain yang barangkali mengetahui mengenai organisasi yang kita maksud. Adabaiknya juga kita mencoba meminta pendapat dari senior, teman dan keluarga. Sekarangini, hampir semua organisasi juga telah memiliki akun di internet dan media sosial seperti website dan facebook. Semakin banyak informasi yang kitadapatkan maka akan semakin mudah kita mengukur dan menjatuhkan pilihan.Kriteria informasi yang mendukung diantaranya seperti sudah berapa lama organisasi tersebut berdiri, sudah berapa banyak anggotanya, seberapa aktiv kegiatannya, seberapa intens pertemuan dalam organisasi tersebut dan poin-poin lain yang dapat kita tentukan sendiri. Terakhir,  dengan penuh keyakinan dan semangat ikuti kata hati untuk menjatuhkan pilihan terhadap organisasi mana yang akan kita masuki.

7. Menurut kakak, kapan waktu yang tepat untuk memulai karir organisasidi PT? Misalnya, semester 3. 

Pada dasarnya semakin cepat semakin baik. Namun fakta yang sedikit kontra-produktif adalah sebagaian besar mahasiswa baru pada tahun-tahun awal studinya cenderung enggan untuk aktif dan tergerak untuk berorganisasi. Merekabiasanya lebih menyukai untuk menikmati euphoria bersenang-senang atas kebebasan yang mereka dapatkan sewaktu menjadi mahasiswa baru yang memang sangat berbeda dengan keadaan ketika mereka masih menjadi siswa. Banyak juga yang antipati lantaran mendengar stigma-stigma bahwa berorganisasi itu hanyaa kan menghambat studi. Tambah juga pesan orang tua untuk cepat menyelesaikan studi. Banyak juga yang menunda untuk langsung terjun berorganisasi dengan alasan bahwa mereka masih mencari tahu dan menyesuaikan diri dengan kehidupankampus, dan banyak alasan lainnya. Padahal hakikatnya dengan semakin cepat berproses di organisasi maka akan cepat pula proses pematangan diri mereka. Danakan lebih terukur dan terencana dengan baik kegiatan perkuliahan mereka, karena mereka akan lebih cepat mengenal dunia kampus melalui rekan-rekan diorganisasi.

Secara umum, di satu sisi kakak setuju bahwa karir organisasi diperguruan tinggi sebaiknya dimulai sejak semester 3. Karir yang kakak maksud disini adalah proses mereka untuk mengisi struktur di organisasi. Tetapi untuk karir secara umum, alangkah lebih baik untuk mengikuti proses berorganisasi sejak semester awal perkuliahan. Beberapa organisasi pada umumnya memiliki jenjang perkaderan dan masa pengenalan anggota, ada istilahnya anggota muda;yakni mahasiswa baru yang direkrut menjadi anggota organisasi tetapi belum mendapatkan tempat di struktur kepengurusan di organisasi. Melalui langkah seperti ini, ada banyak manfaat positif bagi seorang mahasiswa baru untuk menentukan apakah benar-benar akan aktif berorganisasi ataupun tidak karena mereka akan mulai intens bersentuhan dan berkenalan dengan aktivitas-aktivitas keorganisasian.

 

8. Organisasi yang bergerak di bidang apa yang menjadi fokus perhatian kakak?

Bagi kakak pribadi, kakak tertarik untuk mendalami organisasi yang menyentuh aspek kepemimpinan,  pergerakan mahasiswa dan kajian Islam. Selainkakak juga tertarik untuk mendalami organisasi-organisasi profesi ataupun organisasi yang berfokus pada kreativitas, bakat dan minat. Kakak tertarik dengan organisasi terkait kewirausahaan dan bisnis, kakak juga tertarik dengan organisasi yang care mengenai alam, dan juga organisasi yang fokus pada penulisan.

 

9. Bagaimanapendapat kakak tentang organisasi yang berorientasi dakwah,misalnya FS-NURI?

Dalam pandangan kakak, organisasi yang berorientasi dakwah itu sangat bagus. Organisasi seperti ini sangat memberikan manfaat dalam mengembangkan nilai-nilai Islam. Menjadi wadah pembelajaran dan jembatan pengetahuan bagiumat agar lebih mengenal ajaran Islam dan memberikan pelajaran serta gerakan amaliyah agar umat (anggotanya) senantiasa ingat dan taat pada ajaran Islam. Berbicara mengenai organisasi dakwah tentu adalah skop yang besar, ada organisasi aliran keagamaan, ada organisasi dakwah dalam bentuk partai politikdsb. Tertalu lebar dan akan terlalu banyak pandangan jika kita bahas itu. Spesifiknya saja yaitu organisasi dakwah  dalam kalangan mahasiswa. Organisasi dakwah dalam kalangan mahasiswa lebih akrab kita kenal dengan “organisasi rohis”, seperti halnya FS Nuri. Kalau berfikir objektif, seyogiyanya kita akan sangat mendukung dansangat apresiatif terhadap keberadaan organisasi seperti ini. Kita perhatikan bahwa porsi untuk pendidikan keagamaan sangat kecil dalam kurikulum pendidikan nasional kita, kita banyak disuguhi dengan pendidikan umum yang kalau secara garis besar memang dapat membawa anak-anak didik pada keberhasilan, namun kurikulum seperti itu gagal “memanusiakan manusia seutuhnya”. Ditambah lagi dalam pengajarannya materi ajarsangat jarang dikaitkan dengan nilai-nilai kegamaan. Padahal dalam Islam sebagai agama paripurna menyatakan bahwa ilmu itu adalah bersumber dari Tuhan yang Maha Esa, sementara kurikulum pendidikan saat ini terkesan mengembangakankeilmuan dengan dasar pengembangan sendiri dan meniadakan keberadaan Tuhandibalik sebuah ilmu. Terlebih lagi ada dikotomi antara ilmu agama dengan ilmuumum. Sudah barang tentu ini menjadi masalah yang sedemikian kompleks.Problematika umat sekarang ini sudah semakin kearah ketidakwarasan. Pendidikanmembentuk manusia yang seakan hidup tidak ber-Tuhan. Padahal dalam Islam, ada keseimbangan yang perlu dijaga antara kehidupan dunia dan kehidupa akhirat dalam artian beragama dan ber-Tuhan. Pendidikan sekarang ini hanya membentuk manusia manusia yang cerdas akal dan fikiran, namun gersang secara spiritual. Islam memberikan makna yang lengkap dalam kehidupan. Oleh karena itu, demikianlah arti pentingnya keberadaan organisasi dakwah, untuk menjadi jembatan keilmuan spiritualitas yang akan membentuk manusia-manusia Islami seutuhnya. Namun dibalik itu semua juga ada problematika di kalangan organisasi dakwah yang juga penting untuk disoroti. Kakak pribadi menilai beberapa organisasi dakwah terkesan sangat ekslusif, padahal nilai-nilai dakwah yang diajarkan itu sangat inklusif. Ada juga stigma-stigma negatif lainnya mengenaiorganisasi dakwah di kalangan mahasiswa, terutama jika organisasi dakwah tersebut berafiliasi dengan organisasi-organisasi dan proses perpolitikan.  Sebenarnya jika dikaji lebih dalam tidak ada sekat antara dakwah dan perpolitikan, karena memang ajaran dakwah itu universal. Konsep yang harus dipahami adalah dakwah harus lah menyeru kepada kebaikan, kepada perbuatan baik yang dilakukan.


*Wawancara ini dilakukan pada tanggal 16 Juli 2013

Close