Category

My Thought

Article, My Story, My Thought, Travelling

Urgensi soft skill dan hard skill dalam pergaulan

Salah seorang tetangga saya ― sekitar 10 tahun lalu ― pernah mengatakan, “belajarlah main gitar, nanti itu akan berikan banyak manfaat untuk pergaulan kamu”. Dulu, saya tidak begitu mengerti maksudnya. Sejauh apa yang saya pahami adalah ― melihat lingkungan sekitar ― mereka yang pandai memainkan alat musik tersebut lebih mudah berbaur dan berinteraksi dalam lingkungan sosialnya.

[dropcap style=”flat”]K[/dropcap]ala itu saya meng-iya-kan ucapan beliau. Saya belajar gitar dan sampai beberapa tahun kemudian saya mampu menguasai beberapa teknik dan bahkan pernah ‘manggung’ untuk menunjukkan kebolehan dalam bermain gitar. Beberapa video saya bermain gitar bisa dilihat disini: 1. Kehilangan, Judika 2. To be with you, Mr. Big

Pergaulan membutuhkan social intelligence, sebuah istilah yang oleh Sean Foleno diartikan sebagai “person’s competence to understand his or her environment optimally and react appropriately for socially successful conduct”. Kehidupan erat hubungannya dengan interaksi sosial, sebagaimana Edward Thorndike, seorang psikolog kenamaan Amerika, yang pertama kali menjelaskan pengertian kecerdasan sosial pada tahun 1920 yaitu “the ability to understand and manage men and women, boys and girls, to act wisely in human relations”. Sehingga kita bisa pahami bahwa memang orang yang peka terhadap lingkungan dapat lebih sukses dalam hidupnya. Jika sebelumnya Anda mengenal interpersonal competency maka istilah tersebut equivalent dengan social intelligence. (Wikipedia).

Intercultural friendship - foto bersama teman-teman di Jerman

Saya menuliskan tentang ini setelah sebelumnya di Facebook saya memposting desain spanduk yang saya buat untuk salah seorang teman. Dari sana saya terbawa ke masa yang saya terangkan di atas, dan beberapa masa kemudian dalam rangka refleksi bagaimana social intelligence telah membawa pengaruh yang signifikan dalam hidup saya.

Tidak jarang kita temui bahwa sebagian besar orang sangat ‘melejit’ dalam kehidupannya, sementara di beberapa kasus sebagian yang lain tampak ‘gamang’. Mereka yang ‘lincah’ sering diasosiakan dengan naluri alamiah yang dianggap mereka dapatkan sejak lahir, tidak jarang juga dihubungkan dengan usia. Sejatinya usia bukanlah ukuran kedewasaan dimana manusia sudah bisa mandiri dalam kehidupan sosialnya, ada juga orang-orang yang bahkan di umur ­quarter life masih belum bisa deal dengan lingkungan sosial. Melalui artikel ini saya ingin berbagi wawasan dan pengalaman hidup tentang dua hal yang akan menunjang Anda dalam social interaction, yaitu ­soft skill dan hard skill.

Memahami dan menguasai soft skill

Apa itu ­soft skill dan hard skill? Istilah bahasa Inggris ini memiliki pengertian personal attributes that enable someone to interact effectively and harmoniously with other people. Sesuatu yang melekat pada diri seseorang yang membuatnya mampu berinteraksi secara efektif dan harmonis dengan orang lain. Hal apa saja yang termasuk soft skill, Wikipedia menyebutkan bahwa diantaranya adalah personality traits, social graces, communication, language, personal habits, friendliness, managing people, leadership, etc. Soft skill juga diidentifikasi sebagai EQ (Emotional Intelligence Quotient), keterampilan ini berbeda dengan hard skill yang umumnya mudah diukur dan dikuantifikasi seperti contohnya pengetahuan dan keterampilan melakukan suatu hal. (Wikipedia). Bermain gitar termasuk dalam kategori hard skill.

Soft skill itu ― seperti yang dijelaskan di atas ― adalah karakter kepribadian. Orang dengan kepribadian seperti apakah yang dapat sukses dalam pergaulan? Sebelum lebih lanjut, mungkin ada baiknya juga Anda mengetahui tipe kepribadian Anda. Ada tiga tipe kepribadian manusia: introvert, extrovert dan ambievert. Orang dengan karaker introvert cenderung menutup diri dari dunia luar. Mereka tidak menyukai kegiatan soliter dan tidak nyaman dengan pertemuan dan kegiatan sosial. Sedangkan extrovert adalah kebalikan introvert, mereka lebih cenderung membuka diri terhadap dunia luar. Suka keramaian, interaksi dan aktivitas sosial. Mereka tidak suka dengan kesendirian, namun biasanya memiliki antusiasme yang tinggi, mudah bergaul dan aktif. Yang terakhir adalah ambievert, adalah gabungan dari kedua karakter sebelumnya. Mereka nyaman dengan interaksi sosial dan tidak bermasalah dengan kesendirian. Saya sepertinya termasuk tipe ambievert. (Anda bisa Googling untuk tahu lebih banyak mengenai ini).

Di dalam kehidupan kita menemui berbagai orang dengan beragam karakter, sikap dan tingkah laku. Jika kita ingin berhasil, satu-satunya cara adalah dengan membaur. Namun ada hal yang perlu diperhatikan bahwa Anda seyogiyanya tetap menjadi diri sendiri. Seperti ikan, yang tidak asin sekalipun ia hidup di air asin. Sudah menjadi fakta umum bahwa orang yang luas pergaulannya dan baik komunikasi sosialnya lebih sukses dibanding rata-rata orang lainnya. Keluarlah dari posisi nyaman Anda, beranilah untuk mengahadapi tantangan yang diberikan oleh lingkungan. Tidak bisa tidak, mau tidak mau, Anda harus berlatih untuk itu. Beruntunglah jika mungkin membaca ini Anda masih pelajar ataupun mahasiswa, karena Anda masih punya kesempatan untuk berbenah diri. Dunia kerja dan kehidupan paska studi lebih kejam jika Anda tidak pandai bersosialisasi.

Jujur, dulunya saya tidak memiliki soft skill yang baik. Namun segera saya menyadari bahwa jika begini saja, maka jarak saya dengan sukses akan tetap lebar ― saya akan bawa Anda untuk merefleksi apa yang saya lakukan untuk memperbaikinya sejak masa kuliah. Periode studi ini saya manfaatkan dengan aktif berorganisasi. (Bisa dibaca jawaban wawancara saya tentang manfaat berorganisasi: Wawancara tokoh inspiratif). Berorganisasi akan membiasakan kita untuk berkomunikasi dengan orang lain, paling tidak sesama pengurus organisasi. Hal ini memang membutuhkan adaptasi dan semua orang mengalami masa yang tidak singkat untuk hal ini, maka Anda pun demikian hanya perlu untuk kuat-kuat bertahan jika mungkin banyak karakter orang dan hal-hal yang membuat Anda kurang nyaman. Tantangan Anda adalah untuk beradaptasi dengan baik, pertama sekali bacalah karakter diri Anda, apa yang bermasalah ataupun kurang dari Anda. Fikirkan bagaimana Anda bisa diterima ditengah-tengah pergaulan, karakter Anda seperti apakah yang membuat Anda dapat diterima oleh orang lain. Saran saya cobalah tumbuhkan empati dalam diri Anda, yaitu kemampuan memahami orang lain.  Memahami perasaan, fikiran, menghargai pribadi, akan membuat Anda diterima oleh mereka. Anda harus memiliki pendirian dan fleksibilitas. Kelemahan lainnya mungkin Anda tidak berani berbicara di depan publik, kurang pandai mengolah bahasa yang menarik, tidak percaya diri berada satu forum dengan banyak orang dsb. Dengan berorganisasi maka Anda akan terbiasa untuk melakukan itu semua. Organisasi merupakah ruang belajar soft skill yang baik.

Ada quote yang menarik dari Bill Cosby, “I don’t know the key to success, but the key to failure is trying to please everybody”. Anda tidak mungkin bisa menyenangkan atau membuat semua orang tertarik kepada Anda, dan memberikan upaya yang besar pada hal tersebut hanyalah sia-sia. Tetaplah tampil dengan karakter baik, kerja dan komitmen yang Anda punya. Konsistensi yang Anda lakukan akan melahirkan apresiasi. Ayah saya pernah mengatakan, “sebanyak itu yang suka, sebanyak itu pula yang benci”. Jadilah diri sendiri, namun humanis dan bersahabat.

Ramah dan humoris - bersama teman-teman di Jerman

Berorganisasi juga mengajarkan saya bagaimana bekerja dalam tim. Soft skill ini tidak kalah pentingnya. Mengkomunikasikan ide, menyelaraskan tujuan, meraih target bersama dsb menuntut Anda untuk mampu memahami satu sama lain. Anda hidup di dunia dan berkomunikasi dengan manusia, sederhananya, Anda membutuhkan orang lain untuk mewujudkan ide brilian yang Anda punya. Bagaimana jika Anda tidak pandai mengkomunikasikannya? Anda seorang pakar teknologi, tidak selamanya Anda berbicara dengan rangkaian alat elektronik dan robot, Anda butuh berkomunikasi dengan orang lain untuk mewujudkan inovasi Anda, atau mungkin untuk meyakinkan investor agar berinvestasi pada riset Anda. Terlebih sekarang mulai trend istilah co-founder, co-worker dan alike. Waktu saya di Filipina, saya dikenalkan pada co-lab, dimana orang-orang berkumpul dan mengagas kerja-kerja yang dilakukan bersama. Disana kemampuan Anda untuk mengelola manusia dan kepemimpinan Anda akan diasah. Selain itu, hal ini juga akan membantu Anda untuk mendapatkan soft skill kemampuan memecahkan masalah, berfikir kritis, bernegoisasi, resolusi konflik, menciptakan pengaruh, mengajak dan mengarahkan orang lain dsb. Dunia dewasa ini sudah sangat paham pentingnya kerjasama, dan organisasi adalah kebutuhan manusia modern.

Kegiatan lainnya yang saya lakukan adalah menjadi volunteer. Saat ini banyak bermunculan gerakan aksi dan kerja sosial, Anda dapat bergabung disana untuk berinteraksi dengan mereka. Hal ini akan memperluas wawasan, jaringan perkenalan dan bahkan bermanfaat untuk jaringan profesional Anda. Anda tidak mesti berteman hanya dengan mereka yang sama fikiran dan kecenderungan dengan Anda. Bagaimana Anda bisa menjalin hubungan baik dengan berbagai ragam tipe orang akan membuat kualitas soft skill Anda semakin tinggi. Sikap saling menghargai wajib dijunjung tinggi dalam hal ini. Privacy  juga menjadi hal yang Anda bisa mengerti. Salah seorang teman saya orang Jerman contohnya, ia tidak mengatakan tidak menyukai profilnya tampil di internet ketika saya meminta ia untuk menuliskan testimony tentang saya. Tentu hal ini harus saya hormati, dan kami tetap berkomunikasi aktif sampai saat ini via email. Anda tidak bisa dan tidak elok untuk terlalu memaksakan kehendak kepada orang lain. Dalam sebuah kerja tim di Filipina contohnya, saya memiliki anggota dari beberapa Negara seperti Bostwana, Canada, Brunei, Indonesia dan Vietnam. Ketika kami merembukkan ide apa yang akan kami angkat, setiap orang memilki pandangan tersendiri. Beberapa telihat ngotot, namun kami tahu, hal yang kami lakukan haruslah berdiskusi dengan dingin dan menghargai setiap masukan, lalu menyepakati yang terbaik. Dengan demikian tujuan bersama dapat tercapai.

Pertukaran pelajar juga bisa menjadi hal sangat penting untuk Anda pertimbangkan. Saya mengikuti intercultural student exchange beberapa kali dengan mahasiswa asing dan Indonesia dari berbagai daerah yang dilaksanakan di dalam dan di luar negeri. Ini bahkan lebih menantang dari yang Anda takutkan, bagaimana Anda bisa berbaur, bertukar fikiran dan bekerjasama dengan orang yang sama sekali berbeda. Belum lagi kendala bahasa, ingat bahasa juga merupakan soft skill, maka perlu kiranya untuk membekali diri sebaik mungkin. Kita hidup di zaman globalisasi, Anda akan hanyut jika tidak mampu menyelam di dalamnya.

Travel backpacker juga bisa menjadi latihan bagi Anda. Jauh di negeri yang mungkin tidak seorang pun Anda kenal membuat Anda tidak punya pilihan selain berkomunikasi dengan orang lain dan menghadapi berbagai macam karakter manusia ― beberapa mungkin sangat aneh dan Anda tidak bisa memaksa mereka sesuai keinginan Anda. Saya bisa survive berjalan ke daerah-daerah di Indonesia dengan modal komunikasi yang baik, berkeliling di Jakarta, Jogjakarta dsb, bahkan menetap dalam waktu yang cukup lama. Bahkan juga saya mampu melakukan perjalanan ke luar negeri seorang diri, Singapura, Malaysia, Filipina dsb tanpa mengalami hambatan yang berarti (Alhamdulillah), terutama karena saya mengembangkan soft skill komunikasi dalam diri saya.

Sebuah nasihat bijak dari seorang teman saya mengatakan, “diluar sana terdapat banyak dan sangat banyak orang yang lebih pintar dan lebih hebat daripada kita, namun tidak semua orang memiliki sikap yang baik dan bersahaja”. Perhatikanlah bahwa orang dengan soft skill yang baik lebih cendrung disenangi banyak orang. Soft skill bisa menjadi pembeda karakter Anda, maka dari itu memilki soft skill yang baik adalah keuntungan.

Memahami dan menguasi hard-skill

Hard skill bisa juga diartikan sebagai job skill atau occupation. Keterampilan seperti menulis, matematika, melukis, membuat pernak-pernik, mahir pemograman komputer, microsoft office ataupun software, menginstal laptop atau bahkan memasak, dan mungkin juga menjahit dan membuat boneka, juga termasuk dalam kelompok ini.

Skill ini akan menjadi nilai plus Anda dalam pergaulan, atau bahkan untuk kehidupan Anda sesungguhnya. Karena jika dikelola dengan baik maka tidak menutup kemungkinan itu akan menjadi sumber pendapatan bagi Anda. Dalam sebuah buku yang diberikan oleh teman saya berjudul “one person multiple career”, dijelaskan bahwa mempunyai additional skill  dipandang sudah merupakan keharusan di zaman ini. Memilki keterampilan yang banyak bukan merupakan suatu yang mustahil, sebagaimana nyatanya seseorang bisa memilki lebih dari satu karir.

Dalam pergaulan dan pertemanan yang baik, pihak yang ada di dalamnya haruslah mampu saling berbagi manfaat. Saya tipe orang yang suka berkolaborasi dengan orang lain, seperti membuat project bersama tentang suatu hal. Bayangkan dalam pergaulan Anda tersedia orang-orang dengan kemampuan yang dibutuhkan, tentu apa yang Anda rencakan dapat lebih mudah terwujud. Dari sanalah, selalu dalam pergaulan saya akan mencari tahu lebih banyak mengenai teman-teman saya. Saya percaya semua orang punya potensi dan keahlian. Berteman bagi saya tidak sekedar ‘kenal’, saya harus tahu ‘kurang’ dan ‘lebihnya’ karena dengan begitu saya bisa saling mendukung, saling mengisi dan saling berbagi.

Ilustrasi bekerja salam tim - foto bersama dengan teman-teman di Jerman

Bagaimana caranya memiliki hard skill? Ada beberapa cara yang Anda bisa tempuh untuk hal tersebut. Namun pertama yang harus Anda ketahui adalah Anda akan lebih mudah untuk menguasai sesuatu hal jika Anda mencintai hal tersebut. Coba fikirkan apa yang Anda sukai, ataupun Anda fikir sangat perlu untuk Anda kuasai demi menunjang kehidupan masa depan, atau mungkin kuliah yang Anda jalani saat ini, tuntutan pekerjaan Anda nantinya dsb.

Saat ini sudah banyak lembaga kursus keterampilan baik yang diselenggarakan oleh pemerintah ataupun swasta. Anda hanya perlu giat mencari tahu. Saya pernah mengikuti PKBM tentang keterampilan membuat souvenir dan sablon yang diselenggarakan oleh pemerintah bekerja sama dengan pihak swasta. Keterampilan seperti ini, mungkin bagi sebagian orang dianggap remeh. Tetapi sungguh kejelian kita memanfaatkannya yang akan membuatnya berbeda. Tidak hanya bisa ditransformasikan menjadi bernilai ekonomis, tetapi juga bernilai sosial. Anda bisa menjadi orang yang sangat bermanfaat dalam pergaulan jika misalnya Anda dapat membantu teman-teman yang tidak pandai dalam suatu hal. Dengan begitu Anda akan menjadi pribadi yang disenangi. Ini yang saya sebut sebagai pentingnya hard skill dalam pergaulan.

Kemampuan membaca trend perkembangan karir dan masa depan juga dapat membantu Anda. 10-15 tahun lalu misalnya di saat computer mulai booming, sebagian besar orang tidak tertarik karena tidak mampu melihat masa depan teknologi ini, namun sebagian yang lain dengan cerdas memahaminya dan mengambil langkah-langkah untuk belajar, sepertinya misalnya mengikuti kursus mengetik, kursus perbaikan komputer dsb, sampai pada masanya komputer sudah semakin berkembang dan orang-orang baru mulai tersadar, nah dia sudah lebih dahulu menguasai hal tersebut. Tentu ini akan menjadi percepatan bagi Anda untuk sukses dalam kehidupan berbekal skill.

Anda juga bisa belajar otodidak. Saya contohnya berfikir bahwa keterampilan desain grafis sangat bagus untuk saya pelajari. Dan akhirnya saya memutuskan untuk mulai belajar, saya menyempatkan mempelajarinya disela-sela waktu luang, di masa liburan dsb. Ternyata keahlian ini sangat bermanfaat, terutamanya untuk keperluan pribadi saya. Desain foto, buku, spanduk tidak lagi saya upahkan ke orang lain. Saya bahkan juga bisa menghasilkan uang dari skill ini. Dan otomatis dalam pergaulan banyak teman yang mendapat manfaat dari keterampilan saya ini, saya dapat membantu mereka terkait keperluan desain. Bahkan di organisasi yang saya ikuti, saya mampu memberikan banyak sumbangsih dalam hal publikasi kegiatan yang membutuhkan desain grafis. Saya diingat dan dikenal sebagai orang yang mahir dalam bidang ini. Hal itu secara tidak langsung menegaskan posisi Anda dalam pergaulan sosial.

Cara lainnya adalah dengan begabung ke komunitas hobi. Sebagian orang senang berbagi dan memperluas pengetahuannya dengan berkumpul di komunitas hobi tertentu. Apalagi saat ini komunitas semacam itu tumbuh subur. Tidak hanya di dunia nyata tetapi juga di dunia maya. Jika Anda, misalnya, adalah penggiat pemograman website, maka Anda tinggal temukan informasi megenai keberadaan komunitas tersebut. Ruang seperti itu memberikan sumber daya yang luas untuk pengembangan keahlian dan kehidupan sosial Anda. Jika mungkin Anda adalah blogger, ratusan bahkan ribuan komunitas blogger sudah berkembang pada saat ini. Selain menambah ilmu, juga akan menambah jaringan perkenalan dan profesional.

Saya contohnya, juga menguasai hard skill WordPress. Sebuah Content Management System (CMS) untuk pembuatan website. Visi mendorong saya untuk membuat sebuah media publikasi. Lagi, saya belajar otodidak dan bergabung dengan komunitas WordPress untuk belajar dan sharing mengenai ilmu tersebut. Dan otomatis di sisi lainnya orang-orang yang berada di lingkungan saya mendapatkan manfaat dari skill saya ini. Di dunia teknologi saat ini sepertinya tidak ada lagi alasan untuk kita tidak bisa belajar mengenai sesuatu hal. Banyak informasi yang kita bisa dapatkan dan pelajari asal ada kemauan.

Memiliki hard skill adalah kelebihan yang akan menunjukkan kualitas diri dan meninggikan selling-point pribadi Anda. Namun, sehebat apapun hard-skil yang Anda punya, Anda tetap butuh berkomunikasi untuk marketingnya. Maka dari itu, sebuah kombinasi ­soft dan hard skill akan membuat Anda benar-benar diperhitungkan dalam kehidupan ini.

Jakarta, 24 Februari 2015

Article, Interview, My Thought

Catatan pengalaman: sekilas tentang seleksi wawancara dan LGD LPDP

“Wajah negeri ini masa depan dapat dilihat dari optimisme pemudanya saat ini” – Adhitya Fernando

 ― PENGANTAR

[dropcap style=”flat”]S[/dropcap]aya mulai catatan ini dengan Alhamdulillah, membenarkan bahwa sungguh Allah Swt selalu hadir untuk orang yang mau berusaha. “Sesungguhnya Allah Swt tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka itu sendiri yang akan mengubah apa-apa yang pada diri mereka” (Qs. Al Ra’ad : 11). Mimpi yang saya bangun dari sejak lama ― melanjutkan studi di luar negeri ― akhirnya sampai pada tahap yang begitu dekat pada kenyataan. Hari Senin dan Selasa, tepatnya tanggal 9 – 10 Februari 2015 kemarin saya menjalani seleksi beasiswa LPDP untuk studi magister luar negeri. Maka nikmat Tuhanmu yang mana kah yang kamu dustakan? (Qs. Ar. Rahman : 55).

“Bekerjalah seakan-akan kamu hidup selama-lamanya, dan beribadahlah kamu seakan-akan kamu akan mati besok” – Muhammad Saw. Bagi sebagian orang, studi di luar negeri mungkin adalah mimpi yang sebenar-benarnya mimpi. Bahkan tidak sedikit yang ― tanpa berani memimpikan ― langsung menjustifikasi bahwa itu bukanlah takdirnya. Padahal, Abu Bakar As-Siddiq pernah mengatakan, “Jika kau berusaha lebih keras, maka itu dapat merubah takdirmu”. Sederhana saja pesannya, semua tergantung keinginan dan usaha. Bukankah kita juga sering diajarkan bahwa where the is a will, there is a way. Maka impikanlah dan rawat impian itu, make your dream goes viral, dengan begitu Anda sedang merancang semesta untuk mengidentifikasi Anda sebagai pemilik impian tersebut.

Adhitya Fernando - Beasiswa LPDP

Beasiswa LPDP menjembatani impian anak Indonesia. Sebuah warisan dari mantan Menteri keungan Sri Mulyani ini telah sukses mendapatkan sejumlah 140 alumni LPDP yang mengikuti program Talent Management. Ditargetkan sekitar 3000 orang anak-anak Indonesia menjadi penerima beasiswa LPDP setiap tahunnya (Eko Prasetyo, direktur LPDP). Dana abadi yang dimiliki LPDP cukup untuk mengirimkan 60.000 orang anak Indonesia studi di luar negeri hingga tahun 2045 nanti. Mendikbud Anies Baswedan mengatakan, setidaknya Indonesia membutuhkan 33.000 pemimpin kelas dunia. Beasiswa ini pun mengakomodir berbagai aspek  ― mengingat disparitas tingkat pembangunan dan gap of quality daerah di Indonesia dsb ― maka LPDP membuat diversifikasi jalur beasiswa, yaitu Beasiswa Pendidikan Indonesia Presidential Scholarship (kampus top 50 dunia), Beasiswa LPDP Reguler dan Beasiswa Afirmasi. Afirmasi khusus ditujukan kepada anak Indonesia yang berada (lahir, menjalani pendidikan wajib 12 tahun) di daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal) ― selengkapnya dapat dilihat di www.lpdp.depkeu.go.id. Jalur afirmasi inilah yang saya jalani saat ini, karena saya lahir dan dibesarkan di kabupaten Bengkalis ­― salah satu kabupaten terluar di provinsi Riau. Secara umum, tidak ada perbedaan antara beasiswa LPDP Reguler dan Afirmasi, kecuali pengkhususan pendaftar dan beberapa keringanan syarat pendaftaran.

Informasi mengenai beasiswa LPDP sudah sangat banyak tersebar di internet. Jika kita ketik “Beasiswa LPDP” di Google, maka tidak kurang dari 205.000 hasil pencarian yang akan kita temukan. Kisah sukses dan kiat-kiat beasiswa LPDP pun sudah sangat banyak yang menulisnya. Namun, hampir semua kisah yang beredar adalah kisah sukses ― dalam artian baru di-share setelah mereka berhasil mendapatkan beasiswa ― nah kali ini saya tampil beda, saya beranikan untuk menuliskannya langsung. Sebenarnya, ini pun berkat dorongan dari banyak teman-teman yang bertanya “share donk pengalaman kemarin”, “penasaran dengan wawancaranya”, “eh gimana nih seleksinya kemarin” dsb. Maka dari itu untuk mengakomodir semua pertanyaan dan memastikan teman-teman mendapatkan ulasan yang cukup komprehensif, akhirnya saya putuskan untuk menulis ini. Semoga menjadi doa untuk kelulusan saya (awardee). Sebelum lebih jauh, saya ingin menggaris bawahi bahwa catatan ini adalah berdasarkan pengalaman pribadi saya, Anda mungkin akan mendapat pengalaman berbeda, sehingga ini tidak mutlak untuk dijadikan acuan. Selain itu, kesimpulan dan tips yang saya sarankan nantinya juga merupakan elaborasi murni berdasarkan pengalaman yang saya jalani dan wawasan bacaan berbagai sumber yang pernah saya dapatkan, sehingga Anda harus tetap teliti dan rajin membaca berbagai sumber agar dapat mengambil kesimpulan best-practice apa yang Anda bisa terapkan nantinya.

[accordion]
[spoiler title=”Seleksi wawancara” style=”fancy”]SEBELUM WAWANCARA: VERIFIKASI DOKUMEN

Wawancara adalah tahap kedua setelah verifikasi dokumen. Seluruh peserta seleksi diwajibkan hadir pukul 08.00 WIB guna berkumpul mendengarkan pengarahan prosedur seleksi. Selanjutnya, setiap peserta akan diverifikasi, Anda harus menunjukkan bukti persyaratan ‘asli’ pada panitia (formulir pendaftaran, surat pernyataan bermaterai, sertifikat kursus atau sertifikasi bahasa ― TOEFL, IELTS dsb., ijazah kuliah ― untuk Afirmasi wajib menyertakan ijazah SD, SMP dan SMA, Universitas dan  surat izin belajar ― bagi yang sudah bekerja). Anda akan maju satu persatu untuk mengantarkan dokumen tersebut ke meja panitia. Jika Anda selesai pada tahap ini, maka selanjutnya adalah antri menunggu panggilan wawancara ataupun LGD, panitia akan memanggil nama dan/atau nomor kelompok ― nomor kelompok dan jam giliran wawancara dan LGD terlampir di surat undangan seleksi yang dikirimkan LPDP via email beberapa hari sebelumnya.

Perlu Anda ketahui bahwa dengan dipanggil wawancara berarti Anda sudah berhasil mengalahkan ratusan bahkan ribuan pendaftar lainnya. Tampilkan diri Anda sebagai the best candidate. Yang paling harus Anda pahami adalah LPDP sebagai scholarship provider hanya akan memberikan beasiswa pada mereka yang sesuai dengan kriteria LPDP. Anda bisa membaca visi dan misi LPDP dari berbagai sumber seperi website, materi presentasi, koran dsb. LPDP berambisi untuk mencetak pemimpin masa depan Indonesia yang mempunyai kompetensi global namun tidak melupakan akar ke-Indonesiaan. Sehingga dapat dikatakan bahwa LPDP mencari mereka yang tidak hanya unggul secara kompetensi-intelektual, tetapi juga mempunyai will to contribute, potential to lead. Berbicaralah tentang Indonesia ataupun daerah dan manfaat yang Anda bisa berikan ― jangan sekali-kali menonjolkan ego ataupun menyelipkan kepetingan pribadi jika itu tidak beneficial to this country. Minimal kepeduliaan  wacana dan kontribusi untuk daerah ―menurut hemat saya ― harus 50 % dari total apa yang akan Anda bicarakan dalam interview nanti.

Tips. Pastikan stamina tubuh dan kesehatan Anda terjaga pada saat wawancara. Fisik yang sehat akan mendukung konsentrasi. H-1 usahakan sudah menjadi hari tenang, maksimalkan persiapan jauh sebelumnya, sehingga di H-1 Anda hanya perlu persiapan ringan saja. Sertakan juga ibadah dan amalan, seperti berpuasa, tahajjud dsb. Perpaduan antara usaha dan doa akan mengundang keajaiban rahasia Allah Swt.

Bacalah Bismillah dan doa sebelum wawancara. Jika tiba giliran Anda, maka panitia akan meminta Anda untuk masuk ke ruangan tunggu. Jangan membayangkan Anda akan diwawancarai di dalam ruangan tertutup di mana hanya ada Anda dan interviewer (saya membayangkan ini sebelumnya), ternyata seleksi diselenggarakan di aula besar (lokasi bisa aja berubah-ubah, saya dapat di Student Center STAN Bintaro) yang diatur sedemikian rupa menjadi kluster-kluster tempat wawancara tanpa sekat. Akan ada tiga orang interviewer yang akan ‘menghakimi’ Anda, dengan komposisi satu orang interviewer utama yang biasanya adalah seorang akademisi, satu orang lagi interviewer yang juga biasanya dari kalangan akademisi atau pegawai LPDP, yang terakhir adalah seorang psikolog. Ketiga pewawancara duduk sejajar satu meja di depan Anda. Akan ada meja dan kursi tempat Anda duduk yang berjarak satu meja dari pewawancara.

Tips. Berikan salam, senyuman dan jabat tangan pada saat menghampiri pewawancara. Berilah kode atau izin untuk duduk. Selain itu, bawa dokumen yang mungkin Anda perlu perlihatkan pada pewawancara, seperti buku karya Anda, sertifikat bahasa, kliping tulisan yang pernah Anda buat, sertifikat yang Anda peroleh, dsb. Hal ini, selain berguna untuk membantu pemaparan agar jawaban Anda semakin terlihat meyakinkan, juga akan menunjukkan bahwa Anda lebih siap.  

Dengan komposisi pewawancara seperti itu, maka Anda harus sadar bahwa tidak hanya kualitas akademis dari rasionalitas dan reasoning jawaban Anda yang akan dinilai, tetapi juga kepribadian, karakter diri, cara Anda berbicara dan attitude. Saran seperti ‘berjalan ke ruangan dengan tegap dan percaya diri’, ‘berikan senyuman dan salami pewawancara’, ‘tatap mata pewawancara, ‘berbicara dengan lugas dan tidak gugup’, ‘kontrol emosi dan argumen’, ‘etika Anda mempertahankan pendapat ataupun mengklarifikasi’ dsb akan sangat penting untuk Anda perhatikan.

PROSES WAWANCARA

Seketika Anda duduk, biasanya interviewers akan berbasa-basi menanyakan kabar Anda? Sudah lama menunggu ya? ataupun lainnya. Balaslah dengan ‘segar’, kesan pertama tetap paling mendalam. Jangan terlihat gugup, rileks saja namun tetap sersan (serius tapi santai). Apa bahasa pengantar wawancara? Tidak tentu. Bahasa yang digunakan tergantung pewawancara, walaupun di banyak kasus hanya akan menggunakan bahasa Indonesia sekalipun tujuan studi Anda adalah luar negeri. Hal ini terjadi pada saya, no English question come out somehow! Tapi untuk membuat ‘keren’ maka saya campurkan sedikit istilah-istilah English dalam jawaban saya. Teman saya sesama peserta wawancara kemarin mengeluh, wawancara yang dia jalani mostly in English ― padahal tujuan studinya di dalam negeri. Nah, Anda harus siap dengan berbagai kemungkinan.

Pewawancara biasanya mengawali tanya jawab dengan mengatakan, baiklah saudara (….) silahkan perkenalkan diri Anda, latar belakang dan alasan mengapa Anda mendaftar beasiswa ini. Menurut saya, starting-point­ disini sangatlah penting. Pastikan Anda menjawab dengan sistematis, jelas dan mendalam. Anda harus mampu memberikan pengantar yang bermutu di awal. Untuk pertanyaan perdana ini Anda mendapatkan waktu yang cukup panjang, pewawancara tidak akan menginterupsi Anda dengan cepat.  Ingat poin-poin yang ditanyakan oleh pewawancara, jangan sampai Anda lupa menjawabnya.

Apa yang perlu Anda sampaikan pada perkenalan diri? Ada beberapa common-error ― menurut hemat saya ― tidak perlu lagi Anda sampaikan tanggal lahir, jumlah saudara dan jawaban sejenis, itu jawaban yang tidak diinginkan. Cukup perkenalkan nama Anda, asal daerah dan umur jika perlu. Selanjutnya sampaikan latar belakang pendidikan Anda, menamatkan studi S1 di Universitas (…..) Fakultas (….). Anda bisa lanjutkan dengan mengatakan Anda mendapatkan IPK yang bagus selama kuliah, atau bahkan cum laude. Paparkan in-brief­ apa yang Anda lakukan saat kuliah, jika misalnya Anda aktif di organisasi, peran apa saja yang Anda jalankan pada saat itu dan apa saja organisasi (menurut Anda penting) yang pernah dijalani. Tetapi jangan sesederhana itu, sebutkan hal membanggakan apa yang Anda buat di organisasi, motivasi Anda berorganisasi. Misalnya Anda pernah menjadi pengurus di organisasi daerah, Anda bisa ceritakan pada saat itu Anda aktif mengkaji tentang daerah dan memberikan dukungan dan kritikan untuk memajuan daerah dsb. Jika mungkin Anda juga menjadi Asisten Dosen, lengkapi juga penyampaian Anda dengan a glance of your duty dan kenapa itu penting bagi Anda. Selain menjalani aktifitas keorganisasian dan kegiatan-kegiatan lainnya, saya juga berusaha mengembangkan kompetensi global dengan mengikuti kegiatan internasional seperti konferensi dan pertukaran pelajar. Meskipun saat itu di kampus saya bisa dihitung jari mahasiswa yang berhasil menembus akses internasional ― sedikit didramatisir ― sehingga cukup sulit mendapatkan referensi dan bagaimana melakukannya, namun berkat kegigihan akhirnya saya bisa mendapatkan kesempatan mengikuti program (……) di negera (….) dan program (…..) di negara (…..). Saya melakukan ini agar saya dapat menjadi orang yang berdaya guna lebih luas dan mampu memberikan inovasi perubahan untuk bangsa.

Selanjutnya, Anda bisa menambahkan pengantar tersebut dengan menyampaikan concern Anda terhadap keilmuan, seperti: “saya mempunyai ketertarikan yang tinggi terhadap bidang ilmu (….)”, sampaikan sejauh mana Anda telah bergelut di dalamnya ― mungkin Anda sering membuat tulisan mengenai hal tersebut, atau peran yang pernah Anda jalankan, program yang pernah Anda buat mengenai hal tersebut dsb. Singgung juga dengan realitas, fakta dan data pendukung yang dapat menguatkan konten pembicaraan. Anda bisa menyimpulkan pengantar Anda dengan mengatakan “maka dari itulah saya mendaftar beasiswa ini dengan harapan saya dapat berbuat lebih dalam bidang tersebut dan berdaya guna untuk daerah/Indonesia (……..)”.

Tips. Apa yang Anda sampaikan di awal ini ― berdasarkan pengalaman saya ― adalah bahan yang digunakan pewawancara sepanjang proses wawancara berlangsung. Anda dapat mensiasati dengan mengatakan semua yang bagus atau yang Anda kuasai ataupun yang membanggakan ― yang menurut Anda bisa Anda pertahankan dan berpengaruh positif. Pertanyaan-pertanyaan berikutnya tidak akan jauh dari apa yang kita sampaikan di pengantar, hanya sekedar follow-up question.

Tips: Pahami secara mendalam apa yang Anda tuliskan di formulir dan esai yang Anda buat pada saat mendaftar. Pewawancara mungkin tidak akan secara langsung dan spesifik menanyakan apa yang Anda tulis. Maka dari itu, perhatikan jawaban yang Anda berikan, jangan sampai ‘lari’ dari apa yang Anda tuliskan tersebut ― sekalipun tidak ditanya ― selipkanlah poin dalam formulir/esai yang Anda buat dalam jawaban Anda dengan bahasa dan penyesuaian konteks yang menarik. Jangan sampai Anda terjebak, “apa yang Anda bicarakan tidak sesuai dengan yang Anda tuliskan”.

Juga penting diperhatikan bahwa ― jika melihat surat rekomendasi ― terdapat beberapa indikator penilaian terhadap Anda (sangat bagus, baik, cukup, kurang) dalam beberapa aspek. Menurut hemat saya, psikolog akan berusaha membuktikan ini di dalam proses wawancara. Saya dapati, pewawancara psikolog beberapa kali mengajukan pertanyaan ― yang saya paham maksudnya ― terkait apa yang tertulis di surat rekomendasi tersebut. Berikut beberapa aspek yang dimaksud:

  1. Kepemimpinan
  2. Keterlibatan dalam komunitas
  3. Kepercayaan diri (sangat diamati psikolog)
  4. Kedewasaan (sangat diamati psikolog)
  5. Kemampuan beradaptasi
  6. Potensi untuk berkembang (sangat diamati psikolog)
  7. Potensi untuk menjadi pemimpin (sangat diamati psikolog)
  8. Idealisme terhadap kebenaran (sangat diamati psikolog)
  9. Kemampuan akademik

Tips. Pewawancara sudah mendapatkan gambaran ataupun penilaian terhadap diri Anda jauh sebelum Anda diwawancarai. Mereka sudah membaca data yang Anda submit dan membacanya juga pada saat proses wawancara. Masing-masing pewawancara memiliki laptop di depan mereka, saya dapati beberapa pertanyaan muncul setelah mereka mengamati laptop beberapa saat. Besar kemungkinan itu adalah data diri dan berkas pendaftaran Anda. Jadilah diri sendiri, jangan berkamuflase.

Menyambung indikator penilaian di atas, ketika itu pewawancara utama menyanyakan apa yang saya lakukan setelah tamat kuliah S1 lalu? Saya jawab bekerja di sebuah institusi (……). Saya bertugas sebagai (….), beberapa kali terlibat dalam (….), pekerjaan ini meningkatkan kapasitas (….) saya yang akhinya membuat saya mampu (…..). Ceritakanlah mendalam, jangan poin-poinnya saja, namun perhatikan yang kiranya berhubungan dengan tujuan studi Anda. Jika sebelumnya Anda bekerja sebagai peneliti, maka pengalaman bekerja dan menyelesaikan penelitian (….) membuat Anda memiliki kemampuan dan keinginan untuk melakukan (…), saya yakin dengan pengalaman yang saya miliki akan sangat membantu saya kedepannya.

Cermat memilih hal yang akan diangkat atau dicontohkan. Saya sadar bahwa saya menggunakan jalur Afirmasi (khusus anak daerah) dan mereka menginginkan peserta yang punya visi pengabdian untuk daerah, punya misi mengembangkan daerah dan terutama mereka yang punya potensi berkembang dan memimpin daerah untuk kemajuan ― sesuai visi misi LPDP. Terang saja, saya sampaikan pada pewawancara bahwa pengalaman saya di organisasi telah membawa saya bersentuhan dengan dinamika pembangunan di daerah, saya sering mengunjungi daerah di Bengkalis dan terutama di Riau dalam rangka (….), hal ini sedikit banyak telah mendorong saya untuk memikirkan kemajuan dan berbuat banyak untuk daerah. Hal ini semakin meningkat terutama berkat pengalaman saya bekerja dan menjalankan beberapa proyek di daerah. Saya pernah terlibat dalam proyek rancangan dan pembangunan infrastruktur (…..) untuk desa-desa di Riau ― yang mengharuskan saya mengunjungi beberapa daerah untuk mendapatkan data dsb. Saya menikmati proses tersebut, sampai disini pewawancara seolah berhasil saya rebut ­attention­-nya ― terutama psikolog. Psikolog bertanya, “juga berkomunikasi dengan masyarakat setempat dan juga melakukan (…)”, ternyata saya mengangkat contoh yang tepat (kontribusi terhadap daerah). Saya benarkan pertanyaan psikolog dan memang benar adanya, selain saya juga berkomunikasi dengan instansi-instansi di daerah. Beberapa kali psikolog mencoba meng-explore lebih dalam pengalaman saya ini. Interviewer lainnya turut menyumbangkan follow up question dengan pertanyaan sesuai bidang dan kapasitasnya.

Tips: Selalu beri jawaban yang cukup lengkap, jangan hanya singkat-singkat saja, lengkapi dengan tanggung jawab Anda dalam pekerjaan tersebut dan apa nilai-nilai ataupun apa kemampuan yang Anda dapatkan selama bekerja yang meningkatkan kapasitas diri Anda dan apa dalam pekerjaan tersebut yang menurut Anda adalah kontribusi terbaik yang pernah Anda berikan atau pengaruh positif apa yang Anda berhasil ciptakan. Berikan jawaban seperti ini dalam bahasa yang menarik, komunikatif dan tidak membosankan (gunakan intonasi berbicara, tatapan mata, penekanan kalimat dan sedikit ‘drama’, serta satu hal yang sangat penting adalah berkomunikasi dengan menggunakan gesture ― gunakan tangan Anda untuk memaparkan hal-hal tersebut, ini akan membuat Anda terlihat lebih meyakinkan dan berkualitas, jangan monoton!). Jangan ragu untuk berbicara banyak, pewawancara tidak akan langsung memotong bicara Anda selama Anda tidak bertele-tele dan pastikan tidak terlalu panjang lebar dan memakan banyak waktu.

Setelah saya menjelaskan pertanyaan di atas, pewawancara psikolog kemudian mengajukan pertanyaan yang sedikit menyela ataupun meragukan, contohnya kenapa Anda tidak lakukan saja hal tersebut (….), kenapa Anda malah mengambil tindakan (….). Nah, pada kasus saya pertanyaan itu berhasil saya identifikasi sebagai gugatan atas ‘idealisme saya terhadap kebenaran’, disini Anda jangan sampai terjebak. Tenang dan pahami pertanyaan tersebut, jawablah dengan baik, jangan menunjukkan emosi dan ketersinggungan. Ingat, jawablah tegas dan jujur ― jika memang itu salah ataupun apa yang disebutkan psikolog/pewawancara adalah benar adanya ― maka akuilah lalu nyatakan bahwa Anda sudah berupaya untuk memperbaikinya dan Anda sudah jauh lebih baik sekarang ini. Intinya arahkan kepada hal yang positif.

Tips. Pertanyaan ataupun follow-up question seperti di atas mungkin akan sering Anda temui mengacu pada indikator di atas (mungkin itu mengukur potensi Anda untuk berkembang, kemampuan adaptasi dsb). Maka, Anda harus bisa konsiten.

Pewawancara memberikan follow-up pertanyaan pada saya, Anda pernah mengikuti pertukaran pelajar, bagaimana cara Anda membiayai keberangkatan? Nah, di kasus ini jangan langsung to the point, ini bisa jadi mengukur kepemimpinan, jaringan, kualitas usaha, relasi dengan tokoh dan upaya cerdas yang Anda lakukan. Lagi, rangkailah jawaban Anda menjadi suatu yang menarik tanpa kehilangan esensi utama dari pertanyaan tersebut. Saya menambahkan hal ini pada jawaban saya, kurang lebih poinnya seperti ini, pendanaan saya dapatkan dari beberapa sponsor seperti kampus, perusahaan dan pemerintah. Saya berkomunikasi dengan Rektor dan beliau bersedia mendukung pendanaan, selain itu saya juga berkomunikasi dengan Bupati daerah saya, kebetulan dalam beberapa kegiatan saya sebelumnya kerap bertemu dan bincang-bincang dengan beliau dengan demikian saat saya sampaikan mohon pendanaan Beliau dengan sangat baik merespon saya (kalimat ini tidak persis seperti apa yang saya sampaikan pada saat wawancara). Namun disini dapat ditangkap pesan bahwa kita adalah orang yang mampu membangun komunikasi dengan pihak elit, tentu tidak sembarang orang bisa seperti ini dan mensyiratkan ‘potensi untuk menjadi pemimpin’ dan ‘potensi untuk berkembang’. Cermati setiap pertanyaan.

Tips. Apapun pertanyaan pewawancara, terutama mengenai prestasi. Upayakan bahwa Anda tidak hanya berhasil meraih prestasi tersebut, tetapi kebermanfaatan apa yang Anda bisa berikan dengan memperoleh hal tersebut ― manfaat yang anda dapat bagikan ke orang banyak, bukan berupa prestige pribadi. Contohnya, saya juga mengatakan bahwa kesempatan pertukaran pelajar yang saya dapatkan telah membuka wawasan dan pengetahuan saya. Seketika pulang, saya langsung tergerak untuk menciptakan inovasi dan program follow-up seperti menduplikasi program dan menginisiasi kegiatan serupa di daerah/kampus. Berhasil mengikuti pertukaran pelajar, saya mengadakan pembinaan kepada adik-adik junior berupa kiat-kiat memperoleh beasiswa, menulis esai dsb. Saat ini ― yang dulunya sangat sedikit mahasiswa yang bisa menembus pengalaman internasional ― akhirnya satu dua orang adik-adik junior telah berhasil mendapatkan pengalaman serupa. Tentunya transfer motivasi dan ilmu sedikit banyaknya memberikan kontribusi terhadap perubahan positif ini. Saya merasa dengan mendapatkan kesempatan yang besar saya mampu membuat banyak perubahan dan semakin terpacu untuk menginspirasi banyak orang (tidak persis seperti ini jawaban saya pada saat wawancara kemarin. Intinya, terangkan kebermanfaatan.

Mengenai struktur pertanyaan, saya mendapati kasus yang berbeda dari hampir seluruh cerita yang dibagikan di internet. Sebagian besar orang akan ditanyakan begitu sistematis dan runut, bahkan di beberapa kasus sampai diberikan pertanyaan psikologi yang personal, seperti:

  1. Anda anak keberapa?
  2. Apa profesi saudara kandung Anda?
  3. Apakah Anda sudah memiliki ‘pendamping’ atau sudah berencana ‘menikah’?
  4. Apakah Anda sudah pernah tinggal jauh dari orang tua?
  5. Apakah Anda yakin bias bertahan tinggal jauh dari lingkungan Anda saat ini?

Pada kasus saya, tidak satupun pertanyaan ‘personal’ seperti ini muncul. Bahkan di beberapa cerita kawan-kawan yang lain, pewawancara ‘melemahkan’ Anda dengan tipikal pertanyaan tersebut. Ketika Anda termasuk orang yang belum pernah bepergian jauh, belum pernah tinggal sendiri dalam waktu yang lama, maka pewawancara jelas akan mencoba meragukan Anda ‘apa bisa survive nanti saat sekolah jauh’? Beberapa peserta bahkan sampai dibuat nangis menjawab pertanyaan seperti ini. Hati-hati!

PERTANYAAN WAWANCARA

Sangat penting untuk kita melakukan riset (browsing, membaca buku panduan beasiswa, bertanya pada penerima beasiswa dsb) tentang pertanyaan apa yang kerap muncul pada saat wawancara. Hal ini akan sangat membantu Anda untuk mendapatkan gambaran dan mempersiapkan konsep jawaban apa yang akan Anda berikan nantinya. Untuk ini, saya berterima kasih pada senior-senior saya yang dengan senang hati membantu, memberikan dokumen pendukung, menjawab pertanyaan yang saya ajukan terkait proses wawancara. Mereka diantaranya adalah bang Budi Waluyo (mahasiswa Ph.D Comparative and International Education di Lehigh University Amerika), bang Robi Kurniawan (penerima beasiswa Fullbright master degree TESOL di Central Michigan University, Amerika) dan bang Pahmi (Penerima beasiswa LPDP magister luar negeri di University of Manchester, Inggris). Selain itu juga dari sahabat saya dari YIB (Yayasan Insancita Bangsa) HMI yang sudah lebih dahulu menjadi awardee, Fitria Amin (Awardee LPDP Carnegie mellon University, Amerika) dan Yasir Mubarok (Awardee LPDP UGM – berencana naik grade ke University of York, Inggris).

Dari beberapa sumber yang saya dapatkan, maka inilah daftar pertanyaan yang biasa muncul:

  1. Please introduce yourself to us in details!
  2. Why do you choose university of (….)?
  3. Tell me about life and study in that country/city!
  4. Why do yo choose to study abroad?
  5. What is the topic for your thesis?
  6. How is your previous study, research or experience relevant to the topic you are proposing?
  7. Have you search for programs at universities that offer what are you looking for?
  8. How can the universities help you for this research?
  9. All of your publication are not about the research topic you are proposing, how it could be relevant to support your study?
  10. You seem to have finished your bachelor degree more than four years. If we give this scholarship to you, are you can finish within the time limit?
  11. Your English is not very good, how can you manage to study abroad?
  12. Have you contact the professor or do research about the university and its requirements?
  13. What were you do since graduated until now?
  14. Explain about your organization?
  15. If you are offered for working in foreign company with high salary, will you accept?
  16. Does your parent support you for continuing study?
  17. What is your type of leadership?
  18. What do you think about nasionalism and integrity?
  19. What is your motto?
  20. What is your parent’s advice that you still remember?
  21. What is your strength and weakness?
  22. What career do you want to pursue after you study?
  23. What kinds of contribution will you give on your return home?
  24. After finishing your study, what specific priority will you do?
  25. How will you implement the knowledge on your return home?
  26. How will your country gain benefits from your country?
  27. How do you socialize with people?
  28. How will you manage the condition in your family during your study abroad?

Jika kita kelompokkan, maka garis besar pertanyaan tersebut adalah seputar motivasi mendaftar beasiswa, latar belakang dan aktifitas saat ini, tujuan dan rencana studi, pengetahuan tentang universitas tujuan dan professor pengajar, penelitian dan manfaatnya, karir dan kontibusi yang akan diberikan untuk daerah/negara, kualifikasi bahasa. Pertanyaan lainnya hanyalah pelengkap, ataupun pertanyaan counter atas jawaban kita.

Beberapa peserta kadang menemukan pertanyaan tentang wawasan nasional, seperti apa yang pernah dialami teman saya:

  1. Sebutkan isi pancasila dalam bahasa Inggris!
  2. Bisakan Anda menyanyikan salah satu lagu nasional?
  3. Pendidikan di dalam Undang-Undang diatur dalam pasal berapa?

Kadang hal seperti ini sering kita abaikan. Maka penting kiranya untuk memahami kembali beberapa pengetahuan nasional sebelum menjalani seleksi wawancara.

Menyoal kembali daftar pertanyaan yang sering muncul di atas, lead interviewer bertanya pada saya, mengapa mau studi di universitas tujuan saya ― Technische Universitat Munchen School of Education. Berdasarkan tips dari bang Budi Waluyo, maka jawablah pertanyaan seperti itu dengan jawaban yang akademis, misalnya: “saya memilih universitas ini karena tenaga pengajar dan fasilitas yang ada disana sangat mendukung studi S2 saya nanti. Saya juga sudah membaca banyak literatur di bidang saya dan saya menemukan sebagian besar penulis mengajar di universitas ini.” Pertanyaan ini juga merupakan kesempatan Anda untuk restating visi pengabdian Anda untuk Indonesia.

Selain itu saya juga ditanya sudah sejauh apa persiapan untuk masuk ke universitas tersebut, sudah memiliki LOA (Letter o Acceptance)? Kadang kita harus jujur pada diri sendiri bahwa banyak kekurangan yang kita miliki, namun tidak selamanya pula kelemahan akan dianggap kelebihan bagi pewawancara. Mereka menginginkan mereka yang siap, Anda mau lanjut studi tapi universitasnya saja tidak tahu, jelas ini akan sangat mengurangi poin Anda. Karenanya Anda perlu melakukan riset terhadap jurusan, universitas dan pengajar disana. Saya terangkan cukup detail mengenai jawaban tersebut, fakultas yang saya tuju adalah Faculty of Teacher Training and Educational Research, ada 17 jurusan didalamnya dan jurusan yang akan saya masuki adalah Emprical Social Research. Ketua department-nya adalah Prof. Manfred Prenzel, Beliau adalah seorang peneliti PISA (Program for International Student Assessment), saya paparkan mengenai beliau cukup dalam, lalu saya korelasikan kenapa Professor ini sangat penting untuk penelitian saya mengenai Quality Assurance of Education. Jika Anda dapat menjelaskan ini dengan yakin dan tanpa menunjukkan gejala keragu-raguan, maka setidaknya Anda sudah membuat interviewer terkesima.

Di sesi wawancara ini cobalah juga lemparkan senyum pada pewawancara dan bahkan candaan ringan yang mencairkan suasana, tidak harus joke sebenarnya, cara Anda memaparkan dan mengkoparasikan sesuatu jika ‘didramatisir’ sedikit bisa membuat pewawancara ‘tersungging’ senyumnya.

Selain pertanyaan di atas, interviewers juga secara halus menyinggung saya, ‘dengan relasi yang kamu dapatkan di pergaulan internasional, apa gak mau meningkatkan skor bahasa? Saya langsung tangkap intinya bahwa memang skor bahasa saya masih harus ditingkatkan. Saya paparkan dengan keseriusan, disini Anda harus mampu menunjukkan komitmen. Berulang kali para pewawancara menyinggung soal ini ― Anda bisa sedikit menggunakan teknik komunikasi ― tatap mata mereka dengan serius dan ucapkan dengan tegas bahwa Anda akan berusaha sekeras mungkin. Dalam kasus saya, saya katakan bahwa saat ini saya sedang menjalani kursus IELTS di The British Institute Fatmawati, Jakarta Maret ini saya akan ujian IELTS dan optimis bisa memperoleh skor yang menjanjikan.

Namun, ada beberapa hal yang saya coba berargumentasi dengan mencatut tokoh tertentu, malah pewawancara mengatakan ‘ya yang argument kamu saja, itu kan mereka’. Saya mencoba klarifikasi bahwa itu adalah penafsiran saya dan saya hubungkan dengan hal lainnya sesuai tujuan saya. Attitude itu sangat penting, jaga etika komunikasi. Beberapa kali saya hampir memotong pertanyaan pewawancara, namun saya ingat harus coba tenang dan stabil.

Kiranya itu yang saya bisa ceritakan mengenai pengalaman wawancara. Menandakan selesai, pewawancara akan mengatakan bahwa wawancara kiranya cukup dan Anda dipersilahkan mengemasi dokumen dan meninggalkan tempat

Tips. Sebelum berdiri, sempatkan ucapkan terima kasih atas panggilan wawancara ini dan katakan bahwa ini adalah kesempatan dan pengalaman yang sangat berharga untuk Anda. Tapi jangan langsung pergi, rapikan dokumen saat Anda masih di meja ― jangan sambil berdiri. Jika sudah, maka berdirilah dengan baik dan beri salam dan jabat tangan pewawancara.

Selain itu, belajar dari teknik pitching ide bisnis yang saya dapatkan di Filipina. Sangat dianjurkan jika Anda membuat presentasi dan memparkannya pada investor, idealnya Anda juga meninggalkan hard-copy dokumen yang Anda buat untuk mereka baca belakangan ― Ini akan berguna sebagai pengingat bagi mereka dan memudahkan menemukan identitas Anda. Dalam wawancara ini, saya berikan masing-masing pewawancara kartu nama saya. Agar tidak terkesan lain, saya katakan bahwa saya selalu memberikan ini kepada orang yang saya temui, terutama pada mereka yang membuat saya terkesan. Jelas saja, mereka amati kartu nama saya. [/spoiler]

[spoiler title=”Seleksi LGD (Leaderless Group Discussion)” style=”fancy”]

Anda mungkin mendapatkan jadwal LGD pada sesi pertama, baru kemudian wawancara ― atau sebaliknya. Pembagian ini sepenuhnya domain LPDP. Kasus saya, jadwal wawancara di hari pertama dan menyusul LGD di hari kedua. Masing-masing peserta memiliki nomor kode kelompok, baik untuk wawancara dan LGD ― nomor ini tercantum di email undangan wawancara yang dikirimkan oleh LPDP. Nomor wawancara dan LGD berbeda, saya mendapatkan nomor kelompok 17 untuk wawancara dan nomor 13 D untuk LGD.

Apa itu LGD? Menurut American Psycological Association (APA), LGD adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur potensi kepemimpinan. Penguji LGD akan mengamati dan menilai penampilan peserta LGD, di mana satu kelompok peserta LGD menjalani sebuah diskusi dalam jangka waktu tertentu tanpa ada penunjukan salah seorang menjadi pimpinan diskusi. Seleksi LGD menguji keterampilan mengkomunikasiden ide dan gagasan, kemampuan berinteraksi, daya inisiatif dan kemampuan berkerjasama dalam tim untuk mengambil keputusan.

Sejumlah 8-9 orang akan berada dalam kelompok yang sama. Saya mendapatkan komposisi kelompok yang terdiri atas 9 orang dengan pembagian yang acak, ada peserta yang berasal dari jalur Afirmasi dan juga ada yang Reguler, begitupun dengan tujuan studi ada yang dalam dan luar negeri. Beberapa kelompok juga akan mendapati peserta dengan tujuan studi doktor.

PROSES SEBELUM LGD

Panitia seleksi akan terlebih dahulu memanggil nama kelompok Anda untuk berkumpul menghadap panitia. Maka peserta yang memiliki nomor kelompok yang sama akan maju ke depan, panitia akan mengabsen nama-nama anggota kelompok. Panitia juga akan memberikan beberapa instruksi seperti alat komunikasi seperti handphone harus dinonaktifkan dan disimpan di dalam tas, selain itu panitia akan menunjukkan ruang dimana LGD akan dilaksanakan.

Biasanya ada waktu jeda sekitar 15 menit dari fase berkumpul hingga masuk ruangan LGD. Nah, disini dinamika mulai terjadi. Ambillah kesempatan itu untuk berkenalan (ingat nama teman-teman Anda), coba sekilas baca karakter mereka. Sekalipun ini adalah LGD yang berarti leaderless, tetap saja dalam keadaan ini Anda harus mampu berkompromi karena LGD bukan hanya diskusi kosong, kelompok Anda harus menghasilkan atau mendapatkan jawaban/kesimpulan hasil diskusi. Dalam waktu yang singkat, dengan orang-orang yang baru Anda kenal dan diawasi bayang-bayang penilaian, maka terkadang keadaan seperti ini susah untuk mendapatkan persatuan dan kompromi, satu atau dua orang mungkin akan menguasai forum dan ingin menonjol (mungkin dengan maksud dapat nilai tinggi), padahal substansi LGD bukan seperti itu.

Seluruh proses LGD akan berlangsung lebih kurang 40 menit. Sekitar 3 menit pegarahan dari pengawas. Pengawas akan memberikan kertas catatan dan fotokopi artikel koral mengenai suatu topik. Anda diberikan waktu 5 menit untuk membacanya. Jika sudah selesai 5 menit, selanjutnya salah seorang pengawas akan memberikan kode untuk kita memulai diskusi.

Perhatikan dengan seksama informasi penting yang muncul dalam artikel tersebut. Saya contohnya mendapat artikel koran tentang Narkoba, di dalam artikel dituliskan fakta dan data pengguna narkoba di Indonesia berdasarkan sumber dari BNN, disebutkan juga bahwa mayoritas pengguna adalah anak muda. Diterangkan bahwa upaya pemberantasan narkoba telah berjalan cukup signifikan, namun diperlukan upaya dan kerja sama dari berbagai pihak untuk memberantas secara maksimal. Penting diperhatikan juga bahwa di dalam artikel tersebut terdapat sub-headline (biasanya dicetak tebal), pada artikel saya terdapat satu sub dengan judul ‘Hukuman Mati’. Saya mengamati bahwa sub-headline ini bisa menjadi pengecoh saat diskusi berlangsung. Penting untuk Anda mencatat poin-poin apa yang akan Anda sampaikan pada kertas yang coretan yang disediakan panitia. Ingat, bawalah pena! Panitia tidak menyediakan pena.

Data-data dan informasi penting di artikel tersebut dapat Anda gunakan untuk mengelaborasi pendapat yang akan Anda kemukakan. Tentunya jika didukung dengan data tambahan yang bersumber dari pengetahun Anda sendiri akan lebih baik. Kala itu saya menambahkan UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika yang menyatakan bahwa hukuman maksimal untuk terpidana narkotika adalah hukuman mati. Hukuman mati sudah diatur dalam konstitusi, sehingga hukuman tersebut tidak melanggar aturan. Hukuman tersebut akan menyebabkan efek jera dan memberi peringatan pada masyarakat bahwa penggunaan narkotika adalah pelanggaran yang dapat dihukum berat. Sebenarnya tidak masalah jika Anda tidak punya wawasan tambahan, Anda bisa saja pandai-pandai mengolah data yang disajikan di dalam artikel.

Hal penting lainnya adalah pembagian peran. Anda diminta untuk memilih salah satu diantara beberapa peran yang tersedia, seperti: Akademisi, Pengamat, Aktivis dan Praktisi (seingat saya hanya itu). Saat Anda hendak mulai menyampaikan pendapat, maka ingatlah untuk mengatakan bahwa Anda adalah (akademisi/pengamat/aktivis/praktisi). Waktu baca yang Anda miliki gunakan untuk memikirkan poin-poin apa yang akan Anda sampaikan berdasarkan peran yang Anda pilih. Ingat, selalu beri kalimat signal yang menandakan peran Anda, jika Anda memilih menjadi seorang pengamat maka Anda dapat mengatakan seperti, “Saya telah mengamati…”, “Kejadian ini saya amati…” dsb. Rasionalisasi yang Anda berikan haruslah sesuai dengan peran Anda. “Jangan sampai Anda mencontohkan peran praktisi sementara Anda adalah seorang pengamat.

Ada baiknya ― sebelum masuk ruangan ― Anda bersama kelompok melakukan kesepakatan bersama dengan teman-teman Anda guna mencapai tujuan bersama. Anda mungkin bisa menentukan ― jika tidak boleh dikatakan pemimpin/moderator ― orang yang berperan sebagai pengatur jalannya diskusi. Orang ini akan memulai pembicaraan pada saat diskusi, memberikan pandangan dan mengatur forum agar berjalan dinamis dan demokratis serta mengarahkan forum agar mampu menghasilkan keputusan dalam waktu yang telah ditentukan. Satu perangkat lagi yang penting adalah notulen ― sekalipun setiap orang mungkin mencatat ―  dengan begitu akan didapatkan kesimpulan yang mampu merangkum ide dan gagasan yang muncul pada saat diskusi.

Tempat duduk dalam LGD diatur menurut pengawas. Anda akan dipanggil masuk satu persatu dan menempati kursi yang sudah ditentukan.

Tips. Anda harus perhatikan. Di dalam ruang LGD nanti akan ada dua orang pengawas (menurut saya keduanya adalah psikolog). Pengawas akan memberikan pengarahan dan penekanan tentang beberapa hal seperti pembagian peran dan LGD itu sendiri. Pengawas mengingatkan bahwa,  “ini adalah diskusi tanpa pemimpin, maka Anda tidak perlu membentuk panitia ataupun perangkat diskusi”. Lalu bagaimana caranya? Jalankan secara non-formal, jangan sampai terlihat forum seperti sudah di atur. Orang yang telah ditunjuk sebagai pengatur diskusi bisa membuka diskusi seperti dengan mengatakan “Assaamu’alaikum wr.wb. Teman-teman yang saya banggakan, mohon maaf jika saya mengambil inisiatif untuk berbicara pertama, sebagaimana pengawas telah mempersilahkan kita untuk memulai diskusi ini. Baiklah, kita telah diberikan waktu membaca mengenai artikel (…..) dan kita mendapatkan pertanyaan yang harus kita jawab melalui kesimpulan diskusi ini. (….)’. Sampai disini, kiranya cukup untuk basa basi mengantar diskusi.

LGD BERLANGSUNG

Ingat, setiap Anda equal dalam LGD. Maka setiap Anda berhak berbicara. Sebagai pembuka diskusi, Anda sangat disarankan langsung memaparkan pandangan Anda terkait topik yang sedang dibahas dan memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang muncul. Dalam kasus saya, saya menjadi pembuka diskusi. Ada beberapa hal yang membuat posisi pembuka diskusi ini menguntungkan:

  1. Anda dapat mengarahkan opini peserta lainnya. Setelah memaparkan fakta dan opini saya mengenai kasus yang diangkat, lalu saya sampai beberapa poin yang menjadi usulan solusi dari saya (Pertanyaan artikel: program apa saja yang bisa dilakukan masyarakat dan pemerintah untuk mencegah bahaya narkoba). Saya menjelaskan bahwa ada tiga program yang harus diwujudkan: Pembinaan keluarga dan penguatan peran keluarga melalui kementerian sosial dsb, program sosialisasi melalui saluran Negara dan juga bekerja sama dengan organisasi kemasyarakat, organisasi kepemudaan dan mahasiswa dsb serta program pemberdayaan generasi muda melalui menguatkan aktivitas produktif di organisasi, minat dan bakat serta ajang kompetisi prestasi dsb bekerja sama dengan kementerian pemuda dan olahraga. Saya juga menyinggung soal hukuman mati yang menjadi sub-headline dan memberikan pendapat mengenai patut atau tidaknya diterapkan hukuman tersebut. Saya menghabiskan waktu sekitar 5 menit. Ternyata jawaban saya diikuti oleh peserta lainnya, ada yang membenarkan, ada yang menambahkan dan ada yang menyarankan hal-hal teknis. Tentunya ini menjadi point-plus.
  2. Sebagaimana saya katakan di atas, dalam LGD tidak ada leader. Namun, pengatur yang sudah kita tunjuk tetap penting. Oleh karena itu peran dan ‘gaya main’ –nya mesti soft and natural, gunakan bahasa diskusi tanpa pemimpin. Anda tidak perlu mengatur pembagian urutan memberikan komentar, biarkan berjalan natural, yang harus Anda lakukan adalah memastikan masing-masing peserta kebagian jatah menyampaikan pendapat. Buat forum menjadi dinamis namun tetap demokratis.
  3. Pengatur diskusi mempunyai kesempatan berbicara lebih banyak, Anda dapat mempersilahkan peserta lainnya berbicara (ini akan menjadi poin tambahan bagi Anda karena menunjukkan perhatian Anda untuk equality dan mau mendengar pendapat orang lain. Anda dapat membenarkan dan mengapresiasi pendapat seseorang (ini juga poin), namun jangan sampai terbaca polanya Anda terus-terusan mengatur diskusi, biarkan saja berjalan dinamis.
  4. Anda akan mampu mengatur waktu dan mengarahkan kepada tujuan diskusi sesungguhnya. Seperti saya katakan di atas, sub-headline kadang meragukan, beberapa peserta bisa terpancing untuk membahas lebih dalam dan sedikit menonjolkan ego terkait sub tersebut, padahal yang sebenarnya harus didapatkan di dalam diskusi bukanlah itu ― ada pertanyaan khusus yang harus dijawab. Nah disini Anda bisa mengatur dinamika forum agar kembali kepada topik. Jika semua peserta sudah selesai berbicara, maka saatnya Anda mengarahkan pada kesimpulan ― karena waktu terbatas. Namun sebelum itu, coba untuk menanyakan lagi apakah masih ada tanggapan ataupun koreksi yang ingin disampaikan. Beberapa orang biasanya akan memberikan opini tambahan, namun jangan biarkan terlalu lama, sebab 5 menit menjelang akhir salah seorang pengawas akan memberikan kode bahwa waktu diskusi sudah hampir habis. Disinilah Anda harus mengarahkan forum agar mampu menarik kesimpulan.
  5. Notulen ― jika tidak boleh dikatakan demikian ― saatnya berperan. Tidak usah ditunjuk langsung di forum bahwa dia yang menyampaikan kesimpulan, buatlah dinamika seolah masing-masing peserta mencoba menyimpulkan dan memancing siapa yang berinisiatif untuk menyampaikan.

Jika sudah sampai disini, maka LGD berarti selesai. Pengawas akan mempersilahkan Anda untuk meninggalkan ruangan dan membiarkan artikel dan catatan tetap di meja Anda. Jika Anda sudah menyelesaikan wawancara dan LGD, maka dengan demikian tahapan seleksi Anda pun sudah selesai. Anda boleh pulang dan tinggal menunggu pengumuman kelulusan ― yang biasanya diterbitkan dalam satu atau dua minggu ke depan.[/spoiler]

[/accordion]

Anda sudah menjalani tahap ini dengan baik. Percayalah, hasil tidak akan mengingkari usaha. Ia akan berbading lurus. Perjuangan sudah Anda lalui dengan penuh percaya diri, meminjam ucapan Sutan Sjahrir, hidup yang tidak diperjuangkan, tidak dapat dimenangkan.

Catatan (+) wawancara: Jika sebelumnya Anda adalah aktivis, atau memiliki pengalaman organisasi, sering melakukan presentasi, barangkali Anda juga pernah memiliki pengalaman wawancara kerja atau wawancara program non-degree seperti pertukaran pelajar dsb. Makah al tersebut akan memudahkan Anda, Anda akan terbantu untuk sesi wawancara dan LGD berkat pengalaman yang Anda punya. Saya mencontohkan, selama di HMI dan beberapa organisasi lainnya, saya cukup sering melakukan wawancara untuk recruitment (screening test istilah HMI) kepada calon pengurus ataupun calon kader, di jenjang perkaderan HMI juga saya diharuskan menjalani screening-test misalnya untuk mengikuti Latihan Kader II. Saya juga beberapa kali mengikuti pertukaran pelajar dan merasakan wawancaranya.

Catatan (+) LDG: Sama dengan wawancara, jika Anda punya pengalaman yang saya sebutkan di atas maka beruntunglah Anda cukup memahami dinamika forum diskusi, terbiasa menyampaikan opini bahkan berdebat, Anda cukup paham membaca karakter peserta diskusi, bagaimana menangkal opini dan mengarahkan pada tujuan dsb. Khusus kader HMI biasanya memiliki kelebihan dalam hal ini. Bagi yang aktif di ruang-ruang kuliah juga biasanya cukup terbantu. Di dalam proses seleksi apapun, Anda mesti ingat bahwa Anda berhadapan dengan manusia, kemampuan berkomunikasi adalah syarat yang utama, berapapun jeniusnya Anda.

Demikian apa yang dapat saya bagikan kepada Anda semua. Mudah-mudahan dapat bermanfaat. Mohon maaf jika terdapat kekurangan di dalamnya. Jika boleh, selipkanlah do’a untuk kelulusan saya pada seleksi LPDP ini. Pengumuman kelulusan akan keluar pada tanggal 10 Maret 2015 nanti. Semoga sukses untuk kita semua.

Jakarta, 02 Februari 2015.

Salam, sahabatmu.

Adhitya Fernando

 

Article, My Thought

Should abortion be legalized?

[dropcap style=”flat”]N[/dropcap]owadays, free sex phenomenon has rapidly increased in our society. Its trigger toward social problem. The number of abortion demand dramatically. While some people argue that the abortion should be legalized by the goverment. In our opinion, it should be banned because of two reasons.

Fetus

First; abortion violates human right. Life is the basic right of every human being that is guaranteed by law number 39, 1990 article 9. It states that every person has right to live and to keep his/her life. Every action that causes the loss of human life is considered as criminal. Although fetus is the first phase of human growth, it is also a living creature. Hence, killing a fetus means killing a human being.

Second; abortion endangered mother’s health. Abortion s usually done by someone who are not expert in medical treatment procedures whereas mothers are in their weaknest condition. This puts mothers in a high risk situation where she can be die. In fact, during the last five years mortality rate because of abortion has increased rapidly.

As abortion is seen a violation of human right and having dangereous impact on mothers. It should not be legalized. By doing so, we have saved infants right to live and at the same time prevented mothers from death. Therefore, based on the above mentioned reasons. It is a clear that abortion brings more disadvantages that advantages.

*Compiled from four group in a writting class during YIB Scholarship Training

Di Regensburg, Jerman
Article, My Thought

Mewujudkan impian; kemampuan yang hanya dimiliki manusia

[dropcap]D[/dropcap]iantara para pembangun impian, mereka yang paling sukses biasanya adalah orang-orang yang disepanjang perjalanannya paling siap berbagi kesuksesan itu dengan orang-orang disekitar mereka. Layaknya hakikat dalam kepemimpinan, cara yang paling efektif untuk memperoleh kekuasaan adalah dengan memberikan kekuasaan kepada orang lain. Para pemimpin yang mendelegasikan kekuasaan sekaligus tanggung jawab adalah mereka yang akhirnya mendapatkan penghargaan tertinggi dan kesetiaan dari orang-orang di sekitarnya; mereka yang berani menunjukkan kepercayaan tinggi kepada orang lainlah yang akhirnya paling dipercaya.

Di Regensburg, Jerman

“Mewujudkan impian- untuk itulah kita dibentuk dan diciptakan. Itulah yang membuat kita unik. Membangun impian merupakan cara yang paling mendasar menjadi manusia.”, catat Paul Levesque, seorang pegulat Amerika yang lebih dikenal dengan nama ringnya “Triple H”.

Coba perhatikan kehidupan harimau di alam bebas, berbeda dengan harimau yang dibesarkan di kandang. Harimau yang hidup di kandang memiliki tingkah laku yang berbeda, berjalan bolak-balik tanpa henti di dalam kandangnya. Inilah binatang yang mendapatkan semua makanan yang ia butuhkan dengan diantar kedepan kandangnya setiap hari; ia tidak perlu takut diserang pemangsa lain yang akan merebut wilayah kekuasaannya, pasangannya atau sebagainya. Mereka dilindungi dari hal-hal seperti itu, bahkan ia diberi pasangan dari waktu ke waktu agar bisa berkembang biak. Namun, mengapa binatang itu tampak sedih? Karena satu-satunya hal yang tidak boleh dilakukan harimau itu di dalam kandang itu adalah “menjadi HARIMAU”. Semua hal yang perlu dilakukan untuk menjadi seekor harimau sudah dilakukan untuknya oleh pemeliharanya. Binatang itu benar-benar mati karena bosan.

Harimau yang hidup di kandang hanya belajar sedikit tentang harimau selama hidupnya di kandang. Di alam bebas, harimau-harimau muda belajar untuk melindungi wilayahnya dan berbagai kehidupan harimau umumnya. Seekor harimau yang dibesarkan di dalam kandang sama sekali tidak mendapatkan pelajaran seperti itu. Jika dilepaskan ke alam bebas sebagai binatang dewasa, dalam waktu singkat ia hampir dipastikan akan musnah karena tidak pernah memiliki kesempatan untuk mempelajari elemen-elemen penting untuk menjadi seekor harimau.

Dan apa elemen-elemen penting untuk “menjadi seorang manusia? Bagaimana jika kemampuan untuk membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi dan kemudian mengubahnya menjadi kenyataan (mewujudkan impian) merupakan kapasitas yang hanya dimiliki manusia, atau satu-satunya hal yang membedakan manusia dengan makhluk lain?

Di dalam kereta menuju Munchen
Article, My Thought

Membangun impian ibarat ilmu roket

[dropcap]K[/dropcap]enapa saya bisa begitu menggebu dan bersemangat dalam menggapai impian? Lalu kenapa saya mampu berkorban waktu, tenaga yang tidak terhingga untuk mencapai impian? Karena saya paham bahwa membangun impian itu ibarat ilmu roket. Anda harus menciptakan milestone yang kokoh di setiap tahap guna mempertahankan motivasi untuk mencapai impian-impian besar lainnya di kemudian hari.

Di dalam kereta menuju Munchen

Seperti apa yang dikatakan oleh Charles Lindbergh, penerbang Amerika yang juga seorang penulis, bahwa melakukan sesuatu yang sangat Anda inginkan itu mirip dengan semburan adrenalin yang paling kuat. Anda hamper-hampir merasa sepertinya Anda bisa terbang tanpa pesawat.

Membangun impian itu persis serupa dengan ilmu tentang roket. Bagaimana cara mempertahankan motivasi, dapat dijelaskan dengan ilmu tentang roket. Penasaran? Berikut saya jelaskan.

Roket Saturnus 5 (yang biasa digunakan untuk meluncurkan pesawat Apollo dalam misi-misi mecapai bulan) memiliki tinggi 110 meter dan berat 3.000 ton apabila bahan bakarnya penuh. Namun, objek berbentuk silinder dengan 45 tingkat ini bukan sekedar tabung kosong berisi bahan bakar. Roket ini dibagi menjadi 3 tingkatan berbeda yang masing-masing memiliki sistem tenaga pendorong yang sama sekali terpisah.

Tingkat pertama (bagian terbawah roket saat berdiri di landasan luncur) berisi 2.200 ton bahan bakar – hampir 75 persen keseluruhan bahan bakar. Apakah ini berarti bahwa roket tingkat pertama mendorong astronot 75 persen dari jarak yang harus ditempuh ke bulan? Tidak. Bahkan tingkat pertama terlepas dari tubuh roket dengan bahan bakar yang hampir tidak tersisa di ketinggian tidak lebih dari enam puluh kilometer di atas bumi. Itulah jumlah bahan bakar yang dibutuhkan untuk melepaskan diri dari gaya tarik gravitasi bumi dari permukaan tanah.

Tingkat kedua membawa sekitar 460 ton bahan bakar – sekitar 21 persen dari daya tamping bahan bakar roket tingkat pertama – tetapi mampu membawa astronot ke ketinggian hamper tiga kali lipat, yaitu hingga lebih dari seratus kilometer di atas bumi sebelum akhirnya memisahkan diri dan menjauh.

Tingkat ketiga hanya membawa 115 ton bahan bakar – kurang dari 6 persen bahan bakar roket tingkat pertama – tetapi jumlah ini cukup untuk mendorong astronot keluar sama sekali dari orbit bumi memasuki lintasan bulan sebelum bagian ini akhirnya juga terlepas.

Modul kerja yang ditempati para astronot selama sisa perjalanan ke- dan dari bulan membawa sepersepuluh jumlah bahan bakar yang dibawa tingkat ketiga roket Saturnus 5 dan kira-kira seperdua-ratus jumlah bahan bakar roket tingkat pertama. Kendaraan ini, modul kerja ini, adalah roket yang benar-benar mengantarkan manusia ke bulan dan kembali ke bumi – tetapi ia tampak begitu kecil dibandingkan dengan monster yang dibutuhkan untuk mendorongnya agar bebas dari gravitasi bumi.

Atau, meminjam istilah hukum dasar kekekalam momentum yang lebih sederhana: dibutuhkan jauh lebih banyak energi untuk memulai sesuatu dari awal dibandingkan energi yang dibutuhkan untuk menjaganya agar tetap bergerak. Motivasi adalah bahan bakar penggerak, kemampuan memanfaatkan dan mengolah motivasi juga merupakan faktor penting. Dan mempertahankan motivasi adalah sesuatu yang paling utama agar dapat tetap konsisten bergerak mencapai impian.

Sekarang, dapatkah teman-teman menyimpulkan kenapa saya sangat bersemangat dan berusaha keras untuk mencapai impian saat ini? Dan dapatkah teman-teman mengambil hikmah dari cerita saya di atas?

Kita perhatikan juga nasihat Imam Syafi’i:

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang.

Article, My Thought

Semoga Presiden Indonesia

[dropcap style=”flat”]M[/dropcap]asih saya ingat jelas ketika itu Pemilihan Raya (PEMIRA) UIN Suska tahun 2012 saya dipinang menjadi calon wakil presiden mahasiswa oleh sahabat saya dari salah satu organisasi intra kampus.

Semoga presiden republik Indonesia

 

 

Saat itu saya terima pinangannya. Sudah sempat konsolidasi dan mengurus berbagai persiapan, namun karena ada beberapa masalah yang memang krusial, terpaksa saya harus mundur dan merelakan sahabat saya itu maju dengan menggandeng orang lain.

Dijagokan sebagai presiden mahasiswa
Pada saat PEMIRA 2012 itu, suara-suara pendukung saya memang sudah cukup besar namun belum terlalu padu. Selanjutnya pada PEMIRA tahun 2013 ini, kembali muncul suara-suara yang menjagokan saya sebagai calon presiden mahasiswa UIN Suska. Tidak ketinggalan dari sahabat-sahabat dekat saya juga sangat solid mengkonsolidasikan agar saya maju sebagai capresma UIN 2013. Dukungan itu tahun ini sangat besar, muncul dari berbagai kalangan. Sampai-sampai pada saat itu, sebelumnya saya belum ada berbicara mengenai capresma, namun saat saya ke kampus dan bertemu dengan berbagai kalangan mahasiswa seolah sudah terbentuk opini bahwasanya saya adalah capresma dan mereka spontan menyatakan dukungannya. Saya sempat semakin percaya diri atas dukungan kawan-kawan semua, selain memang juga saya secara pribadi mempunyai niat untuk itu dan saya sudah siap secara mental, prestasi, pengalaman dsb.

Mendekati PEMIRA, ternyata ada kabar ganjil yang ternyata menyurutkan langkah kemajuan saya sebagai capresma. KPRM membuat peraturan bahwa capresma maksimal adalah semester 8. Saya jadi teringat pertentangan tahun lalu yang sempat memunculkan kegaduhan karena masalah yang sama. Pada saat itu ada dua kandidat yang sama-sama berada pada semester sepuluh. Pertentangan muncul dan sempat menimbulkan konflik. Singkat cerita akhirnya salah satu calon memutuskan untuk mundur dengan penuh kesadaran, namun satu calon lagi tetap maju dengan segala konsekuensi dan pelegalan yang terencana. Pada PEMIRA 2012, hanya ada satu pasangan calon yang memenuhi syarat semester, dari total 3 pasangan calon.

Akhirnya PEMIRA 2012 dimenangkan oleh pasangan calon semester sepuluh yang ketika pertentangan masalah semester terjadi mereka tetap ngotot untuk maju.

Melihat keadaan tahun ini yang hampir serupa dengan tahun kemarin, akhirnya saya putuskan dengan cukup berat hati untuk tidak maju sebagai capresma. Karena menimbang berbagai hal, termasuk pertentangan yang mungkin akan kembali memunculkan konflik. Namun, saya mengapresiasi kepercayaan dan dukungan teman-teman kepada saya, selain secara pribadi saya juga berkeyakinan penuh kemajuan saya. Saya saat itu merasa, “ya inilah saatnya”, saya merasa saya cukup kompeten, cukup berpengalaman mengenai ormawa kampus, cukup berprestasi dan cukup mental, cukup visi untuk perubahan dan jelas saya merasa bahwa saya mempunyai kapabilitas untuk jabatan sebagai presma nantinya.

Ikut meramaikan pemira
Menimbang kondisi di atas, saya tidak lepas peran begitu saja seketika saya menyatakan tidak maju dalam bursa calon. Saya tetap ikut memaikan peran dalam PEMIRA 2013, karena jelas saya masih punya waktu untuk berproses. Singkat cerita, KPRM 2013 telah menetapkan empat pasangan calon. Dan salah satu dari kandidat tersebut adalah kandidat saya, saya menaruh dukungan dan harapan pada kandidat tsb karena beliau memiliki visi dan misi yang selaras dengan saya. Selain beliau juga menurut saya adalah kandidat paling kompeten untuk jabatan yang akan diperebutkan tsb. Saya ikut turun langsung dalam aksi dan kampanye pemenangan kandidat ini, dan salah satu aktor intelektual dalam pemenangan kandidat tsb. Namun, singkat cerita pasangan calon dukungan saya ternyata tidak berhasil memenangkan PEMIRA. Kandidat hanya meraih suara terbanyak nomor 3. Kurang lebih 700-an suara. Tetapi bagi saya itu adalah prestasi yang cukup membanggakan, karena mengingat kemajuan kandidat ini serba mendadak dan cukup banyak rintangan.

Betapa tidak, keputusan untuk maju baru final ketika hari terakhir pendaftaran calon dan ketika calon sudah memasuki masa kampanye, kami masih disibukkan dengan proses melengkapi persyaratan administrasi yang ketika itu diminta agar diperbaiki kembali oleh KPRM. Saat itu, cuma tersisa sekitar 4-5 hari menjelang pemilihan. Kami baru mulai melakukan kampanye, namun tidak cukup waktu dan masa lagi untuk konsolidasi dengan berbagai ormawa selingkungan UIN. Selain berbagai ormawa tsb sudah jauh-jauh hari diajak berunding oleh pasangan calon yang lain, juga memang tidak mungkin meloby mereka agar merubah keputusan dukungannya sekejap waktu. Alhasil kami hanya turun kampanye seadanya. Kami merasa cukup efektif apa yang sudah kami lakukan, antara hari kampanye dan jumlah suara dukungan yang berhasil kami dapatkan, andaikan saja persiapan sudah jauh-jauh hari mungkin saja kami adalah pemenangnya.

Menolak pinangan baru
Saat ini adalah mendekati pelaksanaan kongres mahasiswa UIN Suska III tahun 2013, yang dimana salah satu agendanya adalah pemilihan ketua Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) UIN 2013. Kembali saya mendapat dukungan dan kepercayaan dari berbagai kalangan untuk menduduki jabatan tersebut. Saya lagi-lagi merasa cukup kompeten untuk itu namun kali ini saya secara terpaksa menyatakan bahwa saya harus menolak pinangan teman-teman tersebut. Banyak pertimbangan yang memberatkan saya untuk menerima hal itu. Dan pada kasus ini, pertimbangannya terpusat pada hal-hal terkait saya secara pribadi. Saat ini saya sudah masuk tenggang dua semester dari semester wajar, tidak mungkin lagi saya egois untuk maju sebagai ketua BLM dan memperpanjang lagi semester. Itu sebenarnya masalah pokok. Selain saya juga sudah merasa cukup dan sampai pada masa jenuhnya berproses di kampus, saya saat ini akan memfokuskan pada penyelesaian kuliah saya dan proses menjemput impian saya berangkat ke Jerman insya Allah bulan September ini dan proses pencapaian impian saya melanjutkan studi Master (S2) di negeri benua biru, Jerman!

Saya berharap ada penerus-penerus yang bervisi serupa dengan saya.

Ini adalah masanya adik-adik junior, saya berpesan agar selain aktif di organisasi dan akademik, kejar juga impian dan raih pengelaman sebanyak-banyaknya, raih prestasi setinggi-tingginya. Prestasi lokal, nasional dan internasional.

*Tulisan ini dibuat pada tanggal 27 Mei 2013.

Adhitya Fernando – Aktivitas Internasional (Sebagaimana julukan teman-teman kepada saya)

Close